Edukasi
Status Influenza Naik dari "Rendah" ke "Sedang", Kemenkes Imbau Tidak Panic Buying Oseltamivir
30 September 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

“Aktivitas influenza di surveilans puskesmas naik dari kategori rendah ke sedang, sementara surveilans rumah sakit masih rendah. Positivity rate influenza meningkat dari 22% menjadi 56% dalam tiga laporan mingguan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Oseltamivir tidak diberikan pada semua pasien flu. Kemenkes memprioritaskannya bagi pasien berat dan kelompok berisiko komplikasi, atas pertimbangan dokter.”
Dalam tiga laporan mingguan berturut-turut, positivity rate influenza yang dilaporkan terus meningkat. (1,2,3) Kenaikan ini disertai keluhan sulitnya memperoleh oseltamivir di sejumlah rumah sakit. (4) Pada 28 September 2026, Kemenkes menanggapi hal ini dengan menegaskan bahwa oseltamivir bukan obat massal dan hanya boleh dikonsumsi dengan indikasi yang jelas, bukan obat yang dikonsumsi untuk berjaga-jaga selayaknya profilaksis. (4)
Bagaimana Situasi Influenza dalam Tiga Minggu Terakhir?
Menurut Surveilans dan Karantina Kesehatan (Surkarkes), positivity rate influenza mencapai 38% pada 12 September, 46% pada 19 September, dan 56% pada 26 September. (1,2,3) Positivity rate adalah proporsi spesimen positif dari seluruh spesimen yang diperiksa dari dari jejaring faskes sentinel, yaitu fasilitas terpilih yang memantau kasus secara rutin: 39 puskesmas, 35 rumah sakit, dan 14 Balai Karantina Kesehatan di pintu masuk negara. (1,3) Tabel 1 merangkum laporan tiga minggu terakhir.
Tabel 1. Ringkasan tiga laporan Surkarkes. (1,2,3)
| Laporan | Positivity rate (minggu sebelumnya → terbaru) | Spesimen diperiksa / positif | Kasus positif usia 0–4 tahun | ILI di kunjungan puskesmas sentinel |
| 12 September | 22% → 38% | 175 / 66 | 33% | 0,27% → 0,29% |
| 19 September | 35% → 46% | 185 / 86 | 42% | 0,31% → 0,40% |
| 26 September | 44% → 56% | 265 / 148 | 39% | 0,40% → 0,51% |
Saat ini, Aktivitas Influenza dalam Kategori “Sedang”?
Pada data sentinel ILI, proporsi kasus positif influenza naik menjadi 59% dari 54%. Di rumah sakit sentinel, proporsi kasus positif naik menjadi 53% dari 28%, tetapi kategori aktivitasnya tetap rendah. (3)
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut kondisi ini masih dalam rentang medium, dengan respons berupa penguatan surveilans dan kesiapsiagaan. Menurut data Kemenkes, kenaikan pada Agustus–September masih sesuai pola musiman. (5)
Virus yang dominan adalah influenza A(H1N1)pdm09, yaitu 135 dari 148 spesimen positif pada laporan 26 September. Sisanya 9 A(H3N2) dan 4 B/Victoria. Anak usia 0–4 tahun mencakup 39% kasus positif. (3) Kemenkes juga memantau H3N2 subclade K: 22 kasus pada 2026 di 6 provinsi, dan 188 kasus sejak 2025 di 20 provinsi. (3) Istilah "superflu" bukan nomenklatur resmi World Health Organization (WHO) maupun Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (5)
Mengapa Oseltamivir Dibatasi, dan Apakah Stoknya Habis?
Di tengah berita kenaikan influenza yang sedang terjadi, terdapat isu bahwa stok oseltamivir sedang habis. Sejalan dengan iin, Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan Lucia Rizka Andalusia mengakui masyarakat sulit memperoleh obat ini di sejumlah rumah sakit. Merespons hal ini, Menkes menyatakan bahwa stok oseltamivir masih tersedia di rumah sakit, namun pemberiannya memang dibatasi untuk mencegah resistensi. (5) Kemenkes telah mendistribusikan oseltamivir ke sekitar 196 rumah sakit dan mempercepat importasi. Produksi dalam negeri belum dapat memenuhi kebutuhan karena keterlambatan. (4)
Kemenkes meminta masyarakat tidak membeli atau menyimpan oseltamivir tanpa resep. Masyarakat juga diminta tidak memakai obat milik orang lain, tidak menggandakan dosis, dan tidak menghentikan atau melanjutkan terapi tanpa konsultasi. (4)
Pernyataan yang ditinjau mengaitkan pembatasan dengan risiko resistensi dan indikasi medis, tanpa menyebut WHO secara eksplisit. (4,5) Prioritas pada kasus berat searah dengan pedoman WHO 2024.
Kelompok yang diprioritaskan untuk mendapatkan Oseltamivir menurut Kemenkes adalah sebagai berikut:
- pasien influenza berat yang dirawat di rumah sakit;
- pasien dengan penyakit penyerta (komorbid);
- kelompok berisiko komplikasi, yaitu anak di bawah 2 tahun, lansia di atas 65 tahun, dan ibu hamil. (4)
Pedoman klinis influenza WHO 2024 memberi rekomendasi kuat untuk tidak menggunakan oseltamivir pada influenza non-berat. Untuk influenza berat, rekomendasinya bersyarat (conditional) mendukung penggunaan oseltamivir. (6) Pedoman yang sama merekomendasikan baloxavir secara bersyarat pada pasien non-berat yang berisiko tinggi mengalami perburukan. Pedoman itu juga merekomendasikan kuat untuk tidak memberi antibiotik pada influenza non-berat dengan kemungkinan ko-infeksi bakteri yang rendah. (6) Pertimbangan untuk memberikan oseltamivir pada anak dibahas di ulasan sebelumnya.
Langkah Pencegahan yang Dianjurkan Saat Aktivitas Influenza Meningkat
Untuk menjaga agar kenaikan kasus influenza tetap terkontrol, Kemenkes menganjurkan agar masyarakat tetap tenang dan melakukan upaya-upaya pencegahan penularan berikut:
- Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau memakai hand sanitizer. (3)
- Menerapkan etika batuk dan bersin. (3)
- Memakai masker saat berada di keramaian atau saat sakit, misalnya batuk, pilek, atau demam. (3)
- Tetap di rumah saat bergejala flu. (3)
- Mendapat vaksinasi influenza tahunan, terutama pada lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta. (3)
- Segera ke fasilitas kesehatan bila gejala memburuk atau tidak membaik dalam lebih dari 3 hari, atau bila ada kontak dengan faktor risiko. (3)
Kemenkes juga meminta masyarakat mengenali gejala, memahami tanda bahaya, dan mencari pertolongan pada waktu yang tepat. (4)
Kesimpulan
Aktivitas influenza meningkat dalam tiga laporan berturut-turut.Kasus positif didominasi A(H1N1)pdm09 dan paling banyak pada anak usia 0–4 tahun, kabar baiknya, tanpa pasien positif di perawatan intensif pada laporan yang ditinjau. Angka sentinel ini menunjukkan tren, bukan jumlah seluruh kasus. (1,2,3)
Pertimbangkan pemberian oseltamivir pada pasien influenza dengan indikasi yang tepat. Edukasi pasien tentang tanda bahaya, pencegahan, dan risiko menyimpan obat tanpa resep juga tidak kalah penting dalam mencegah peningkatan kasus pada musim influenza ini lebih luas dari kapasitas yang ada. (4)
Maksimalkan layanan influenza di faskes Anda dengan promo bundling Rapid Test + GRATIS vaksin flu. Klik banner di atas untuk pesan sekarang!
FAQ
Apakah positivity rate influenza 56% berarti 56% masyarakat terkena flu?
Tidak. Angka itu adalah proporsi spesimen positif: 148 dari 265 spesimen yang diperiksa pada laporan 26 September. Data berasal dari jejaring sentinel dan masih bersifat sementara, sehingga dibaca sebagai tren. (3)
Bolehkah oseltamivir dibeli dan disimpan di rumah untuk berjaga-jaga?
Tidak. Kemenkes meminta masyarakat tidak membeli atau menyimpan oseltamivir tanpa resep dokter dan kebutuhan medis yang ditentukan tenaga kesehatan. (4)
Apakah influenza perlu diberi antibiotik?
Tidak secara rutin. Kemenkes meminta antibiotik tidak digunakan bila tidak ada infeksi sekunder yang membutuhkannya. (4) WHO juga merekomendasikan kuat untuk tidak memberi antibiotik pada influenza non-berat dengan kemungkinan ko-infeksi bakteri yang rendah. (6)
Berapa lama setelah gejala oseltamivir masih dapat dimulai?
Menurut ulasan dari StatPearls, manfaat maksimal diperoleh bila terapi dimulai dalam 48 jam sejak gejala. Pada pasien rawat inap dengan influenza berat atau progresif, terapi tetap dianjurkan tanpa memandang lama gejala, karena efikasi dilaporkan hingga 4 sampai 5 hari. (7)
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19: 12 Sep (Minggu ke 36) [Internet]. 2026 Sep 12 [cited 2026 Sep 14]. Tersedia dari: https://surkarkes.kemkes.go.id/ringkasan-kasus/36/2026
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19: 19 Sep (Minggu ke 37) [Internet]. 2026 Sep 19 [cited 2026 Sep 23]. Tersedia dari: https://surkarkes.kemkes.go.id/ringkasan-kasus/37/2026
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19: 26 Sep (Minggu ke 38) [Internet]. 2026 Sep 26 [cited 2026 Sep 30]. Tersedia dari: https://surkarkes.kemkes.go.id/ringkasan-kasus/38/2026
- Rahmadania SR. Obat Antivirus Influenza Disebut Habis Stok, Kemenkes Angkat Bicara [Internet]. detikHealth. 2026 Sep 28 [cited 2026 Sep 30]. Tersedia dari: [https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8683041/obat-antivirus-influenza-disebut-habis-stok-kemenkes-angkat-bicara](https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8683041/obat-antivirus-influenza-disebut-habis-stok-kemenkes-angkat-bicara)
- Santoso B, Ardiansyah N. Bukan Habis Stok, Menkes Tegaskan Obat Influenza A Ada, Tapi Pemberian Tak Boleh Sembarang [Internet]. Suara.com. 2026 Sep 28 [cited 2026 Sep 30]. Tersedia dari: [https://www.suara.com/news/2026/09/28/190305/bukan-habis-stok-menkes-tegaskan-obat-influenza-a-ada-tapi-pemberian-tak-boleh-sembarang](https://www.suara.com/news/2026/09/28/190305/bukan-habis-stok-menkes-tegaskan-obat-influenza-a-ada-tapi-pemberian-tak-boleh-sembarang)
- World Health Organization. Clinical practice guidelines for influenza [Internet]. Geneva: World Health Organization; 2024. Executive summary. Available from:https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK607909/
- Sur M, Lopez MJ, Patel P, et al. Oseltamivir. [Updated 2024 Feb 28]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/sites/books/NBK539909/





