Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Rapid Test Influenza Negatif: Apakah Influenza Sudah Bisa Disingkirkan?

15 Oktober 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Rapid Test Influenza Negatif: Apakah Influenza Sudah Bisa Disingkirkan?

"Rapid test influenza membantu tenaga kesehatan mendeteksi infeksi influenza dengan cepat. Pemeriksaan ini memiliki spesifisitas tinggi sehingga hasil positif umumnya dapat dipercaya. Namun, sensitivitas rapid test antigen dapat berbeda antarproduk, dan hasil negatif belum tentu menyingkirkan influenza. Agar pemeriksaan memberikan manfaat optimal, dokter perlu mempertimbangkan waktu pengambilan sampel, aktivitas influenza di masyarakat, serta kondisi klinis pasien."

Rapid influenza diagnostic test (RIDT) merupakan pemeriksaan cepat yang mendeteksi antigen virus influenza A dan B dari sampel saluran pernapasan. Pemeriksaan ini memberikan hasil positif atau negatif dalam waktu singkat, umumnya sekitar 15 menit, sehingga dapat membantu pengambilan keputusan klinis di layanan primer maupun instalasi gawat darurat. (1)

Penggunaan rapid test menjadi semakin relevan ketika kasus influenza meningkat, seperti yang terlihat dalam laporan mengenai angka hasil pemeriksaan influenza positif yang mencapai 61%. Dalam kondisi tersebut, rapid test dapat membantu dokter memperoleh informasi awal mengenai kemungkinan infeksi influenza.

Namun, bagaimana jika pasien menunjukkan gejala khas influenza, tetapi hasil rapid test negatif? Untuk menjawabnya, dokter perlu memahami kemampuan masing-masing jenis pemeriksaan, faktor yang memengaruhi akurasinya, serta cara menafsirkan hasil berdasarkan kondisi klinis pasien.

Mengapa Hasil RIDT Negatif Belum Tentu Menyingkirkan Influenza?

Rapid test influenza memiliki keunggulan dalam kecepatan pemeriksaan dan spesifisitas yang tinggi. Namun, kemampuan mendeteksi infeksi dapat berbeda menurut jenis dan teknologi pemeriksaan yang digunakan.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menjelaskan bahwa sensitivitas RIDT antigen umumnya lebih rendah dibandingkan pemeriksaan molekuler. Karena itu, hasil negatif palsu masih dapat terjadi, terutama ketika aktivitas influenza di masyarakat sedang tinggi. (1)

Untuk memahami perbedaan kemampuan setiap metode, Merckx dan kolega melakukan meta-analisis terhadap 162 penelitian yang diterbitkan hingga Mei 2017. Penelitian ini membandingkan berbagai jenis rapid test influenza dengan pemeriksaan reverse transcriptase-polymerase chain reaction (RT-PCR) sebagai standar pembanding. (2)

Tabel 1. Perbandingan akurasi rapid test influenza terhadap RT-PCR (2)

Jenis pemeriksaanSensitivitas influenza ASensitivitas influenza BSpesifisitas
RIDT antigen konvensional54,4%53,2%≥98%
Digital immunoassay (DIA)80,0%76,8%≥98%
Rapid nucleic acid amplification test (NAAT)91,6%95,4%≥98%

Sensitivitas sebesar 54,4% berarti RIDT konvensional dapat mendeteksi sekitar 54 dari 100 pasien yang benar-benar terinfeksi influenza A. Sementara itu, sekitar 46 pasien lainnya berpotensi mendapatkan hasil negatif meskipun sebenarnya terinfeksi. (2)

Di sisi lain, spesifisitas yang mencapai 98% atau lebih menjadi salah satu keunggulan RIDT. Angka ini menunjukkan bahwa pemeriksaan relatif jarang memberikan hasil positif pada orang yang sebenarnya tidak terinfeksi influenza. Karena itu, hasil positif umumnya dapat membantu memperkuat diagnosis, terutama ketika sesuai dengan gejala klinis pasien. (2)

Performa Rapid Test Dapat Berbeda Antarproduk

Angka sensitivitas sekitar 54% merupakan hasil gabungan penelitian terhadap berbagai RIDT antigen konvensional, sehingga tidak selalu mencerminkan akurasi setiap produk rapid test influenza. Performa pemeriksaan dapat berbeda bergantung pada teknologi, karakteristik produk, jenis sampel, serta kondisi pengujian.

Sebagai contoh, penelitian multisenter tahun 2024 terhadap Panbio™ COVID-19/Flu A&B Panel dari Abbott menunjukkan sensitivitas sebesar 80,6% untuk influenza A dan 80,8% untuk influenza B, dengan spesifisitas masing-masing sebesar 99,3% dan 99,4%. Penelitian ini melibatkan 1.148 peserta yang dapat dievaluasi untuk influenza dari 22 lokasi penelitian di Asia-Pasifik, Eropa, dan Amerika Serikat. (5)

Pengujian menggunakan sampel usap hidung bagian tengah pada pasien bergejala dalam lima hari pertama sejak gejala muncul, dengan pemeriksaan molekuler sebagai pembanding. (5)

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sebagian produk rapid test antigen memiliki kemampuan mendeteksi influenza yang lebih tinggi dibandingkan rerata RIDT konvensional pada meta-analisis sebelumnya. Dengan hasil yang cepat dan spesifisitas tinggi, rapid test dapat membantu dokter memperkuat diagnosis influenza, terutama ketika hasil positif sesuai dengan gejala pasien.

Meski demikian, sensitivitas sekitar 81% masih memungkinkan terjadinya hasil negatif palsu. Karena itu, hasil negatif tetap perlu dinilai bersama kondisi klinis, waktu munculnya gejala, dan tingkat penyebaran influenza di masyarakat.

Selain RIDT antigen konvensional, terdapat pemeriksaan digital immunoassay (DIA), yaitu pemeriksaan antigen yang hasilnya dibaca menggunakan alat digital, serta rapid NAAT yang mendeteksi materi genetik virus. Kedua metode tersebut memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan rerata RIDT konvensional dalam meta-analisis Merckx dan kolega. (2)

Sensitivitas rapid test influenza juga cenderung lebih rendah pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. (3)

Salah satu penulis meta-analisis Merckx dan kolega melaporkan adanya pendanaan penelitian dari produsen alat diagnostik. Informasi ini perlu diperhatikan ketika menilai hasil penelitian, tanpa serta-merta mengurangi nilai temuan yang dilaporkan. (2)

Kapan Hasil RIDT Lebih Dapat Dipercaya?

Rapid test influenza dapat memberikan informasi yang lebih bermanfaat apabila digunakan pada waktu dan kondisi yang tepat. Dua faktor penting yang perlu diperhatikan adalah tingkat aktivitas influenza di masyarakat dan waktu pengambilan sampel sejak gejala muncul.

CDC memberikan beberapa panduan untuk membantu dokter menafsirkan hasil RIDT: (1)

  1. Hasil negatif lebih dapat dipercaya ketika aktivitas influenza rendah. Terutama jika sampel diambil dalam empat hari pertama sejak gejala muncul.
  2. Hasil positif lebih dapat dipercaya ketika aktivitas influenza tinggi. Terutama jika pemeriksaan dilakukan dalam empat hari pertama sejak awal gejala.
  3. Gejala yang sesuai dengan influenza membantu memperkuat interpretasi hasil. Pasien dengan demam, batuk, dan gejala khas lainnya memiliki kemungkinan mengalami influenza yang lebih tinggi, terutama saat virus sedang banyak beredar.

Hal ini berkaitan dengan nilai duga negatif, yaitu kemungkinan pasien benar-benar tidak terinfeksi influenza ketika hasil pemeriksaannya negatif. Menurut CDC, nilai duga negatif RIDT paling tinggi ketika aktivitas influenza di masyarakat rendah. (1)

Sebaliknya, saat influenza sedang banyak beredar, kemungkinan seseorang terinfeksi menjadi lebih tinggi. Pada kondisi tersebut, hasil negatif perlu ditafsirkan dengan lebih hati-hati, terutama jika gejala pasien sangat mengarah pada influenza.

Dengan memahami hubungan ini, dokter dapat memaksimalkan manfaat rapid test. Pemeriksaan dapat membantu memperkuat dugaan influenza dengan cepat, sementara hasil negatif perlu dinilai berdasarkan kemungkinan infeksi sebelum pemeriksaan dan kondisi klinis pasien.

Hasil positif juga memiliki batasan. Terdeteksinya antigen virus influenza tidak selalu menunjukkan bahwa virus yang masih hidup terdapat dalam tubuh pasien atau bahwa pasien masih dapat menularkan infeksi. (1)

Pemeriksaan Apa yang Lebih Dianjurkan?

Pemilihan pemeriksaan influenza perlu disesuaikan dengan tujuan diagnosis, kebutuhan klinis, serta ketersediaan alat di fasilitas kesehatan.

Pedoman Infectious Diseases Society of America (IDSA) tahun 2018 lebih merekomendasikan pemeriksaan molekuler cepat, seperti NAAT, dibandingkan RIDT antigen konvensional karena sensitivitasnya lebih tinggi. Pedoman tersebut menyebutkan bahwa RIDT dapat memberikan hasil negatif palsu pada sedikitnya 30% pasien rawat jalan yang mengalami influenza. (3)

Pemeriksaan molekuler cepat umumnya memberikan hasil dalam waktu sekitar 15–60 menit. IDSA juga merekomendasikan pengambilan sampel dari nasofaring untuk memperoleh hasil pemeriksaan yang optimal. (3)

Meski demikian, RIDT antigen tetap memiliki kegunaan dalam praktik klinis. Pemeriksaan ini relatif sederhana, cepat, dan dapat digunakan untuk membantu penilaian awal pasien, terutama di fasilitas kesehatan dengan akses pemeriksaan molekuler yang terbatas.

Keunggulan utama RIDT terletak pada kecepatannya dalam memberikan hasil dan spesifisitasnya yang tinggi. Ketika hasil positif sesuai dengan gejala pasien, informasi tersebut dapat membantu dokter memperkuat dugaan diagnosis influenza.

Jika pasien menunjukkan gejala yang kuat mengarah pada influenza tetapi hasil RIDT negatif, pemeriksaan molekuler dapat dipertimbangkan apabila konfirmasi diagnosis diperlukan.

WHO juga telah memperbarui pedoman klinis influenza pada 2024, termasuk rekomendasi mengenai strategi pemeriksaan diagnostik untuk pasien dengan influenza ringan maupun berat. Fasilitas kesehatan dapat menggunakan pedoman tersebut sebagai salah satu acuan dalam menyusun alur pemeriksaan influenza. (4)

Apa yang Dilakukan bila RIDT Negatif tetapi Gejala Mengarah ke Influenza?

Hasil rapid test negatif perlu ditafsirkan bersama kondisi klinis pasien, terutama pada kelompok yang berisiko mengalami komplikasi influenza.

Pada pasien berisiko tinggi, hasil RIDT negatif tidak seharusnya menjadi alasan untuk menunda pengobatan antivirus apabila dokter memiliki dugaan kuat terhadap influenza.

IDSA menganjurkan pemberian antivirus sesegera mungkin pada pasien dengan influenza yang telah terkonfirmasi maupun yang masih dicurigai, terutama pada kelompok berikut: (3)

  1. Pasien yang memerlukan rawat inap.
  2. Pasien rawat jalan dengan penyakit berat atau gejala yang semakin memburuk.
  3. Pasien rawat jalan yang memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi influenza.
  4. Anak berusia di bawah 2 tahun.
  5. Orang dewasa berusia 65 tahun ke atas.
  6. Ibu hamil.

Pada pasien berisiko tinggi, IDSA tetap menganjurkan pemberian antivirus meskipun gejala sudah berlangsung lebih dari dua hari. (3)

Karena itu, ketika hasil RIDT negatif tetapi pasien menunjukkan gejala yang kuat mengarah pada influenza, dokter perlu mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh. Pemeriksaan lanjutan dapat membantu memastikan diagnosis jika diperlukan, tetapi keputusan pemberian antivirus pada pasien berisiko tinggi tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan tersebut.

Pembahasan mengenai kondisi ini juga dapat dibaca dalam artikel kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi influenza serta pemberian oseltamivir lebih dari 48 jam sejak gejala muncul.

Bagaimana Memaksimalkan Manfaat Rapid Test Influenza dalam Praktik Klinis?

Rapid test influenza dapat membantu dokter memperoleh informasi diagnostik dengan cepat, terutama di fasilitas kesehatan yang membutuhkan pemeriksaan praktis dan mudah diakses. Spesifisitas RIDT yang tinggi membuat hasil positif umumnya dapat dipercaya, sedangkan keterbatasan sensitivitasnya perlu diperhatikan ketika menafsirkan hasil negatif. (1,2)

Performa rapid test antigen juga dapat berbeda antarproduk. Penelitian terhadap Panbio™ COVID-19/Flu A&B Panel dari Abbott, misalnya, menunjukkan sensitivitas sekitar 81% untuk influenza A maupun B, dengan spesifisitas di atas 99%. Hasil ini memperlihatkan pentingnya mempertimbangkan data akurasi masing-masing produk ketika memilih pemeriksaan. (5)

Untuk memperoleh manfaat optimal, dokter perlu memperhatikan waktu pengambilan sampel, gejala pasien, serta aktivitas influenza di masyarakat. Hasil positif dapat membantu memperkuat diagnosis, sedangkan hasil negatif tetap perlu dinilai bersama kondisi klinis dan kemungkinan pasien mengalami influenza.

Pada pasien berisiko tinggi dengan dugaan influenza, pemberian antivirus tidak perlu ditunda hanya karena hasil rapid test negatif. Pemeriksaan molekuler dapat dipertimbangkan apabila konfirmasi diagnosis lebih lanjut diperlukan. (3)

Dengan memahami keunggulan dan keterbatasan setiap metode, tenaga kesehatan dapat memilih serta menggunakan rapid test influenza secara lebih tepat sesuai kebutuhan pasien dan kemampuan fasilitas kesehatan.

FAQ

Berapa sensitivitas rapid test influenza?

Sensitivitas RIDT antigen konvensional dalam meta-analisis tahun 2017 sekitar 54% untuk influenza A dan 53% untuk influenza B. Namun, kemampuan deteksi dapat berbeda antarproduk. Sebagai contoh, penelitian terhadap Panbio™ COVID-19/Flu A&B Panel dari Abbott menunjukkan sensitivitas sekitar 81% untuk influenza A dan B. (2,5)

Apakah hasil RIDT positif pasti menunjukkan influenza?

Hasil positif RIDT umumnya dapat dipercaya karena spesifisitasnya tinggi, yaitu sekitar 98% atau lebih dalam meta-analisis. Namun, interpretasinya tetap perlu mempertimbangkan gejala pasien dan aktivitas influenza di masyarakat. Hasil positif juga tidak selalu menunjukkan bahwa virus masih hidup atau pasien masih dapat menularkan infeksi. (1,2)

Kapan waktu terbaik mengambil sampel untuk rapid test influenza?

Sampel sebaiknya diambil sedekat mungkin dengan awal munculnya gejala, terutama dalam empat hari pertama. (1) Jenis sampel perlu mengikuti petunjuk penggunaan masing-masing produk. IDSA merekomendasikan sampel nasofaring sebagai pilihan untuk memperoleh hasil optimal pada pemeriksaan influenza. (3)

Apakah perlu pemeriksaan lanjutan jika hasil RIDT negatif?

Pemeriksaan lanjutan dapat dipertimbangkan apabila gejala pasien masih kuat mengarah pada influenza dan konfirmasi diagnosis diperlukan. Pemeriksaan molekuler lebih dianjurkan dalam kondisi tersebut karena memiliki sensitivitas lebih tinggi. Pada pasien berisiko tinggi, pemberian antivirus tidak perlu ditunda sambil menunggu hasil pemeriksaan lanjutan. (2,3)

Daftar Pustaka

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Rapid influenza diagnostic tests [Internet]. Atlanta: CDC; 2026 Jun 22 [dikutip 2026 Okt 12]. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/flu/hcp/testing-methods/clinician_guidance_ridt.html
  2. Merckx J, Wali R, Schiller I, Caya C, Gore GC, Chartrand C, et al. Diagnostic accuracy of novel and traditional rapid tests for influenza infection compared with reverse transcriptase polymerase chain reaction: a systematic review and meta-analysis. Ann Intern Med. 2017;167:394–409. doi:10.7326/M17-0848
  3. Uyeki TM, et al. Clinical practice guidelines by the Infectious Diseases Society of America: 2018 update on diagnosis, treatment, chemoprophylaxis, and institutional outbreak management of seasonal influenza. Clin Infect Dis. 2018. doi:10.1093/cid/ciy866
  4. World Health Organization. Clinical practice guidelines for influenza. Geneva: WHO; 2024. Tersedia dari: https://app.magicapp.org/summary/guideline_9184.html
  5. Yu SH, Kim KJ, Lee CC, Puebla YP, Zabat GMA, Shih HM, et al. Performance evaluation of the Panbio COVID-19/Flu A&B Panel for detection of SARS-CoV-2, influenza A, and influenza B antigens using mid-turbinate nasal swabs. J Clin Microbiol. 2024;62(7):e00207-24. doi:10.1128/jcm.00207-24


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan