Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Komplikasi Influenza? 

30 September 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Komplikasi Influenza? 

“Risiko komplikasi influenza paling tinggi pada anak di bawah 5 tahun (terutama di bawah 2 tahun), dewasa usia 65 tahun ke atas, ibu hamil, penghuni fasilitas perawatan jangka panjang, serta orang dengan penyakit kronis atau gangguan imun. Risiko meningkat lagi pada usia sangat lanjut dan pada pasien dengan beberapa faktor risiko sekaligus.”

Influenza dapat menyerang siapa saja. Namun, perjalanan penyakitnya tidak selalu sama pada setiap pasien. Sebagian besar orang dapat pulih tanpa komplikasi serius, sementara pada kelompok tertentu influenza lebih berisiko menyebabkan penyakit berat, rawat inap, bahkan kematian. (1)

Karena itu, ketika menghadapi pasien dengan influenza, pertanyaan klinisnya bukan hanya “Apakah pasien terkena influenza?”, tetapi juga “Apakah pasien ini berisiko mengalami komplikasi?”

World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) telah mengidentifikasi sejumlah kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Risiko terutama berkaitan dengan usia, kehamilan, penyakit kronis, dan kondisi yang mengganggu sistem imun. (1,2)

Siapa yang Berisiko Mengalami Komplikasi Influenza?

Secara umum, kelompok berisiko mencakup anak kecil, lansia, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis atau gangguan imun, serta penghuni fasilitas perawatan jangka panjang. (2)

Namun, masing-masing kelompok memiliki karakteristik yang lebih spesifik.

1. Anak kecil dan lansia

CDC memasukkan anak di bawah 5 tahun sebagai kelompok berisiko, terutama anak di bawah 2 tahun. Di sisi lain spektrum usia, risiko juga meningkat pada orang berusia 65 tahun ke atas. (2)

2. Pasien dengan penyakit kronis

Influenza dapat menjadi lebih serius pada pasien yang sebelumnya sudah memiliki kondisi medis tertentu. CDC mencakup pasien dengan:

  1. asma;
  2. penyakit paru kronis, termasuk penyakit paru obstruktif kronik dan fibrosis kistik;
  3. penyakit jantung, seperti penyakit jantung bawaan, gagal jantung kongestif, dan penyakit arteri koroner;
  4. diabetes dan gangguan endokrin lainnya;
  5. penyakit ginjal atau hati;
  6. gangguan neurologis dan perkembangan saraf (neurodevelopmental);
  7. kelainan darah, termasuk penyakit sel sabit;
  8. gangguan metabolik herediter dan penyakit mitokondria;
  9. riwayat stroke; serta
  10. obesitas dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥40. (2)

CDC juga memasukkan pasien berusia di bawah 19 tahun yang menjalani terapi aspirin atau obat mengandung salisilat jangka panjang. (2)

3. Pasien dengan gangguan sistem imun

Risiko komplikasi juga meningkat ketika kemampuan sistem imun untuk melawan infeksi menurun. Kondisi ini dapat terjadi akibat penyakit, misalnya infeksi HIV atau leukemia, maupun akibat terapi seperti kemoterapi, radioterapi, penggunaan kortikosteroid jangka panjang, dan obat imunosupresif lainnya. (2)

4. Ibu hamil dan kelompok lainnya

Kehamilan juga meningkatkan risiko influenza berat. Daftar CDC mencakup ibu hamil serta ibu hingga dua minggu setelah persalinan. Penghuni panti jompo dan fasilitas perawatan jangka panjang juga termasuk kelompok yang berisiko mengalami komplikasi. (2)

Daftar WHO lebih ringkas dibandingkan CDC. Dalam laporan situasi influenza A(H3N2) musiman tahun 2025, WHO menyoroti lansia ≥65 tahun, orang dengan kondisi imunokompromais, serta pasien dengan penyakit kardiovaskular, neurologis, atau respiratorik kronis sebagai kelompok berisiko tinggi. Keganasan, kehamilan, dan diabetes dapat meningkatkan risiko lebih lanjut. (3)

Dengan kata lain, tidak ada satu faktor risiko yang berdiri sendiri. Usia, penyakit penyerta, kehamilan, dan kondisi sistem imun dapat saling berinteraksi dan membentuk profil risiko setiap pasien.

Mengapa Usia Sangat Berpengaruh terhadap Risiko?

Usia merupakan salah satu faktor yang paling mudah dikenali, tetapi hubungan antara usia dan komplikasi influenza tidak sepenuhnya linear.

Pada kelompok usia lanjut, risiko semakin besar seiring bertambahnya usia. WHO menilai orang berusia ≥85 tahun atau pasien dengan beberapa faktor risiko sekaligus berada pada risiko sangat tinggi. (3)

Gambaran tersebut juga terlihat dalam studi pemodelan global oleh Iuliano dkk. Studi ini memperkirakan kematian respiratorik berlebih terkait influenza sebesar 17,9–223,5 per 100.000 penduduk berusia >75 tahun. Sebagai perbandingan, pada penduduk berusia <65 tahun, estimasinya berkisar 0,1–6,4 per 100.000 penduduk. (4)

Angka tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Studi Iuliano merupakan studi pemodelan yang diterbitkan pada 2018, bukan penghitungan langsung kematian influenza saat ini. Karena itu, data tersebut lebih berguna untuk menunjukkan besarnya perbedaan risiko antarusia daripada menggambarkan angka kematian influenza terkini.

Bagaimana dengan Risiko pada Anak?

Di sisi lain spektrum usia, anak kecil juga memerlukan perhatian khusus.

CDC menyatakan semua anak di bawah 5 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi influenza yang serius. Risiko terutama meningkat pada anak di bawah 2 tahun, sedangkan angka rawat inap dan kematian tertinggi ditemukan pada bayi berusia kurang dari 6 bulan. (5)

Beban influenza pada kelompok ini juga terlihat dalam studi global. Iuliano dkk. memperkirakan terdapat sekitar 9.243–105.690 kematian respiratorik terkait influenza per tahun pada anak di bawah 5 tahun di 92 negara. (4)

WHO sebelumnya juga melaporkan bahwa sekitar 99% kematian akibat infeksi saluran napas bawah yang berkaitan dengan influenza pada anak di bawah 5 tahun terjadi di negara berkembang. Namun, angka tersebut berasal dari meta-analisis tahun 2011 sehingga lebih tepat digunakan untuk menggambarkan pola beban penyakit secara historis, bukan situasi terkini. (1)

Bagaimana dengan Indonesia?

Studi Susilarini dkk. yang menganalisis kejadian severe acute respiratory infection (SARI) terkait influenza di tiga distrik Indonesia pada 2013–2016 juga menemukan beban rawat inap yang besar pada anak kecil. (6)

Temuan ini sejalan dengan gambaran global bahwa usia muda, terutama pada beberapa tahun pertama kehidupan, merupakan salah satu faktor penting ketika menilai risiko komplikasi influenza.

Mengapa Satu Pasien Bisa Memiliki Risiko Lebih Tinggi daripada Pasien Lain?

Dalam praktik, faktor risiko jarang muncul secara terpisah.

Seorang pasien berusia 70 tahun tanpa penyakit penyerta, misalnya, memiliki profil yang berbeda dengan pasien pada usia yang sama yang juga mengalami diabetes dan penyakit jantung.

WHO secara khusus menyebut pasien dengan beberapa faktor risiko sekaligus sebagai kelompok dengan risiko yang lebih tinggi. (3)

Karena itu, daftar faktor risiko sebaiknya tidak digunakan sebagai sekadar checklist. Informasi mengenai usia, komorbid, status imun, dan kehamilan perlu dilihat secara bersamaan untuk membentuk gambaran risiko klinis pasien.

Hal ini juga menjelaskan mengapa dua pasien dengan diagnosis influenza yang sama belum tentu memerlukan tingkat kewaspadaan yang sama.

Bagaimana Mengenali Pasien Berisiko Tinggi di Praktik?

Identifikasi awal sebenarnya dapat dimulai dari anamnesis yang sederhana.

Saat mengevaluasi pasien dengan dugaan atau konfirmasi influenza, beberapa informasi yang penting ditanyakan meliputi:

  1. usia;
  2. penyakit kronis atau komorbid;
  3. kondisi atau terapi yang memengaruhi sistem imun;
  4. status kehamilan atau masa pascapersalinan; serta
  5. apakah pasien tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang. (2)

Informasi tersebut membantu menentukan apakah pasien termasuk kelompok yang perlu mendapat pemantauan lebih ketat.

Pasien dengan beberapa faktor sekaligus juga perlu mendapat perhatian khusus. Lansia dengan diabetes dan penyakit jantung, misalnya, tidak hanya memiliki satu faktor risiko berdasarkan usia, tetapi beberapa kondisi yang dapat meningkatkan kerentanannya terhadap influenza berat. (3)

Apa yang Perlu Diingat Saat Membaca Data Risiko Ini?

Angka risiko dalam berbagai penelitian tidak dapat langsung diterapkan pada setiap pasien di Indonesia.

Sebagian data mortalitas berasal dari model global dan bukan dari populasi Indonesia secara khusus. Studi Iuliano dkk., misalnya, digunakan untuk melihat pola perbedaan risiko antarusia, bukan untuk memperkirakan angka kematian influenza Indonesia saat ini. (4)

Data Indonesia juga masih memiliki keterbatasan. Studi Susilarini dkk. hanya mencakup tiga distrik sentinel pada periode 2013–2016. Penulisnya sendiri menyebut perlunya penelitian lebih lanjut pada kelompok lain, termasuk ibu hamil dan lansia. (6)

JAMA Patient Page juga mencantumkan kelompok ras dan etnis minoritas tertentu di Amerika Serikat yang memiliki angka rawat inap influenza lebih tinggi. (2) Karena temuan tersebut sangat dipengaruhi konteks populasi dan sistem kesehatan AS, data tersebut tidak dapat langsung diekstrapolasi ke Indonesia.

Jadi, daftar kelompok risiko membantu mengenali siapa yang perlu mendapat perhatian lebih, tetapi tidak berfungsi sebagai peringkat absolut risiko antarindividu.

Apa yang Perlu Dibawa ke Praktik Klinis?

Influenza memang dapat mengenai semua kelompok usia, tetapi risiko komplikasinya tidak terbagi secara merata.

Perhatian lebih diperlukan pada anak di bawah 5 tahun\, terutama di bawah 2 tahun—lansia, ibu hamil, pasien dengan penyakit kronis atau gangguan imun, serta penghuni fasilitas perawatan jangka panjang. (1,2)

Pada ujung spektrum usia, kelompok tertentu bahkan memiliki kerentanan yang lebih tinggi. CDC mencatat angka rawat inap dan kematian tertinggi pada kelompok anak terjadi pada bayi di bawah 6 bulan, sedangkan WHO menilai orang berusia ≥85 tahun dan pasien dengan beberapa faktor risiko sekaligus sebagai kelompok dengan risiko sangat tinggi. (3,5)

Dalam praktik sehari-hari, mengenali pasien berisiko tidak selalu membutuhkan penilaian yang rumit. Usia, komorbid, status imun, dan kehamilan sudah menjadi empat informasi penting untuk memulai stratifikasi risiko.

Diagnosisnya mungkin sama-sama influenza. Namun, konsekuensi klinisnya belum tentu sama.

FAQ

Apakah semua lansia berusia 65 tahun ke atas berisiko mengalami komplikasi influenza?

Ya. CDC dan WHO sama-sama memasukkan usia ≥65 tahun sebagai kelompok berisiko. Risiko juga terus meningkat pada usia yang lebih lanjut; WHO menilai orang berusia ≥85 tahun sebagai kelompok dengan risiko sangat tinggi. (2,3) Studi pemodelan global juga menunjukkan estimasi kematian respiratorik terkait influenza jauh lebih tinggi pada kelompok usia >75 tahun dibandingkan kelompok usia <65 tahun. (4)

Apakah anak yang sehat tetap dapat mengalami komplikasi influenza?

Ya. Usia sendiri merupakan salah satu faktor risiko. CDC memasukkan semua anak di bawah 5 tahun sebagai kelompok dengan risiko komplikasi serius yang lebih tinggi, terutama anak di bawah 2 tahun. Di antara kelompok anak, angka rawat inap dan kematian tertinggi ditemukan pada bayi di bawah 6 bulan. (5)

Apakah ibu hamil termasuk kelompok berisiko tinggi?

Ya. CDC memasukkan ibu hamil dan ibu hingga dua minggu setelah persalinan sebagai kelompok yang berisiko mengalami komplikasi influenza. (2) WHO juga menyebut kehamilan sebagai kondisi yang meningkatkan risiko influenza berat. (3) Namun, data khusus dari Indonesia untuk kelompok ini masih terbatas. (6)

Apakah obesitas meningkatkan risiko komplikasi influenza?

CDC memasukkan orang dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥40 ke dalam kelompok berisiko mengalami komplikasi influenza. (2) Sumber yang digunakan dalam artikel ini tidak menetapkan batas peningkatan risiko pada IMT yang lebih rendah.

Apakah memiliki lebih dari satu faktor risiko membuat influenza lebih berbahaya?

Risiko dapat meningkat ketika beberapa faktor terdapat pada pasien yang sama. WHO menilai individu dengan beberapa faktor risiko sekaligus berada pada risiko yang lebih tinggi. (3) Karena itu, usia, penyakit penyerta, status imun, dan kondisi lain sebaiknya dinilai secara keseluruhan, bukan secara terpisah.


Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. Influenza (Seasonal) [Internet]. Geneva: World Health Organization. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/influenza-(seasonal)
  2. Uyeki TM. High-risk groups for influenza complications. JAMA. 2020;324(22):2334. doi:10.1001/jama.2020.21869. Available from: https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2772692
  3. World Health Organization. Disease Outbreak News: Seasonal influenza A(H3N2) – global situation. 2025-DON586 [Internet]. 2025. Available from: https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2025-DON586
  4. Iuliano et al. Global seasonal influenza-associated respiratory mortality: a modelling study. The Lancet. 2018. Available from: https://www.thelancet.com/journals/lancet/article/PIIS0140-6736(17)33293-2/abstract
  5. Centers for Disease Control and Prevention. People at Increased Risk for Flu Complications [Internet]. Updated 2026 May. Available from: https://www.cdc.gov/flu/highrisk/index.htm
  6. Susilarini et al. Influenza-associated severe acute respiratory infection incidence in Indonesia, 2013-2016. Influenza and Other Respiratory Viruses. Available from: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29205865/


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan