Edukasi
Panduan Vaksin Anak dan Bayi Terbaru, Dokter dan Tenaga Kesehatan Wajib Tahu

Ketepatan jadwal vaksin anak dan bayi menjadi penentu utama keberhasilan pencegahan penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menerbitkan Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI Tahun 2024 sebagai acuan bagi dokter, dokter spesialis anak, dan tenaga kesehatan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan Indonesia. (1)
Jadwal ini mencakup 15 jenis vaksin, yaitu hepatitis B, polio, BCG, DTP, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), pneumokokus (PCV), rotavirus, influenza, campak-rubela/MMR (MR/MMR), Japanese encephalitis (JE), varisela, hepatitis A, tifoid, dengue, dan human papillomavirus (HPV), dengan waktu pemberian mulai dari usia 0 bulan hingga 18 tahun. Setiap vaksin memiliki jadwal primer, booster, dan ketentuan catch-up tersendiri yang perlu dipahami secara rinci oleh dokter dan tenaga kesehatan agar penerapannya di layanan imunisasi tetap sesuai rekomendasi terbaru. (1)

Gambar 1. Tabel Rekomendasi Jadwal Imunisasi IDAI
Imunisasi Dasar pada Bayi Usia 0–11 Bulan
Pada periode ini, sebagian besar vaksin primer diberikan secara bertahap sejak bayi baru lahir hingga usia sekitar 9 bulan.
• Hepatitis B (HB): dosis pertama (HB 0) diberikan intramuskular sebelum bayi berusia 24 jam, didahului penyuntikan vitamin K1 minimal 30 menit sebelumnya; dosis 1–3 diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, dengan booster (dosis 4) pada usia 18 bulan. Pada bayi berat lahir kurang dari 2000 gram, imunisasi HB sebaiknya ditunda hingga usia 1 bulan atau saat pulang dari rumah sakit, kecuali bayi lahir dari ibu HBsAg positif yang tetap diberikan HB segera setelah lahir. (1)
• Polio: bOPV diteteskan saat bayi akan pulang (Polio 0), dilanjutkan 3 kali bOPV pada usia 2, 3, dan 4 bulan, ditambah minimal 2 kali IPV sesuai panduan Kementerian Kesehatan pada usia 4 dan 9 bulan, dengan booster pada usia 18 bulan. (1)
• BCG: diberikan satu kali secara intrakutan segera setelah lahir atau sebelum usia 1 bulan. (1) Pembahasan lebih rinci mengenai jadwal, efektivitas, dan respons pascaimunisasi BCG tersedia pada artikel vaksin BCG untuk mencegah tuberkulosis pada anak.
• DTP dan Hib: DTPw atau DTPa dapat dimulai sejak usia 6 minggu, dengan jadwal 3 dosis pada usia 2, 3, 4 bulan atau 2, 4, 6 bulan; Hib diberikan dalam kombinasi vaksin pentavalen atau heksavalen pada jadwal yang sama. (1) Uraian lengkap mengenai jenis, kontraindikasi, dan kejadian ikutan pascaimunisasi DTP tersedia pada artikel jadwal vaksin DPT pada anak.
• PCV: diberikan pada usia 2, 4, dan 6 bulan dengan booster pada usia 12–15 bulan; program imunisasi nasional menggunakan PCV13 dengan jadwal usia 2, 3, dan 12 bulan. (1)
• Rotavirus: vaksin monovalen (RV1) diberikan 2 dosis oral (dosis pertama usia 6–12 minggu, dosis kedua berjarak minimal 4 minggu, paling lambat usia 24 minggu); vaksin pentavalen (RV5) diberikan 3 dosis dengan interval 4–10 minggu dan dosis ketiga paling lambat usia 32 minggu. Program imunisasi nasional menggunakan jadwal usia 2, 3, dan 4 bulan dengan dosis ketiga paling lambat usia 6 bulan 29 hari. (1)
• Influenza: mulai diberikan pada usia 6 bulan; untuk seri pertama pada usia 6 bulan–8 tahun diberikan 2 dosis dengan interval 4 minggu, sedangkan usia 9 tahun ke atas cukup 1 dosis, dan selanjutnya diulang 1 dosis setiap tahun. (1)
• MR: dosis pertama diberikan subkutan mulai usia 9 bulan; bila hingga usia 12 bulan belum mendapat MR, dapat diberikan MR/MMR dengan dosis kedua berjarak 6 bulan. (1)
Imunisasi pada Usia 12–24 Bulan
Periode ini menjadi titik penting untuk booster dari rangkaian imunisasi dasar sekaligus dimulainya beberapa vaksin baru.
• PCV booster (dosis keempat) pada usia 12–15 bulan. (1)
• MR/MMR dosis kedua pada usia 15–18 bulan. (1)
• Varisela: dimulai usia 12 bulan, diberikan 2 dosis dengan interval 6 minggu sampai 3 bulan untuk usia 1–12 tahun, atau interval 4–6 minggu untuk usia 13 tahun ke atas; untuk anak usia 2 tahun ke atas yang belum mendapat MR/MMR maupun varisela, dapat diberikan vaksin kombinasi MMRV sebagai dosis primer. (1)
• Hepatitis A: dimulai usia 12 bulan, diberikan 2 dosis dengan interval 6–18 bulan. (1)
• Booster keempat DTP, polio, hepatitis B, dan Hib pada usia 18 bulan. (1)
• Japanese encephalitis (JE): dosis pertama mulai usia 9 bulan, dengan booster 1–2 tahun kemudian; vaksin ini hanya diindikasikan pada anak yang tinggal di daerah endemis JE atau akan bepergian ke daerah endemis selama satu bulan atau lebih, bukan bagian dari imunisasi rutin seluruh anak. (1)
• Tifoid dosis pertama pada usia 2 tahun (24 bulan). (1)
Imunisasi pada Anak dan Remaja Usia 2–18 Tahun
Pada rentang usia ini, sebagian besar jadwal berupa booster jangka panjang dan pengulangan berkala, dengan tambahan vaksin dengue dan HPV pada usia tertentu.
• DTP dan polio booster kelima pada usia 5–7 tahun, dilanjutkan Td/Tdap pada usia 10–18 tahun; mulai usia 7 tahun, DTP diganti dengan Td/Tdap. Dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), digunakan DT untuk kelas 1 SD, Td untuk kelas 2, dan Td untuk kelas 5.
• MR/MMR dosis ketiga pada usia 5–7 tahun.
• Tifoid diulang setiap 3 tahun sekali hingga usia 18 tahun.
• Influenza tetap diulang 1 dosis setiap tahun.
• Dengue: 2 dosis dengan interval 3 bulan, direkomendasikan pada rentang usia 6–45 tahun, tanpa memerlukan pemeriksaan serologis sebagai pre-skrining. (1)
• HPV: Jadwal Imunisasi IDAI 2024 menjadi acuan skema multidosis yang telah lama digunakan secara luas. Anak perempuan usia 9–14 tahun menerima 2 dosis dengan interval 6–12 bulan, atau melalui BIAS SD dengan dosis pertama kelas 5 dan dosis kedua kelas 6. Mulai usia 15 tahun, jadwal menjadi 3 dosis: 0, 1, 6 bulan untuk vaksin bivalen, atau 0, 2, 6 bulan untuk quadrivalen/nonavalen. (1)
Skema ini kini dilengkapi oleh perkembangan bukti terbaru di tingkat program nasional. WHO Position Paper Desember 2022 merekomendasikan skema 1 atau 2 dosis untuk kelompok usia 9–20 tahun, didukung bukti imunogenisitas yang menunjukkan proteksi dosis tunggal sebanding dengan skema multidosis. (2, 3) Berdasarkan rekomendasi ini, Kementerian Kesehatan RI menerapkan skema dosis tunggal dalam program BIAS sejak 2025, dan memperluasnya ke anak laki-laki kelas 5 SD pada 2026. (4)
Kedua acuan ini saling melengkapi dalam praktik klinis. Skema dosis tunggal Kemenkes mencerminkan efisiensi program imunisasi massal di sekolah, sementara skema multidosis IDAI tetap relevan sebagai acuan komprehensif, khususnya untuk vaksinasi mandiri di luar program dan kelompok dengan kebutuhan dosis tambahan. Pembaruan resmi Jadwal Imunisasi IDAI yang mengadopsi skema dosis tunggal diperkirakan akan menyusul seiring konsolidasi bukti dan kebijakan nasional. Dokter dan tenaga kesehatan disarankan mengikuti kebijakan program BIAS setempat untuk anak usia sekolah, sambil tetap menggunakan skema IDAI sebagai acuan pada konteks vaksinasi mandiri.
Catatan Klinis Penting dalam Praktik Imunisasi
Beberapa ketentuan tambahan berikut relevan untuk situasi klinis yang lebih spesifik dan perlu diperhatikan tenaga kesehatan dalam praktik sehari-hari.
Pada pemberian PCV yang tertunda dari jadwal, ketentuan catch-up berbeda menurut usia saat anak pertama kali datang: bila belum diberikan pada usia 7–12 bulan, diberikan 2 dosis dengan interval minimal 1 bulan ditambah booster pada usia 12–15 bulan berjarak 2 bulan dari dosis sebelumnya; bila belum diberikan pada usia 1–2 tahun, cukup 2 dosis dengan interval minimal 2 bulan; bila belum diberikan pada usia 2–5 tahun, PCV10 diberikan 2 kali dengan jarak 2 bulan atau PCV13/PCV15 cukup 1 kali; dan untuk anak di atas 5 tahun dengan risiko tinggi yang belum pernah mendapat vaksin PCV, direkomendasikan 1 dosis PCV13 atau PCV15.
Bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif memerlukan penanganan khusus, yaitu pemberian vaksin hepatitis B bersama Hepatitis B immunoglobulin (HBIg) pada paha yang berbeda dalam waktu 24 jam setelah lahir tanpa memandang berat badan lahir, mengingat efikasi HBIg menurun apabila diberikan setelah 48 jam meski masih dapat diberikan hingga hari ke-7; pemeriksaan anti-HBs dan HBsAg pada bayi ini dianjurkan pada usia 9–12 bulan.
Pada bayi yang lahir dari ibu dengan tuberkulosis aktif, BCG ditunda sampai terbukti bayi tidak terinfeksi TB dan bayi diberikan terapi pencegahan TB terlebih dahulu; apabila BCG diberikan pada usia 3 bulan atau lebih, sebaiknya didahului uji tuberkulin negatif.
Kesimpulan
Bagi dokter dan tenaga kesehatan, penguasaan Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI 2024 secara menyeluruh, termasuk jadwal primer, booster, dan ketentuan catch-up pada setiap jenis vaksin, menjadi dasar penting dalam memberikan pelayanan vaksinasi yang tepat waktu dan konseling yang akurat kepada keluarga pasien. Beberapa vaksin seperti Japanese encephalitis bersifat selektif berdasarkan risiko paparan, sementara vaksin lain seperti PCV dan rotavirus memiliki ketentuan usia maksimal dan skema catch-up yang perlu diperhatikan agar pemberiannya tetap sesuai indikasi dan jadwal yang direkomendasikan. (1)
FAQ
Apa perbedaan bOPV dan IPV dalam jadwal imunisasi polio?
Jadwal polio lengkap terdiri dari kombinasi vaksin polio oral (bOPV) dan vaksin polio suntik (IPV). bOPV diberikan saat bayi akan pulang dan tiga kali pada usia 2, 3, dan 4 bulan, sedangkan IPV diberikan minimal 2 kali sesuai panduan Kementerian Kesehatan pada usia 4 dan 9 bulan, dengan booster polio pada usia 18 bulan. (1)
Apakah vaksin Japanese encephalitis (JE) perlu diberikan pada semua anak?
Tidak. Vaksin JE hanya direkomendasikan bagi anak yang tinggal di daerah endemis Japanese encephalitis atau yang akan bepergian ke daerah endemis selama satu bulan atau lebih. Dosis pertama diberikan mulai usia 9 bulan, dengan booster 1–2 tahun kemudian bagi anak yang menetap di daerah endemis untuk perlindungan jangka panjang. (1)
Bagaimana jadwal catch-up PCV pada anak yang belum pernah mendapat vaksinasi sesuai usia?
Jadwal catch-up PCV disesuaikan dengan usia anak saat pertama kali divaksinasi. Anak usia 7–12 bulan memerlukan 2 dosis dengan interval minimal 1 bulan ditambah booster; anak usia 1–2 tahun cukup 2 dosis dengan interval minimal 2 bulan; sedangkan anak usia 2–5 tahun memerlukan PCV10 2 kali atau PCV13/PCV15 1 kali, tergantung jenis vaksin yang digunakan. (1)
Apakah pemeriksaan serologis diperlukan sebelum pemberian vaksin dengue?
Tidak. Vaksin dengue TAK-003 dapat diberikan tanpa pemeriksaan serologis sebagai pre-skrining. Jadwalnya terdiri dari 2 dosis dengan interval 3 bulan, direkomendasikan pada rentang usia 6–45 tahun. (1)
Bagaimana perbedaan jadwal HPV antara usia 9–14 tahun dan usia 15 tahun ke atas?
Pada anak perempuan usia 9–14 tahun, vaksin HPV diberikan dalam 2 dosis dengan interval 6–12 bulan. Mulai usia 15 tahun, jadwal mengikuti dosis dewasa, yaitu 3 dosis dengan jadwal 0, 1, 6 bulan untuk vaksin bivalen, atau 0, 2, 6 bulan untuk vaksin quadrivalen maupun nonavalen. (1)
Apakah rekomendasi dosis tunggal HPV sudah menjadi bagian resmi Jadwal Imunisasi IDAI?
Skema dosis tunggal saat ini diterapkan sebagai kebijakan program BIAS Kemenkes, berdasarkan rekomendasi WHO SAGE 2022. Jadwal Imunisasi IDAI 2024 masih mencantumkan skema 2–3 dosis sebagai acuan komprehensif. (1, 4) Kedua acuan ini dapat digunakan secara saling melengkapi: skema BIAS untuk program sekolah, skema IDAI untuk konteks vaksinasi mandiri, hingga pembaruan resmi berikutnya diterbitkan.
Daftar Pustaka
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2024. Jakarta: IDAI; 2024. Tersedia di: https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun
World Health Organization. WHO updates recommendations on HPV vaccination schedule [Internet]. Geneva: WHO; 2022 [cited 2026 Aug 19]. Available from: https://www.who.int/news/item/20-12-2022-WHO-updates-recommendations-on-HPV-vaccination-schedule
World Health Organization. Human papillomavirus vaccines: WHO position paper, December 2022. Wkly Epidemiol Rec. 2022;97(50):645-672.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI [cited 2026 Aug 19]. Available from: https://ayosehat.kemkes.go.id/agenda-kegiatan/bulan-imunisasi-anak-sekolah-bias




