Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Vaksin DPT pada Anak: Jadwal, Jenis, Kontraindikasi, dan Kejadian Ikutan Pascaimunisasi

Vaksin DPT pada Anak: Jadwal, Jenis, Kontraindikasi, dan Kejadian Ikutan Pascaimunisasi

Vaksin DPT merupakan vaksin kombinasi yang melindungi anak dari tiga penyakit infeksi berbahaya, yaitu difteri, tetanus, dan pertusis. Ketiga penyakit ini disebabkan oleh mekanisme toksin bakteri yang dapat menimbulkan komplikasi berat, bahkan kematian, terutama pada bayi dan anak yang belum mendapat imunisasi lengkap. (1) Bagi dokter dan tenaga kesehatan, pemahaman yang tepat mengenai jenis vaksin, jadwal pemberian, kontraindikasi, serta kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) dari vaksin DPT menjadi dasar penting dalam praktik imunisasi sehari-hari.

Apa yang Dimaksud dengan Vaksin DPT?

Vaksin DPT adalah vaksin yang mengandung toksoid difteri, toksoid tetanus, dan komponen antigen pertusis, yang bekerja dengan merangsang pembentukan antibodi dan antitoksin terhadap ketiga komponen tersebut. (2) Difteri disebabkan oleh strain toksigenik Corynebacterium diphtheriae, bakteri yang dapat menghasilkan toksin perusak jaringan lokal dan membentuk pseudomembran khas pada faring atau laring, serta dapat menimbulkan komplikasi sistemik seperti miokarditis dan neuritis. (2, 3) Tetanus disebabkan oleh neurotoksin yang dihasilkan Clostridium tetani, yang mengganggu pelepasan neurotransmitter di sistem saraf pusat sehingga menimbulkan kekakuan dan spasme otot yang tidak terkendali. (2, 4) Adapun pertusis, atau batuk rejan, disebabkan oleh Bordetella pertussis dan memiliki perjalanan klinis khas dalam tiga stadium, yaitu stadium kataral, paroksismal, dan konvalesens. (2, 5)

Pemberian vaksin DPT secara rutin pada anak telah terbukti menurunkan secara bermakna angka kejadian ketiga penyakit ini dibandingkan era sebelum vaksin tersedia. (3, 4, 5)

Jenis Vaksin DPT yang Tersedia untuk Anak

Vaksin Sel Utuh (DTP/DTwP) dan Aselular (DTaP)

Generasi awal vaksin pertusis berupa vaksin sel utuh (whole-cell pertussis/DTPw) yang dikombinasikan dengan toksoid difteri dan tetanus. Vaksin ini efektif, tetapi berkaitan dengan tingginya angka reaksi lokal seperti kemerahan, bengkak, dan nyeri pada tempat suntikan. (5) Kekhawatiran terhadap keamanan tersebut mendorong pengembangan vaksin pertusis aselular (acellular pertussis/DTPa atau DTaP) yang memiliki frekuensi efek samping lebih rendah, dengan kandungan toksin pertusis, filamentous haemagglutinin, pertaktin, serta fimbriae tipe 2 dan 3. (2) Di Amerika Serikat, vaksin DTP sel utuh sudah tidak lagi beredar dan sepenuhnya digantikan oleh DTaP. (5) Sementara itu, sesuai rekomendasi IDAI Tahun 2024, di Indonesia kedua jenis sediaan, baik DTPw maupun DTPa, masih sama-sama digunakan dan dapat diberikan mulai usia 6 minggu; pemilihan jenis sediaan disesuaikan dengan ketersediaan produk dan kebijakan program imunisasi di masing-masing fasilitas layanan kesehatan. (1)

Vaksin DPT Kombinasi

Komponen DTaP juga tersedia dalam sediaan kombinasi bersama vaksin lain, misalnya DTaP-HepB-IPV, DTaP-IPV/Hib, dan DTaP-IPV-Hib-HepB, yang memungkinkan pemberian beberapa antigen sekaligus dalam satu kali suntikan sehingga mengurangi jumlah kunjungan imunisasi. (2, 5) Pemilihan sediaan kombinasi disesuaikan dengan usia anak dan ketersediaan produk di masing-masing fasilitas layanan kesehatan.

Perbedaan Sediaan Berdasarkan Usia: DTaP vs Tdap/Td

Anak berusia di bawah 7 tahun menerima sediaan DTaP dengan dosis antigen penuh. Pada usia 7 tahun ke atas, sediaan yang digunakan adalah Tdap atau Td, yang mengandung dosis toksoid difteri dan/atau antigen pertusis yang telah direduksi agar reaktogenisitasnya lebih rendah pada kelompok usia yang lebih besar. (3, 4) Perbedaan dosis antigen inilah yang membedakan huruf kapital dan huruf kecil pada penamaan DTaP (D dan P besar) dibandingkan Tdap (d dan p kecil).

Jadwal Pemberian Vaksin DPT pada Anak

Berdasarkan Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi IDAI Tahun 2024, vaksin DTP (baik DTPw maupun DTPa) disuntikkan secara intramuskular dan dapat mulai diberikan sejak usia 6 minggu. (1) Seri primer terdiri atas 3 dosis, yang dapat diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan, atau sebagai alternatif pada usia 2, 4, dan 6 bulan. (1) Program imunisasi nasional di Indonesia menggunakan jadwal 2, 3, dan 4 bulan untuk dosis primer ini.

Setelah seri primer selesai, booster pertama diberikan pada usia 18 bulan. (1) Booster berikutnya diberikan pada usia 5–7 tahun, dan booster lanjutan pada rentang usia 10–18 tahun. (1) Mulai usia 7 tahun, komponen pertusis dosis penuh tidak lagi digunakan dan sediaan beralih ke Td atau Tdap. (1)

Kaitan Booster DPT dengan Program BIAS

Booster usia sekolah terintegrasi dengan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan bersama sekolah dasar. Berdasarkan jadwal IDAI 2024, murid kelas 1 SD menerima vaksin DT, murid kelas 2 menerima Td, dan murid kelas 5 menerima Td. (1) Dokter dan tenaga kesehatan di layanan primer perlu memastikan status imunisasi anak selaras dengan pencatatan BIAS agar tidak terjadi duplikasi maupun kekosongan dosis booster.

Bila anak memiliki kontraindikasi terhadap komponen pertusis, DT (tanpa komponen pertusis) dapat digunakan untuk melanjutkan seri imunisasi difteri-tetanus. (3, 4) Secara umum, prinsip jadwal kejar (catch-up) pada anak yang mengalami keterlambatan imunisasi adalah melanjutkan dosis yang belum lengkap tanpa mengulang dari awal, dengan memperhatikan interval minimal antar dosis, yaitu sekitar 4 minggu antara dosis pertama dan kedua, 4 minggu antara dosis kedua dan ketiga, serta minimal 6 bulan sebelum dosis booster berikutnya. (2)

Kontraindikasi dan Kondisi yang Perlu Diperhatikan Sebelum Pemberian Vaksin DPT

Sebelum memberikan vaksin DPT, dokter perlu menilai riwayat medis anak untuk mengidentifikasi kontraindikasi maupun kondisi yang memerlukan kewaspadaan khusus. (2, 3)

Kontraindikasi absolut terhadap vaksin DTaP/Tdap meliputi:

● Reaksi alergi berat (anafilaksis) terhadap komponen vaksin atau setelah dosis sebelumnya. (2, 3, 4, 5)

● Ensefalopati yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab lain dan terjadi dalam 7 hari setelah pemberian DTaP, DTP, atau Tdap sebelumnya. (2, 3, 4, 5)

Kondisi yang memerlukan kewaspadaan (precaution) sebelum vaksinasi meliputi:

● Penyakit akut sedang hingga berat, dengan atau tanpa demam. (3, 4, 5)

● Gangguan neurologis yang progresif atau belum stabil, kejang yang tidak terkendali, atau ensefalopati progresif; pada kondisi ini vaksinasi sebaiknya ditunda hingga kondisi dievaluasi dan distabilkan. (3, 4, 5)

● Riwayat sindrom Guillain-Barré dalam 6 minggu setelah dosis vaksin yang mengandung toksoid tetanus sebelumnya. (3, 4, 5)

● Riwayat reaksi hipersensitivitas tipe Arthus setelah dosis vaksin yang mengandung toksoid difteri atau tetanus sebelumnya; vaksinasi berikutnya sebaiknya ditunda hingga minimal 10 tahun sejak dosis terakhir. (3, 4, 5)

Penting untuk dokter memahami bahwa riwayat keluarga dengan kejang atau gangguan neurologis lain, maupun kondisi neurologis yang stabil atau sudah teratasi seperti epilepsi terkontrol, palsi serebral, atau keterlambatan perkembangan, bukan merupakan kontraindikasi maupun kondisi kewaspadaan terhadap pemberian DTaP. (3, 4, 5) Kehamilan juga bukan kontraindikasi terhadap vaksinasi DTaP. (2)

Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI) Vaksin DPT

Sebagian besar KIPI DPT bersifat ringan dan bersifat swasirna. Reaksi lokal seperti nyeri, kemerahan, atau bengkak pada tempat suntikan dilaporkan pada 20–40% anak setelah masing-masing dari tiga dosis pertama DTaP, dan frekuensinya cenderung meningkat setelah dosis keempat atau kelima. (3, 4, 5) Demam dengan suhu 101°F (38,3°C) atau lebih dilaporkan pada 3–5% penerima DTaP. (3, 4, 5) Reaksi sistemik ringan lain yang dapat terjadi meliputi rewel dan mengantuk, dan reaksi-reaksi ini umumnya dapat ditangani secara simtomatik. (3, 4, 5)

KIPI sedang hingga berat jauh lebih jarang terjadi, dengan angka kejadian umumnya kurang dari 1 per 10.000 dosis, meliputi:

● Demam tinggi ≥105°F (40,6°C). (3, 4, 5)

● Kejang demam. (2, 3, 4, 5)

● Menangis terus-menerus selama 3 jam atau lebih (persistent crying). (2, 3, 4, 5)

● Episode hipotonik-hiporesponsif. (2, 3, 4, 5)

Reaksi Arthus, yaitu reaksi lokal berlebihan akibat hipersensitivitas terhadap toksoid difteri atau tetanus, jarang dilaporkan namun dapat terjadi, dengan gejala berupa nyeri hebat, edema, indurasi, hingga perdarahan lokal yang umumnya membaik dengan sendirinya. (2, 3, 4, 5) Neuritis brakialis juga pernah dilaporkan terkait vaksin yang mengandung toksoid tetanus, meski kasusnya jarang dan bersifat swasirna. (2)

Sistem surveilans pascapemasaran seperti Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) dan Vaccine Safety Datalink (VSD) secara konsisten menunjukkan profil keamanan DTaP dan Tdap yang sejalan dengan data uji klinis prapemasaran, tanpa pola KIPI yang mengkhawatirkan dibandingkan vaksin inaktif lain. (3, 4, 5)

Kesimpulan

Vaksin DPT tetap menjadi salah satu pilar utama pencegahan difteri, tetanus, dan pertusis pada anak, dengan profil keamanan yang baik selama penapisan kontraindikasi dan kondisi kewaspadaan dilakukan secara cermat sebelum pemberian. Bagi dokter dan tenaga kesehatan, ketepatan dalam menentukan jenis sediaan sesuai usia, kepatuhan terhadap jadwal primer dan booster, serta edukasi yang proporsional mengenai KIPI kepada orang tua merupakan kunci keberhasilan program imunisasi DPT. Rujukan pada jadwal resmi IDAI tahun 2024 tetap diperlukan untuk memastikan penerapan yang sesuai dengan konteks pelayanan imunisasi di Indonesia.

FAQ

Apa perbedaan utama antara DTaP dan Tdap?

DTaP digunakan untuk anak berusia di bawah 7 tahun dan mengandung dosis penuh toksoid difteri serta antigen pertusis, sedangkan Tdap digunakan sebagai booster pada usia 7 tahun ke atas dengan dosis toksoid difteri dan/atau antigen pertusis yang telah direduksi untuk menurunkan reaktogenisitas. (3, 4) Kedua sediaan sama-sama mengandung dosis toksoid tetanus, namun formulasi Boostrix memiliki kandungan toksoid tetanus yang lebih rendah dibandingkan Infanrix. (4, 5)

Apakah demam setelah vaksin DPT termasuk kondisi yang berbahaya?

Demam ringan hingga sedang setelah vaksin DPT umumnya merupakan reaksi sistemik yang wajar dan bersifat swasirna, dilaporkan pada sekitar 3–5% penerima DTaP dengan suhu 101°F atau lebih. (3, 4, 5) Kondisi ini berbeda dengan demam tinggi ≥105°F yang tergolong KIPI sedang-berat dan jauh lebih jarang terjadi, yaitu kurang dari 1 per 10.000 dosis. (3, 4, 5) Orang tua dapat diedukasi mengenai penanganan simtomatik demam ringan, sementara demam tinggi atau disertai kejang perlu evaluasi medis lebih lanjut.

Bagaimana penanganan bila jadwal imunisasi DPT anak terlambat?

Anak yang belum lengkap atau terlambat menerima vaksin DPT dapat melanjutkan seri imunisasi melalui jadwal kejar (catch-up) tanpa perlu mengulang dari awal, dengan mengikuti interval minimal antar dosis yang telah ditetapkan. (2) Prinsip utamanya adalah memastikan interval minimal terpenuhi dan dosis keempat tidak diberikan sebelum usia 12 bulan, sehingga imunitas protektif tetap tercapai meski jadwal tidak persis sesuai usia rutin.

Apakah anak dengan riwayat kejang tetap boleh menerima vaksin DPT?

Riwayat kejang yang telah dievaluasi dan tergolong stabil atau terkontrol, seperti epilepsi idiopatik terkontrol, bukan merupakan kontraindikasi maupun kondisi kewaspadaan terhadap vaksin DTaP. (3, 4, 5) Namun, pada anak dengan gangguan neurologis yang progresif, belum stabil, atau kejang yang tidak terkendali, vaksinasi komponen pertusis sebaiknya ditunda hingga kondisi neurologis dievaluasi, tata laksana dimulai, dan kondisi anak stabil. (3, 4, 5)

Daftar Pustaka

1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2024. Jakarta: IDAI; 2024. Tersedia di: https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun

2. Ogden SA, Ludlow JT, Alsayouri K. Diphtheria Tetanus Pertussis (DTaP) Vaccine. [Updated 2022 Oct 7]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545173/

3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Pink Book) — Chapter 16: Pertussis. Atlanta: CDC. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/pinkbook/hcp/table-of-contents/chapter-16-pertussis.html

4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Pink Book) — Chapter 7: Diphtheria. Atlanta: CDC. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/pinkbook/hcp/table-of-contents/chapter-7-diphtheria.html

5. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases (Pink Book) — Chapter 21: Tetanus. Atlanta: CDC. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/pinkbook/hcp/table-of-contents/chapter-21-tetanus.html

Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan