Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Kortikosteroid untuk Influenza: Mengapa WHO Tidak Merekomendasikannya?

22 Oktober 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Kortikosteroid untuk Influenza: Mengapa WHO Tidak Merekomendasikannya?

“World Health Organization (WHO) memberikan rekomendasi kondisional untuk tidak menggunakan kortikosteroid sebagai pengobatan influenza berat. Sejumlah penelitian mengaitkan penggunaannya dengan peningkatan risiko kematian dan infeksi selama perawatan di rumah sakit, meskipun bukti tersebut masih memiliki keterbatasan. Namun, kortikosteroid tetap dapat diberikan jika pasien influenza memiliki kondisi lain yang membutuhkan pengobatan tersebut, seperti eksaserbasi asma, PPOK, insufisiensi adrenal, atau syok septik.”


Kortikosteroid terkadang diberikan kepada pasien influenza berat karena kemampuannya mengurangi peradangan. Penggunaannya didasari oleh manfaat kortikosteroid pada kondisi tertentu, termasuk sebagian pasien dengan sepsis. Penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa kortikosteroid dapat mengurangi kerusakan paru dan menurunkan risiko kematian akibat pneumonia influenza. (1,2)

Temuan tersebut mendorong sebagian dokter untuk memberikan kortikosteroid pada pasien dengan pneumonia influenza berat, dengan harapan dapat mengurangi peradangan dan mencegah kondisi pasien semakin memburuk. (2)

Namun, hasil penelitian pada manusia belum menunjukkan manfaat yang sama. Di tengah meningkatnya kasus influenza dan diskusi mengenai penggunaan oseltamivir, dokter juga perlu memahami peran kortikosteroid dalam pengobatan influenza, termasuk kondisi ketika obat ini tetap dapat diberikan berdasarkan indikasi medis lainnya.

Apa Rekomendasi WHO tentang Kortikosteroid pada Influenza?

WHO memberikan rekomendasi kondisional untuk tidak menggunakan kortikosteroid sebagai pengobatan influenza berat. Rekomendasi ini tercantum dalam Clinical Practice Guidelines for Influenza yang diterbitkan pada September 2024 sebagai pembaruan pedoman tahun 2022. (3,4)

Selain kortikosteroid, WHO juga memberikan rekomendasi kondisional untuk tidak menggunakan beberapa pengobatan tambahan pada influenza berat, yaitu antibiotik golongan makrolid, penghambat mTOR, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), serta terapi imun pasif. Untuk influenza yang tidak berat, WHO memberikan rekomendasi kuat agar antibiotik tidak digunakan secara rutin. (4)

Rekomendasi kondisional berarti keputusan pengobatan perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien. Dalam konteks ini, kortikosteroid tidak dianjurkan apabila tujuan pemberiannya hanya untuk mengobati influenza. Namun, pasien yang memiliki penyakit penyerta atau kondisi lain yang membutuhkan kortikosteroid tetap dapat menerima pengobatan tersebut sesuai indikasi klinis.

Apa yang Ditunjukkan Penelitian?

Sejumlah penelitian telah menilai penggunaan kortikosteroid pada pasien influenza, terutama yang mengalami pneumonia berat atau gangguan pernapasan akut. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien yang menerima kortikosteroid cenderung memiliki risiko kematian dan infeksi tambahan yang lebih tinggi.

Tinjauan Cochrane tahun 2019 menemukan bahwa pasien influenza yang mendapat kortikosteroid memiliki peluang kematian sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak mendapatkannya. (5) Pembaruan penelitian pada 2020 juga menemukan hubungan antara penggunaan kortikosteroid dengan peningkatan risiko kematian dan infeksi yang terjadi selama perawatan di rumah sakit. (1)

Temuan serupa dilaporkan dalam dua meta-analisis lainnya. Penelitian pada pasien dengan pneumonia influenza berat atau gangguan pernapasan akut menunjukkan kecenderungan risiko kematian lebih tinggi pada kelompok yang menerima kortikosteroid. Namun, setelah memperhitungkan perbedaan kondisi pasien, peningkatan risiko tersebut tidak lagi bermakna secara statistik dalam salah satu analisis. (2)

Penelitian lain pada pasien dewasa dengan pneumonia influenza juga menemukan hubungan antara penggunaan kortikosteroid dan peningkatan risiko kematian, infeksi tambahan, serta masa perawatan di ICU yang lebih lama. (6)

Temuan ini tetap perlu ditafsirkan secara hati-hati karena sebagian besar penelitian bersifat observasional. Pasien influenza dengan kondisi lebih berat mungkin lebih sering mendapat kortikosteroid, sehingga peningkatan risiko kematian yang ditemukan belum tentu disebabkan oleh obat tersebut. Bahkan, salah satu meta-analisis menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak lagi bermakna secara statistik setelah perbedaan kondisi pasien diperhitungkan. (1,2,5) Meski demikian, manfaat kortikosteroid untuk mengobati influenza juga belum terbukti, sementara sejumlah penelitian menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko kematian dan infeksi sekunder. Hal ini mendukung rekomendasi WHO untuk tidak menggunakan kortikosteroid sebagai pengobatan rutin influenza berat. (3,4)

Implikasi untuk Praktik Klinis

Berdasarkan rekomendasi WHO dan hasil penelitian yang tersedia, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dokter saat menangani pasien influenza.

  1. Hindari penggunaan kortikosteroid secara rutin untuk mengobati influenza. WHO memberikan rekomendasi kondisional untuk tidak menggunakan kortikosteroid pada influenza berat karena manfaatnya belum terbukti secara meyakinkan. (3,4)
  2. Perhatikan risiko infeksi tambahan. Sejumlah penelitian menemukan bahwa infeksi selama perawatan di rumah sakit dan infeksi sekunder lebih sering terjadi pada pasien influenza yang menerima kortikosteroid, meskipun hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan. (1,2,6)
  3. Utamakan pengobatan berdasarkan indikasi klinis. Dokter perlu mengevaluasi kebutuhan antivirus, terutama pada kelompok pasien yang berisiko tinggi mengalami komplikasi influenza.

Perlu diperhatikan bahwa penelitian yang dibahas sebelumnya berfokus pada penggunaan kortikosteroid sebagai pengobatan tambahan untuk influenza. Hasil penelitian tersebut tidak dapat langsung diterapkan pada pasien yang memiliki indikasi lain untuk menerima kortikosteroid, tetapi pada saat yang sama juga mengalami influenza.

Karena itu, dokter tetap perlu menilai penyakit penyerta, kondisi pasien, serta manfaat dan risiko pengobatan sebelum memutuskan penggunaan kortikosteroid.

Kapan Kortikosteroid Tetap Dapat Diberikan pada Pasien Influenza?

Meskipun tidak dianjurkan sebagai pengobatan rutin influenza, kortikosteroid tetap dapat diberikan apabila pasien memiliki kondisi lain yang membutuhkan terapi tersebut.

Pedoman Infectious Diseases Society of America (IDSA) tahun 2018 menyebutkan beberapa kondisi yang dapat menjadi indikasi pemberian kortikosteroid pada pasien influenza, yaitu eksaserbasi asma, perburukan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), insufisiensi adrenal, serta syok septik yang sulit teratasi. (7)

1. Eksaserbasi Asma

Infeksi influenza dapat memicu perburukan asma, yang ditandai dengan gejala seperti sesak napas, mengi, dan batuk yang semakin berat.

Pada pasien dengan eksaserbasi asma yang memenuhi indikasi pengobatan, kortikosteroid sistemik dapat diberikan untuk mengurangi peradangan saluran napas dan membantu mengatasi perburukan gejala. (7)

Dalam kondisi ini, kortikosteroid diberikan untuk menangani eksaserbasi asma. Pasien yang mengalami influenza tetap dapat menerima pengobatan tersebut apabila memang diperlukan berdasarkan tingkat keparahan asmanya.

2. Eksaserbasi Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

Influenza juga dapat memicu perburukan PPOK, yang ditandai dengan meningkatnya sesak napas, batuk, atau perubahan jumlah dan karakteristik dahak.

Kortikosteroid sistemik dapat diberikan pada pasien dengan eksaserbasi PPOK sesuai indikasi klinis untuk membantu mempercepat pemulihan fungsi paru dan mengurangi perburukan gejala. (7)

Pemberiannya perlu mengikuti pedoman tata laksana PPOK dengan mempertimbangkan tingkat keparahan eksaserbasi serta kondisi pasien.

3. Insufisiensi Adrenal

Insufisiensi adrenal merupakan kondisi ketika tubuh tidak mampu memproduksi hormon kortisol dalam jumlah yang cukup. Pasien dengan kondisi ini membutuhkan kortikosteroid sebagai terapi pengganti hormon.

Saat mengalami infeksi akut seperti influenza, kebutuhan kortisol tubuh dapat meningkat. Karena itu, dosis terapi pengganti mungkin perlu disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit untuk mencegah terjadinya krisis adrenal.

Pedoman IDSA menyebut insufisiensi adrenal sebagai salah satu kondisi yang tetap memerlukan pertimbangan pemberian kortikosteroid meskipun pasien sedang mengalami influenza. (7)

4. Syok Septik dengan Kebutuhan Vasopresor yang Menetap

Pada kondisi tertentu, infeksi berat dapat berkembang menjadi sepsis dan syok septik, yaitu gangguan sirkulasi yang menyebabkan tekanan darah sangat rendah dan aliran darah ke organ tubuh terganggu.

Pedoman IDSA menyebut syok septik yang sulit teratasi sebagai salah satu indikasi pemberian kortikosteroid pada pasien influenza. (7)

Hal ini juga sejalan dengan pedoman Surviving Sepsis Campaign tahun 2021, yang menyarankan penggunaan kortikosteroid intravena pada pasien dewasa dengan syok septik yang masih membutuhkan obat vasopresor untuk mempertahankan tekanan darah. Rekomendasi tersebut bersifat lemah, dengan tingkat kepastian bukti sedang. (8)

Kortikosteroid yang umumnya digunakan adalah hidrokortison intravena dengan dosis total 200 mg per hari, yang dapat diberikan sebesar 50 mg setiap enam jam atau melalui infus berkelanjutan. Rekomendasi dosis ini berlaku untuk pasien dewasa dan tidak dapat langsung diterapkan pada anak. (8)

Pada kondisi tersebut, pemberian kortikosteroid bertujuan membantu mengatasi syok septik.

Dengan demikian, influenza berat, pneumonia influenza, atau sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) akibat influenza tidak otomatis menjadi indikasi pemberian kortikosteroid. IDSA menganjurkan agar kortikosteroid tidak digunakan untuk mengobati kondisi tersebut, kecuali terdapat indikasi medis lain yang memang memerlukan terapi kortikosteroid. (7)

Kapan Kortikosteroid Perlu Dipertimbangkan pada Pasien Influenza?

Kortikosteroid tidak dianjurkan sebagai pengobatan rutin influenza berat karena manfaatnya belum terbukti secara meyakinkan. Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara penggunaannya dengan peningkatan risiko kematian dan infeksi tambahan, meskipun kualitas bukti masih terbatas. (1–6)

Namun, rekomendasi WHO tersebut tidak berarti bahwa kortikosteroid harus dihindari pada seluruh pasien influenza. Obat ini tetap dapat diberikan apabila pasien memiliki indikasi lain yang jelas, seperti eksaserbasi asma atau PPOK, insufisiensi adrenal, maupun syok septik dengan kebutuhan vasopresor yang menetap. (7,8)

Karena itu, keputusan pemberian kortikosteroid harus didasarkan pada kondisi yang ingin ditangani, bukan semata-mata karena pasien mengalami influenza. Dokter perlu mempertimbangkan indikasi pengobatan, kondisi klinis, serta manfaat dan risiko terapi pada setiap pasien.

FAQ

Apakah kortikosteroid meningkatkan risiko kematian pada pasien influenza?

Beberapa meta-analisis menemukan hubungan antara penggunaan kortikosteroid dan peningkatan risiko kematian pada pasien influenza. (1,5,6) Namun, sebagian besar penelitian bersifat observasional, sehingga belum dapat dipastikan apakah peningkatan risiko tersebut disebabkan oleh kortikosteroid atau dipengaruhi oleh kondisi pasien yang lebih berat. (1,5)

Apakah kortikosteroid dosis rendah lebih aman untuk pasien influenza?

Belum dapat dipastikan. Sebagian besar penelitian menggunakan kortikosteroid dosis tinggi, yaitu lebih dari 40 mg metilprednisolon atau dosis setara per hari. Analisis lebih lanjut juga belum menemukan hubungan yang jelas antara besarnya dosis dan risiko kematian. (1)

Apakah OAINS dan makrolid direkomendasikan sebagai pengobatan tambahan influenza berat?

WHO memberikan rekomendasi kondisional untuk tidak menggunakan OAINS, antibiotik golongan makrolid, penghambat mTOR, dan terapi imun pasif sebagai pengobatan tambahan rutin pada influenza berat. (4)

Mengapa kortikosteroid masih diberikan pada sebagian pasien influenza berat?

Kortikosteroid memiliki efek antiinflamasi dan dapat memberikan manfaat pada kondisi tertentu. Namun, manfaatnya untuk mengobati influenza secara langsung belum terbukti secara meyakinkan. (1,2,5)

Dalam praktiknya, kortikosteroid dapat diberikan kepada pasien influenza yang memiliki indikasi lain, seperti eksaserbasi asma, PPOK, insufisiensi adrenal, atau syok septik yang memerlukan penanganan khusus. (7,8)

Daftar Pustaka

  1. Lansbury LE, Rodrigo C, Leonardi-Bee J, Nguyen-Van-Tam J, Lim WS. Corticosteroids as adjunctive therapy in the treatment of influenza: an updated Cochrane systematic review and meta-analysis. Crit Care Med. 2020;48(2):e98–e106.
  2. [Penulis perlu dilengkapi]. Use of corticosteroids in influenza-associated acute respiratory distress syndrome and severe pneumonia: a systemic review and meta-analysis. Sci Rep. 2020. doi:10.1038/s41598-020-59732-7
  3. World Health Organization. Clinical practice guidelines for influenza. Geneva: WHO; 2024. Tersedia dari: https://app.magicapp.org/summary/guideline_9184.html
  4. Vandvik PO, Agarwal A, Rylance J, et al. Summary of WHO clinical practice guidelines for influenza. BMJ. 2025. doi:10.1136/bmj-2025-087397
  5. Lansbury L, Rodrigo C, Leonardi-Bee J, Nguyen-Van-Tam J, Lim WS. Corticosteroids as adjunctive therapy in the treatment of influenza. Cochrane Database Syst Rev. 2019;(2):CD010406. Tersedia dari: https://www.cochrane.org/evidence/CD010406_steroids-treatment-influenza
  6. [Penulis perlu dilengkapi]. The effect of corticosteroids on mortality of patients with influenza pneumonia: a systematic review and meta-analysis. Crit Care. 2019. PMID: 30917856
  7. Uyeki TM, Bernstein HH, Bradley JS, Englund JA, File TM Jr, Fry AM, et al. Clinical practice guidelines by the Infectious Diseases Society of America: 2018 update on diagnosis, treatment, chemoprophylaxis, and institutional outbreak management of seasonal influenza. Clin Infect Dis. 2019;68(6):e1–e47. doi:10.1093/cid/ciy866
  8. Evans L, Rhodes A, Alhazzani W, Antonelli M, Coopersmith CM, French C, et al. Surviving Sepsis Campaign: international guidelines for management of sepsis and septic shock 2021. Intensive Care Med. 2021;47:1181–1247. doi:10.1007/s00134-021-06506-y



Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan