Edukasi
Prof. Hinky: “Oseltamivir Tidak Perlu Diberikan kepada Semua Pasien Influenza”
7 Oktober 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

“Oseltamivir tidak perlu diberikan kepada semua pasien influenza. Penggunaan terutama diprioritaskan pada pasien dengan penyakit berat, progresif, membutuhkan rawat inap, atau berisiko tinggi mengalami komplikasi. Pemberian paling optimal dalam 48 jam pertama, sementara pengelolaan stok dan edukasi pasien penting untuk menjaga ketersediaan obat bagi yang membutuhkan.”
Peningkatan kasus influenza turut meningkatkan permintaan terhadap oseltamivir. Namun, antivirus ini tidak perlu diberikan kepada setiap pasien influenza. Derajat penyakit, risiko komplikasi, waktu sejak onset gejala, dan kebutuhan rawat inap tetap menjadi pertimbangan utama sebelum terapi diberikan.
Di tengah laporan keterbatasan stok oseltamivir di sejumlah daerah, penggunaan yang tepat sasaran menjadi semakin penting. PrimaPro berbincang dengan Prof. Dr. dr. Hindra Irawan Satari, Sp. A, Subsp. I.P.T., M.Trop.Paed., atau yang lebih akrab disapa sebagai “Prof Hinky” oleh teman sejawat dan murid-murid beliau, mengenai indikasi oseltamivir, waktu pemberian yang optimal, hingga strategi fasilitas kesehatan dalam menentukan prioritas pasien dan mengelola ketersediaan obat.
Apakah Oseltamivir Perlu Diberikan kepada Semua Pasien Influenza?
Menurut Prof. Hinky, oseltamivir tidak perlu diberikan kepada seluruh pasien influenza. Sebagian besar kasus influenza bersifat ringan dan dapat sembuh sendiri atau self-limiting.
Pada pasien dengan gejala ringan, tata laksana dapat difokuskan pada istirahat yang cukup, pemenuhan kebutuhan cairan, serta pemberian obat untuk meredakan gejala.
Oseltamivir terutama dipertimbangkan pada pasien dengan kondisi berikut:
- gejala sedang hingga berat atau kondisi klinis yang memburuk;
- gangguan pernapasan hingga membutuhkan bantuan oksigen;
- memerlukan rawat inap akibat influenza atau komplikasinya; dan
- memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi.
Kelompok yang berisiko tinggi antara lain anak kecil, terutama yang memiliki penyakit penyerta, serta pasien dengan asma, penyakit jantung, diabetes, gangguan ginjal, obesitas berat, atau gangguan sistem imun.
Mengapa Oseltamivir Sebaiknya Diberikan dalam 48 Jam Pertama?
Waktu pemberian menjadi salah satu faktor penting yang menentukan manfaat oseltamivir.
Prof. Hinky menjelaskan bahwa oseltamivir bekerja dengan menghambat enzim neuraminidase. Enzim ini diperlukan virus influenza untuk keluar dari sel yang telah terinfeksi dan menyebar ke sel lain.
Virus influenza bereplikasi dengan cepat pada fase awal infeksi. Karena itu, oseltamivir paling efektif apabila diberikan sedini mungkin, idealnya dalam 48 jam pertama sejak munculnya gejala.
Meski demikian, batas 48 jam tidak berarti bahwa obat ini sama sekali tidak bermanfaat setelah periode tersebut.
Pada pasien tertentu, terutama mereka yang mengalami penyakit berat, memerlukan rawat inap, atau memiliki risiko tinggi komplikasi, pemberian oseltamivir masih dapat dipertimbangkan meskipun pasien datang lebih dari 48 jam sejak onset gejala.
Mengapa Oseltamivir Sempat Sulit Diperoleh?
Kesulitan memperoleh oseltamivir sempat dilaporkan di beberapa daerah, termasuk sejumlah wilayah di Jakarta. Kondisi tersebut muncul bersamaan dengan peningkatan kasus Influenza A sejak September 2026.
Peningkatan permintaan juga dapat dipengaruhi oleh kekhawatiran masyarakat yang kemudian membeli oseltamivir untuk disimpan sebagai obat “jaga-jaga”.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying oseltamivir ketika status aktivitas influenza meningkat dari kategori rendah menjadi sedang. Informasi mengenai kondisi tersebut dapat dibaca lebih lanjut dalam artikel PrimaCare,
Menurut Prof. Hinky, oseltamivir merupakan obat yang penggunaannya perlu dikendalikan. Pembelian atau penggunaan tanpa indikasi yang jelas dapat menyebabkan stok lebih cepat habis dan mengurangi ketersediaan obat bagi pasien yang benar-benar membutuhkan.
Jika Stok Terbatas, Siapa yang Harus Diprioritaskan?
Dalam kondisi keterbatasan stok, fasilitas kesehatan perlu menerapkan prioritas berdasarkan kondisi klinis dan risiko pasien.
Prof. Hinky menekankan bahwa mayoritas kasus influenza dapat sembuh sendiri sehingga pemberian antivirus secara massal tidak diperlukan.
Prioritas utama dapat diberikan kepada pasien dengan influenza berat atau progresif, terutama pasien yang:
- memerlukan rawat inap;
- mengalami pneumonia atau gangguan pernapasan berat; atau
- membutuhkan suplementasi oksigen.
Kelompok lain yang perlu mendapat perhatian adalah pasien dengan risiko tinggi komplikasi, termasuk:
- anak, terutama usia di bawah 2 tahun;
- lansia di atas 65 tahun;
- pasien dengan penyakit jantung;
- pasien dengan penyakit paru kronis atau asma;
- pasien dengan diabetes;
- pasien dengan gagal ginjal; dan
- pasien imunokompromais, seperti pasien kanker, HIV, pasca transplantasi organ, penyakit autoimun, atau penggunaan steroid jangka panjang.
Dengan pendekatan tersebut, stok antivirus yang tersedia dapat diarahkan kepada pasien yang kemungkinan memperoleh manfaat klinis paling besar.
Pasien Influenza Ringan Dapat Difokuskan pada Terapi Suportif
Untuk pasien dengan influenza ringan hingga sedang tanpa faktor risiko komplikasi, tata laksana dapat difokuskan pada terapi suportif dan simptomatis.
Prof. Hinky menyebut beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain:
- memastikan pasien cukup beristirahat;
- menjaga hidrasi yang adekuat;
- memberikan obat pereda demam atau gejala sesuai kebutuhan; dan
- melakukan pemantauan terhadap perkembangan gejala.
Antibiotik tidak diberikan secara rutin pada influenza karena influenza disebabkan oleh virus. Penggunaan antibiotik baru dipertimbangkan apabila terdapat bukti infeksi bakteri sekunder.
Edukasi Pasien Penting untuk Mencegah Penggunaan Oseltamivir sebagai Obat “Jaga-jaga”
Keterbatasan stok juga berkaitan dengan perilaku penggunaan obat di masyarakat.
Dalam praktik, dokter atau tenaga farmasi dapat menemui pasien yang meminta oseltamivir meskipun tidak memiliki indikasi yang jelas. Sebagian pasien bahkan ingin menyimpan obat tersebut sebagai persediaan apabila suatu saat mengalami influenza.
Menurut Prof. Hinky, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam menjelaskan bahwa oseltamivir tidak perlu digunakan secara rutin sebagai obat “jaga-jaga”.
Penggunaan antivirus tanpa indikasi yang tepat dapat mengurangi ketersediaan obat bagi kelompok yang lebih membutuhkan. Penggunaan yang tidak rasional juga perlu dihindari karena dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap munculnya resistensi antivirus.
Bagaimana Faskes Sebaiknya Mengelola Stok Oseltamivir?
Selain ketepatan peresepan, fasilitas kesehatan perlu memperkuat pengelolaan stok agar ketersediaan obat tetap terjaga ketika kasus meningkat.
Prof. Hinky menyarankan agar pemantauan tidak hanya dilakukan ketika stok mulai menipis.
1. Pantau stok secara berkala
Pemantauan stok dapat dilakukan melalui Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) atau Sistem Informasi Manajemen Obat (SIMO) yang tersedia di fasilitas kesehatan.
Faskes juga dapat menerapkan prinsip First Expired, First Out (FEFO) dan First In, First Out (FIFO) serta melakukan stock opname secara rutin.
Selain itu, fasilitas kesehatan perlu menetapkan buffer stock dan reorder point agar pemesanan kembali dapat dilakukan sebelum stok mencapai kondisi kritis.
2. Perkirakan kebutuhan berdasarkan data
Perencanaan kebutuhan dapat mengacu pada data penggunaan obat selama 6–12 bulan sebelumnya.
Data tersebut kemudian dapat dikombinasikan dengan pola penyakit, jumlah kunjungan pasien, serta perubahan kasus influenza di wilayah pelayanan.
Analisis ABC dan VED juga dapat digunakan untuk membantu menentukan obat yang membutuhkan pengawasan lebih ketat berdasarkan nilai maupun urgensi klinisnya.
3. Siapkan alternatif jalur pengadaan
Untuk obat kritis, fasilitas kesehatan sebaiknya tidak bergantung pada satu pemasok.
Faskes dapat memiliki beberapa pemasok yang telah terkualifikasi, memanfaatkan pengadaan melalui jalur resmi, atau menyusun kontrak pengadaan jangka panjang untuk menjaga kontinuitas pasokan.
Formularium juga dapat disusun dengan mempertimbangkan alternatif obat yang legal dan sesuai apabila produk tertentu mengalami keterbatasan.
Apakah Keterbatasan Oseltamivir Perlu Menjadi Kekhawatiran?
Menurut Prof. Hinky, keterbatasan oseltamivir tidak perlu menjadi kekhawatiran besar selama peresepan dan manajemen logistik dilakukan secara tepat.
Prioritas utama tetap memastikan bahwa pasien yang memiliki indikasi mendapatkan terapi, sementara kasus ringan ditangani dengan pendekatan suportif sesuai kondisi klinis.
Fasilitas kesehatan juga perlu menghubungkan data klinis dengan data logistik. Bila stok tambahan diperlukan, permintaan sebaiknya didasarkan pada jumlah kasus dan kebutuhan aktual serta dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan setempat.
Penggunaan Oseltamivir Perlu Tepat Pasien dan Tepat Waktu
Peningkatan kasus influenza tidak berarti semua pasien memerlukan oseltamivir.
Penentuan terapi perlu mempertimbangkan derajat penyakit, risiko komplikasi, waktu sejak onset gejala, serta kebutuhan rawat inap. Pemberian sedini mungkin memberikan manfaat optimal, tetapi pasien dengan penyakit berat atau risiko tinggi tetap dapat menjadi kandidat terapi meskipun datang setelah 48 jam.
Dalam situasi keterbatasan pasokan, penggunaan yang selektif menjadi semakin penting. Bagi fasilitas kesehatan, kondisi ini juga menegaskan perlunya pemantauan stok, perencanaan kebutuhan berbasis pola penyakit, dan edukasi pasien agar oseltamivir tetap tersedia bagi mereka yang paling membutuhkan.
FAQ
Apakah semua pasien influenza perlu mendapatkan oseltamivir?
Tidak. Sebagian besar kasus influenza ringan dapat sembuh sendiri dan cukup ditangani dengan terapi suportif. Oseltamivir terutama dipertimbangkan pada pasien dengan gejala berat atau progresif, membutuhkan rawat inap, atau memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi.
Kapan waktu terbaik memberikan oseltamivir?
Oseltamivir paling optimal bila diberikan sedini mungkin, idealnya dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, pada pasien dengan penyakit berat, membutuhkan rawat inap, atau berisiko tinggi, pemberian setelah 48 jam masih dapat dipertimbangkan.
Siapa yang perlu diprioritaskan jika stok oseltamivir terbatas?
Prioritas diberikan kepada pasien dengan influenza berat atau progresif, pasien yang membutuhkan rawat inap atau suplementasi oksigen, serta kelompok berisiko tinggi seperti anak usia di bawah 2 tahun, lansia, dan pasien dengan penyakit penyerta atau gangguan sistem imun.
Apakah oseltamivir boleh disimpan sebagai obat “jaga-jaga”?
Penggunaan oseltamivir sebaiknya berdasarkan indikasi klinis, bukan sebagai persediaan untuk digunakan sendiri sewaktu-waktu. Pembelian tanpa indikasi dapat mempercepat berkurangnya stok dan mengurangi ketersediaan bagi pasien yang lebih membutuhkan.
Bagaimana tata laksana pasien influenza ringan yang tidak mendapat oseltamivir?
Pasien dapat ditangani dengan istirahat yang cukup, hidrasi adekuat, obat simptomatis sesuai kebutuhan, dan pemantauan perkembangan gejala. Antibiotik tidak diberikan secara rutin kecuali terdapat bukti infeksi bakteri sekunder.
Bagaimana fasilitas kesehatan dapat mencegah kekurangan stok oseltamivir?
Faskes dapat melakukan pemantauan stok secara berkala, menetapkan buffer stock dan reorder point, memperkirakan kebutuhan berdasarkan data penggunaan serta tren kasus influenza, dan menyiapkan lebih dari satu jalur pengadaan resmi.




