Edukasi
Perbedaan Vaksin Pneumokokus PCV10, PCV13, PCV15, PCV20, dan PPSV23

"Penyakit pneumokokus dapat menyebabkan infeksi mulai dari otitis media dan pneumonia hingga penyakit pneumokokus invasif (IPD), seperti bakteremia, sepsis, dan meningitis, terutama pada bayi dan balita, usia lanjut, serta individu dengan kondisi komorbid atau kondisi imunokompromais. Vaksinasi merupakan strategi pencegahan utama, tetapi pilihan vaksinnya beragam. PCV10, PCV13, PCV15, PCV20, dan PPSV23 berbeda dalam teknologi vaksin, jumlah serotipe, kelompok usia, dan strategi penggunaannya."
Beban Penyakit Pneumokokus: Mengapa Vaksinasi Penting?
Streptococcus pneumoniae atau pneumokokus merupakan salah satu penyebab penting pneumonia komunitas pada berbagai kelompok usia. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit pneumokokus invasif ketika menginfeksi lokasi tubuh yang normalnya steril, misalnya darah atau cairan serebrospinal, sehingga bermanifestasi sebagai bakteremia, sepsis, atau meningitis. (1,4)
Pedoman PAPDI menekankan bahwa pneumonia akibat pneumokokus masih menjadi masalah kesehatan, dengan risiko kematian yang meningkat pada usia lanjut dan pasien dengan komorbid. Data yang dirangkum dalam pedoman tersebut juga menunjukkan prevalensi pneumonia pneumokokus di Indonesia yang bervariasi sekitar 3–13%; pada salah satu studi pasien pneumonia komunitas di rumah sakit tersier Jakarta, isolat pneumokokus ditemukan pada 14% sampel yang diperiksa. (4)
Beban penyakit tidak hanya ditentukan oleh frekuensi infeksi, tetapi juga oleh konsekuensi klinisnya. Pneumokokus dapat menyebabkan pneumonia berat, bakteremia, dan meningitis, sedangkan diagnosis berbasis patogen pada infeksi saluran napas tidak selalu mudah karena kolonisasi pneumokokus dapat sulit dibedakan dari infeksi aktif. Kondisi ini memperkuat pentingnya pencegahan, terutama pada kelompok yang berisiko mengalami penyakit berat. (4)
Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Penyakit Pneumokokus Berat?
Risiko penyakit pneumokokus tidak sama pada setiap pasien. Anak kecil merupakan kelompok dengan beban penyakit tinggi, sedangkan pada populasi dewasa, risiko meningkat seiring pertambahan usia dan keberadaan komorbid. PAPDI menyebut usia lanjut, penyakit kronis, dan kondisi imunokompromais sebagai kelompok penting yang perlu diprioritaskan dalam strategi vaksinasi. (1,4)
Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi:
Bayi dan balita, terutama karena beban penyakit pneumokokus invasif tinggi pada usia dini. (1,3)
Usia lanjut, karena insidensi dan risiko kematian akibat penyakit pneumokokus meningkat seiring pertambahan usia. (4)
Penyakit jantung kronik, termasuk gagal jantung dan penyakit jantung koroner. (2,4)
Penyakit paru kronik, termasuk PPOK dan asma tertentu. (2,4)
Diabetes melitus, penyakit hati kronik, dan penyakit ginjal kronik. (2,4)
Kondisi imunokompromais, termasuk HIV, keganasan, asplenia, terapi imunosupresif, dan transplantasi organ. (2,4)
Kebocoran cairan serebrospinal atau implan koklea. (2,4)
Pada dewasa, kebiasaan merokok dan alkoholisme juga termasuk faktor yang dipertimbangkan dalam rekomendasi berbasis risiko. (2,4)
Apa Perbedaan PCV10, PCV13, PCV15, PCV20, dan PPSV23?
Vaksin | Jumlah serotipe | Karakteristik utama | Catatan praktis |
PCV10 | 10 | Vaksin konjugat. | Digunakan pada populasi anak; pada IDAI 2024 menjadi salah satu pilihan catch-up usia 2–5 tahun. Referensi artikel ini tidak merinci komposisi serotipe PCV10 secara lengkap. (3) |
PCV13 | 13 | Serotipe 1, 3, 4, 5, 6A, 6B, 7F, 9V, 14, 18C, 19A, 19F, 23F; vaksin konjugat protein CRM197. (2,4) | Memiliki data dan rekomendasi luas pada anak dan dewasa; menjadi dasar skema PAPDI dalam pedoman yang dilampirkan. (3,4) |
PCV15 | 15 | Mencakup seluruh serotipe PCV13 ditambah 22F dan 33F. (2) | Memperluas cakupan serotipe dibanding PCV13. Pada sumber artikel, digunakan dalam rekomendasi anak tertentu dan rekomendasi dewasa berbasis ACIP. (2,3) |
PCV20 | 20 | Mencakup serotipe PCV13 ditambah 8, 10A, 11A, 12F, 15B, 22F, dan 33F. (2) | Cakupan lebih luas dalam kelompok vaksin konjugat pada referensi artikel. Rekomendasi dewasa pada artikel mengacu pada ACIP. (2) |
PPSV23 | 23 | Vaksin polisakarida murni dengan cakupan 23 serotipe. (2,4) | Cakupan serotipe luas, tetapi respons imun dan strategi penggunaannya berbeda dari PCV. Dalam pedoman PAPDI digunakan untuk melengkapi perlindungan setelah PCV13 pada kelompok tertentu. (4) |
Strategi Vaksinasi: Mengapa Jenis Vaksinnya Berbeda?
Vaksin pneumokokus bekerja terhadap serotipe tertentu dari S. pneumoniae. Karena terdapat banyak serotipe pneumokokus, tidak ada satu formulasi yang identik dengan formulasi lainnya. Secara umum terdapat dua kelompok besar, yaitu pneumococcal conjugate vaccine (PCV) dan pneumococcal polysaccharide vaccine (PPSV23). (1,2,4)
PCV mengikat polisakarida kapsul pneumokokus dengan protein pembawa sehingga menghasilkan respons imun yang lebih kuat dan membentuk memori imunologis. Pedoman PAPDI juga menjelaskan bahwa vaksin konjugat dapat mengurangi kolonisasi nasofaring dan berkontribusi pada perlindungan tidak langsung di populasi. Sebaliknya, PPSV23 mencakup lebih banyak serotipe, tetapi merupakan vaksin polisakarida murni dan tidak memiliki efek bermakna terhadap kolonisasi nasofaring. (4)
Artinya, pemilihan vaksin tidak cukup hanya melihat angka jumlah serotipe. Usia pasien, kondisi risiko, riwayat vaksinasi sebelumnya, jenis respons imun yang diinginkan, dan kebutuhan memperluas cakupan serotipe perlu dipertimbangkan bersama.
Jadi, Vaksin Pneumokokus Mana yang Dipilih?
Tidak ada jawaban tunggal untuk semua pasien. Secara praktis, pemilihan dapat dimulai dari tiga pertanyaan: berapa usia pasien, apakah terdapat kondisi risiko tinggi, dan vaksin pneumokokus apa yang sudah pernah diterima.
Pada bayi dan anak, ikuti jadwal rutin atau catch-up berdasarkan usia saat vaksinasi dimulai sesuai rekomendasi IDAI. (3)
Pada dewasa, pedoman PAPDI menempatkan PCV13 sebagai vaksin pilihan untuk dosis pertama pada individu naif dan memprioritaskannya pada kelompok dengan komorbid atau imunokompromais; PPSV23 kemudian dapat digunakan untuk memperluas cakupan serotipe pada kelompok tertentu. (4)
Riwayat vaksinasi sebelumnya penting karena menentukan apakah pasien memerlukan PCV, PPSV23, dosis lanjutan, atau interval tertentu. (1,2,4)
Jadwal Vaksin Pneumokokus pada Anak Menurut IDAI 2024
Agar lebih mudah digunakan di praktik, jadwal PCV dapat dibaca berdasarkan usia ketika anak mulai atau mengejar vaksinasi:
Usia saat mulai | Rekomendasi IDAI 2024 |
2–6 bulan (rutin) | PCV pada usia 2, 4, dan 6 bulan, kemudian booster usia 12–15 bulan. |
7–11 bulan, belum pernah PCV | 2 dosis dengan jarak minimal 1 bulan, lalu booster usia 12–15 bulan dengan jarak minimal 2 bulan dari dosis sebelumnya. |
1–2 tahun, belum pernah PCV | 2 dosis dengan jarak minimal 2 bulan. |
2–5 tahun, belum pernah PCV | PCV10: 2 dosis dengan jarak 2 bulan. PCV13 atau PCV15: 1 dosis. |
>5 tahun dengan risiko tinggi, belum pernah PCV | 1 dosis PCV13 atau PCV15. |
Program Imunisasi Nasional | PCV13 pada usia 2, 3, dan 12 bulan. |
Perbedaan jumlah dosis catch-up terjadi karena kebutuhan imunisasi berubah sesuai usia saat vaksinasi dimulai. Karena itu, status imunisasi dan usia anak perlu dievaluasi sebelum menentukan jumlah dosis berikutnya. (3)
Rekomendasi Vaksin Pneumokokus Dewasa Menurut PAPDI
Pedoman Penggunaan Vaksin Pneumokok pada Orang Dewasa dari Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI yang digunakan sebagai referensi tambahan dalam artikel ini membahas PCV13 dan PPSV23. Karena dokumen tersebut tidak membahas PCV15 atau PCV20, rekomendasi PAPDI di bawah tidak boleh langsung diekstrapolasi ke kedua vaksin yang lebih baru. (4)
Kelompok | Rekomendasi ringkas PAPDI |
Dewasa ≥19 tahun | PCV13 dapat diberikan; PAPDI memprioritaskan pasien dengan komorbid atau kondisi imunokompromais. |
Individu naif (belum pernah vaksin PCV) | PCV13 1 dosis terlebih dahulu. Bila diperlukan, PPSV23 dapat diberikan 1 tahun kemudian. |
Imunokompromais | PCV13 terlebih dahulu; PPSV23 dapat diberikan minimal 8 minggu setelah PCV13. |
Usia ≥65 tahun | PCV13 dianjurkan dalam konteks cakupan vaksinasi anak yang masih rendah; PPSV23 dapat diberikan minimal 8 minggu setelah PCV13. |
Usia ≥50 tahun | PPSV23 direkomendasikan dan diprioritaskan pada kondisi komorbid, imunokompromais, atau kondisi bepergian tertentu. |
Bila membutuhkan PCV13 + PPSV23 | Urutan PCV13 kemudian PPSV23 lebih diutamakan karena menghasilkan respons imun yang lebih baik dibanding urutan sebaliknya. |
Pedoman PAPDI menjelaskan bahwa PCV13 mampu menstimulasi respons imun yang lebih baik, sedangkan PPSV23 memiliki cakupan serotipe yang lebih banyak. Karena itu, pemberian sekuensial PCV13 diikuti PPSV23 digunakan untuk menggabungkan keunggulan respons imun dan perluasan cakupan serotipe. (4)
Bagaimana dengan PCV15 dan PCV20 pada Dewasa?
Untuk formulasi yang lebih baru, artikel ini menggunakan referensi ACIP sebagaimana pada versi awal. Pada dewasa yang belum pernah mendapat vaksin pneumokokus, ACIP merekomendasikan PCV15 atau PCV20. Bila menggunakan PCV15, PPSV23 diberikan setelahnya sesuai interval yang direkomendasikan; bila menggunakan PCV20, PPSV23 tidak lagi diperlukan dalam skema tersebut. (1,2)
Poin ini perlu dibedakan dari rekomendasi PAPDI pada tabel sebelumnya. Pedoman PAPDI yang dilampirkan merupakan rujukan nasional untuk PCV13 dan PPSV23, sedangkan skema PCV15/PCV20 pada bagian ini berasal dari referensi internasional yang digunakan artikel.
FAQ
Apakah semakin banyak serotipe berarti vaksinnya selalu lebih baik?
Tidak selalu. Jumlah serotipe memang menentukan luas cakupan, tetapi jenis vaksin juga menentukan karakter respons imun. PCV merupakan vaksin konjugat yang membentuk memori imunologis, sedangkan PPSV23 memiliki cakupan serotipe lebih luas tetapi berbasis polisakarida murni. Pemilihan tetap harus mempertimbangkan usia, risiko, dan riwayat vaksinasi. (2,4)
Apakah PCV13 dan PCV15 dapat digunakan secara bergantian?
Pada referensi yang digunakan dalam artikel ini, PCV13 dan PCV15 dapat digunakan secara bergantian dalam rangkaian vaksinasi tertentu. PCV15 menambahkan serotipe 22F dan 33F di atas cakupan PCV13. (2)
Apakah PPSV23 perlu diberikan setelah PCV?
Tergantung jenis PCV, usia, risiko, dan pedoman yang digunakan. Dalam pedoman PAPDI yang dilampirkan, PPSV23 digunakan untuk melengkapi perlindungan setelah PCV13 pada kelompok tertentu. Pada rekomendasi ACIP yang dirujuk artikel, PPSV23 masih digunakan setelah PCV15, tetapi tidak diperlukan setelah PCV20 pada dewasa naif. (2,4)
Apakah vaksin pneumokokus dapat diberikan bersama vaksin lain?
Pedoman PAPDI menyatakan PCV13 maupun PPSV23 dapat diberikan bersamaan dengan vaksin lain pada lokasi suntikan berbeda, tetapi PCV13 dan PPSV23 tidak diberikan bersamaan satu sama lain. Untuk pasien imunokompromais, PPSV23 dapat diberikan minimal 8 minggu setelah PCV13. (4)
Kesimpulan
Strategi vaksinasi pneumokokus dimulai dari pemahaman terhadap beban penyakit dan kelompok yang paling rentan. Bayi dan balita, usia lanjut, serta individu dengan penyakit kronis atau kondisi imunokompromais memiliki kebutuhan perlindungan yang lebih besar. Vaksinasi menjadi salah satu strategi utama untuk menurunkan risiko penyakit pneumokokus, tetapi pilihan vaksinnya perlu disesuaikan dengan usia, kondisi klinis, dan riwayat vaksinasi.
PCV10, PCV13, PCV15, dan PCV20 merupakan vaksin konjugat dengan cakupan serotipe yang berbeda, sedangkan PPSV23 merupakan vaksin polisakarida dengan cakupan 23 serotipe. Pada anak, jadwal mengikuti rekomendasi IDAI. Pada dewasa, pedoman PAPDI yang dilampirkan memberikan kerangka penggunaan PCV13 dan PPSV23, sementara pembahasan PCV15 dan PCV20 pada artikel ini tetap mengacu pada rekomendasi internasional yang digunakan sebelumnya. Dengan demikian, pertanyaan “vaksin mana yang dipilih?” tidak dijawab hanya dari jumlah serotipe, tetapi dari kesesuaian vaksin dengan profil pasien.
Daftar Pustaka
1. Centers for Disease Control and Prevention. Pneumococcal Vaccination. Atlanta: CDC; 2026. Diakses 31 Agustus 2026.
2. Tereziu S, Minter DA. Pneumococcal Vaccine. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026.
3. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun: Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Tahun 2024. Jakarta: IDAI; 2024.
4. Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI. Pedoman Penggunaan Vaksin Pneumokok pada Orang Dewasa. Jakarta: Interna Publishing.




