Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Penyebab Lazy Eye (Mata Malas) pada Anak dan Cara Mengatasinya

4 September 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Penyebab Lazy Eye (Mata Malas) pada Anak dan Cara Mengatasinya

"Lazy eye (ambliopia) terjadi ketika otak anak lebih mengandalkan satu mata sehingga penglihatan mata yang lain melemah. Penyebab utamanya adalah kelainan refraksi, strabismus, dan deprivasi visual seperti katarak kongenital. Penanganan dini melalui koreksi kacamata, terapi oklusi (patching), atau atropin terbukti efektif mencegah gangguan penglihatan permanen."


Apa Itu Lazy Eye (Ambliopia) pada Anak?


Lazy eye atau ambliopia adalah gangguan penglihatan yang umumnya terjadi pada satu mata dan disebabkan oleh gangguan komunikasi antara otak dan mata, bukan oleh kelainan struktural pada bola mata itu sendiri. Ambliopia merupakan gangguan tumbuh kembang sistem visual yang menjadi penyebab gangguan penglihatan monokular tersering pada anak di seluruh dunia, dengan estimasi prevalensi sekitar 1–5% pada populasi umum. (1) National Eye Institute (NEI) melaporkan bahwa kondisi ini dapat ditemukan pada hingga 3 dari 100 anak. (2)


Pada ambliopia, otak “mematikan” sinyal dari mata yang lebih lemah dan semakin bergantung pada mata yang lebih kuat, sehingga tajam penglihatan mata yang lemah terus menurun apabila tidak ditangani. Istilah “lazy eye” dapat menyesatkan karena kondisi ini bukan disebabkan oleh kemalasan anak; anak tidak dapat mengendalikan cara kerja matanya sendiri. Ambliopia dimulai sejak masa kanak-kanak dan merupakan penyebab tersering gangguan penglihatan pada anak, namun deteksi dan tata laksana dini terbukti mampu mencegah gangguan penglihatan jangka panjang. (2)


Apa Penyebab Lazy Eye pada Anak?


Ambliopia pada anak umumnya berkembang melalui tiga jalur utama, yaitu kelainan refraksi, strabismus, dan deprivasi visual, yang semuanya menyebabkan otak lebih memilih menggunakan satu mata dominan. (3) Pada sebagian kasus, dokter tidak dapat mengidentifikasi penyebab pastinya, tetapi pada kasus lain terdapat kelainan mata spesifik yang dapat diidentifikasi. (2)


Kelainan Refraksi (Ambliopia Refraktif)

Kelainan refraksi adalah penyebab ambliopia yang paling sering ditemukan dan mencakup miopia, hipermetropia, serta astigmatisme. (2) Kelainan-kelainan ini sebenarnya mudah dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak, tetapi apabila dibiarkan tidak terkoreksi, otak akan semakin bergantung pada mata yang memiliki penglihatan lebih baik. (2) Ambliopia refraktif dapat bersifat unilateral (anisometropik), yaitu ketika terdapat perbedaan refraksi bermakna antara kedua mata, atau bilateral (isometropik), yaitu ketika kelainan refraksi signifikan terjadi pada kedua mata. (4)


Strabismus (Mata Juling)

Strabismus adalah kondisi ketika kedua mata tidak bergerak secara sejajar sebagai satu pasangan, sehingga salah satu mata dapat mengarah ke dalam, keluar, ke atas, atau ke bawah. (2) Strabismus mengganggu penglihatan binokular karena menyebabkan ketidaksejajaran mata, sehingga otak cenderung mengabaikan sinyal dari salah satu mata dan lebih memilih mata yang lain. (3)


Deprivasi Visual

Deprivasi visual terjadi ketika terdapat hambatan fisik yang menghalangi cahaya masuk ke retina, misalnya akibat katarak kongenital, ptosis, atau jaringan parut kornea. (3) Katarak menyebabkan kekeruhan pada lensa mata sehingga penglihatan tampak buram; meskipun katarak lebih sering terjadi pada usia lanjut, bayi dan anak-anak juga dapat mengalaminya. (2) Bentuk ambliopia ini dianggap paling jarang dibandingkan penyebab refraktif maupun strabismus. (4)


Faktor Risiko yang Meningkatkan Kemungkinan Lazy Eye


Kemungkinan seorang anak mengalami ambliopia lebih tinggi apabila terdapat salah satu faktor berikut:

●   Lahir prematur.

●   Memiliki berat badan lahir lebih rendah dari rata-rata.

●   Memiliki riwayat keluarga dengan ambliopia, katarak masa kanak-kanak, atau kelainan mata lainnya.

●   Memiliki disabilitas perkembangan. (2)


Bagaimana Cara Mendeteksi Lazy Eye pada Anak?


Gejala ambliopia seringkali sulit dikenali secara mandiri oleh orang tua karena anak jarang mengeluhkan penglihatan buram pada satu mata. Tanda yang mungkin diperhatikan orang tua meliputi kesulitan memperkirakan jarak suatu benda (gangguan persepsi kedalaman), menyipitkan mata, menutup salah satu mata, atau memiringkan kepala saat melihat sesuatu. Pada banyak kasus, orang tua baru mengetahui anaknya mengalami ambliopia setelah dokter menegakkan diagnosis melalui pemeriksaan mata rutin. Oleh karena itu, semua anak dianjurkan menjalani skrining penglihatan setidaknya satu kali pada rentang usia 3 hingga 5 tahun. (2)


Bagaimana Cara Mengatasi Lazy Eye pada Anak?

Tata laksana ambliopia pada anak terdiri dari dua tahap utama, yaitu mengoreksi kelainan mata yang mendasarinya, kemudian melatih otak untuk kembali menggunakan mata yang lemah. (2)


Koreksi Penyebab Dasar

Apabila ambliopia disebabkan oleh kelainan refraksi, dokter akan meresepkan kacamata atau lensa kontak; apabila disebabkan oleh katarak, tindakan operasi diperlukan untuk mengangkat kekeruhan lensa. (2) Pada ambliopia akibat strabismus, operasi untuk memperbaiki posisi otot mata ekstrinsik juga dapat dipertimbangkan; hasil operasi strabismus dilaporkan lebih baik pada anak yang menjalani tindakan lebih dini, meskipun sekitar 6,7% pasien memerlukan operasi ulang dalam satu tahun akibat regresi sudut deviasi. (4)


Terapi Oklusi (Patching), Gold Standard

Terapi oklusi atau patching tetap menjadi gold standard tata laksana ambliopia pada anak hingga saat ini. (4) Prinsipnya adalah menutup mata yang lebih kuat dengan penutup tempel sehingga otak terpaksa menggunakan mata yang lemah untuk melihat. Durasi pemakaian bervariasi tergantung derajat keparahan, mulai dari sekitar 2 jam per hari hingga sepanjang anak terjaga. (2) Berbagai uji klinis acak menegaskan efektivitas patching dalam memperbaiki tajam penglihatan mata ambliopik, meskipun sejumlah penelitian juga menemukan modalitas lain yang setara atau lebih unggul. (4)


Terapi Farmakologis (Atropin)

Tetes mata atropin yang diteteskan satu kali sehari pada mata yang lebih kuat bekerja dengan mengaburkan penglihatan dekat mata tersebut secara sementara, sehingga memaksa otak menggunakan mata yang lemah. Pada sebagian anak, terapi ini memberikan hasil yang setara dengan patching, dan sebagian orang tua merasa lebih mudah menerapkannya karena anak cenderung lebih sulit menerima penutup mata dibandingkan tetes mata. (2) Tinjauan sistematis terhadap tujuh uji klinis dengan total 1.177 mata ambliopik menemukan bahwa penalisasi atropin tunggal maupun patching tunggal sama-sama efektif memperbaiki tajam penglihatan mata ambliopik, sementara kombinasi atropin dan patching justru memberikan perbaikan tajam penglihatan yang lebih besar dibandingkan patching tunggal. (4)


Pendekatan Digital dan Dikoptik yang Sedang Berkembang

Terapi digital dan dikoptik, seperti permainan video binokular, film dikoptik, dan pelatihan berbasis realitas virtual (VR)m, merupakan pendekatan yang memanfaatkan stimulasi visual binokular untuk secara langsung mengatasi supresi neural dan memperbaiki stereopsis, bukan sekadar memaksa penggunaan mata lemah seperti pada oklusi konvensional. (3) Beberapa uji klinis acak menemukan bahwa pelatihan film maupun permainan dikoptik memberikan perbaikan tajam penglihatan mata ambliopik yang setara atau bahkan lebih baik dibandingkan patching konvensional pada follow-up beberapa minggu. (4) Kemunculan pendekatan ini didorong oleh keterbatasan terapi konvensional dari segi kepatuhan pasien, ketergantungan pada usia, dan risiko kekambuhan, sehingga teknologi seperti VR, kecerdasan buatan, dan eye-tracking mulai diintegrasikan untuk meningkatkan kepatuhan serta memungkinkan tata laksana yang lebih personal. (3) Meski menjanjikan, bukti jangka panjang dan profil keamanannya, khususnya pada terapi farmakologis penunjang—masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat menggantikan posisi patching maupun atropin sebagai lini pertama. (4)


Mencegah Kekambuhan Setelah Terapi Berhasil


Ambliopia yang telah berhasil ditatalaksana tetap berisiko kambuh, sehingga pemantauan lanjutan diperlukan meskipun tajam penglihatan sudah membaik. Preferred Practice Pattern dari American Academy of Ophthalmology (AAO) tahun 2023 mencatat bahwa sekitar seperempat anak yang berhasil ditatalaksana mengalami kekambuhan dalam satu tahun pertama setelah terapi dihentikan. (5) Risiko kekambuhan ini lebih tinggi apabila patching intensif (6 jam atau lebih per hari) dihentikan secara mendadak dibandingkan apabila diturunkan bertahap menjadi sekitar 2 jam per hari sebelum benar-benar dihentikan. (5) Oleh karena itu, ketika tajam penglihatan mata ambliopik telah stabil, intensitas terapi sebaiknya diturunkan secara bertahap menuju terapi pemeliharaan, yang dapat berupa oklusi dosis rendah, koreksi optik penuh atau paruh waktu, penggunaan filter Bangerter (filter translusen), atau penggunaan sikloplegik paruh waktu, disertai jadwal kontrol lanjutan. (5)


Kapan Waktu Terbaik untuk Memulai Terapi Ambliopia?


Tata laksana ambliopia paling efektif dilakukan sebelum usia 7 tahun karena periode ini merupakan masa kritis perkembangan visual anak. (4) Semakin dini ambliopia terdeteksi dan ditangani, semakin besar peluang tajam penglihatan pulih optimal; anak yang tumbuh tanpa tata laksana berisiko mengalami gangguan penglihatan seumur hidup, dan terapi ambliopia umumnya jauh kurang efektif ketika baru dimulai pada usia dewasa. (2)


Kesimpulan


Ambliopia pada anak paling sering disebabkan oleh kelainan refraksi, strabismus, atau deprivasi visual, dan skrining penglihatan rutin pada usia 3–5 tahun tetap menjadi kunci deteksi dini karena gejalanya sering tidak disadari. Patching dan atropin tetap menjadi terapi lini pertama dengan bukti paling kuat, sementara pendekatan digital dan dikoptik berkembang sebagai alternatif yang menjanjikan namun belum menggantikan keduanya. Bagi tenaga kesehatan, penting untuk menekankan tata laksana sedini mungkin sebelum usia 7 tahun serta memastikan keluarga memahami perlunya pemantauan pascaterapi mengingat risiko kekambuhan yang cukup bermakna dalam tahun pertama setelah terapi dihentikan.


FAQ


Apakah lazy eye pada anak bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan?

Tidak. Ambliopia yang tidak ditangani dapat menyebabkan gangguan penglihatan permanen pada mata yang terkena. (2) Sebaliknya, deteksi dan tata laksana dini, terutama sebelum usia 7 tahun, terbukti dapat mencegah gangguan penglihatan jangka panjang tersebut. (2, 4)


Apa perbedaan antara ambliopia dan strabismus?

Strabismus adalah salah satu kondisi yang dapat menyebabkan ambliopia, bukan kondisi yang identik dengannya. Strabismus merujuk pada ketidaksejajaran posisi kedua mata, sedangkan ambliopia adalah gangguan penglihatan pada tingkat pemrosesan otak yang dapat timbul akibat strabismus, kelainan refraksi, maupun deprivasi visual. (2, 3)


Berapa lama terapi patching perlu dijalani sebelum hasilnya terlihat?

Perbaikan penglihatan biasanya sudah mulai tampak dalam beberapa minggu setelah terapi dimulai, tetapi hasil optimal umumnya baru tercapai setelah beberapa bulan terapi konsisten. (2) Setelah hasil optimal tercapai, anak mungkin tetap memerlukan terapi pemeliharaan secara berkala untuk mencegah ambliopia kambuh kembali. (2, 5)


Apakah anak yang sudah sembuh dari ambliopia masih perlu dipantau dokter?

Ya. Sekitar seperempat anak yang berhasil ditatalaksana mengalami kekambuhan dalam satu tahun pertama setelah terapi dihentikan, sehingga follow-up berkala tetap diperlukan meskipun tajam penglihatan sudah kembali normal. (5) Penurunan intensitas terapi secara bertahap, bukan penghentian mendadak, juga terbukti menurunkan risiko kekambuhan ini. (5)


Apakah terapi digital atau berbasis VR sudah bisa menggantikan patching sebagai terapi utama?

Belum. Meskipun sejumlah penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan dan bahkan setara atau lebih baik dibandingkan patching pada follow-up jangka pendek, bukti mengenai efektivitas jangka panjang serta keamanannya—terutama bila dikombinasikan dengan terapi farmakologis—masih memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum dapat menggeser posisi patching dan atropin sebagai terapi lini pertama. (4, 3)


Daftar Pustaka


1. Zhou C, Li X, Luo X, Song S, Wang L, Huang J, et al. Research hotspots and trends of amblyopia treatment from 2015 to 2025: a bibliometric analysis. Front Neurosci. 2026;19:1720376.

2. National Eye Institute. Amblyopia (Lazy Eye) [Internet]. Bethesda: National Eye Institute; 2024 [diperbarui 26 Nov 2024]. Tersedia dari: https://www.nei.nih.gov/eye-health-information/eye-conditions-and-diseases/amblyopia-lazy-eye

3. Younan MH, Youssef YT, Erum U, Nasir MT, Ismaeil M, Aziz M, et al. Evolving strategies in amblyopia management: from traditional therapies to cutting-edge innovations. Cureus. 2025;17(7):e88012.

4. Yeritsyan A, Surve AV, Ayinde B, Chokshi P, Adhikari S, Jaimalani A, Hamid P. Efficacy of amblyopia treatments in children up to seven years old: a systematic review. Cureus. 2024;16(3):e56705.

5. Cruz OA, Repka MX, Hercinovic A, Miller JM, Trivedi RH, Wallace DK, et al. Amblyopia Preferred Practice Pattern. Ophthalmology. 2023;130(3):P136-P178.


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan