Edukasi
Edukasi Pasien Saat Kualitas Udara Memburuk: Apa yang Perlu Disampaikan Tenaga Kesehatan?
31 Agustus 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

"Kabut asap akibat kebakaran hutan dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan akut hingga penurunan fungsi paru jangka panjang, terutama pada anak. Tenaga kesehatan perlu mengedukasi pasien mengenai kelompok rentan, pemantauan kualitas udara, pembatasan aktivitas luar ruangan, pemilihan masker yang tepat, kepatuhan imunisasi, serta tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera."
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan meningkatkan risiko gangguan saluran napas akut maupun penurunan fungsi paru jangka panjang, terutama pada anak-anak. Tenaga kesehatan berperan penting menyampaikan edukasi mengenai kelompok rentan, pemilihan masker yang tepat, pemantauan kualitas udara, serta tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis segera.
Penurunan kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berulang di berbagai wilayah Indonesia, terutama pada musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino sehingga kondisi iklim menjadi lebih kering dan memperbesar risiko kebakaran lahan gambut. (1) Merespons kondisi tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan masyarakat untuk menggunakan masker dan memantau indeks kualitas udara guna mencegah dampak kesehatan akibat paparan asap karhutla. (2) Bagi tenaga kesehatan, situasi ini menuntut kesiapan dalam memberikan edukasi pasien yang tepat, mulai dari pemahaman mengenai risiko kesehatan akibat paparan asap, identifikasi kelompok rentan, hingga panduan praktis mengenai proteksi diri dan kapan pasien harus mencari pertolongan medis.
Dampak Kesehatan Akibat Paparan Asap Kebakaran Hutan dan Kualitas Udara Buruk
Paparan asap kebakaran hutan dapat menimbulkan dampak kesehatan mulai dari gangguan saluran napas akut hingga penurunan fungsi paru yang menetap dalam jangka panjang, dengan anak-anak sebagai kelompok yang paling rentan mengalami dampak tersebut karena sistem pernapasan yang belum berkembang sempurna serta laju pernapasan yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. (3)
Dampak Jangka Pendek pada Saluran Napas
Paparan akut terhadap asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan pernapasan pada anak usia dini, sebagaimana ditunjukkan oleh data klaim resep obat yang mencatat peningkatan peresepan terapi pernapasan pada periode setelah episode paparan asap kebakaran hutan. (4)
Dampak Jangka Panjang terhadap Fungsi Paru Anak
Selain dampak akut, paparan kronis terhadap partikulat halus (PM2.5) turut berkaitan dengan penurunan fungsi paru anak secara dose-dependent, di mana peningkatan kumulatif paparan PM2.5 berasosiasi dengan penurunan kapasitas fungsi paru yang berpotensi menetap hingga usia dewasa apabila paparan berlangsung dalam jangka panjang. (5) Temuan ini menegaskan pentingnya edukasi preventif sejak episode paparan pertama, bukan hanya saat gejala pernapasan akut telah muncul.
Kelompok Pasien yang Paling Berisiko Mengalami Komplikasi
Anak-anak, khususnya balita, merupakan kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi akibat paparan asap kebakaran hutan karena laju pernapasan yang lebih tinggi per kilogram berat badan serta saluran napas yang berdiameter lebih kecil dibandingkan orang dewasa. (3) Selain anak-anak, edukasi juga perlu menyasar pasien dengan penyakit pernapasan kronis, ibu hamil, dan lansia sebagai kelompok yang secara klinis lebih rentan mengalami perburukan gejala saat kualitas udara menurun.
Pesan Edukasi Utama untuk Pasien Saat Kualitas Udara Memburuk
Pesan edukasi utama yang perlu disampaikan tenaga kesehatan kepada pasien saat kualitas udara memburuk berpusat pada tiga hal: pemantauan kualitas udara, penggunaan masker yang tepat, dan pembatasan aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara spesifik menganjurkan masyarakat memantau indeks kualitas udara dan menggunakan masker sebagai langkah pencegahan utama selama periode kabut asap. (2) Poin edukasi yang perlu disampaikan kepada pasien meliputi:
• Pantau indeks kualitas udara secara berkala melalui kanal resmi pemerintah sebelum beraktivitas di luar ruangan. (2)
• Gunakan masker saat kualitas udara memburuk, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, dan pasien dengan penyakit pernapasan kronis. (2)
• Batasi aktivitas fisik di luar ruangan, khususnya pada anak-anak, saat indeks kualitas udara berada pada kategori tidak sehat. (3)
• Jaga kualitas udara dalam ruangan, karena partikel asap kebakaran hutan tetap dapat masuk ke dalam rumah sehingga ventilasi dan penyaringan udara indoor perlu diperhatikan selama periode kabut asap. (6)
Memilih Masker yang Efektif untuk Melindungi Saluran Napas dari Asap
Efektivitas masker dalam melindungi saluran napas dari asap kebakaran hutan bergantung pada jenis dan kerapatan bahan masker, dengan masker respirator (seperti N95) memberikan proteksi yang lebih baik terhadap partikel asap dibandingkan masker bedah maupun masker kain. (7) Tenaga kesehatan perlu menyampaikan kepada pasien bahwa pemilihan jenis masker turut menentukan tingkat perlindungan terhadap paparan bioaerosol dan partikel asap, sehingga masker kain sebaiknya tidak dijadikan andalan utama pada kondisi kabut asap yang berat. (7)
Peran Imunisasi dalam Mengurangi Risiko Infeksi Saluran Napas Selama Periode Kualitas Udara Buruk
Edukasi mengenai kepatuhan terhadap jadwal imunisasi rutin sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tetap perlu disampaikan selama periode kualitas udara buruk, mengingat imunisasi berperan dalam mencegah infeksi saluran napas yang dapat memperberat gejala akibat paparan asap. (8) Surveilans virus pernapasan pada anak pascapandemi menunjukkan bahwa patogen virus pernapasan umum tetap beredar dan menjadi penyebab penting morbiditas pada anak, sehingga kepatuhan terhadap imunisasi dan kewaspadaan terhadap gejala infeksi saluran napas tetap relevan terlepas dari kondisi kualitas udara. (9)
Kapan Pasien Harus Segera Mencari Pertolongan Medis?
Pasien, khususnya orang tua dari pasien anak, perlu diedukasi untuk segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya seperti napas cepat, retraksi dinding dada, sianosis, atau penurunan kesadaran, yang merupakan tanda klinis penting dalam kecurigaan pneumonia pada anak. (10) Tenaga kesehatan perlu menekankan bahwa gejala pernapasan yang memberat, tidak membaik dengan tata laksana suportif di rumah, atau disertai tanda bahaya tersebut memerlukan evaluasi medis segera, bukan sekadar observasi mandiri di rumah.
FAQ
Apakah masker kain efektif melindungi dari asap kebakaran hutan?
Masker kain memberikan proteksi yang lebih rendah terhadap partikel asap kebakaran hutan dibandingkan masker respirator seperti N95, sehingga tidak disarankan sebagai pilihan utama pada kondisi kabut asap yang berat. (7) Bila masker respirator tidak tersedia, pemilihan masker dengan kerapatan bahan yang lebih baik tetap lebih disarankan dibandingkan tanpa masker sama sekali.
Berapa lama dampak paparan asap kebakaran hutan terhadap fungsi paru anak dapat berlangsung?
Dampak paparan PM2.5 terhadap fungsi paru anak bersifat dose-dependent dan berpotensi menetap hingga usia dewasa apabila paparan berlangsung secara kronis. (5) Hal ini menjadikan edukasi pencegahan paparan berulang sama pentingnya dengan penanganan gejala akut.
Apakah imunisasi rutin perlu tetap dilanjutkan selama musim kabut asap?
Ya, jadwal imunisasi rutin sesuai rekomendasi IDAI tetap perlu dilanjutkan selama musim kabut asap karena imunisasi berperan mencegah infeksi saluran napas yang dapat memperberat dampak paparan asap. (8) Virus pernapasan umum juga tetap beredar di masyarakat terlepas dari kondisi kualitas udara, sehingga kewaspadaan terhadap infeksi saluran napas tetap diperlukan. (9)
Apa tanda bahaya pneumonia pada anak yang perlu diwaspadai orang tua?
Tanda bahaya yang perlu diwaspadai meliputi napas cepat, retraksi dinding dada, sianosis, dan penurunan kesadaran, yang merupakan indikasi perlunya evaluasi medis segera. (10) Orang tua perlu diedukasi untuk tidak menunda pemeriksaan medis apabila menemukan tanda-tanda tersebut pada anak.
Bagaimana melindungi kualitas udara di dalam rumah saat kabut asap?
Ventilasi dan penyaringan udara dalam ruangan perlu diperhatikan karena partikel asap kebakaran hutan tetap dapat masuk ke dalam rumah meskipun jendela dan pintu tertutup. (6) Tenaga kesehatan dapat mengedukasi pasien untuk memperhatikan sirkulasi udara dalam rumah selama periode kualitas udara memburuk, terutama pada rumah dengan penghuni dari kelompok rentan.
Kesimpulan
Edukasi pasien saat kualitas udara memburuk perlu mencakup pemahaman mengenai dampak kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, identifikasi kelompok rentan, pemilihan masker yang tepat, kepatuhan terhadap imunisasi rutin, serta pengenalan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera. Tenaga kesehatan memegang peran kunci dalam memastikan pasien, khususnya orang tua dari pasien anak, memahami langkah pencegahan praktis sekaligus tidak menunda pemeriksaan medis saat gejala pernapasan memberat.
Daftar Pustaka
1. Permana RH. BMKG ungkap penyebab karhutla di Kalimantan: iklim kering efek El Nino [Internet]. detikNews. 2026 Agu 21 [dikutip 2026 Agu 26]. Tersedia dari: https://news.detik.com/berita/d-8628464/bmkg-ungkap-penyebab-karhutla-di-kalimantan-iklim-kering-efek-el-nino
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menkes: pakai masker dan pantau kualitas udara untuk cegah dampak asap karhutla [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI; 2026 Agu 21 [dikutip 2026 Agu 26]. Tersedia dari: https://kemkes.go.id/id/menkes-pakai-masker-dan-pantau-kualitas-udara-untuk-cegah-dampak-asap-karhutla
3. Holm SM, Miller MD, Balmes JR. Health effects of wildfire smoke in children and public health tools: a narrative review. J Expo Sci Environ Epidemiol. 2021 Feb;31(1):1-20.
4. Dhingra R, Keeler C, Staley BS, Jardel HV, Ward-Caviness C, Rebuli ME, Xi Y, Rappazzo K, Hernandez M, Chelminski AN, Jaspers I, Rappold AG. Wildfire smoke exposure and early childhood respiratory health: a study of prescription claims data. Environ Health. 2023 Jun 27;22(1):48.
5. Li S, Cao S, Duan X, Zhang Y, Gong J, Xu X, Guo Q, Meng X, Bertrand M, Zhang JJ. Long-term exposure to PM2.5 and children's lung function: a dose-based association analysis. J Thorac Dis. 2020 Okt;12(10):6379-95.
6. US Environmental Protection Agency. Protect yourself from wildfire smoke and ash [Internet]. Washington (DC): EPA; 2026 Jul 24 [dikutip 2026 Agu 26]. Tersedia dari: https://www.epa.gov/wildfires/protect-yourself-wildfire-smoke-and-ash
7. Wagner J, Macher JM, Chen W, Kumagai K. Comparative Mask Protection against Inhaling Wildfire Smoke, Allergenic Bioaerosols, and Infectious Particles. Int J Environ Res Public Health. 2022 Nov 23;19(23):15555.
8. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0-18 Tahun. Jakarta: IDAI; 2024. Tersedia dari: https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun
9. Adu-Gyamfi C, Asamoah JA, Frimpong JO, Larbi R, Ansah RO, Aryeetey SNA, Gorman R, Acheampong HK, Nyarko-Afriyie E, Hayford M, Tetteh HD, Boampong K, Barnor V, Brenya PK, Ayensu F, Ayisi-Boateng NK, El-Duah P, Drosten C, Phillips RO, Sylverken AA, Owusu M. Prevalence of common respiratory viruses in children: insights from post-pandemic surveillance. BMC Infect Dis. 2025 Jul 1;25(1):824.
10. Ebeledike C, Ahmad T. Pediatric Pneumonia. [Updated 2023 Jan 16]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-.




