Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Dampak Kesehatan El Nino pada Anak di Indonesia: Panduan Klinis untuk Dokter

4 September 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Dampak Kesehatan El Nino pada Anak di Indonesia: Panduan Klinis untuk Dokter

“El Nino 2026 yang berintensitas sangat kuat ("El Nino Godzilla") meningkatkan risiko ISPA dan pneumonia akibat kabut asap karhutla, lonjakan demam berdarah dengue, diare akibat krisis air bersih, serta gangguan akibat cuaca panas ekstrem pada anak. Dokter perlu meningkatkan kewaspadaan diagnostik pada kelompok usia rentan ini.”


El Nino yang berlangsung sejak pertengahan 2026 telah mencapai kategori sangat kuat, dengan indeks anomali suhu muka laut di kawasan Nino 3.4 sebesar +2,77 pada awal Agustus 2026, meningkat dari +2,20 pada bulan sebelumnya. (1) Kondisi ini, yang dalam wacana publik disebut "El Nino Godzilla", menurut Kementerian Kehutanan yang mengutip data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bahkan melampaui intensitas El Nino 2015. (2) Bagi dokter dan tenaga kesehatan yang menangani pasien anak, memahami jalur dampak kesehatan El Nino menjadi kebutuhan kesiapsiagaan klinis, bukan sekadar wacana lingkungan.


Apa Itu El Nino dan Mengapa Disebut "El Nino Godzilla"?


El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah hingga timur yang mengganggu pola angin dan curah hujan global, menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan panjang. Kekuatannya dikategorikan berdasarkan indeks anomali suhu muka laut di kawasan Nino 3.4: lemah (0,5–0,9°C), moderat (1,0–1,4°C), kuat (1,5–1,9°C), dan sangat kuat (≥2,0°C). Istilah "El Nino Godzilla" bukan terminologi resmi BMKG, melainkan sebutan populer untuk kategori sangat kuat ini. (1) Berdasarkan data BMKG, El Nino 2026 diproyeksikan bertahan hingga awal 2027, dibarengi fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) yang memperberat kekeringan. (1)


Apa Dampak Kesehatan El Nino pada Anak di Indonesia?


Dampak kesehatan utama El Nino pada anak di Indonesia meliputi peningkatan ISPA dan pneumonia akibat kabut asap karhutla, lonjakan kasus demam berdarah dengue (DBD), diare akibat krisis air bersih, serta risiko terkait cuaca panas ekstrem. Keempat jalur ini saling berkaitan dan bersifat musiman, memuncak bersamaan dengan periode kemarau panjang yang menyertai El Nino.


Peningkatan Risiko ISPA dan Pneumonia Akibat Kabut Asap Karhutla


Kabut asap karhutla yang meluas selama El Nino secara langsung meningkatkan insidensi ISPA dan pneumonia pada anak. Pada episode El Nino 2023, luas area terbakar di Indonesia mencapai 1,16 juta hektare, lima kali lipat dibanding 2022, dengan konsentrasi PM2.5 bertahan pada kategori tidak sehat sepanjang paruh kedua tahun tersebut, setara 8–10 kali Pedoman Kualitas Udara WHO 2021. (3) WHO turut mengidentifikasi Indonesia sebagai negara yang mengalami status darurat kualitas udara akibat karhutla terkait El Nino. (4)


Studi ekologis time-series di Palembang periode 2011–2020 yang mencakup 366.632 kasus ISPA dan 27.574 kasus pneumonia anak menemukan bahwa PM2.5 berasosiasi kuat dan konsisten dengan insidensi pneumonia, sedangkan PM10 lebih konsisten berasosiasi dengan ISPA; kenaikan PM2.5 secara signifikan memprediksi peningkatan kasus pneumonia (p < 0,001). (5) Temuan serupa diperoleh dari kajian di Jabodetabek yang mengorelasikan data pemantauan PM2.5 dengan data dinas kesehatan setempat. (6)


Lonjakan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)


Suhu udara yang lebih tinggi selama El Nino memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, sehingga meningkatkan risiko penularan DBD pada anak. Analisis model integer-valued autoregressive (INAR) pada data penyakit menular anak di Indonesia mengidentifikasi lonjakan tajam kasus DBD yang bertepatan dengan tahun-tahun El Nino kuat, dengan jumlah kasus tertinggi pada 2016 dan 2024. (7) Frekuensi bencana cuaca ekstrem yang mengikuti fase transisi El Nino, termasuk banjir dan longsor, turut menjadi variabel penjelas signifikan bagi peningkatan insidensi penyakit menular anak secara umum. (7)


Risiko Diare dan Gangguan Gizi Akibat Kekeringan


Kekeringan berkepanjangan akibat El Nino menurunkan akses air bersih dan sanitasi (WASH), yang berkontribusi memperburuk kesehatan ibu dan anak. (4) Keterbatasan air bersih meningkatkan risiko diare dan memengaruhi praktik pemberian makanan pendamping yang optimal pada balita akibat berkurangnya waktu pengasuhan ibu. (4)


Dampak Cuaca Panas Ekstrem terhadap Anak


Suhu udara yang meningkat selama El Nino menimbulkan risiko heatstroke, dehidrasi, serta perburukan kondisi respirasi pada anak. Dinas Kesehatan Jakarta melaporkan bahwa suhu tinggi selama El Nino meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi, sementara penurunan kelembapan dapat menyebabkan kulit kering dan iritasi. (8) Otoritas kesehatan setempat merekomendasikan kecukupan cairan, pembatasan aktivitas luar ruangan pada jam puncak sinar matahari, dan penggunaan masker untuk mengurangi paparan polusi udara. (8)


Mengapa Anak Lebih Rentan terhadap Dampak Kesehatan El Nino?


Anak-anak secara fisiologis lebih rentan terhadap paparan polutan udara maupun vektor penyakit dibanding orang dewasa. Faktor yang mendasari kerentanan ini meliputi:

  1. Perkembangan paru yang belum matur, sehingga lebih sensitif terhadap partikulat halus seperti PM2.5. (5)
  2. Sistem imun dan detoksifikasi yang belum sempurna. (5)
  3. Laju respirasi yang lebih tinggi relatif terhadap ukuran tubuh, meningkatkan volume paparan polutan per satuan berat badan. (5)
  4. Pola aktivitas luar ruangan yang lebih intensif, meningkatkan risiko paparan vektor nyamuk dan sinar matahari langsung. (5,7)

Data Kemenkes menunjukkan bahwa proporsi kematian akibat DBD dalam tujuh tahun terakhir paling tinggi pada kelompok usia 5–14 tahun, kelompok yang juga paling banyak beraktivitas di luar ruangan. (7)


Implikasi Klinis: Apa yang Perlu Dilakukan Dokter dan Tenaga Kesehatan?


Dokter perlu menyesuaikan kewaspadaan diagnostik dan edukasi pasien selama periode El Nino kuat berlangsung. Langkah kesiapsiagaan klinis yang relevan meliputi:

  1. Meningkatkan kewaspadaan diagnostik ISPA dan pneumonia pada periode kabut asap tinggi, terutama di wilayah rawan karhutla seperti Sumatra dan Kalimantan bagian selatan. (3,5)
  2. Meningkatkan indeks kecurigaan DBD pada anak usia sekolah mengingat proyeksi kenaikan kasus nasional, dengan penekanan pada deteksi dini tanda bahaya. (7)
  3. Memperkuat konseling pencegahan diare dan pemantauan status gizi di wilayah terdampak kekeringan. (4)
  4. Mengedukasi orang tua mengenai kecukupan cairan dan pembatasan aktivitas luar ruangan anak pada jam puncak panas untuk mencegah heatstroke dan dehidrasi. (8)
  5. Berkoordinasi dengan otoritas kesehatan daerah terkait informasi kualitas udara real-time untuk mendukung kebijakan pembatasan aktivitas luar ruangan anak. (1)


Edukasi mengenai penggunaan masker pada anak selama paparan kabut asap tinggi dapat dibaca lebih lanjut pada artikel efektivitas masker untuk anak, sementara interpretasi indeks kualitas udara dalam praktik klinis dibahas pada artikel interpretasi AQI untuk klinisi.


Kesimpulan


Intensitas El Nino 2026 yang melampaui kondisi 2015 memperbesar beban empat jalur risiko kesehatan anak sekaligus: ISPA dan pneumonia akibat kabut asap, DBD, diare akibat krisis air bersih, dan gangguan akibat cuaca panas ekstrem. Dokter dan tenaga kesehatan, khususnya di wilayah rawan karhutla dan kekeringan, perlu menyesuaikan indeks kecurigaan diagnostik dan memperkuat edukasi preventif kepada keluarga selama periode ini berlangsung hingga diperkirakan awal 2027. (1)


FAQ


Apakah El Nino 2026 benar-benar lebih kuat dari 2015?


Ya, berdasarkan data BMKG yang dikutip Kementerian Kehutanan, indeks anomali suhu muka laut Nino 3.4 pada Agustus 2026 tercatat lebih tinggi dibanding kondisi 2015. (1,2) Meski demikian, istilah "El Nino Godzilla" tetap merupakan sebutan populer, bukan kategori resmi BMKG. (1)


Sampai kapan dampak El Nino 2026 diperkirakan berlangsung?


BMKG memproyeksikan El Nino akan bertahan hingga awal 2027, dengan fase IOD positif yang berpotensi bertahan setidaknya hingga akhir 2026. (1) Artinya, dampak kesehatan terkait kabut asap, kekeringan, dan cuaca panas berpotensi berlangsung lebih lama dibanding episode El Nino sebelumnya.


Kelompok usia anak mana yang paling berisiko terhadap dampak El Nino?


Data Kemenkes menunjukkan kelompok usia 5–14 tahun memiliki proporsi kematian akibat DBD tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, sejalan dengan pola aktivitas luar ruangan yang lebih intensif pada kelompok usia ini. (7) Untuk dampak respirasi seperti pneumonia dan ISPA, kerentanan lebih ditentukan oleh perkembangan paru yang belum matur, yang berlaku pada seluruh kelompok usia anak. (5)


Apa yang bisa disarankan dokter kepada orang tua untuk mengurangi risiko selama El Nino?


Dokter dapat menyarankan pembatasan aktivitas luar ruangan anak pada jam puncak sinar matahari, kecukupan cairan, penggunaan masker saat kabut asap tinggi, serta kewaspadaan terhadap gejala dini DBD dan diare. (7,8) Pemantauan indeks kualitas udara harian juga disarankan sebagai dasar keputusan aktivitas luar ruangan anak. (1)


Daftar Pustaka

  1. Pantas Panas Mendidih, BMKG Konfirmasi El Nino Saat Ini Sangat Kuat. CNBC Indonesia. 13 Agustus 2026. Tersedia di: https://www.cnbcindonesia.com/news/20260813111400-4-758853/pantas-panas-mendidih-bmkg-konfirmasi-el-nino-saat-ini-sangat-kuat
  2. Singgung "Godzilla", Menhut Sebut El Nino 2026 Lebih Kuat dari Tahun 2015. Kompas.com. 18 Agustus 2026. Tersedia di: https://nasional.kompas.com/read/2026/08/18/21595161/singgung-godzilla-menhut-sebut-el-nino-2026-lebih-kuat-dari-tahun-2015
  3. United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR). Indonesia Wildfires 2023 – Forensic Analysis. Global Assessment Report on Disaster Risk Reduction (GAR2024). Tersedia di: https://www.undrr.org/resource/indonesia-wildfires-2023-forensic-analysis
  4. World Health Organization. Public Health Situation Analysis: El Niño Global Climate Event. 2023. Tersedia di: https://cdn.who.int/media/docs/default-source/2021-dha-docs/phsa-el-nino-2023_final_na.pdf
  5. Haryanto B, Kurniasari F, Trihandini I, Nugraha F, Widayana NG, Winarni NL. Climate Change Adaptation to Smoke Haze for Improved Child Health in Southeast Asia: Analysis Situation in Palembang, Indonesia. Ann Glob Health. 2026;92(1):52. doi:10.5334/aogh.5211
  6. Haryanto B, Jalaludin B, Asyary A, Roestandy N, Nugraha F. Associations Between Ambient PM2.5 Levels and Children's Pneumonia and Asthma During the COVID-19 Pandemic in Greater Jakarta (Jabodetabek). Ann Glob Health. 2025. Tersedia di: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11869824/
  7. Infectious Diseases in Children: Diagnosing the Impact of Climate Change-Related Disasters Using Integer-Valued Autoregressive Models with Overdispersion. Diseases. 2025;13(9):303. doi:10.3390/diseases13090303
  8. Indonesia warns of serious health risks due to El Niño. VietnamPlus (VNA). Mengutip pernyataan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati. Tersedia di: https://en.vietnamplus.vn/indonesia-warns-of-serious-health-risks-due-to-el-nino-post342056.vnp


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan