Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Batuk dan Sesak Setelah Terpapar Asap: Iritasi atau Pneumonia pada Anak?

6 Oktober 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Batuk dan Sesak Setelah Terpapar Asap: Iritasi atau Pneumonia pada Anak?

"Karhutla yang masih berlangsung membuat keluhan saluran napas pada anak terus menjadi perhatian. Batuk, sesak, dan napas cepat dapat muncul akibat iritasi asap, tetapi paparan asap juga dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi saluran napas, termasuk pneumonia. Karena gejalanya dapat menyerupai satu sama lain, dokter perlu mengenali petunjuk yang membantu membedakan keduanya serta menentukan tata laksana yang sesuai."


Lebih dari satu bulan telah berlalu, namun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kalimantan belum juga padam. (1) Walaupun Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melaporkan titik panas (hotspot) turun dari 1.920 pada awal September menjadi 681 pada 30 September 2026, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa asap tebal masih menyelimuti Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. BNPB memperkirakan karhutla berakhir paling cepat pertengahan Oktober dan paling lambat minggu ketiga November 2026.

Hingga kini, warga Kalimantan masih harus menghadapi paparan asap dan dampaknya terhadap saluran pernapasan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sejak 18 Agustus sampai 21 September 2026, dengan 40.363 kasus terjadi pada balita. (2,3) Data tersebut berasal dari tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. (3)

Keluhan respirasi selama karhutla tidak selalu memiliki penyebab yang sama. Sebagian dapat muncul akibat iritasi dan inflamasi saluran napas karena asap, sementara pada sebagian anak dapat terjadi infeksi saluran napas, termasuk pneumonia akibat virus atau bakteri. Gejalanya dapat tumpang tindih. Karena itu, penting untuk mengenali kapan keluhan lebih mengarah pada pneumonia dan apakah perbedaan penyebab tersebut turut memengaruhi tata laksana.

Apakah Asap Karhutla Berhubungan dengan Pneumonia pada Anak?

Asap karhutla tidak hanya menyebabkan iritasi langsung pada saluran napas. Sejumlah penelitian juga menunjukkan adanya hubungan antara paparan asap kebakaran lahan dan peningkatan risiko infeksi respirasi, termasuk pneumonia.

Dalam studi yang dilakukan di delapan negara dan wilayah, setiap peningkatan 1 µg/m³ particulate matter berdiameter ≤2,5 µm (PM2,5) dari kebakaran dikaitkan dengan peningkatan risiko rawat inap akibat pneumonia sebesar 0,36%. Risiko ini lebih tinggi pada anak-anak berusia <19 tahun dan individu lanjut usia >60 tahun. Hasil serupa ditemukan oleh Zhou dkk., yang melaporkan bahwa setiap kenaikan 10 µg/m³ PM2,5 dari kebakaran lahan berasosiasi dengan kenaikan 1,9% rawat inap akibat penyakit saluran napas dan 1,5% akibat infeksi. (4)

Pada anak di bawah 5 tahun, paparan PM2,5 dari kebakaran lahan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Studi di 48 negara berpendapatan rendah dan menengah menemukan bahwa setiap kenaikan 1 µg/m³ PM2,5 dari kebakaran berasosiasi dengan peningkatan risiko ISPA sebesar 3,2%. (5)

Temuan lain juga menunjukkan peningkatan risiko infeksi saluran napas pada anak dan remaja yang terpapar asap kebakaran. Namun, bukti yang secara khusus menilai pneumonia masih terbatas dan hasil antarpenelitian belum sepenuhnya konsisten. (4,6)

Secara biologis, hubungan tersebut masuk akal. Partikel asap dapat mencapai bagian dalam saluran napas dan memicu inflamasi serta stres oksidatif. Kerusakan jaringan dan perubahan respons imun lokal kemudian dapat membuat saluran napas lebih rentan terhadap infeksi. (4) Dengan kata lain, asap dapat menimbulkan keluhan respirasi secara langsung sekaligus menciptakan kondisi yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Dampak asap pada saluran napas dan otak anak dibahas lebih rinci dalam artikel tentang dampak asap kebakaran hutan pada kesehatan anak.

Kapan Batuk dan Sesak Setelah Terpapar Asap Perlu Dicurigai Pneumonia?

Karena iritasi akibat asap dan pneumonia dapat sama-sama menyebabkan batuk atau sesak, langkah pertama adalah mencari tanda yang meningkatkan kecurigaan terhadap pneumonia.

Pada anak di bawah 5 tahun, pneumonia perlu dicurigai bila batuk dan/atau sulit bernapas disertai napas cepat atau tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. World Health Organization (WHO) menggunakan kedua tanda tersebut sebagai bagian dari penilaian klinis pneumonia pada kelompok usia ini. (7)

Batas napas cepat berbeda sesuai usia anak. Studi di BMC Infectious Diseases yang menggunakan kriteria WHO menerapkan ambang laju napas pada Tabel 1 untuk anak dengan riwayat batuk dan/atau sulit bernapas kurang dari 3 minggu. (8)

Tabel 1. Ambang batas laju napas yang dianggap cepat

UsiaLaju napas dianggap cepat
Kurang dari 2 bulan≥60 kali/menit
2–11 bulan≥50 kali/menit
12–59 bulan≥40 kali/menit

Namun, adanya napas cepat belum otomatis berarti pneumonia. Paparan asap sendiri dapat menyebabkan sesak, napas cepat, mengi, batuk, rasa terbakar pada saluran napas dan mata, nyeri dada, serta pusing. (9) Inilah yang membuat kedua kondisi sulit dibedakan hanya berdasarkan satu gejala.

Secara klinis, napas cepat atau tarikan dinding dada sebaiknya menjadi sinyal untuk mengevaluasi kemungkinan pneumonia lebih lanjut. Sebaliknya, riwayat paparan asap tidak boleh langsung membuat seluruh gejala dianggap sebagai iritasi semata.

IDAI juga mencatat bahwa dampak asap lebih besar pada anak dengan asma, riwayat pneumonia, penyakit jantung atau paru lain, gangguan imunitas, atau malnutrisi. (9)

Seberapa Akurat Napas Cepat dan Tarikan Dinding Dada dalam Mendiagnosis Pneumonia?

Seperti dijelaskan sebelumnya, napas cepat dan tarikan dinding dada dapat meningkatkan kecurigaan terhadap pneumonia. Namun, keduanya tidak cukup untuk memastikan bahwa keluhan anak memang disebabkan pneumonia.

Pada anak yang terpapar asap, tanda yang sama juga dapat muncul akibat iritasi atau gangguan respirasi lainnya. Karena itu, tanda klinis ini lebih tepat digunakan untuk menentukan perlunya evaluasi lebih lanjut daripada sebagai penentu diagnosis tunggal.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis di Lancet Infectious Diseases menunjukkan bahwa napas cepat sesuai usia memiliki sensitivitas sekitar 62% dan spesifisitas 59%, sedangkan tarikan dinding dada bagian bawah memiliki sensitivitas sekitar 48% dan spesifisitas 72% bila dibandingkan dengan pneumonia yang tampak pada foto toraks. (10)

Artinya, tidak semua anak dengan napas cepat mengalami pneumonia, dan sebagian anak dengan pneumonia justru dapat tidak menunjukkan tanda tersebut. Bila setelah anamnesis dan pemeriksaan fisik masih sulit membedakan iritasi akibat asap dengan pneumonia, evaluasi klinis lebih lanjut diperlukan. Pada kasus tertentu, foto toraks dapat dipertimbangkan untuk membantu memperjelas diagnosis.

Bagaimana Menentukan Apakah Pneumonia Berkaitan dengan Karhutla?

Pada anak yang akhirnya terdiagnosis pneumonia, pertanyaan berikutnya adalah apakah infeksinya dapat dikaitkan secara langsung dengan paparan asap karhutla.

Bukti yang tersedia belum menyediakan cara untuk memastikan hubungan tersebut pada satu pasien. Studi-studi yang ada terutama menunjukkan asosiasi pada tingkat populasi, bukan bahwa asap menjadi penyebab langsung setiap kasus pneumonia.

Beberapa informasi tetap dapat membantu menilai kemungkinannya. Risiko gangguan respirasi pada anak dan remaja ditemukan paling tinggi pada hari paparan dan sehari setelahnya, sehingga waktu munculnya gejala terhadap periode asap pekat layak dicatat. (4) IDAI juga menyebut dampak asap bergantung pada bahan yang terbakar, luas dan lama paparan, serta kondisi kesehatan anak. (9)

Informasi tersebut dapat mendukung penilaian klinis, tetapi tidak dapat menentukan apakah pneumonia pada seorang anak secara langsung “disebabkan” oleh karhutla.

Tata Laksana: Apakah Iritasi Asap dan Pneumonia Ditangani dengan Cara yang Sama?

Tidak sepenuhnya. Mengurangi paparan asap tetap menjadi langkah penting pada semua anak dengan keluhan respirasi selama karhutla. Namun, terapi selanjutnya bergantung pada penyebab dan kondisi klinis anak.

Langkah pertama adalah mengurangi paparan asap. IDAI menyebut bahwa oksigen sementara pun tidak memberi manfaat optimal selama kualitas udara sekitar masih buruk. (9)

Rekomendasi IDAI tahun 2015 untuk mengurangi paparan meliputi: (9)

  1. Menjaga anak tetap di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup, serta mengatur pendingin udara (AC) pada mode re-circulate dengan penggantian filter secara teratur.
  2. Menghindari aktivitas dalam rumah yang menambah polutan, seperti memasak dengan kompor gas atau propana, merokok, dan menyedot debu tanpa penyedot berfilter high-efficiency particulate air (HEPA).
  3. Mengurangi aktivitas fisik anak agar kontaminan yang terhirup berkurang.
  4. Memindahkan anak berisiko tinggi ke tempat berudara bersih. Penutupan sekolah perlu dipertimbangkan bila kualitas udara sangat buruk, meski pada kondisi tertentu sekolah dapat menjadi ruang dalam yang aman.

Menurut IDAI, masker cat, debu, dan bedah tidak efektif menyaring partikel halus. Masker N95 menyaring hingga 95% partikel berukuran ≥0,3 µm, tetapi hanya efektif bila terpasang tepat di wajah. Produsen tidak menyarankan masker berukuran kecil untuk anak. Bila anak terpapar berat hingga memerlukan masker, pindahkan anak ke tempat berudara lebih bersih. (9)

Pada keluhan yang terutama berkaitan dengan iritasi atau bronkospasme, terapi ditujukan pada gejala dan kondisi klinis. Steroid antiinflamasi dan bronkodilator seperti salbutamol dapat diberikan atas indikasi medis oleh dokter dan tidak digunakan untuk jangka panjang. Oksigen juga diberikan sesuai indikasi, misalnya pada pneumonia atau serangan asma berat. (9)

Jika pneumonia dicurigai, tata laksananya tidak dapat disamakan dengan iritasi akibat asap semata. Dokter perlu menilai kemungkinan penyebab infeksi, tingkat keparahan, kebutuhan oksigen, dan terapi spesifik yang diperlukan.

Anak di penampungan berudara bersih yang tidak membaik atau justru memburuk dalam hitungan hari perlu dipindahkan ke lokasi aman dengan kualitas udara baik. Anak dengan kebutuhan medis khusus, seperti oksigen atau ventilator, juga dievakuasi ke lokasi tersebut. (9)

Referensi artikel ini tidak membahas pilihan antibiotik maupun kriteria rawat inap pneumonia anak. Untuk keputusan tersebut, rujuk pedoman tata laksana pneumonia anak yang berlaku.

Kesimpulan

Karhutla dapat menimbulkan keluhan saluran napas melalui lebih dari satu mekanisme. Asap dapat secara langsung menyebabkan iritasi dan inflamasi saluran napas, tetapi paparan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi respirasi.

Pada anak di bawah 5 tahun yang batuk dan/atau sulit bernapas, pneumonia perlu dicurigai bila terdapat napas cepat sesuai usia atau tarikan dinding dada bagian bawah. (7,8) Namun, tanda tersebut tidak spesifik untuk pneumonia dan juga dapat muncul akibat paparan asap. (9,10)

Karena itu, fokus penilaian bukan hanya menentukan apakah anak terpapar asap, tetapi juga apakah terdapat tanda infeksi atau gangguan respirasi lain yang memerlukan tata laksana berbeda. Hubungan pneumonia dengan karhutla dapat didukung oleh waktu dan lama paparan, tetapi belum dapat dibuktikan pada setiap pasien. (4,9) Mengurangi paparan tetap menjadi langkah awal, sedangkan obat, oksigen, maupun terapi pneumonia diberikan sesuai indikasi klinis. (9)

FAQ

Apakah batuk dan sesak setelah terpapar asap selalu berarti pneumonia?

Tidak. Asap dapat menyebabkan iritasi saluran napas dengan gejala seperti batuk, sesak, napas cepat, dan mengi. (9) Pneumonia perlu lebih dicurigai bila anak di bawah 5 tahun yang batuk dan/atau sulit bernapas mengalami napas cepat sesuai usia atau tarikan dinding dada bagian bawah. (7) Namun, tanda tersebut tidak dapat memastikan pneumonia bila digunakan sendiri. (10)

Apakah iritasi akibat asap dan pneumonia memiliki pengobatan yang sama?

Tidak sepenuhnya. Pada iritasi akibat asap, langkah utama adalah mengurangi paparan dan memberikan terapi sesuai gejala serta kondisi klinis. Pneumonia memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penyebab, keparahan, serta kebutuhan terapi spesifik. Oksigen maupun obat lain diberikan berdasarkan indikasi medis. (9)

Apakah masker bedah melindungi anak dari asap karhutla?

Tidak efektif. IDAI menyatakan masker bedah, debu, dan cat tidak efektif mencegah inhalasi partikel halus. (9) Masker N95 hanya efektif bila terpasang tepat, dan produsen tidak menyarankan masker berukuran kecil untuk anak. Pada paparan berat, pindahkan anak ke tempat berudara lebih bersih. (9)

Apakah asap kebakaran lahan lebih berbahaya bagi anak daripada polusi udara lain?

Pada anak di bawah 5 tahun di 48 negara berpendapatan rendah-menengah, PM2,5 dari kebakaran lahan lebih kuat dikaitkan dengan ISPA dibandingkan PM2,5 dari sumber non-kebakaran. (5) Temuan ini menunjukkan asosiasi dan tidak berarti setiap kasus ISPA atau pneumonia disebabkan langsung oleh asap.

Apakah balita selalu menjadi kelompok yang paling terdampak asap?

Belum tentu. IDAI menyebut seluruh anak usia 0–18 tahun sebagai populasi berisiko. (9) Pada studi rawat inap di tujuh negara dan teritori, risiko rawat inap infeksi lebih tinggi pada anak usia 5–9 tahun dibandingkan anak usia 0–4 tahun. (4)

Daftar Pustaka

  1. Kepala BNPB lapor ke Prabowo: kehidupan masyarakat normal meski asap karhutla tebal [Internet]. Kompas.com. 2026 Sep 23 [cited 2026 Oct 5]. Available from:[ https://nasional.kompas.com/read/2026/09/23/20314521/kepala-bnpb-lapor-ke-prabowo-kehidupan-masyarakat-normal-meski-asap-karhutla](https://nasional.kompas.com/read/2026/09/23/20314521/kepala-bnpb-lapor-ke-prabowo-kehidupan-masyarakat-normal-meski-asap-karhutla)
  2. 174 ribu kasus ISPA di wilayah karhutla 40 ribu dialami balita [Internet]. ANTARA. 2026 Sep 22 [cited 2026 Oct 5]. Available from:[ https://www.antaranews.com/berita/5753499/174-ribu-kasus-ispa-di-wilayah-karhutla-40-ribu-dialami-balita](https://www.antaranews.com/berita/5753499/174-ribu-kasus-ispa-di-wilayah-karhutla-40-ribu-dialami-balita)
  3. 7 daerah terdampak karhutla catat 174.694 kasus ISPA, 40.363 serang balita [Internet]. Kompas.com. 2026 Sep 22 [cited 2026 Oct 5]. Available from:[ https://nasional.kompas.com/read/2026/09/22/17592151/7-daerah-terdampak-karhutla-catat-174694-kasus-ispa-40363-serang-balita](https://nasional.kompas.com/read/2026/09/22/17592151/7-daerah-terdampak-karhutla-catat-174694-kasus-ispa-40363-serang-balita)
  4. Zhou S, Zhang Y, Yang Z, Xu R, Huang W, Wu Y, et al. Impact of global short-term landscape fire sourced PM2.5 exposure on child cause-specific morbidity: a study in multiple countries and territories. Nat Commun. 2025;16:9347. doi:10.1038/s41467-025-64411-0
  5. Li J, et al. Landscape fire smoke enhances the association between fine particulate matter exposure and acute respiratory infection among children under 5 years of age: findings of a case-crossover study for 48 low- and middle-income countries. Environ Int. 2023;171:107665. doi:10.1016/j.envint.2022.107665. PMID: 36493611
  6. Zhang Y, et al. Health impacts of wildfire smoke on children and adolescents: a systematic review and meta-analysis. Curr Environ Health Rep. 2023. doi:10.1007/s40572-023-00420-9
  7. World Health Organization. Pneumonia in children [Internet]. [cited 2026 Oct 5]. Available from:[ https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pneumonia](https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pneumonia)
  8. Clinical case review: a method to improve identification of true clinical and radiographic pneumonia in children meeting the World Health Organization definition for pneumonia. BMC Infect Dis. 2008;8:95. doi:10.1186/1471-2334-8-95
  9. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Kesehatan anak akibat bencana kabut asap. Rekomendasi No. 011/Rek/PP IDAI/X/2015 [Internet]. Jakarta: IDAI; 2016 Apr 28 [cited 2026 Oct 5]. Available from:[ https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/kesehatan-anak-akibat-bencana-kabut-asap](https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/kesehatan-anak-akibat-bencana-kabut-asap)
  10. Clinical features for diagnosis of pneumonia in children younger than 5 years: a systematic review and meta-analysis. Lancet Infect Dis. 2015. doi:10.1016/S1473-3099(15)70017-4. PMID: 25769269
  11. Kemenhut sebut hotspot karhutla terus menurun, tersisa 681 titik [Internet]. ANTARA. 2026 Oct 1 [cited 2026 Oct 5]. Available from:[ https://www.antaranews.com/video/5767564/kemenhut-sebut-hotspot-karhutla-terus-menurun-tersisa-681-titik](https://www.antaranews.com/video/5767564/kemenhut-sebut-hotspot-karhutla-terus-menurun-tersisa-681-titik)
  12. Respiratory risks from wildfire-specific PM2.5 across multiple countries and territories. Nat Sustain. 2025. Available from:[ https://www.nature.com/articles/s41893-025-01533-9](https://www.nature.com/articles/s41893-025-01533-9)


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan