Edukasi
Dampak Asap Kebakaran Hutan pada Kesehatan Anak: Ancaman bagi Saluran Napas dan Otak
28 Agustus 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

"Asap kebakaran hutan mengandung PM2.5 dan polutan gas yang berdampak lebih besar pada anak dibandingkan orang dewasa, karena anak memiliki llaju napas yang lebih cepat dan sistem imun serta paru yang belum matang. Paparan jangka pendek berkaitan dengan gangguan saluran napas atas, sementara paparan jangka panjang berkaitan dengan penurunan fungsi paru, peningkatan kunjungan rawat jalan neurologis, dan gangguan psikologis yang dapat menetap bertahun-tahun."
Pada Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan meningkat tajam akibat kondisi iklim yang sangat kering, dipicu oleh El Niño dengan intensitas yang tergolong sangat kuat. Pemantauan Kementerian Kehutanan mencatat lonjakan titik panas berkepercayaan tinggi lebih dari empat kali lipat dalam satu hari pada pertengahan Agustus 2026, dengan total 750 titik terdeteksi di tiga provinsi tersebut selama periode 17–19 Agustus. Dampak asap yang ditimbulkan telah mengganggu aktivitas warga, termasuk pembatalan penerbangan di salah satu bandara di Kalimantan Barat. (1) Situasi ini kembali menegaskan pertanyaan klinis yang penting: apa saja dampak kesehatan asap kebakaran hutan, khususnya pada saluran napas dan sistem saraf anak, dalam jangka pendek maupun panjang?
Dampak Asap Kebakaran Hutan pada Saluran Pernapasan Anak
Paparan asap kebakaran hutan berkaitan dengan percepatan waktu penggunaan obat saluran napas atas pada bayi. Sebuah studi kohort retrospektif terhadap lebih dari 180.000 bayi di enam negara bagian barat Amerika Serikat menemukan bahwa paparan asap pada periode 1–12 minggu dan 13–24 minggu pascakelahiran masing-masing berkaitan dengan rasio hazard 1,094 dan 1,108 untuk penggunaan pertama obat saluran napas atas per peningkatan satu hari rata-rata mingguan hari berasap. Paparan pada trimester pertama kehamilan juga menunjukkan asosiasi positif dengan luaran yang sama, meskipun asosiasi pada saluran napas bawah dan obat antiinflamasi sistemik pada periode gestasi cenderung mendekati nol atau bahkan berlawanan arah, yang kemungkinan mencerminkan bias seleksi kelahiran hidup dalam desain penelitian observasional semacam ini. (3)
Selain efek jangka pendek pada penggunaan obat, paparan PM2.5 jangka panjang berkaitan dengan penurunan fungsi paru anak usia sekolah. Studi berbasis dosis pada 613 anak usia 7–12 tahun di Lanzhou, Tiongkok, menunjukkan bahwa setiap peningkatan 1 µg/kg per hari pada dosis harian rata-rata (average daily dose/ADD) PM2.5 berkaitan dengan penurunan kapasitas vital paksa (FVC) sebesar 10,49 mL dan volume ekspirasi paksa detik pertama (FEV1) sebesar 7,68 mL. (4) Menariknya, asosiasi ini hanya bermakna ketika PM2.5 dihitung sebagai dosis inhalasi individual, bukan sekadar konsentrasi ambien, dan efek terkuat ditemukan pada paparan satu tahun sebelum pengukuran fungsi paru. (4)
Temuan ini konsisten dengan tinjauan sistematis global terhadap 139 studi manusia (1997–2023), yang menyimpulkan bahwa PM2.5 dari kebakaran hutan memberikan dampak lebih besar terhadap kesehatan pernapasan anak dibandingkan sumber polusi lain, dengan eksaserbasi asma sebagai perhatian utama pada paparan jangka pendek, serta kelainan paru obstruktif pada paparan jangka panjang. (7) Tinjauan tersebut turut mencatat peningkatan kunjungan layanan kesehatan akibat asma dan gangguan pernapasan lain pada anak usia 0–5 tahun setelah paparan asap kebakaran hutan, serta peningkatan rawat inap akibat penyakit pernapasan yang lebih menonjol pada anak dari kelompok masyarakat adat. (7)
Dampak Asap Kebakaran Hutan pada Otak dan Perkembangan Anak
Selain saluran napas, PM2.5 turut berdampak pada sistem saraf anak. Sebuah studi seri waktu di Shijiazhuang, Tiongkok, yang menganalisis lebih dari 150.000 kunjungan rawat jalan neurologis anak selama sembilan tahun (2013–2021), menemukan bahwa setiap peningkatan PM2.5 sebesar rentang interkuartil (75,2 µg/m³) pada rerata bergerak tujuh hari berkaitan dengan peningkatan 2,047% kunjungan rawat jalan neurologis anak secara keseluruhan. (5) Dampak ini mencakup tiga kategori kelainan neurologis, yaitu ensefalopati infeksi sentral, ensefalopati akut noninfeksi (termasuk epilepsi dan migrain), serta disfungsi otak kronis. (5) Mekanisme yang diajukan mencakup translokasi PM2.5 melalui sawar darah-otak serta jalur saraf olfaktorius, yang memicu neuroinflamasi dan stres oksidatif pada jaringan otak. (5)
Dampak Paparan Asap Kebakaran Hutan dalam Jangka Panjang
Dampak jangka panjang paparan asap kebakaran hutan pada anak tidak terbatas pada aspek fisik, tetapi juga psikologis. Dari sisi fisik, penurunan fungsi paru akibat paparan PM2.5 jangka panjang bersifat kumulatif dan lebih menonjol pada anak perempuan dibandingkan anak laki-laki. (4) Dari sisi psikologis, tinjauan pustaka terhadap delapan studi mengenai reaksi psikologis anak dan remaja pascabencana kebakaran hutan mengidentifikasi gangguan stres pascatrauma (PTSD) sebagai kondisi yang paling sering dievaluasi, diikuti oleh kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, keputusasaan, resiliensi rendah, serta penurunan kualitas hidup dan harga diri. (6) Tinjauan tersebut menyimpulkan bahwa dampak kesehatan mental ini dapat menetap hingga bertahun-tahun setelah kejadian, dengan tingkat keparahan dipengaruhi oleh jenis kelamin, derajat paparan langsung, retraumatisasi, dan resiliensi individu. (6)
Anak Lebih Rentan terhadap Asap Kebakaran Hutan dari Orang Dewasa
Anak lebih rentan terhadap asap kebakaran hutan dibandingkan orang dewasa karena faktor fisiologis dan perilaku yang khas pada masa kanak-kanak. Secara fisiologis, anak memiliki laju pernapasan yang lebih tinggi per satuan berat badan dibandingkan orang dewasa, sehingga dosis polutan yang terinhalasi per kilogram berat badan menjadi lebih besar. (2) Paru-paru anak juga masih dalam proses pertumbuhan dan diferensiasi struktural hingga usia dewasa muda, membuat jaringan paru lebih rentan terhadap efek toksik partikulat dibandingkan paru yang sudah matang. Dari sisi perilaku, anak cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan dan melakukan aktivitas fisik yang meningkatkan volume udara yang terhirup. (2)
Kelompok Khusus pada Anak yang Lebih Rentan terhadap Asap Kebakaran Hutan
Beberapa kelompok anak menunjukkan kerentanan yang lebih tinggi terhadap dampak kesehatan asap kebakaran hutan dibandingkan populasi anak secara umum:
Anak perempuan: pada studi yang meneliti dampak neurologis asap kebakaran hutan, ditemukan bahwa anak perempuan memiliki risiko kunjungan rawat jalan sebesar 3,96% per peningkatan rentang interkuartil PM2.5, ekbih tinggi dibandingkan anak laki-laki yang hanya memiliki risiko 1,00% (5) Pola serupa juga ditemukan pada penurunan fungsi paru, yang lebih besar pada anak perempuan. (4)
Anak usia di bawah 6 tahun: kelompok usia ini memiliki perkembangan sistem saraf tercepat, maka sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan. Penelitian yang dilakukan oleh Liang et al. menunjukkan bahwa terdapat asosiasi tingkat PM2.5 dengan kunjungan rawat jalan ke poli neurologi yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 7–14 tahun. (5)
Janin pada trimester pertama kehamilan dan bayi pada periode 24 minggu pertama pascakelahiran. (3)
FAQ tentang Dampak Asap Kebakaran Hutan pada Kesehatan Anak
Apakah dampak asap kebakaran hutan pada anak bersifat sementara atau dapat menetap?
Dampaknya dapat menetap, tidak hanya bersifat akut. Penurunan fungsi paru akibat paparan PM2.5 jangka panjang bersifat kumulatif seiring durasi paparan. (4) Demikian pula, dampak psikologis pascabencana kebakaran hutan seperti PTSD, kecemasan, dan depresi pada anak dilaporkan dapat bertahan hingga bertahun-tahun setelah kejadian. (6)
Mengapa anak perempuan lebih rentan dibandingkan anak laki-laki?
Beberapa studi konsisten menemukan anak perempuan lebih rentan, baik pada luaran neurologis maupun fungsi paru. (4, 5) Perbedaan ini diduga terkait perbedaan deposisi partikel serta variasi struktur fisiologis dan hormonal antarjenis kelamin, meskipun mekanisme pastinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. (5)
Apakah paparan asap kebakaran hutan selama kehamilan turut berisiko bagi bayi?
Ya. Paparan asap kebakaran hutan pada trimester pertama kehamilan berkaitan dengan percepatan waktu penggunaan pertama obat saluran napas atas pada bayi setelah lahir. (3) Namun, asosiasi pada trimester kedua dan ketiga cenderung tidak konsisten, sehingga interpretasi klinis perlu mempertimbangkan kemungkinan bias seleksi pada studi berbasis kelahiran hidup. (3)
Kesimpulan
Bukti klinis yang tersedia menegaskan bahwa asap kebakaran hutan bukan sekadar iritan saluran napas sesaat, melainkan paparan lingkungan yang berdampak multisistem pada anak—mencakup saluran napas, sistem saraf, dan kesehatan mental—dengan efek yang dapat berlanjut hingga jangka panjang. Bagi dokter dan tenaga kesehatan, temuan ini memiliki implikasi praktis: edukasi keluarga mengenai proteksi pernapasan (termasuk pemilihan dan pemakaian masker yang sesuai), kewaspadaan terhadap gejala neurologis dan psikologis pascapaparan asap—bukan hanya gejala respiratorik—serta perhatian khusus pada kelompok berisiko tinggi seperti anak perempuan, anak balita, dan ibu hamil trimester pertama, perlu menjadi bagian dari konseling klinis selama periode kabut asap seperti yang tengah berlangsung di Kalimantan.
Daftar Pustaka
1. Permana RH. BMKG ungkap penyebab karhutla di Kalimantan: iklim kering efek El Nino [Internet]. detikNews. 2026 Agu 21 [dikutip 2026 Agu 26]. Tersedia dari: https://news.detik.com/berita/d-8628464/bmkg-ungkap-penyebab-karhutla-di-kalimantan-iklim-kering-efek-el-nino
2. Holm SM, Miller MD, Balmes JR. Health effects of wildfire smoke in children and public health tools: a narrative review. J Expo Sci Environ Epidemiol. 2021 Feb;31(1):1-20. doi: 10.1038/s41370-020-00267-4.
3. Dhingra R, Keeler C, Staley BS, Jardel HV, Ward-Caviness C, Rebuli ME, Xi Y, Rappazzo K, Hernandez M, Chelminski AN, Jaspers I, Rappold AG. Wildfire smoke exposure and early childhood respiratory health: a study of prescription claims data. Environ Health. 2023 Jun 27;22(1):48. doi: 10.1186/s12940-023-00998-5.
4. Li S, Cao S, Duan X, Zhang Y, Gong J, Xu X, Guo Q, Meng X, Bertrand M, Zhang JJ. Long-term exposure to PM2.5 and children's lung function: a dose-based association analysis. J Thorac Dis. 2020 Okt;12(10):6379-95. doi: 10.21037/jtd-19-crh-aq-007.
5. Liang Z, Gao A, Kang H, Chen F, Ma H, Zhu X, Song X, You X, Song Y, Zhang Y. Short-term effect of PM2.5 exposure on pediatric neurological outpatient visits in Shijiazhuang China 2013-2021. Sci Rep. 2026 Jan 28;16(1):6469. doi: 10.1038/s41598-026-36877-5.
6. Adu MK, Agyapong B, Agyapong VIO. Exploring the impact of wildfires on children's psychological well-being: a comprehensive review of recent literature. Eur Psychiatry. 2024 Agu 27;67(Suppl 1):S460. doi: 10.1192/j.eurpsy.2024.953.
7. Ye X, Ye Y, Huang X, Onega T. Wildfires and public health: a comprehensive review of human-centric studies. Geohealth. 2026 Feb 18;10(2):e2025GH001534. doi: 10.1029/2025GH001534. PMID: 41717654; PMCID: PMC12914487.




