Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Antibiotik pada ISPA: Kapan Diindikasikan dan Kapan Tidak Diperlukan?

31 Agustus 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Antibiotik pada ISPA: Kapan Diindikasikan dan Kapan Tidak Diperlukan?

"Sebagian besar infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak bersifat viral dan tidak memerlukan antibiotik. Antibiotik hanya diindikasikan pada kondisi tertentu seperti rinosinusitis bakterial dengan kriteria spesifik, otitis media akut, faringitis streptokokus grup A yang terkonfirmasi, dan pneumonia bakterial."

Pendahuluan

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan salah satu alasan tersering anak dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan, sekaligus salah satu penyebab utama peresepan antibiotik yang tidak tepat. Pedoman peresepan antibiotik disusun untuk menetapkan standar pelayanan serta memperbaiki kualitas perawatan dan luaran klinis pasien. (1) Artikel ini membahas kondisi ISPA yang secara klinis dapat mengindikasikan antibiotik, serta kondisi yang justru tidak memerlukannya, sebagai acuan praktis bagi dokter dan tenaga kesehatan di layanan rawat jalan.

Mengapa Sebagian Besar ISPA Tidak Memerlukan Antibiotik

Mayoritas ISPA disebabkan oleh virus, dengan setidaknya 200 jenis virus berbeda yang dapat menimbulkan gejala serupa pada saluran napas atas. (1) Common cold, sebagai bentuk ISPA atas yang paling umum, menjadi acuan dasar perjalanan penyakit viral: perjalanan yang tidak berkomplikasi umumnya berlangsung 5–7 hari, dengan gejala pilek keseluruhan bertahan sekitar 10 hari. (1) Sekret hidung biasanya dimulai jernih dan berubah karakter seiring perjalanan penyakit, sementara demam—bila ada—cenderung muncul di awal fase infeksi. (1) Pola perjalanan penyakit inilah yang menjadi acuan untuk mengenali kapan suatu ISPA menyimpang dari jalur viral yang biasa dan mulai mengarah pada komplikasi bakterial, sebagaimana dibahas pada kondisi-kondisi berikut.

Kapan Antibiotik Diindikasikan pada ISPA?

Rinosinusitis Akut Bakterial

Rinosinusitis bakterial dapat timbul sebagai komplikasi ketika ISPA viral pada saluran napas atas tidak kunjung membaik atau justru memburuk setelah fase perbaikan awal. (1) Baik virus maupun bakteri dapat menyebabkan sinusitis, dan bahkan pada kasus dengan agen penyebab bakteri, antibiotik tidak selalu memberikan manfaat. (1) Karena itu, diagnosis rinosinusitis bakterial memerlukan salah satu dari kriteria berikut, bukan sekadar kecurigaan klinis:

  • gejala menetap tanpa perbaikan, yaitu sekret hidung atau batuk siang hari selama lebih dari 10 hari;

  • gejala memburuk, berupa demam baru atau memburuk, batuk siang hari, atau sekret hidung yang muncul kembali setelah perbaikan awal dari ISPA viral;

  • gejala berat, yaitu demam ≥39°C disertai sekret hidung purulen selama minimal 3 hari berturut-turut. (1)

Pemeriksaan pencitraan tidak lagi direkomendasikan untuk kasus tanpa komplikasi. Watchful waiting hingga 3 hari dapat dipertimbangkan pada kasus dengan gejala persisten, sementara antibiotik diberikan pada kasus dengan gejala berat atau memburuk, dengan amoksisilin atau amoksisilin/klavulanat sebagai terapi lini pertama. (1)

Otitis Media Akut (OMA)

Selain rinosinusitis, OMA merupakan salah satu komplikasi ISPA atas yang paling sering ditemui pada anak, sehingga menjadikannya infeksi masa kanak-kanak tersering yang mendasari peresepan antibiotik—meskipun 4–10% anak yang diterapi antibiotik mengalami efek samping. Karena OMA muncul menyertai atau menyusul ISPA atas, diagnosis definitifnya perlu ditegakkan secara ketat: memerlukan bulging membran timpani sedang-berat atau otore onset baru (bukan akibat otitis eksterna), atau bulging ringan disertai otalgia onset <48 jam atau eritema intens membran timpani; diagnosis tidak boleh ditegakkan tanpa adanya efusi telinga tengah. Watchful waiting dapat dipertimbangkan pada kasus ringan unilateral usia 6–23 bulan atau kasus uni/bilateral pada anak >2 tahun melalui pengambilan keputusan bersama orang tua. Amoksisilin tetap menjadi lini pertama, sedangkan amoksisilin/klavulanat dipertimbangkan bila anak telah mendapat amoksisilin dalam 30 hari terakhir, disertai konjungtivitis purulen, atau memiliki riwayat OMA rekuren yang tidak responsif terhadap amoksisilin. (1)

Faringitis Streptokokus Grup A

Berbeda dari rinosinusitis dan OMA yang merupakan komplikasi, faringitis merupakan presentasi ISPA atas itu sendiri yang terlokalisasi di tenggorok, sehingga tantangan utamanya bukan mendeteksi komplikasi melainkan membedakan etiologi viral dari bakterial sejak awal. Pedoman terkini menekankan penggunaan uji deteksi antigen cepat (RADT) yang tepat untuk meminimalkan paparan antibiotik yang tidak perlu, mengingat streptokokus grup A (GAS) dapat mengolonisasi hingga 20% anak asimtomatik pada musim dingin dan semi. Faringitis streptokokus terutama menyerang anak usia 5–15 tahun dan jarang terjadi pada usia di bawah 3 tahun. Karena gambaran klinis semata tidak dapat membedakan GAS dari faringitis viral, RADT diindikasikan pada anak dengan nyeri tenggorok disertai minimal dua dari: tidak adanya batuk, eksudat atau pembengkakan tonsil, riwayat demam, pembesaran kelenjar getah bening servikal anterior yang nyeri tekan, dan usia di bawah 15 tahun. Amoksisilin dan penisilin merupakan terapi lini pertama dengan durasi 10 hari untuk seluruh beta-laktam oral. (1)

Pneumonia Bakterial

Jika rinosinusitis dan OMA merupakan komplikasi ISPA atas yang tetap berada di saluran napas atas, pneumonia adalah bentuk perluasan ISPA ke saluran napas bawah dan karenanya memerlukan pertimbangan antibiotik tersendiri karena kontribusi bakteri yang lebih besar serta potensi keparahannya. Etiologi pneumonia pada anak bervariasi menurut usia: virus merupakan penyebab utama pada bayi dan balita usia 30 hari hingga 5 tahun, namun pada kelompok usia ini juga terjadi peningkatan kasus akibat Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae tipe b. (2) Mycoplasma pneumoniae sering ditemukan pada anak usia 5–13 tahun, meskipun S pneumoniae tetap menjadi organisme yang paling sering diidentifikasi secara keseluruhan. Karena presentasinya dapat menyerupai ISPA atas yang memburuk, kewaspadaan klinis penting: tidak ada satu pun temuan pemeriksaan fisik yang secara mandiri dapat memastikan diagnosis pneumonia, namun kombinasi demam, takipnea, ronki fokal, dan penurunan suara napas meningkatkan sensitivitas untuk menemukan pneumonia pada foto toraks. (2)

Tata laksana suportif dan simtomatik menjadi kunci utama, khususnya untuk pneumonia viral yang tidak memerlukan antibiotik. (2) Bila dicurigai pneumonia bakterial, terapi empiris disesuaikan dengan kelompok usia: neonatus memerlukan ampisilin ditambah aminoglikosida atau sefalosporin generasi ketiga; bayi usia 1–3 bulan memerlukan cakupan tambahan terhadap patogen atipikal dengan eritromisin atau klaritromisin; pada bayi dan anak di atas 3 bulan, S pneumoniae merupakan penyebab tersering sehingga amoksisilin dosis tinggi atau beta-laktam lain menjadi obat pilihan; sedangkan pada anak di atas 5 tahun, makrolid umumnya menjadi lini pertama mengingat peran patogen atipikal yang lebih besar. (2)

Setelah antibiotik dimulai, pertanyaan berikutnya yang relevan secara klinis adalah berapa lama terapi perlu dilanjutkan. Pneumonia tetap menjadi penyebab utama kematian pascaneonatal pada anak di bawah 5 tahun secara global, serta dapat menimbulkan morbiditas jangka panjang seperti defisit fungsi paru dan bronkiektasis, sehingga durasi terapi turut memengaruhi luaran jangka panjang. (3) Meskipun virus merupakan penyebab tersering pneumonia pada anak, bakteri tetap berperan penting, dan durasi optimal terapi antibiotik untuk pneumonia bakterial masih belum pasti baik di negara berpenghasilan rendah-menengah maupun tinggi. (3) Pertanyaan mendasar yang harus dijawab sebelum menentukan durasi antibiotik adalah apakah pneumonia tersebut benar-benar bersifat bakterial, namun hal ini sulit dipastikan karena spesimen yang umum diambil—seperti usap nasofaring, aspirasi pleura, darah, dan urine—memiliki keterbatasan diagnostik masing-masing; usap nasofaring yang positif, misalnya, hanya menunjukkan keberadaan organisme di saluran napas atas tanpa memastikan perannya dalam proses pneumonia, sementara kultur darah memiliki hasil positif yang rendah dengan biaya yang tinggi. (3) Tinjauan ini menyimpulkan bahwa pertanyaan mengenai durasi optimal antibiotik pada pneumonia anak masih belum terjawab secara pasti. (3)

Kapan Antibiotik Tidak Diperlukan pada ISPA?

Setelah membahas kondisi-kondisi yang dapat mengindikasikan antibiotik, penting ditekankan bahwa dua bentuk ISPA berikut—meski dapat menimbulkan gejala yang mengkhawatirkan orang tua—secara konsisten tidak memerlukan antibiotik karena etiologinya yang murni viral.

Common Cold dan ISPA Non-spesifik

Sebagai bentuk ISPA atas yang paling umum dan menjadi titik awal sebagian besar kasus yang berkembang menjadi komplikasi bakterial di atas, common cold dan ISPA non-spesifik itu sendiri tidak pernah memerlukan antibiotik selama belum memenuhi kriteria komplikasi yang telah diuraikan. Tata laksananya sebaiknya difokuskan pada terapi simtomatik. (1) Obat batuk-pilek bebas pada anak di bawah 6 tahun berpotensi membahayakan tanpa manfaat yang terbukti, bahkan tergolong di antara 20 zat teratas penyebab kematian pada anak di bawah 5 tahun. (1)

Bronkiolitis

Seperti pneumonia, bronkiolitis juga merupakan bentuk ISPA bawah, namun berbeda dari pneumonia bakterial karena etiologinya yang hampir selalu viral. Bronkiolitis merupakan infeksi saluran napas bawah tersering pada bayi, dengan respiratory syncytial virus sebagai penyebab umum di antara berbagai virus respiratorik lain. (1) Kondisi ini umumnya memburuk pada hari ke-3 hingga ke-5 sebelum membaik, dan karena etiologi viralnya, antibiotik tidak bermanfaat serta tidak boleh digunakan. (1) Suction nasal merupakan modalitas utama tata laksana, sementara albuterol, epinefrin rasemik nebulisasi, kortikosteroid, ribavirin, dan fisioterapi dada tidak memiliki peran pada anak yang tidak dirawat inap. (1)

Prinsip Pemilihan Antibiotik jika Diindikasikan

Ketika antibiotik memang diindikasikan pada salah satu kondisi di atas, amoksisilin—dengan atau tanpa klavulanat sesuai kondisi klinis—tetap menjadi pilihan lini pertama pada rinosinusitis bakterial, OMA, faringitis GAS, maupun pneumonia bakterial pada anak di atas 3 bulan. (1)(2) Pemilihan alternatif pada anak dengan riwayat hipersensitivitas penisilin bervariasi tergantung tipe reaksi alergi. (1) Resistensi GAS terhadap azitromisin dan klindamisin semakin sering ditemukan, sehingga pemilihan alternatif tersebut perlu mempertimbangkan pola resistensi lokal. (1)

FAQ

Apakah demam tinggi pada anak dengan ISPA selalu menandakan perlunya antibiotik?

Tidak selalu. Pada rinosinusitis, demam ≥39°C baru dianggap sebagai kriteria gejala berat bila disertai sekret hidung purulen selama minimal 3 hari berturut-turut. (1) Pada common cold, demam yang muncul di awal perjalanan penyakit merupakan pola yang lazim dan tidak dengan sendirinya mengindikasikan infeksi bakterial. (1)

Bagaimana cara membedakan faringitis viral dan faringitis streptokokus pada anak?

Gambaran klinis semata tidak dapat membedakan keduanya secara andal. (1) RADT diindikasikan pada anak dengan nyeri tenggorok disertai minimal dua kriteria klinis pendukung, sementara pengujian umumnya tidak dilakukan pada anak di bawah 3 tahun karena faringitis GAS jarang terjadi pada kelompok usia ini. (1)

Apakah wajar bila gejala ISPA anak memburuk setelah sempat membaik?

Perburukan gejala setelah perbaikan awal dari ISPA viral—berupa demam baru atau memburuk, batuk, atau sekret hidung yang muncul kembali—merupakan salah satu kriteria diagnostik rinosinusitis bakterial dan perlu dievaluasi lebih lanjut. (1)

Apakah durasi antibiotik untuk pneumonia anak sudah dapat dipastikan?

Belum. Durasi optimal antibiotik untuk pneumonia bakterial pada anak masih menjadi area yang belum terjawab secara pasti, terutama karena sulitnya memastikan apakah suatu kasus pneumonia benar-benar bersifat bakterial. (3)

Kesimpulan

Keputusan pemberian antibiotik pada ISPA harus didasarkan pada kriteria diagnostik spesifik untuk tiap kondisi, bukan pada gejala umum seperti demam atau sekret hidung semata. Sebagian besar ISPA—termasuk common cold dan bronkiolitis—bersifat self-limiting dan cukup ditangani secara simtomatik, sementara antibiotik hanya diindikasikan pada rinosinusitis bakterial, OMA, faringitis GAS, dan pneumonia bakterial yang memenuhi kriteria diagnostik yang jelas. Pada pneumonia, tantangan tambahan berupa sulitnya memastikan etiologi bakterial serta belum pastinya durasi optimal terapi menuntut kewaspadaan klinis dan evaluasi ulang bila respons pengobatan tidak sesuai harapan.

Daftar Pustaka

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Outpatient Clinical Care for Pediatric Populations [Internet]. Atlanta: CDC; 2024 [diakses 31 Agustus 2026]. Tersedia pada: https://www.cdc.gov/antibiotic-use/hcp/clinical-care/pediatric-outpatient.html

  2. Ebeledike C, Ahmad T. Pediatric Pneumonia. [Updated 2023 Jan 16]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK536940/

  3. Kok HC, Chang AB, Fong SM, McCallum GB, Yerkovich ST, Grimwood K. Antibiotics for Paediatric Community-Acquired Pneumonia: What is the Optimal Course Duration? Paediatr Drugs. 2025 May;27(3):261-272. doi: 10.1007/s40272-024-00680-4. PMID: 39847251; PMCID: PMC12031807.

Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan