Edukasi
Vaksin BCG untuk Mencegah Tuberkulosis pada Anak: Jadwal, Efektivitas, dan Respons Pascaimunisasi
21 Agustus 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) adalah vaksin hidup dilemahkan yang berasal dari Mycobacterium bovis dan hingga kini menjadi satu-satunya vaksin yang tersedia untuk pencegahan tuberkulosis (TB). Vaksin ini pertama kali diberikan pada manusia tahun 1921 dan telah menjadi bagian rutin jadwal imunisasi neonatus di banyak negara dengan beban TB tinggi, termasuk Indonesia. (1) Bagi dokter dan tenaga kesehatan, pemahaman mengenai waktu pemberian, dasar efektivitas, serta pola respons normal maupun komplikasi pascaimunisasi BCG penting untuk mendukung konseling orang tua dan pengambilan keputusan klinis yang tepat.
Bagaimana Mekanisme Perlindungan Vaksin BCG terhadap Tuberkulosis?
Perlindungan vaksin BCG terutama didasarkan pada respons imun terhadap antigen mikobakteri. Baik infeksi alami maupun pemberian vaksin dapat menimbulkan proteksi terhadap infeksi mikobakteri berikutnya, termasuk Mycobacterium tuberculosis. Selain efek spesifik terhadap TB, BCG juga dikaitkan dengan penurunan angka kematian anak yang tidak semata-mata disebabkan oleh tuberkulosis, suatu efek nonspesifik yang diduga berkaitan dengan pemrograman ulang epigenetik reseptor nucleotide-binding oligomerization domain (NOD2). Vaksin BCG dapat diberikan secara intrakutan atau intradermal, sementara jalur pemberian melalui saluran napas masih dalam tahap penelitian. (1)
Kapan Jadwal Pemberian Vaksin BCG pada Anak?
Vaksin BCG disuntikkan secara intrakutan segera setelah lahir atau sebelum bayi berusia 1 bulan, sebagai dosis primer tunggal sesuai Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI 2024. Pada bayi yang lahir dari ibu dengan TB aktif, pemberian BCG ditunda hingga terbukti bayi tidak terinfeksi TB, dan selama periode tersebut bayi diberikan terapi pencegahan TB. Apabila pemberian BCG tertunda hingga usia 3 bulan atau lebih, vaksin baru dapat diberikan setelah hasil uji tuberkulin dipastikan negatif; bila fasilitas uji tuberkulin tidak tersedia, BCG tetap dapat diberikan, namun bila timbul reaksi lokal yang cepat dalam minggu pertama pascaimunisasi, anak perlu menjalani pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis TB. (2)
Ketentuan ini menegaskan bahwa BCG tidak diberikan tanpa pertimbangan pada anak yang terlambat mendapat imunisasi; skrining status infeksi TB menjadi prasyarat penting begitu jendela pemberian pada usia di bawah 1 bulan terlewati. (2)
Selain waktu pemberian, prinsip usia dini ini didasarkan pada manfaat vaksinasi BCG yang paling besar diperoleh pada masa neonatus dan bayi dibandingkan kelompok usia lain. Selain neonatus sehat, kelompok yang perlu dipertimbangkan untuk menerima BCG meliputi bayi dan anak usia lima tahun ke bawah dengan risiko tinggi terpajan TB paru aktif, anak usia sekolah (7–14 tahun) yang belum pernah menerima vaksinasi BCG sebelumnya, serta individu yang terpajan tuberkulosis multidrug-resistant (MDR-TB), termasuk pelancong, tenaga kesehatan, dan anggota masyarakat yang belum divaksinasi dan memiliki hasil uji tuberkulin negatif. Kebijakan vaksinasi BCG pada dasarnya ditentukan oleh prevalensi tuberkulosis di suatu wilayah; pada negara dengan prevalensi TB rendah, vaksinasi rutin umumnya tidak lagi dianjurkan, sedangkan pada negara dengan prevalensi sedang hingga tinggi seperti Indonesia, vaksinasi neonatal rutin tetap direkomendasikan. (1)
Seberapa Efektif Vaksin BCG dalam Mencegah Tuberkulosis pada Anak?
Vaksin BCG paling efektif mencegah bentuk TB berat pada anak, dengan manfaat terbesar diperoleh bila diberikan pada masa neonatus dan bayi. Dasar imunologisnya adalah respons terhadap antigen mikobakteri, di mana infeksi laten yang telah terkendali sebelumnya dapat memberikan proteksi hingga 80 persen terhadap perkembangan penyakit saat terpajan ulang, sebuah prinsip yang mendasari rasional pemberian BCG sebagai bentuk induksi imunitas serupa. Di luar proteksi terhadap TB, BCG juga terbukti menurunkan risiko penyakit akibat Mycobacterium leprae sebesar 50 hingga 80 persen, dengan efek yang meningkat pada pemberian dosis booster, sementara bukti perlindungan terhadap ulkus Buruli akibat M. ulcerans masih tidak konsisten antarstudi. (1)
Terkait booster, sejumlah penelitian di Brazil dan Malawi menunjukkan bahwa dosis booster BCG tidak cukup efektif dalam mencegah penyakit TB, meskipun rasional pemberiannya didasarkan pada penurunan imunitas sekitar 15–20 tahun setelah imunisasi awal pada masa bayi. Temuan ini menjadi dasar mengapa booster BCG tidak secara rutin direkomendasikan pada praktik klinis saat ini. (1)
Siapa yang Tidak Boleh Menerima Vaksin BCG?
Karena BCG merupakan vaksin hidup, terdapat kelompok anak yang harus dihindarkan dari pemberian vaksin ini karena risiko komplikasi diseminata. Kontraindikasi tersebut meliputi:
Anak dengan imunodefisiensi kongenital.
Anak dengan infeksi HIV.
Anak dengan keganasan.
Anak yang sedang menjalani terapi imunosupresif, termasuk penghambat tumor necrosis factor-alpha dan kortikosteroid.
Dewasa dengan infeksi HIV yang tinggal di wilayah dengan prevalensi TB rendah. (1)
Bagaimana Respons Normal dan Komplikasi yang Mungkin Terjadi Pascaimunisasi BCG?
Reaksi di lokasi suntikan merupakan respons pascaimunisasi BCG yang paling sering dijumpai, dapat berupa lesi granulomatosa, limfadenopati kelenjar getah bening regional, serta nodul atau ulkus di lokasi vaksinasi dengan atau tanpa saluran sinus yang mengeluarkan cairan; kultur luka pada kondisi ini biasanya menunjukkan hasil positif untuk Mycobacterium bovis. Komplikasi yang perlu diwaspadai klinisi meliputi limfadenitis supuratif — dengan risiko lebih tinggi pada anak dengan imunodefisiensi primer — osteitis, osteomielitis, serta infeksi diseminata yang dapat terjadi pada kondisi imunosupresi termasuk infeksi HIV. (1)
Pada sebagian besar anak yang mendapat BCG, uji kulit tuberkulin (tuberculin skin test/TST) akan menunjukkan reaksi berukuran 3 hingga 19 mm dalam kurun dua hingga tiga bulan pascaimunisasi. Namun demikian, dalam sebuah studi terhadap 5.952 individu yang menerima BCG dan menjalani uji tuberkulin 10 hingga 25 tahun kemudian, hanya 8 persen yang menunjukkan hasil positif, menandakan bahwa reaktivitas TST akibat BCG cenderung menurun seiring waktu. (1)
Bagaimana Menginterpretasikan Hasil Uji Tuberkulin pada Anak yang Sudah Menerima BCG?
Riwayat vaksinasi BCG sebaiknya tidak memengaruhi interpretasi hasil TST pada anak yang divaksinasi saat lahir lebih dari sepuluh tahun sebelumnya, mengingat sebagian besar penerima BCG berasal dari wilayah dengan insidensi TB tinggi. Untuk individu dengan riwayat imunisasi BCG, interferon-gamma release assay (IGRA) lebih dianjurkan untuk menginterpretasikan hasil TST yang positif karena hasil pemeriksaan ini tidak dipengaruhi oleh status vaksinasi BCG sebelumnya. Konversi hasil TST sendiri tidak boleh dijadikan patokan untuk menilai efikasi vaksin BCG pada individu yang menerimanya. (1)
Kesimpulan
Vaksin BCG tetap menjadi komponen penting pencegahan TB pada anak di wilayah dengan prevalensi tinggi seperti Indonesia, dengan manfaat terbesar diperoleh melalui pemberian dosis primer tunggal secara intrakutan sesegera mungkin setelah lahir atau sebelum usia 1 bulan sesuai rekomendasi IDAI. Pada bayi yang terlambat mendapat imunisasi, keputusan pemberian BCG perlu mempertimbangkan status infeksi TB melalui uji tuberkulin. Dokter dan tenaga kesehatan juga perlu mampu membedakan respons lokal pascaimunisasi yang normal dari komplikasi yang memerlukan rujukan, mengenali kontraindikasi pada anak imunokompromais, serta mengandalkan IGRA alih-alih TST semata dalam menginterpretasikan status infeksi TB pada anak dengan riwayat BCG.
FAQ
Apakah vaksin BCG perlu diulang (booster) pada anak yang lebih besar?
Booster BCG tidak secara rutin direkomendasikan karena studi di Brazil dan Malawi menunjukkan efektivitasnya yang terbatas dalam mencegah penyakit TB, meskipun secara teori dosis booster dapat dipertimbangkan mengingat imunitas cenderung menurun 15–20 tahun setelah imunisasi awal. Dengan bukti efektivitas yang belum meyakinkan, keputusan pemberian booster BCG sebaiknya mempertimbangkan konteks epidemiologi TB setempat. (1)
Bagaimana jika bayi terlambat mendapat imunisasi BCG hingga usia di atas 1 bulan?
Pada anak yang belum menerima BCG hingga usia 3 bulan atau lebih, vaksin baru dapat diberikan setelah dipastikan hasil uji tuberkulin negatif. Jika pemeriksaan tuberkulin tidak tersedia, BCG tetap dapat diberikan, tetapi klinisi perlu mewaspadai reaksi lokal yang muncul cepat pada minggu pertama sebagai indikasi untuk pemeriksaan lanjutan guna menyingkirkan TB aktif. (2)
Apakah bekas luka atau nanah di lokasi suntikan BCG merupakan hal yang normal?
Reaksi lokal seperti lesi granulomatosa, nodul, atau ulkus di lokasi suntikan merupakan respons pascaimunisasi BCG yang paling umum dan pada umumnya bagian dari perjalanan alami vaksin hidup ini. Klinisi perlu membedakannya dari limfadenitis supuratif atau tanda infeksi diseminata, terutama pada anak dengan kecurigaan imunodefisiensi primer, yang memerlukan evaluasi lebih lanjut. (1)
Apakah anak dengan kecurigaan HIV boleh menerima vaksin BCG?
Vaksin BCG dikontraindikasikan pada anak dengan infeksi HIV karena statusnya sebagai vaksin hidup dan risiko komplikasi diseminata pada kondisi imunokompromais. Pada anak dengan faktor risiko HIV yang belum terkonfirmasi statusnya, kehati-hatian klinis diperlukan sebelum pemberian BCG dilakukan. (1)
Mengapa hasil uji tuberkulin positif pada anak yang sudah BCG tidak selalu berarti infeksi TB aktif?
Vaksinasi BCG dapat menyebabkan reaksi TST positif akibat respons imun terhadap antigen mikobakteri yang serupa dengan M. tuberculosis, sehingga hasil TST positif pada anak dengan riwayat BCG tidak secara otomatis menandakan infeksi TB. Pemeriksaan IGRA lebih dianjurkan pada situasi ini karena tidak dipengaruhi oleh status vaksinasi BCG sebelumnya. (1)
Daftar Pustaka
Okafor CN, Rewane A, Momodu II. Bacillus Calmette Guerin. [Updated 2023 Jul 3]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Tersedia dari: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538185/
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi IDAI. Jakarta: IDAI; 2024. Tersedia dari: https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun




