Edukasi
Scale Error pada Balita: Saat Gerakan Anak Tidak Sesuai dengan Ukuran Benda
24 Agustus 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Scale error adalah fenomena ketika balita berusaha melakukan tindakan yang secara fisik mustahil terhadap benda berukuran miniatur, misalnya mencoba duduk di kursi boneka atau memaksakan diri masuk ke dalam mobil-mobilan kecil, tanpa memperhitungkan ukuran tubuhnya sendiri. (1)
Fenomena ini pertama kali didokumentasikan pada anak berusia 18 - 30 bulan yang berkembang normal, dan ditafsirkan sebagai bukti adanya disosiasi sementara antara sistem persepsi dan sistem aksi pada awal kehidupan. (1) Penelitian eksperimental lanjutan menunjukkan bahwa scale error lebih berkaitan dengan belum matangnya pemahaman anak terhadap konsep ukuran dibandingkan dengan keterbatasan kemampuan merencanakan gerak atau kontrol inhibisi. (2) Artikel ini membahas mekanisme di balik scale error dan kaitannya dengan perkembangan kognitif anak, khususnya perkembangan persepsi dan perencanaan gerak, berdasarkan dua studi eksperimental utama pada topik ini.

Gambar 1. Anak mencoba masuk ke mainan mobil-mobilan (3)
Apa Itu Scale Error pada Anak?
Scale error adalah upaya serius seorang anak untuk melakukan suatu tindakan pada benda miniatur seolah-olah benda tersebut berukuran normal seperti aslinya. Pada studi eksperimental yang menjadi rujukan awal fenomena ini, anak usia 18–30 bulan diamati mencoba duduk di kursi rumah boneka atau memasukkan diri ke dalam mobil-mobilan berukuran kecil. (1)
Contoh perilaku yang tergolong scale error pada studi eksperimental meliputi:
• Mencoba menaiki tangga perosotan (slide) miniatur seolah ukurannya cukup untuk badan anak. (2)
• Berusaha duduk di kursi meja belajar berukuran miniatur. (2)
• Mencoba masuk atau membuka pintu mobil-mobilan miniatur dengan gerakan tangan yang tetap disesuaikan dengan ukuran kecil benda tersebut. (2)
• Memaksakan kaki masuk ke sepatu berukuran sangat kecil. (2)
Yang membedakan scale error dari sekadar permainan pura-pura (pretend play) adalah kesungguhan usaha anak: gerakan dilakukan dengan ekspresi serius dan relatif persisten, bukan seolah bermain peran. (1)
Bagaimana Scale Error Pertama Kali Dibuktikan secara Eksperimental?
Scale error pertama kali dibuktikan melalui studi eksperimental oleh DeLoache dkk. (2004) yang mengamati respons anak usia 18–30 bulan setelah benda familiar yang biasa mereka gunakan diam-diam diganti dengan versi miniaturnya. (1)
Pada tahap awal, anak-anak diberi kesempatan bermain dengan benda berukuran normal, seperti kursi rumah boneka dan mobil-mobilan yang cukup besar untuk dimasuki, sehingga menjadi familiar dengan cara menggunakannya. Benda-benda tersebut kemudian digantikan secara diam-diam dengan versi miniatur yang identik bentuknya namun jauh lebih kecil, dan peneliti mengamati apakah anak tetap berusaha melakukan tindakan yang sama terhadap versi miniatur ini, misalnya tetap mencoba duduk di kursi mini atau memasukkan diri ke dalam mobil-mobilan kecil. (1) Untuk membedakan scale error dari sekadar permainan pura-pura, peneliti menilai kesungguhan usaha anak berdasarkan ekspresi wajah yang serius dan sifat gerakan yang relatif persisten, bukan seolah bermain peran. (1)
Melalui prosedur ini, ditemukan bahwa sekitar separuh anak usia 18–30 bulan melakukan setidaknya satu kali scale error, dengan kejadian yang paling sering muncul pada usia sekitar 2 tahun mengikuti pola inverted U-shape terhadap usia. Temuan ini ditafsirkan sebagai bukti disosiasi antara informasi visual yang digunakan untuk merencanakan tindakan dan informasi visual yang digunakan untuk mengeksekusi tindakan, sehingga anak diduga gagal menghambat rencana motorik yang telah teraktivasi untuk kategori benda berukuran umum, meskipun informasi ukuran mini benda tersebut sebenarnya sudah tertangkap secara visual. (1) Hipotesis mengenai kontrol inhibisi dan perencanaan gerak dari studi awal ini kemudian diuji ulang secara langsung oleh Ishibashi dan Moriguchi (2017) menggunakan tugas-tugas eksperimental yang lebih terstruktur, sebagaimana dibahas pada bagian berikutnya. (2)
Mengapa Balita Mencoba Menggunakan Benda yang Terlalu Kecil untuk Tubuhnya?
Berdasarkan bukti eksperimental, scale error terjadi karena representasi mental anak terhadap suatu kategori benda, yang teraktivasi begitu ia melihat versi miniaturnya, belum menyertakan informasi ukuran spesifik bahwa benda tersebut sangat kecil, sehingga anak gagal membedakan ukuran miniatur dari ukuran umum benda tersebut. (2) Dua hipotesis utama telah diuji secara eksperimental untuk menjelaskan mekanisme yang mendasari perilaku ini.
Hipotesis Disosiasi Persepsi-Aksi dan Kontrol Inhibisi
Pada penelitian sebelumnya, DeLoache (2004) menduga bahwa scale error terjadi karena kemampuan anak untuk “mengerem” rencana gerakannya belum berfungsi optimal. (1) Maksudnya, saat anak melihat mobil-mobilan berukuran mini, otaknya sudah terlanjur mengaktifkan rencana gerakan yang biasa ia lakukan terhadap mobil berukuran normal, misalnya membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Idealnya, begitu mata menangkap bahwa benda tersebut berukuran sangat kecil, otak akan menghambat rencana gerakan tadi; namun pada anak usia dini, kemampuan menghambat ini diduga belum cukup matang, sehingga anak tetap berusaha melakukan gerakan tersebut meski secara ukuran hal itu mustahil dilakukan. (1)
Berdasarkan dugaan ini, terdapat dua kemungkinan penyebab yang diajukan:
• Anak belum cukup mampu merencanakan gerakan yang sesuai dengan bentuk dan arah benda. (1)
• Anak belum cukup mampu menahan atau menghambat dorongan untuk melakukan gerakan yang sudah terlanjur teraktivasi di otaknya (kontrol inhibisi). (1)
Untuk menguji kedua kemungkinan ini secara langsung, Ishibashi dan Moriguchi (2017) menggunakan beberapa tugas eksperimental. Kemampuan merencanakan gerakan dinilai melalui tugas memasukkan sebuah batang ke dalam wadah yang posisinya diubah-ubah arahnya, serta memasukkan kepingan ke dalam kotak berlubang yang orientasinya juga diputar, untuk melihat apakah anak dapat menyesuaikan cara memegang atau mengarahkan tangannya sesuai bentuk dan posisi benda. Adapun kemampuan menghambat gerakan (inhibisi) dinilai melalui tugas mencari mainan yang disembunyikan di bawah salah satu dari dua wadah, untuk melihat apakah anak dapat menahan diri dari kecenderungan mencari di lokasi yang sama seperti sebelumnya. (2)
Hasilnya, performa anak pada kedua jenis tugas tersebut tidak berkorelasi signifikan dengan jumlah scale error yang mereka lakukan, baik sebelum maupun setelah mengendalikan faktor usia. Dengan kata lain, anak dengan kemampuan merencanakan gerakan atau kontrol inhibisi yang baik tetap dapat melakukan scale error, dan sebaliknya, sehingga hipotesis awal mengenai keterbatasan kontrol inhibisi dan perencanaan gerak tidak terbukti mendasari terjadinya scale error. (2) Karena hasil ini tidak mendukung hipotesis pertama, penelitian selanjutnya mengajukan hipotesis alternatif bahwa penyebab scale error terletak pada belum matangnya pemahaman anak terhadap konsep ukuran, sebagaimana dibahas pada bagian berikut. (2)
Hipotesis Konsep Ukuran
Hipotesis ini menduga bahwa scale error berkaitan dengan tingkat pemahaman anak terhadap konsep ukuran, misalnya kemampuan membedakan besar-kecil atau lebar-sempit. Untuk menguji hipotesis ini, pemahaman konsep ukuran anak dinilai melalui kuesioner orang tua yang mengukur konsep bahasa terkait ukuran. Hasil analisis korelasi parsial menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara pemahaman konsep ukuran dan jumlah scale error setelah mengendalikan usia (r = -0,34; p < 0,05). Pada analisis regresi hierarkis, konsep ukuran tetap menjadi prediktor signifikan terhadap jumlah scale error meskipun telah memperhitungkan usia serta performa tugas perencanaan gerak (b = -0,11; p < 0,02). Temuan ini mendukung kesimpulan bahwa scale error timbul akibat kegagalan anak mengidentifikasi benda miniatur sebagai benda yang secara khusus berukuran sangat kecil, bukan karena keterbatasan kemampuan merencanakan atau mengeksekusi gerakan. (2)
Kaitan Scale Error dengan Perkembangan Kognitif Anak
Scale error mencerminkan tahap perkembangan kognitif anak dalam memahami kategori ukuran benda, bukan gangguan pada sistem motorik. Menariknya, anak yang melakukan scale error tetap menunjukkan kontrol gerakan yang akurat terhadap benda miniatur itu sendiri, misalnya menyesuaikan ukuran genggaman tangan ketika berusaha membuka pintu mobil-mobilan kecil. Temuan ini menunjukkan bahwa anak kemungkinan memiliki dua rencana tindakan yang berbeda, satu untuk kategori benda pada ukuran umum atau familiar, dan satu lagi untuk benda miniatur yang sedang dihadapinya—sehingga scale error lebih tepat dipahami sebagai representasi kategori benda yang belum matang, bukan defisit motorik secara umum. (2)
Pola Usia dan Perjalanan Scale Error pada Balita
Scale error paling sering muncul pada anak usia sekitar 2 tahun dan menunjukkan pola inverted U-shape terhadap usia, yaitu meningkat pada awal masa balita kemudian menurun seiring bertambahnya usia. Pada studi eksperimental awal, sekitar separuh anak usia 18–30 bulan tercatat melakukan setidaknya satu kali scale error. (1) Pola serupa juga ditemukan pada studi lanjutan terhadap 54 anak dengan rerata usia 24 bulan, di mana 26 dari 54 anak (sekitar separuh partisipan) melakukan scale error, dan kelompok anak tertua (32–37 bulan) sama sekali tidak menunjukkan perilaku ini. Pola penurunan pada kelompok usia yang lebih matang ini sejalan dengan perkembangan pemahaman konsep ukuran yang juga meningkat signifikan seiring bertambahnya usia. (2)
Makna Klinis Fenomena Scale Error
Scale error merupakan fenomena yang didokumentasikan pada anak dengan perkembangan normal, sehingga kemunculannya pada rentang usia 18–30 bulan dengan puncak sekitar usia 2 tahun tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya gangguan kontrol motorik atau perencanaan gerak. (1) Bukti dari kedua studi menunjukkan bahwa faktor yang lebih relevan untuk dipantau adalah kematangan pemahaman anak terhadap konsep ukuran sebagai bagian dari perkembangan kognitif dan bahasa, bukan kemampuan motoriknya. (2) Dalam praktik klinis, informasi ini dapat digunakan untuk memberikan edukasi kepada orang tua yang mengkhawatirkan perilaku anaknya mencoba masuk atau menaiki benda yang terlalu kecil, dengan menjelaskan bahwa perilaku tersebut merupakan bagian dari tahap perkembangan persepsi-aksi dan konsep ukuran yang umumnya bersifat sementara. (1, 2)
Kesimpulan
Scale error pada balita merupakan fenomena perkembangan normal yang terkait erat dengan kematangan konsep ukuran, bukan dengan keterbatasan kemampuan merencanakan gerak atau kontrol inhibisi. (1)(2) Bagi dokter dan tenaga kesehatan, pemahaman ini penting untuk memberikan edukasi yang tepat kepada orang tua bahwa perilaku anak mencoba menggunakan, menaiki, atau masuk ke benda yang terlalu kecil pada rentang usia 18–30 bulan umumnya bersifat sementara dan mencerminkan proses pematangan pemahaman kategori serta ukuran benda, sejalan dengan perkembangan kognitif anak pada tahap tersebut. (2)
FAQ
Pada usia berapa scale error biasanya muncul pada anak?
Scale error paling umum diamati pada rentang usia 18–30 bulan, dengan puncak kejadian di sekitar usia 2 tahun. (1) Studi eksperimental terhadap 54 anak dengan rerata usia 24 bulan turut mengonfirmasi bahwa proporsi anak yang melakukan scale error cukup tinggi pada rentang usia ini, yaitu sekitar separuh dari partisipan. (2)
Apakah scale error menandakan anak mengalami gangguan perkembangan?
Berdasarkan kedua studi yang tersedia, scale error adalah fenomena yang didokumentasikan pada anak dengan perkembangan normal, bukan pada populasi klinis tertentu. (1) Dengan demikian, kemunculan scale error dalam rentang usia dan pola yang khas, yaitu muncul sekitar usia 2 tahun dan berkurang seiring bertambahnya usia, dapat dipahami sebagai bagian dari tahapan perkembangan kognitif normal terkait konsep ukuran, bukan indikator gangguan. (1,2)
Apakah scale error disebabkan oleh masalah kontrol?
Tidak. Hasil pengujian eksperimental menunjukkan bahwa performa anak pada tugas perencanaan gerak dan kontrol inhibisi tidak berkorelasi signifikan dengan jumlah scale error yang dilakukan. Sebaliknya, faktor yang secara signifikan memprediksi terjadinya scale error adalah tingkat pemahaman anak terhadap konsep ukuran. (2)
Apakah scale error akan berkurang atau hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia?
Ya, scale error menunjukkan pola inverted U-shape terhadap usia dan cenderung menurun setelah anak melewati usia sekitar 2–2,5 tahun. (1) Pada studi lanjutan, kelompok anak tertua yang diteliti (32–37 bulan) tidak lagi menunjukkan scale error sama sekali, bersamaan dengan meningkatnya pemahaman konsep ukuran pada kelompok usia tersebut. (2)
Daftar Pustaka
1. DeLoache JS, Uttal DH, Rosengren KS. Scale errors offer evidence for a perception-action dissociation early in life. Science. 2004;304(5673):1027-9.
2. Ishibashi M, Moriguchi Y. Understanding why children commit scale errors: scale error and its relation to action planning and inhibitory control, and the concept of size. Front Psychol. 2017 May 23;8:826.




