Edukasi
Risiko Memberikan Telur Mentah pada Bayi, Termasuk yang Dipasteurisasi
22 Oktober 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

"Telur mentah dapat mengandung Salmonella walaupun cangkangnya utuh. Pada bayi muda, infeksi Salmonella nontifoid berisiko menjadi bakteremia dan meningitis. Telur pasteurisasi membunuh Salmonella, tetapi uji klinis menunjukkan telur pasteurisasi mentah tetap dapat memicu reaksi alergi. Bayi di bawah 6 bulan cukup mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif; sesudahnya, telur diberikan dalam keadaan matang."
Pada 11 Oktober 2026, seorang bayi berusia 28 hari di Surabaya meninggal setelah dirawat di neonatal intensive care unit (NICU) RSUD Dr. Soetomo sejak 9 Oktober. Menurut informasi yang beredar di media sosial, bayi tersebut sempat demam, lalu diduga diberi telur mentah oleh neneknya untuk menurunkan demam. (1)
Wakil Gubernur Jawa Timur menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan rumah sakit, bayi tersebut mengalami infeksi serius pada saluran pencernaan. Ia meminta agar kaitan infeksi itu dengan makanan yang dikonsumsi dijelaskan oleh tim medis. Hingga laporan tersebut terbit, hubungan sebab-akibatnya belum dikonfirmasi. (1)
Karena penyebab kematiannya belum dipastikan, kasus ini tidak dapat dijadikan bukti bahwa telur mentah adalah penyebabnya. Namun, kasus ini memunculkan pertanyaan klinis yang perlu dijawab dengan jelas oleh dokter dan tenaga kesehatan: apa bahaya telur mentah untuk bayi, dan apakah telur pasteurisasi bisa menjadi alternatif yang aman?
Mengapa Telur Mentah Berisiko, Bahkan bagi Orang Dewasa?
Telur mentah berisiko karena dapat mengandung bakteri Salmonella, bahkan ketika cangkangnya bersih dan tidak retak. (2) Artinya, memilih telur yang tampak segar dan utuh tidak cukup untuk menyingkirkan risiko tersebut.
World Health Organization (WHO) menyebut telur sebagai salah satu sumber utama infeksi Salmonella nontifoid pada manusia, bersama daging, unggas, dan susu. (3) Gejala biasanya muncul 6–72 jam setelah bakteri tertelan, umumnya dalam 12–36 jam. Gejalanya berupa demam mendadak, nyeri perut, diare, mual, dan kadang muntah. Penyakit ini biasanya berlangsung 2–7 hari. (3)
Pada banyak kasus, salmonelosis berupa gastroenteritis tanpa komplikasi yang tidak memerlukan pengobatan khusus. (3) Meski demikian, U.S. Food and Drug Administration (FDA) mencatat bahwa anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan sistem imun yang lemah berisiko mengalami sakit yang lebih berat. (2)
Untuk pendekatan saat menghadapi kasus muntah dan diare yang diduga berasal dari makanan, baca juga artikel tentang kapan perlu curiga keracunan makanan pada muntah dan diare massal.
Bahaya Telur Mentah untuk Bayi: Mengapa Risikonya Lebih Besar?
Telur mentah lebih berbahaya untuk bayi karena salmonelosis cenderung lebih berat pada usia muda. WHO menyebut penyakit bawaan makanan dapat menjadi berat, terutama pada anak kecil. (3)
Beban penyakit ini juga besar pada anak. Dari sekitar 550 juta orang yang sakit diare akibat makanan tidak aman setiap tahun, 220 juta di antaranya adalah anak berusia di bawah 5 tahun. Salmonella merupakan salah satu dari empat penyebab utama penyakit diare di dunia. (3)
Pada anak, dehidrasi akibat salmonelosis dapat menjadi berat dan mengancam nyawa. WHO juga menyebut bayi sebagai salah satu kelompok yang mungkin memerlukan terapi antimikroba. (3)
Salmonella Dapat Menyebar ke Darah dan Selaput Otak
Risiko paling serius pada bayi muda adalah infeksi invasif. Pada kondisi ini, Salmonella menyebar dari saluran cerna ke aliran darah (bakteremia) atau ke organ lain, termasuk selaput otak (meningitis). (4)
Sirinavin dan rekan meninjau 75 bayi tanpa penyakit dasar di Thailand. Semua bayi memiliki hasil kultur Salmonella nontifoid positif dari cairan tubuh yang normalnya steril, dengan data yang dikumpulkan dari tahun 1978 hingga 1998. (4) Temuan utamanya adalah sebagai berikut.
• Sebanyak 68 bayi (91%) memiliki kultur darah positif. (4)
• Sebanyak 28 bayi mengalami meningitis, dan 5 bayi mengalami infeksi tulang atau sendi. (4)
• Sebanyak 53% bayi berusia 3 bulan atau kurang, dan 88% berusia 6 bulan atau kurang. (4)
• Pada bayi dengan bakteremia, risiko meningitis mencapai 24%. (4)
• Sebanyak 21% bayi dengan meningitis mengalami defisit neurologis berat, dan kematian hanya terjadi pada kelompok meningitis. (4)
Studi ini bersifat retrospektif, dilakukan di satu pusat rujukan tersier, dan menggunakan data yang sudah lama. Karena itu, angkanya tidak dapat langsung diterapkan pada populasi bayi saat ini. Meski begitu, penulis menyimpulkan bahwa bayi berusia 0–6 bulan berisiko tinggi mengalami infeksi lokal, terutama meningitis. (4)
Avidin dalam Putih Telur Mentah Menghambat Penyerapan Biotin
Menurut Office of Dietary Supplements (ODS) dari National Institutes of Health (NIH), putih telur mentah mengandung avidin. Avidin adalah glikoprotein yang mengikat biotin, salah satu vitamin B, dengan sangat kuat. Ikatan ini mencegah biotin diserap di saluran cerna. Pemasakan mendenaturasi avidin, sehingga avidin tidak lagi mengganggu penyerapan biotin. (5)
Dampak klinis avidin perlu dibaca secara proporsional. Defisiensi biotin jarang terjadi, dan defisiensi berat pada orang sehat dengan pola makan normal belum pernah dilaporkan. Pada bayi, defisiensi biotin dapat menimbulkan hipotonia, letargi, dan keterlambatan perkembangan. (5)
ODS hanya menyebut pemasakan sebagai cara menonaktifkan avidin. Pengaruh pasteurisasi terhadap avidin tidak dibahas dalam referensi tersebut. (5)
Apakah Telur Pasteurisasi Aman untuk Bayi?
Telur pasteurisasi yang tidak dimasak tidak dianjurkan untuk bayi. European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) menyarankan pengenalan telur yang dimasak matang, bukan telur mentah atau telur pasteurisasi yang tidak dimasak, sebagai bagian dari makanan pendamping. (6) Rekomendasi ini berlaku untuk bayi hingga usia 1 tahun dan anak hingga usia 5 tahun, tanpa memandang risiko alergi. Tujuannya adalah mencegah alergi telur, dengan tingkat kepastian bukti sedang. (6)
Pasteurisasi bertujuan menghancurkan Salmonella. FDA menganjurkan telur yang telah diproses dengan cara ini untuk resep yang memang menggunakan telur mentah atau setengah matang. (2) Anjuran tersebut merupakan panduan keamanan pangan umum, bukan panduan pemberian makan bayi.
Bukti dari Uji Klinis Bubuk Telur Pasteurisasi Mentah
Kehati-hatian terhadap telur pasteurisasi mentah didukung data dari randomized controlled trial (RCT). Palmer dan rekan mengacak 820 bayi berusia 4–6 bulan yang memiliki riwayat alergi dalam keluarga, tetapi tidak mengalami eksim. Sebanyak 407 bayi menerima bubuk telur utuh pasteurisasi mentah setiap hari hingga usia 10 bulan, sedangkan 413 bayi menerima bubuk beras. (7)
Sebanyak 6,1% bayi pada kelompok telur menghentikan intervensi karena reaksi alergi yang terkonfirmasi, dibandingkan 1,5% pada kelompok kontrol. Pada usia 12 bulan, proporsi alergi telur tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok (7,0% vs 10,3%; adjusted relative risk [aRR] 0,75; 95% confidence interval [CI] 0,48–1,17). (7)
Reaksi pada studi tersebut adalah reaksi alergi, bukan infeksi. Data ini menunjukkan bahwa pasteurisasi tidak menghilangkan potensi alergen pada telur mentah. Karena itu, telur pasteurisasi tetap perlu dimasak matang sebelum diberikan kepada bayi. (6,7)
Kapan Bayi Boleh Makan Telur?
Telur dapat diperkenalkan sebagai bagian dari makanan pendamping, dalam keadaan dimasak matang. (6) WHO merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, lalu makanan pendamping yang adekuat dan aman mulai usia 6 bulan, sambil melanjutkan ASI hingga usia 2 tahun atau lebih. (8)
ASI eksklusif berarti bayi hanya menerima ASI, tanpa cairan atau makanan lain, termasuk air putih. Pengecualiannya adalah larutan rehidrasi oral (oralit) serta tetes atau sirup vitamin, mineral, dan obat. (8)
Pedoman WHO tahun 2023 menegaskan bahwa makanan pendamping diperkenalkan pada usia 6 bulan (180 hari) sambil tetap menyusui. WHO menyebut anjuran ini sebagai rekomendasi kesehatan masyarakat dan mengakui bahwa sebagian bayi mungkin mendapat manfaat dari pengenalan yang lebih awal. (9)
Saat telur mulai diberikan, FDA menganjurkan telur dimasak hingga kuning dan putihnya padat. Telur orak-arik tidak boleh masih basah, dan hidangan berbahan telur perlu dimasak hingga 71°C (160°F). (2)
Pesan Edukasi untuk Orang Tua dan Pengasuh
Pesan edukasi sebaiknya juga disampaikan kepada pengasuh lain yang ikut memberi makan bayi, termasuk kakek dan nenek. Beberapa poin yang dapat ditekankan:
- Bayi di bawah 6 bulan cukup mendapat ASI eksklusif, tanpa air putih atau makanan lain. (8)
- Jangan memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dengan alasan apa pun, termasuk untuk menurunkan demam. Telur dapat mengandung Salmonella meskipun cangkangnya utuh. (2)
- Telur pasteurisasi tetap perlu dimasak matang sebelum diberikan kepada bayi. (6)
- Mulai usia 6 bulan, telur dapat diberikan sebagai bagian dari makanan pendamping, dalam keadaan matang dengan kuning dan putih yang padat. (2,6,9)
- Bayi dengan demam atau diare perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan, terutama pada bulan-bulan pertama kehidupan ketika risiko infeksi invasif lebih tinggi. (3,4)
Kesimpulan
Telur mentah tidak boleh diberikan kepada bayi. Telur dapat mengandung Salmonella walaupun cangkangnya utuh, dan pada bayi berusia 0–6 bulan infeksi ini berisiko menjadi bakteremia atau meningitis. (2,4) Telur pasteurisasi juga bukan jalan tengah. EAACI hanya menyarankan telur yang dimasak matang, dan uji klinis menunjukkan telur pasteurisasi mentah tetap dapat memicu reaksi alergi. (6,7)
Pesan untuk orang tua cukup sederhana: ASI eksklusif hingga 6 bulan, lalu telur matang sebagai bagian dari makanan pendamping. (6,8) Bayi muda yang demam perlu dievaluasi di fasilitas kesehatan, bukan ditangani dengan makanan di rumah. (3,4)
FAQ
Apakah kuning telur mentah lebih aman untuk bayi dibanding putih telur mentah?
Tidak. Salmonella dapat berada di dalam telur, dan FDA menganjurkan telur dimasak hingga kuning telurnya padat. (2) Avidin memang terdapat pada putih telur mentah, tetapi risiko Salmonella tetap ada pada bagian telur mana pun yang tidak dimasak. (2,5)
Bolehkah telur setengah matang diberikan kepada bayi di atas 6 bulan?
Tidak dianjurkan. FDA menganjurkan telur dimasak hingga kuning dan putihnya padat, sedangkan EAACI menyarankan telur yang dimasak matang sebagai bagian dari makanan pendamping. (2,6)
Apakah telur pasteurisasi boleh diberikan mentah kepada bayi?
Tidak. EAACI secara spesifik menyarankan untuk tidak memberikan telur pasteurisasi yang tidak dimasak kepada bayi. (6) Dalam sebuah RCT, 6,1% bayi yang menerima bubuk telur pasteurisasi mentah menghentikan intervensi karena reaksi alergi, dibandingkan 1,5% pada kelompok kontrol. (7)
Berapa lama gejala infeksi Salmonella muncul setelah makan telur yang terkontaminasi?
Gejala biasanya muncul 6–72 jam setelah Salmonella tertelan, umumnya dalam 12–36 jam, dan penyakit berlangsung 2–7 hari. (3) Pada bayi, demam atau diare dalam rentang waktu ini perlu dievaluasi karena risiko infeksi invasif lebih tinggi pada usia muda. (4)
Daftar Pustaka
1. Widiyana E. Kata Wagub Emil bayi 28 hari meninggal usai dicekoki telur mentah [Internet]. detikJatim; 2026 Oct 11 [cited 2026 Oct 14]. Available from: https://www.detik.com/jatim/berita/d-8702534/kata-wagub-emil-bayi-28-hari-meninggal-usai-dicekoki-telur-mentah
2. U.S. Food and Drug Administration. Egg safety: what you need to know [Internet]. Content current as of 2024 Mar 5 [cited 2026 Oct 14]. Available from: https://www.fda.gov/food/buy-store-serve-safe-food/egg-safety-what-you-need-know
3. World Health Organization. Salmonella (non-typhoidal) [Internet]. 2018 Feb 20 [cited 2026 Oct 14]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/salmonella-(non-typhoidal)
4. Sirinavin S, Chiemchanya S, Vorachit M. Systemic nontyphoidal Salmonella infection in normal infants in Thailand. Pediatr Infect Dis J. 2001;20(6):581-7. doi:10.1097/00006454-200106000-00007
5. Office of Dietary Supplements, National Institutes of Health. Biotin: fact sheet for health professionals [Internet]. Updated 2022 Jan 10 [cited 2026 Oct 14]. Available from: https://ods.od.nih.gov/factsheets/Biotin-HealthProfessional/
6. Halken S, Muraro A, de Silva D, Khaleva E, Angier E, Arasi S, et al. EAACI guideline: preventing the development of food allergy in infants and young children (2020 update). Pediatr Allergy Immunol. 2021;32(5):843-58. doi:10.1111/pai.13496
7. Palmer DJ, Sullivan TR, Gold MS, Prescott SL, Makrides M. Randomized controlled trial of early regular egg intake to prevent egg allergy. J Allergy Clin Immunol. 2017;139(5):1600-7.e2.
8. World Health Organization Regional Office for the Western Pacific. Infant nutrition [Internet]. [cited 2026 Oct 14]. Available from: https://www.who.int/westernpacific/health-topics/infant-nutrition
9. World Health Organization. WHO guideline for complementary feeding of infants and young children 6–23 months of age [Internet]. Geneva: World Health Organization; 2023 [cited 2026 Oct 14]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK596431/




