Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Pencegahan Alergi Makanan pada Anak

14 Agustus 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Pencegahan Alergi Makanan pada Anak

Epidemiologi Alergi Makanan yang Terus Meningkat

Prevalensi alergi makanan pada anak terus menunjukkan tren peningkatan di berbagai negara selama beberapa dekade terakhir, dan kondisi ini membawa dampak yang tidak kecil terhadap kualitas hidup anak maupun keluarganya. Tren inilah yang kemudian mendorong pergeseran paradigma besar dalam dunia medis: dari yang semula berfokus pada penghindaran alergen, kini bergeser ke arah pencegahan primer melalui pengenalan dini makanan alergenik seperti kacang tanah dan telur. Pergeseran ini tidak lahir tanpa dasar, melainkan ditopang oleh sejumlah uji klinis besar yang hasilnya cukup meyakinkan. Sayangnya, penerapannya di lapangan masih tersendat oleh berbagai hambatan, mulai dari pedoman yang berubah cukup cepat, keterbatasan waktu konsultasi, hingga kekhawatiran orang tua terhadap risiko reaksi alergi saat mencoba memberikan makanan tersebut. (1)

Apa Itu Alergi Makanan? Memahami Patogenesis dan Patofisiologinya

Secara sederhana, alergi makanan terjadi ketika sistem imun keliru mengenali protein makanan yang sebenarnya tidak berbahaya sebagai suatu ancaman, sehingga memicu respons imun yang berlebihan terhadap alergen tersebut. Respons ini dapat diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE), namun tidak jarang pula melibatkan mekanisme non-IgE. Secara klinis, kedua kelompok ini dapat dibedakan sebagai berikut.

  • Alergi makanan IgE-mediated, yang umumnya bermanifestasi cepat, dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah paparan alergen.

  • Alergi makanan non-IgE-mediated, yang manifestasinya justru lebih lambat dan kadang baru muncul beberapa hari kemudian, seperti pada food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES) dan esofagitis eosinofilik. (2)

Dari sekian banyak jenis makanan, susu sapi, telur, kacang tanah, kedelai, gandum, kacang pohon, ikan, kerang, dan wijen tercatat sebagai penyebab tersering alergi makanan pada anak. Riwayat atopi dalam keluarga, ditambah adanya kondisi alergi lain, terutama dermatitis atopik, turut memperbesar risiko. Salah satu hipotesis yang belakangan mendapat cukup banyak perhatian adalah dual allergen exposure hypothesis, yang menduga bahwa sensitisasi alergen justru dapat terjadi lewat paparan transkutan pada kulit yang mengalami gangguan fungsi sawar, jauh sebelum paparan oral pertama kali terjadi. (2)

Dari Penghindaran Menuju Pengenalan Dini: Apa Kata Bukti Terkini

Cara pandang terhadap pencegahan alergi makanan berubah cukup drastis sejak uji klinis acak berskala besar bernama LEAP Study, yang menunjukkan bahwa konsumsi rutin kacang tanah sejak usia dini, dibandingkan dengan menghindarinya, berkaitan dengan penurunan risiko relatif alergi kacang tanah yang bermakna secara statistik pada anak-anak berisiko tinggi. (1) Temuan serupa juga ditemukan pada pengenalan dini telur. Berbekal bukti tersebut, sejumlah organisasi profesi kini merekomendasikan agar pengenalan alergen potensial, termasuk kacang tanah, telur, susu, dan wijen, mulai dilakukan sekitar usia enam bulan, bahkan pada bayi dengan risiko atopi tinggi sekalipun, tentu setelah berkonsultasi dengan dokter. (2)

Ternyata Bukan Hanya Soal Waktu, tetapi Juga Frekuensi

Yang menarik, perkembangan bukti terbaru justru menunjukkan bahwa keberhasilan pencegahan alergi makanan tidak semata bergantung pada kapan alergen mulai diperkenalkan, melainkan juga pada seberapa teratur dan sering alergen tersebut terus dikonsumsi setelahnya. Bahkan, data pada tingkat populasi memperlihatkan bahwa pengenalan dini kacang tanah saja belum cukup memberikan penurunan bermakna terhadap prevalensi alergi kacang tanah, apabila konsumsinya tidak dilanjutkan secara berkelanjutan alias regular ingestion. Faktor lain yang turut berperan adalah bentuk sediaan alergen saat pertama kali dikenalkan, misalnya telur yang dipanggang tampak menunjukkan level alergenisitas yang lebih rendah dibandingkan dengan telur yang mentah. Sementara itu, skrining alergi rutin sebelum pengenalan makanan tidak lagi direkomendasikan oleh sebagian besar perhimpunan alergi internasional, kecuali terdapat indikasi klinis tertentu. (3)

Rekomendasi Praktis untuk Pencegahan Alergi Makanan

Merangkum bukti-bukti di atas, rekomendasi pencegahan alergi makanan pada anak kini mengarah pada pengenalan alergen potensial mulai usia sekitar enam bulan, yang kemudian dilanjutkan dengan konsumsi teratur dalam jumlah kecil beberapa kali per minggu guna mempertahankan status toleransi imun atau oral tolerance, tanpa perlu penundaan maupun skrining alergi rutin sebelumnya, kecuali atas indikasi klinis. (2,3) Di titik inilah edukasi tenaga kesehatan dan orang tua mengenai perubahan paradigma ini menjadi kunci, agar strategi pencegahan tersebut benar-benar dapat diterapkan secara konsisten di layanan primer. (1)

Kesimpulan dan Penutup

Peningkatan prevalensi alergi makanan yang terus berlangsung telah mengubah pendekatan pencegahan dari penghindaran menjadi pengenalan dini yang konsisten. Namun, bukti terkini mengingatkan bahwa waktu pengenalan alergen saja tidak cukup; keteraturan frekuensi konsumsi pascapengenalan memegang peran yang sama pentingnya dalam membentuk toleransi imun jangka panjang. Pemahaman yang utuh mengenai patogenesis, waktu, dan frekuensi pengenalan alergen ini diharapkan dapat menjadi bekal edukasi klinis yang lebih efektif bagi tenaga kesehatan dalam mendampingi keluarga mencegah alergi makanan pada anak.

FAQ

1. Kapan waktu terbaik memperkenalkan makanan alergenik pada bayi?

Sebagian besar bukti mendukung pengenalan alergen potensial seperti kacang tanah, telur, dan wijen mulai usia sekitar enam bulan, seiring dimulainya makanan pendamping ASI. (2)

2. Apakah menunda pengenalan makanan alergenik dapat mencegah alergi?

Justru sebaliknya. Penundaan pengenalan alergen berkaitan dengan peningkatan risiko alergi makanan, sehingga pendekatan ini sudah tidak lagi direkomendasikan. (2)

3. Apakah cukup memperkenalkan alergen cukup satu kali saja?

Tidak. Bukti terbaru menunjukkan bahwa alergen perlu terus dikonsumsi secara teratur setelah pengenalan pertama agar efek protektifnya terhadap alergi dapat tercapai secara optimal. (3)

4. Apakah semua bayi perlu menjalani tes alergi sebelum mulai makan makanan alergenik?

Tidak. Skrining alergi rutin sebelum pengenalan makanan tidak lagi direkomendasikan oleh sebagian besar perhimpunan alergi internasional, kecuali ada indikasi klinis tertentu, seperti dermatitis atopik berat. (3)

5. Apa tanda alergi makanan yang perlu diwaspadai orang tua?

Tanda alergi makanan bisa berupa gejala kulit seperti biduran dan gatal, gejala saluran napas seperti mengi, gejala saluran cerna seperti muntah dan diare, hingga reaksi berat berupa anafilaksis yang memerlukan penanganan epinefrin segera. (2)

Daftar Pustaka

  1. King C, Meng C, Kane E, Lallos-Harrell H, Brown E, Lele M, Gupta R, Bilaver L. Early allergen introduction: policy strategies to prevent food allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol Pract. 2026.

  2. DiGiacomo D, Porto A. Food allergies in children: causes, symptoms, diagnosis & treatment [Internet]. Itasca (IL): American Academy of Pediatrics, HealthyChildren.org; 2025 Oct 8 [cited 2026 Aug 12]. Available from: https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/nutrition/Pages/Food-Allergies-in-Children.aspx

  3. Abrams EM, Shaker M, Stukus D, Mack DP, Greenhawt M. Updates in food allergy prevention in children. Pediatrics. 2023;152(5):e2023062836.

Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan