Berita
Pembaruan Kriteria Diagnostik Konstipasi Fungsional pada Anak: Dari Rome IV ke Rome V
14 Agustus 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Konstipasi Fungsional pada Anak: Masalah yang Sering Diremehkan
Konstipasi fungsional merupakan salah satu keluhan gastrointestinal tersering yang dijumpai dalam praktik pediatri sehari-hari. Diperkirakan prevalensi kondisi ini mencapai sekitar 3% dari populasi anak di seluruh dunia. Angka ini bahkan dapat lebih tinggi pada populasi tertentu, dengan variasi luas antar kawasan geografis; di kawasan Asia misalnya, prevalensi konstipasi fungsional dilaporkan berkisar antara 0,5% hingga 29,6%. Meskipun secara umum tidak mengancam nyawa, konstipasi fungsional kerap menjadi sumber kefrustasian baik bagi anak yang mengalami nyeri dan ketidaknyamanan saat defekasi, maupun bagi orang tua yang harus menghadapi siklus berulang berupa penahanan tinja, defekasi yang menyakitkan, dan kecemasan terkait toilet training. Kondisi ini kerap memicu kunjungan berulang ke fasilitas kesehatan, ketegangan dalam hubungan orang tua-anak seputar kebiasaan buang air besar, serta kekhawatiran berlebihan pada keluarga terkait kemungkinan adanya penyakit organik yang mendasari. Beban psikososial ini pada gilirannya dapat memperberat derajat keparahan klinis apabila tidak ditangani secara tepat waktu. (1)
Mengapa Kriteria Diagnostik Konstipasi Fungsional Perlu Diperbarui?
Selama satu dekade terakhir, kriteria diagnostik Rome IV menjadi acuan baku dalam menegakkan diagnosis konstipasi fungsional pada anak. Namun demikian, seiring berkembangnya bukti epidemiologis dan mekanistik mengenai gangguan interaksi otak-usus (disorders of gut-brain interaction, DGBI) pada populasi pediatrik, Rome Foundation baru-baru ini menerbitkan pembaruan kriteria diagnostik generasi kelima, yakni Rome V, yang dipublikasikan pada Mei 2026. (2) Pembaruan ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa pembagian usia yang digunakan pada Rome III dan Rome IV, yakni kelompok neonatus/batita (lahir hingga usia 4 tahun) dan kelompok anak/remaja (usia 5 tahun ke atas), tidak sepenuhnya berlandaskan bukti fisiologis maupun patofisiologis. Pembaruan kriteria diagnostik ini diharapkan dapat meningkatkan kejelasan diagnostik, memberikan kerangka kerja yang lebih konsisten bagi klinisi, serta pada akhirnya mendukung intervensi yang lebih tepat waktu sehingga memperbaiki luaran klinis pasien.
Apa Itu Konstipasi Fungsional pada Anak?
Secara definisi, konstipasi fungsional adalah gangguan defekasi berupa buang air besar yang jarang dan/atau sulit tanpa disertai kelainan anatomis maupun penyakit organik yang mendasari, dengan penyebab organik hanya ditemukan pada sekitar 5% kasus. (1)
Kriteria Rome IV (Sebelum Pembaruan)
Berdasarkan kriteria Rome IV, diagnosis dibedakan menurut kelompok usia. Pada bayi hingga usia 4 tahun, diagnosis ditegakkan apabila minimal dua dari kriteria berikut terpenuhi selama satu bulan:
a) defekasi dua kali atau kurang per minggu
b) riwayat penahanan tinja berlebihan
c) riwayat buang air besar yang nyeri atau keras
d) riwayat tinja berdiameter besar
e) teraba massa feses besar pada rektum.
Pada anak yang telah menjalani toilet training, dapat ditambahkan kriteria berupa insiden inkontinensia tinja minimal satu kali per minggu atau riwayat tinja berdiameter besar yang menyumbat toilet. Sementara itu, pada anak dengan usia perkembangan di atas 4 tahun, diagnosis ditegakkan bila minimal dua dari enam kriteria terkait terpenuhi setidaknya satu kali per minggu selama satu bulan, dengan kriteria untuk irritable bowel syndrome yang tidak terpenuhi. (1)
Rome V: Apa yang Berubah pada Kriteria Konstipasi Fungsional?
Menurut Kriteria Rome V, diagnosis konstipasi fungsional ditegakkan apabila memenuhi ketiga syarat berikut, dengan kriteria gejala terpenuhi selama minimal satu bulan sebelum diagnosis:
Harus mencakup minimal 2 dari kriteria berikut yang terjadi dalam satu bulan terakhir:
a. Rata-rata dua kali atau kurang defekasi per minggu
b. Rata-rata minimal satu episode inkontinensia tinja per minggu (kriteria ini hanya berlaku pada anak yang telah menjalani toilet training)
c. Riwayat sikap menahan tinja (retentive posturing), mengejan (straining), atau retensi tinja yang tidak sesuai (inappropriate stool retention)
d. Riwayat buang air besar yang nyeri atau keras (kriteria "keras" kini dikaitkan dengan Bristol Stool Form Scale tipe 1 atau 2, atau Brussels Infant and Toddler Stool Scale tipe 1, 2, atau 3 untuk bayi)
e. Teraba massa feses besar pada rektum
f. Riwayat tinja berdiameter besar
Setelah evaluasi yang memadai, gejala tidak dapat sepenuhnya dijelaskan oleh kondisi medis lain
Tidak memenuhi kriteria untuk irritable bowel syndrome
Rome V mengubah struktur klasifikasi konstipasi fungsional secara mendasar: pembagian berdasarkan usia pada Rome IV dihapus, digantikan klasifikasi DGBI pediatrik berdasarkan region anatomis dan pola gejala (gangguan nyeri abdomen, gangguan defekasi dan anorektal, serta discomfort disorders), sehingga kriteria inkontinensia tinja kini hanya berlaku pada anak yang telah toilet training, terlepas dari usianya. Sejumlah penyesuaian redaksional turut dilakukan untuk memperjelas kriteria: jangka waktu gejala diubah menjadi "terjadi dalam satu bulan terakhir", frasa "di toilet" dihapus dari kriteria frekuensi defekasi, kata "mengejan" ditambahkan pada kriteria menahan tinja, istilah "excessive volitional" diganti "inappropriate" agar lebih mudah dipahami orang tua, dan definisi "keras" pada tinja kini dikaitkan dengan Bristol Stool Form Scale atau Brussels Infant and Toddler Stool Scale. Istilah "functional" tetap dipertahankan karena sudah diterima luas oleh pasien, keluarga, dan tenaga medis, sementara kriteria untuk sindrom iritasi usus dan inkontinensia tinja non-retentif turut direvisi, dengan Rome V juga mengakui bahwa DGBI dapat terjadi bersamaan dengan kondisi lain yang menimbulkan gejala gastrointestinal serupa. (2)
Kesimpulan
Pembaruan Rome V menegaskan bahwa kriteria diagnosis konstipasi fungsional pada anak terus berkembang seiring bertambahnya bukti ilmiah dan pemahaman patofisiologi DGBI pada populasi pediatrik. Bagi dokter anak di Indonesia, memahami arah perubahan ini penting agar diagnosis dapat ditegakkan secara akurat sejak kontak klinis pertama, sehingga tata laksana dapat dimulai lebih dini dan komunikasi edukatif kepada orang tua dapat disampaikan dengan lebih terarah. Dengan demikian, beban klinis maupun psikososial yang dialami anak dan keluarga dapat diminimalkan secara optimal, sejalan dengan tujuan utama pembaruan kriteria diagnostik ini.
FAQ
1. Apa perbedaan utama antara Rome IV dan Rome V untuk konstipasi fungsional pada anak?
Perbedaan paling mendasar terletak pada struktur klasifikasinya. Rome IV membagi kriteria berdasarkan kelompok usia (bayi/batita versus anak di atas 4 tahun), sedangkan Rome V beralih ke klasifikasi berdasarkan region anatomis dan pola gejala. Kriteria spesifik untuk konstipasi fungsional turut direvisi agar lebih jelas secara diagnostik. (2)
2. Apakah kriteria Rome V sudah sepenuhnya menggantikan Rome IV dalam praktik klinis?
Rome V merupakan pembaruan resmi terbaru dari Rome Foundation yang dipublikasikan pada Mei 2026, sehingga secara keilmuan diposisikan menggantikan Rome IV. (2) Namun demikian, adopsi ke pedoman klinis nasional dan lokal biasanya memerlukan waktu, sehingga dokter anak disarankan tetap mengikuti perkembangan rekomendasi dari organisasi profesi terkait.
3. Berapa lama gejala harus berlangsung sebelum seorang anak dapat didiagnosis konstipasi fungsional?
Berdasarkan kriteria Rome IV, gejala perlu terpenuhi selama minimal satu bulan sebelum diagnosis dapat ditegakkan, baik pada kelompok usia bayi/batita maupun anak yang lebih besar. (1)
4. Apakah konstipasi fungsional pada anak selalu memerlukan pemeriksaan penunjang seperti rontgen?
Tidak. Konstipasi fungsional pada anak umumnya merupakan diagnosis klinis yang ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang seperti foto polos abdomen tidak rutin diperlukan dan hanya dipertimbangkan pada kasus dengan gambaran atipikal atau kecurigaan penyebab organik. (1)
5. Kapan seorang anak dengan konstipasi fungsional perlu dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan gastrohepatologi?
Rujukan dipertimbangkan apabila terdapat tanda bahaya (red flag) yang mengarah pada penyebab organik, anak tidak menunjukkan perbaikan setelah tata laksana adekuat, atau dijumpai impaksi berulang dan inkontinensia tinja yang menetap meskipun telah mendapat terapi laksatif maksimal. (1)
Daftar Pustaka
1. Allen P, Setya A, Lawrence VN. Pediatric Functional Constipation. [Updated 2024 Jan 11]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537037/
2. Di Lorenzo C, Saps M, Chumpitazi BP, Rajindrajith S, Staiano A, Thapar N, van Tilburg M, Velasco-Benítez C, Vlieger A. Lower and Biliary Disorders of Gut-Brain Interaction: Child and Adolescent. Gastroenterology. 2026 May;170(6):1367-1387. doi: 10.1053/j.gastro.2026.01.036. Epub 2026 Feb 17. PMID: 41713707.




