Edukasi
Pahlawan Kesehatan Indonesia: Sosok Inspiratif di Balik Kemajuan Bangsa
14 Agustus 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Kalau dengar kata "pahlawan," kebanyakan dari kita langsung membayangkan sosok yang berjuang di medan perang, mengangkat senjata demi kemerdekaan. Tapi tahukah kamu, ada juga pahlawan yang berjuang lewat cara lain lewat stetoskop, mikroskop, bahkan racikan obat dari tanaman?
Mereka adalah para pahlawan kesehatan Indonesia, sosok-sosok yang jasanya masih kita rasakan sampai hari ini, meski namanya mungkin kurang populer dibanding pahlawan kemerdekaan. Yuk, kenalan lebih dekat dengan mereka!
1. dr. Cipto Mangunkusumo, Sang Pemberantas Wabah
Nama dr. Cipto Mangunkusumo mungkin sudah familiar di telinga banyak orang, terutama lewat RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta. Tapi tahukah kamu, nama rumah sakit ini bukan sekadar penghormatan biasa?
Beliau lulus dari STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran pribumi pertama di Hindia Belanda, pada 1905. Setelah bertugas di beberapa daerah seperti Batavia, Amuntai, Banjarmasin, dan Demak, beliau memilih keluar dari ikatan dinas pemerintah pada 1908. Ia lalu membuka praktik pribadi bernama "Dokter Rakyat" di Solo, tempatnya berkeliling kampung dengan sepeda untuk mengobati rakyat kecil tanpa memungut bayaran.
Ketika wabah pes melanda Malang pada 1910–1911 dan banyak dokter Eropa enggan turun tangan, dr. Cipto justru mengajukan diri secara sukarela untuk ditugaskan ke sana. Ia bekerja langsung di tengah masyarakat yang terjangkit, bahkan tanpa alat pelindung memadai, dan berhasil membantu meredam penyebaran wabah di Kepanjen, Malang. Jasa ini membuat pemerintah kolonial Belanda menganugerahinya bintang Ridder in de Orde van Oranje Nassau.
Selain aktif di dunia medis, dr. Cipto juga dikenal sebagai pemikir kritis yang melahirkan gagasan-gagasan besar lewat tulisan-tulisannya di surat kabar De Locomotief, hingga turut mendirikan Indische Partij bersama Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker. Atas dedikasinya, namanya diabadikan sebagai RSCM sejak 17 Agustus 1964.
2. Ibu Hasri Ainun Habibie, Dokter Mata di Balik Sosok Ibu Negara
Selama ini, publik lebih mengenal Ibu Ainun sebagai istri Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie. Padahal, beliau juga seorang dokter yang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sejak 1956 dan meraih gelar dokternya pada 1961.
Setelah lulus, beliau sempat berkarier setahun di bagian perawatan anak RSCM sebelum menikah dan mengikuti sang suami ke Jerman pada 1962. Kepeduliannya terhadap kesehatan mata membawanya menjabat sebagai ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI), organisasi yang menaungi bank mata dan membantu masyarakat dengan gangguan penglihatan.
Ibu Ainun juga tercatat berjuang mendorong terbitnya fatwa yang membolehkan donor kornea mata di Indonesia, sebuah isu yang sempat menjadi kontroversi sosial pada masanya.
3. Prof. Abdulrachman Saleh, Sang Multitalenta dari Dunia Radio dan Kedokteran
Sosok ini punya jejak unik: selain dikenal sebagai tokoh penting di balik berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI) pada 11 September 1945 melalui pemancar "Siaran Radio Indonesia Merdeka", beliau juga menyandang gelar Bapak Fisiologi (Ilmu Faal) Kedokteran Indonesia. Gelar ini secara resmi dikukuhkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 5 Desember 1958.
Beliau lulus dari Geneeskundige Hoogeschool (GHS) Batavia pada 1937 setelah STOVIA dibubarkan di tengah masa studinya. Prof. Abdulrachman lalu mengajar fisiologi di NIAS Surabaya dan kemudian di almamaternya sendiri hingga menjadi profesor penuh. Lewat kiprahnya, ilmu faal berhasil berkembang pesat di tanah air, bukti bahwa satu orang bisa punya dampak besar di lebih dari satu bidang.
Namanya kini diabadikan sebagai nama pangkalan udara dan bandara di Malang, serta piala bergilir kompetisi kedokteran dan biologi tahunan Fakultas Kedokteran UI.
4. Prof. Dr. Sardjito, Peracik Obat dari Alam
Prof. Sardjito, lahir di Magetan pada 13 Agustus 1889, adalah lulusan terbaik STOVIA tahun 1915 yang kemudian meraih gelar doktor penyakit tropis di Universitas Amsterdam. Beliau ditetapkan sebagai Rektor pertama Universitas Gadjah Mada pada periode 1949–1961 (saat itu masih bergelar "Presiden Universiteit"), dan sebelumnya berperan besar dalam produksi vaksin serta layanan kesehatan bagi para pejuang kemerdekaan selama masa revolusi fisik.
Kontribusinya jauh lebih luas dari itu. Beliau merupakan salah satu penggagas berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI) di Bandung, dan berhasil menciptakan calcusol, obat peluruh batu ginjal berbahan dasar tanaman tempuyung yang penelitiannya disempurnakan lewat kerja sama laboratorium di Paris.
Tak berhenti di situ, beliau juga menginisiasi program Samijaga (Sanitasi, Air Minum, dan Jamban Keluarga), fondasi awal dari sistem layanan kesehatan masyarakat seperti Puskesmas yang kita kenal sekarang, dan salah satu tonggak penting sejarah kedokteran Indonesia di bidang kesehatan masyarakat.
Atas jasa-jasanya di bidang pendidikan dan kesehatan, Prof. Sardjito dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dari sektor kesehatan oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019, setelah diusulkan sivitas akademika UGM sejak 2012.
5. Prof. Dr. Gerrit A. Siwabessy, Pahlawan Nasional Pertama dari Sektor Kesehatan
Lahir di Negeri Ullath, Pulau Saparua, Maluku, pada 19 Agustus 1914, Prof. Siwabessy menempuh pendidikan kedokteran di NIAS Surabaya lewat beasiswa. Ia lalu mendalami radiologi hingga meraih brevet sebagai ahli radiologi dan melanjutkan studi lanjutan di London pada 1949.
Kariernya panjang dan penuh warna: mulai dari Kepala Bagian Radiologi RSUP menggantikan Prof. W.Z. Johannes pada 1952, pendiri Sekolah Asisten Rontgen, hingga ketua Panitia Penyelidikan Radioaktivitas dan Tenaga Atom pada 1954 (dibentuk untuk meneliti dampak uji coba bom hidrogen Amerika Serikat di Pasifik).
Ia juga tercatat sebagai pendiri sekaligus Dekan pertama Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) Universitas Indonesia periode 1963–1965, Direktur Jenderal pertama Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) sejak 1964, hingga Menteri Kesehatan RI selama lebih dari satu dekade (1966–1978), masa jabatan terlama untuk pos tersebut dalam sejarah Indonesia.
Julukan "Bapak Atom Indonesia" ia peroleh berkat visinya memanfaatkan teknologi nuklir bukan untuk tujuan destruktif, melainkan untuk kesehatan, pertanian, dan energi.
6. dr. Akmal Taher, Karyanya yang Mendunia
Sebagai dokter spesialis urologi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (1988) yang kemudian menempuh program doktoral di Hannover Medical School, Jerman (1990–1993), dr. Akmal Taher punya jejak inovasi yang mendunia.
Salah satu karyanya di bidang uro-andrologi, yaitu penggunaan inhibitor phosphodiesterase IV, berhasil mendapatkan hak paten di sejumlah negara sekaligus, termasuk Jerman, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang.
Beliau tercatat sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran UI sejak 2006, pernah menjabat Direktur Utama RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, dan dikenal sebagai salah satu perintis uro-andrologi modern di Indonesia, khususnya dalam penanganan disfungsi ereksi dan infertilitas pria. Bukti nyata bahwa inovasi anak bangsa di bidang kedokteran mampu bersaing di panggung internasional.
7. Prof. I.G.N. Ranuh, Peletak Fondasi Pendidikan dan Imunisasi Anak Indonesia
Di ranah kesehatan anak, nama Prof. I.G.N. (Gde) Ranuh menjadi salah satu tonggak penting perkembangan pediatri di Indonesia. Beliau aktif dalam pembentukan sistem pendidikan dokter spesialis anak sejak awal, tercatat sebagai sekretaris panitia Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) III di Surabaya pada 1974, kemudian menjabat sekretaris Dewan Penilai Keahlian (DPK), cikal bakal Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia (Kolegium IKAI) di bawah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (12)
Perannya berlanjut sebagai ketua Majelis Pembina dan Penilai Keahlian (MPPK) periode 1978–1984, badan yang mengurus standar keahlian dokter spesialis anak di Tanah Air. (12) Puncaknya, pada 1990 Prof. Ranuh menyusun kurikulum pendidikan dokter spesialis anak pertama di Indonesia, menggunakan sistem magang dengan masa pendidikan 10 semester, kerangka yang menjadi fondasi pendidikan spesialis anak modern di Indonesia. (13)
Selain di bidang pendidikan, Prof. Ranuh juga dikenal luas sebagai salah satu penyunting utama buku Pedoman Imunisasi di Indonesia, terbitan Satgas Imunisasi IDAI yang menjadi rujukan standar bagi dokter anak di seluruh Indonesia hingga beberapa edisi kemudian. Lewat kiprahnya di dua bidang ini, pendidikan spesialis dan imunisasi, Prof. Ranuh berkontribusi besar membangun sistem pelayanan kesehatan anak Indonesia yang lebih terstruktur dan berbasis bukti.
Garda Terdepan yang Menginspirasi
Dari ruang operasi, laboratorium, hingga studio radio, para pahlawan kesehatan ini menunjukkan bahwa perjuangan untuk Indonesia tidak selalu terjadi di medan perang. Dedikasi mereka dalam menyelamatkan nyawa, mengembangkan ilmu, dan membangun sistem kesehatan yang lebih baik adalah bentuk perjuangan yang sama besarnya.
Mereka adalah garda terdepan yang jasanya terus mengalir hingga hari ini, dan semangat mereka menjadi bukti nyata bahwa Indonesia bisa terus maju berkat kontribusi nyata putra-putri bangsanya. Terima kasih, para pahlawan kesehatan Indonesia!
FAQ
1. Siapa saja pahlawan kesehatan Indonesia yang paling dikenal?
Beberapa pahlawan kesehatan Indonesia yang paling dikenal antara lain dr. Cipto Mangunkusumo (pemberantas wabah pes), Prof. Dr. Sardjito (Pahlawan Nasional dari UGM), dan Prof. Dr. Gerrit A. Siwabessy (Bapak Atom Indonesia dan Menteri Kesehatan RI terlama). Ketiganya memiliki fasilitas kesehatan atau lembaga negara yang diabadikan dengan nama mereka.
2. Kenapa nama dr. Cipto Mangunkusumo diabadikan sebagai nama rumah sakit?
Namanya diabadikan sebagai RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak 17 Agustus 1964 untuk menghormati jasanya memberantas wabah pes di Malang pada 1910–1911 secara sukarela, serta dedikasinya membuka praktik gratis "Dokter Rakyat" bagi masyarakat kecil di Solo.
3. Siapa dokter perempuan Indonesia yang berjasa di bidang kesehatan mata?
Ibu Hasri Ainun Habibie adalah dokter lulusan FKUI (1961) yang dikenal luas sebagai istri Presiden ke-3 RI, namun juga aktif sebagai ketua Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI) dan mendorong terbitnya fatwa yang membolehkan donor kornea mata di Indonesia.
4. Siapa pahlawan kesehatan Indonesia yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional?
Prof. Dr. Sardjito, Rektor pertama Universitas Gadjah Mada, dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dari sektor kesehatan oleh Presiden Joko Widodo pada 8 November 2019. Ia dikenal atas kontribusinya mendirikan PMI Bandung, menciptakan obat calcusol, dan menginisiasi program Samijaga yang menjadi cikal bakal Puskesmas.
5. Siapa tokoh yang berperan besar dalam pediatri atau kesehatan anak di Indonesia?
Prof. I.G.N. Ranuh adalah salah satu tokoh kunci dalam pengembangan pediatri Indonesia. Ia menyusun kurikulum pendidikan dokter spesialis anak pertama di Indonesia pada 1990 dan menjadi salah satu penyunting utama buku Pedoman Imunisasi di Indonesia yang menjadi rujukan IDAI hingga kini.
Daftar Pustaka
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, melalui liputan Merdeka.com. Kisah Cipto Mangunkusumo Basmi Wabah Pes di Jawa. https://www.merdeka.com/jateng/kisah-cipto-mangunkusumo-basmi-wabah-pes-di-jawa-turun-tangan-tanpa-masker.html
Kompas.com. Profil Cipto Mangunkusumo dan Perjuangan Memberantas Wabah Pes di Malang. https://regional.kompas.com/read/2022/01/26/120000678/profil-cipto-mangunkusumo-dan-perjuangan-memberantas-wabah-pes-di-malang
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta (Ensiklopedia Jakarta). Ainun Habibie, Hasri. https://dinaskebudayaan.jakarta.go.id/encyclopedia/blog/2018/04/Ainun-Habibie-Hasri
Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Bima (idibima.org). Sosok Dokter Dibalik Kelahiran Radio Republik Indonesia (Abdulrachman Saleh). https://idibima.org/artikel/sosok-dokter-dibalik-kelahiran-radio-republik-indonesia.html
Universitas Gadjah Mada (ugm.ac.id). Rektor UGM: Sivitas Akademika UGM Perlu Meneladani Sardjito. https://ugm.ac.id/id/berita/18701-rektor-ugm-bangga-sardjito-jadi-pahlawan-nasional/
Fakultas Farmasi UGM. Rektor Pertama UGM, Prof. Sardjito Dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional. https://farmasi.ugm.ac.id/rektor-pertama-ugm-prof-sardjito-dikukuhkan-sebagai-pahlawan-nasional/
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian (APMD Yogyakarta). Pemikiran Prof. Dr. M. Sardjito dalam Pembangunan Kemanusiaan di Indonesia. https://snpd.mip.apmd.ac.id/index.php/snpd/article/download/13/10
Badan Tenaga Nuklir Nasional (batan.go.id). Prof. Dr. Gerrit A. Siwabessy (1964–1973). https://www.batan.go.id/index.php/id/prof-dr-gerrit-a-siwabessy-1964-1973
ANTARA News. Siwabessy, Bapak Atom Indonesia dari Maluku. https://www.antaranews.com/berita/3413595/siwabessy-bapak-atom-indonesia-dari-maluku
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (fk.ui.ac.id). Profil Akmal Taher. https://fk.ui.ac.id/akmal-taher-2.html
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (aipi.or.id). Profil Akmal Taher. https://aipi.or.id/anggota/akmal-taher/
Ikatan Dokter Anak Indonesia (idai.or.id). Sejarah IDAI. https://www.idai.or.id/tentang-idai/sejarah-idai
Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia (kikai.id). Sejarah Pendidikan Dokter Spesialis Anak di Indonesia. https://kikai.id/sejarah-pendidikan-dokter-spesialis-anak-di-indonesia/




