Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Megathrust Ramai Dibicarakan: Ini yang Perlu Disiapkan Fasilitas Kesehatan

17 September 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Megathrust Ramai Dibicarakan: Ini yang Perlu Disiapkan Fasilitas Kesehatan

"Ramainya pembicaraan soal megathrust bukan berarti gempa besar akan segera terjadi. Yang lebih penting bagi dokter dan tenaga kesehatan adalah kesiapan menghadapi lonjakan pasien saat gempa besar benar-benar terjadi: triase korban massal, kelangsungan pelayanan, dan rencana bila fasilitas kesehatan sendiri ikut terdampak."


Diskusi tentang megathrust kembali muncul setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau ketat beberapa segmen zona megathrust di Indonesia. Bagi dokter dan tenaga kesehatan, pertanyaan yang lebih relevan bukan kapan gempa akan terjadi, melainkan apa yang perlu disiapkan agar pelayanan kesehatan tetap berjalan bila gempa besar sewaktu-waktu terjadi.

Potensi Megathrust: Prediksi Gempa akan Segera Terjadi?

Zona megathrust selatan Jawa memiliki potensi gempa dengan magnitudo maksimum M8,8. BMKG menegaskan bahwa ini adalah potensi, bukan prediksi, sehingga kapan gempa tersebut terjadi tidak ada yang dapat memastikan. (1)

Beberapa daerah lainnya juga diimbau untuk waspada, karena terdapat indikasi seismic gap, yaitu wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami gempa besar. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menyebut tiga segmen daerah yang terus dipantau meliputi Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba. Ahli kebencanaan dari BMKG menegaskan bahwa pernyataan "memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar" berbeda dengan "akan segera mengalami gempa besar". (2)

Perbedaan ini penting supaya fasilitas kesehatan tidak salah menempatkan sumber daya. Kesiapsiagaan bencana tetap perlu dilakukan terus-menerus, bukan hanya saat isu megathrust sedang ramai dibicarakan.

Mengapa Gempa Besar Menjadi Masalah Kesehatan, Bukan Hanya Masalah Kebencanaan

Gempa besar menimbulkan konsekuensi langsung bagi pelayanan kesehatan. Trauma dan crush injury dapat datang dalam jumlah besar sekaligus, jauh melebihi kapasitas rutin unit gawat darurat.

Pasien dengan penyakit kronis, seperti hipertensi, diabetes, atau gagal ginjal yang menjalani hemodialisis rutin, berisiko kehilangan akses obat dan layanan begitu jalur rujukan atau pasokan logistik terganggu. Ibu hamil dan anak juga membutuhkan perhatian khusus karena kebutuhan mereka, seperti persalinan atau imunisasi, tidak bisa ditunda meski terjadi bencana.

Ancaman lain yang sering luput dari perhatian adalah fasilitas kesehatan sendiri yang ikut terdampak. Data Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) periode 2019–2023 mencatat 43 rumah sakit mengalami kerusakan akibat bencana, dan 12% di antaranya rusak berat hingga tidak berfungsi. (4) Tiga rumah sakit rusak akibat gempa Cianjur 2022, satu RSUD rusak saat gempa Lombok 2018, dan rumah sakit di empat kabupaten/kota rusak akibat gempa, tsunami, serta likuifaksi di Sulawesi Tengah 2018. (4)

Kerusakan atau gangguan fungsi rumah sakit memperlambat respons saat kebutuhan pelayanan justru sedang meningkat. Inilah yang membuat gempa besar menjadi persoalan kesehatan, bukan sekadar persoalan kebencanaan.

Kesiapan Triase Saat Pasien Datang Bersamaan

Kondisi ketika jumlah pasien melebihi kapasitas fasilitas kesehatan untuk menanganinya dengan sumber daya dan prosedur normal disebut mass casualty incident (MCI) atau insiden korban massal. World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa alur pelayanan pada situasi ini tidak lagi sama seperti hari biasa. (3)

Pada MCI, triase rutin yang biasa dipakai sehari-hari terlalu lambat untuk mengidentifikasi pasien yang membutuhkan pertolongan segera. WHO merekomendasikan penggunaan alat triase khusus MCI begitu ambang aktivasi tercapai, dengan kriteria yang jelas dan diketahui seluruh petugas. (3)

Pasien dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berdasarkan kondisi klinis, bukan urutan kedatangan:

  1. Merah — pasien dengan ancaman jiwa segera, seperti gangguan jalan napas, distres napas, atau perdarahan masif.
  2. Kuning — pasien yang tidak bisa berjalan namun tanpa tanda kegawatan yang mengancam jiwa segera.
  3. Hijau — pasien yang masih bisa berjalan dan menolong diri sendiri.
  4. Biru — subkategori pasien merah yang penanganannya melampaui kapasitas kuratif yang tersedia saat itu.
  5. Abu-abu — pasien yang telah meninggal dunia. (3)

Setiap kategori idealnya memiliki area tersendiri dengan alur satu arah, mulai dari titik triase hingga zona perawatan. Pemisahan area ini mencegah zona merah ikut terbebani pasien yang sebenarnya masih tergolong kuning atau hijau. (3) Kondisi pasien juga perlu dinilai ulang secara berkala, karena kategori dapat berubah seiring waktu. (3)

Bagaimana Jika Fasilitas Kesehatan Sendiri Ikut Terdampak

Rumah sakit yang aman terhadap bencana adalah rumah sakit yang tetap aman, berfungsi, dan dapat diakses sebelum, selama, dan setelah bencana terjadi. (4) Untuk mencapai kondisi ini, Kemenkes menetapkan Pedoman Rumah Sakit Aman Bencana (Safe Hospital) yang menekankan pentingnya sistem komando insiden, sumber daya cadangan, dan jejaring rujukan. (4)

Sistem komando yang direkomendasikan disebut Hospital Incident Command System (HICS). Struktur ini sederhana, memiliki rantai komando yang jelas, dan dapat diaktifkan dalam waktu singkat oleh direktur rumah sakit berdasarkan hasil penilaian cepat kesehatan. (4)

Beberapa pertanyaan konkret perlu dijawab sebelum bencana terjadi, bukan saat bencana sedang berlangsung. Di mana titik evakuasi pasien bila gedung tidak lagi aman digunakan? Siapa yang memegang komando bila direktur atau kepala unit gawat darurat tidak berada di tempat? Bagaimana komunikasi tetap berjalan bila jaringan seluler terganggu, misalnya melalui radio komunikasi atau jalur komunikasi cadangan?

Pasokan dasar juga menentukan apakah pelayanan bisa terus berjalan. Kemenkes mensyaratkan cadangan air bersih untuk kebutuhan minimal dua hari operasional, termasuk cadangan pemadam kebakaran, serta genset sebagai sumber listrik alternatif. (4) Ketersediaan oksigen, obat emergensi, dan gas medis perlu dipastikan tetap dapat diakses meski pasokan rutin sempat terhenti.

Jejaring dengan fasilitas kesehatan lain, dinas kesehatan, dan sub klaster pelayanan kesehatan juga penting agar rujukan pasien tidak seluruhnya dibebankan pada satu fasilitas saja. (4) Kesepakatan kerja sama ini idealnya sudah ditandatangani sejak masa prabencana, bukan disusun dadakan saat bencana terjadi.

Tenaga Kesehatan Juga Perlu Menyiapkan Diri Sendiri

Tenaga kesehatan yang ikut terdampak langsung oleh bencana juga bisa kehilangan kemampuan untuk memberikan pelayanan. Karena itu, kesiapan pribadi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesiapan fasilitas kesehatan secara keseluruhan.

Setiap tenaga kesehatan sebaiknya mengetahui jalur evakuasi di tempat praktiknya sendiri, bukan hanya jalur evakuasi secara umum. Memahami posisinya dalam struktur HICS, termasuk siapa yang harus dihubungi bila terjadi kedaruratan, juga membantu mempercepat respons saat situasi darurat berlangsung.

Mengikuti simulasi atau gladi bencana secara rutin membuat prosedur terasa lebih familier saat benar-benar dibutuhkan. Kesiapan pribadi dan keluarga di rumah turut memengaruhi kemampuan tenaga kesehatan untuk tetap bertugas, karena kekhawatiran terhadap keluarga yang belum siap dapat menghambat respons di tempat kerja.

Fasilitas kesehatan juga dapat mendorong pasien untuk memiliki kesiapan serupa, misalnya melalui edukasi tentang emergency bag untuk kesiapan menghadapi bencana, khususnya bagi pasien dengan penyakit kronis yang bergantung pada obat rutin.

Kesimpulan

Isu megathrust yang ramai dibicarakan adalah pengingat, bukan alarm untuk gempa yang akan segera terjadi. Yang perlu dibawa pulang oleh dokter dan tenaga kesehatan adalah kesiapan menjalankan triase korban massal secara terstruktur, memiliki rencana bila fasilitas kesehatan sendiri ikut terdampak, dan memastikan setiap petugas tahu perannya masing-masing sebelum situasi darurat terjadi. Kesiapan yang dibangun sejak sekarang menentukan seberapa cepat pelayanan bisa pulih ketika gempa besar benar-benar datang.

FAQ

Apakah ramainya isu megathrust berarti gempa besar akan segera terjadi?

Tidak. Zona megathrust memiliki potensi gempa besar, tetapi ini berbeda dengan prediksi kapan gempa akan terjadi. Sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa secara tepat dan akurat. (1,2)

Apa itu insiden korban massal atau mass casualty incident dalam pelayanan kesehatan?

Insiden korban massal adalah kondisi ketika jumlah pasien yang datang melebihi kapasitas fasilitas kesehatan untuk menanganinya dengan sumber daya dan prosedur normal sehari-hari. Kondisi ini membutuhkan pengaturan darurat tambahan, termasuk pengalihan triase ke alat triase khusus MCI. (3)

Apa beda triase rutin dan triase korban massal?

Triase rutin bertujuan mengidentifikasi pasien paling kritis satu per satu berdasarkan penilaian mendalam. Triase korban massal bertujuan mengalokasikan sumber daya yang terbatas kepada pasien yang paling mungkin tertolong, dengan penilaian yang jauh lebih cepat dan kategori yang lebih sederhana. (3)

Apa itu Hospital Disaster Plan dan siapa yang menyusunnya?

Hospital Disaster Plan (HDP) adalah dokumen rencana aksi rumah sakit untuk menanggulangi bencana, baik yang terjadi di dalam maupun di luar rumah sakit. Dokumen ini disusun oleh tim yang ditetapkan pimpinan rumah sakit, terdiri atas unsur pimpinan, unit gawat darurat, dan unit terkait lainnya. (4)

Apakah klinik dan puskesmas juga perlu punya rencana tanggap bencana, tidak hanya rumah sakit?

Ya. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan, baik milik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun masyarakat, wajib memberikan pelayanan kesehatan pada bencana untuk penyelamatan nyawa dan kepentingan terbaik bagi pasien. Kewajiban ini mencakup fasilitas pelayanan kesehatan primer, bukan hanya rumah sakit rujukan. (5)

Daftar Pustaka

  1. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Respon BMKG Terhadap Isu Gempabumi M 8,8 dan Tsunami di Pantai Selatan Jawa [Internet]. 2019 Jul 21 [cited 2026 Sep 16]. Available from: https://www.bmkg.go.id/siaran-pers/respon-bmkg-terhadap-isu-gempabumi-m-88-dan-tsunami-di-pantai-selatan-jawa
  2. CNN Indonesia. BMKG Pantau Ketat 3 Zona Megathrust RI, Bisa Hasilkan Gempa Dahsyat [Internet]. 2026 Sep 3 [cited 2026 Sep 16]. Available from: https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260901095036-199-1398619/bmkg-pantau-ketat-3-zona-megathrust-ri-bisa-hasilkan-gempa-dahsyat
  3. World Health Organization. Facility-Based Mass Casualty Triage: Guidance Note [Internet]. [cited 2026 Sep 16]. Available from: https://cdn.who.int/media/docs/default-source/integrated-health-services-(ihs)/csy/mcm-triage_guidance-note.pdf
  4. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Rumah Sakit Aman Bencana (Safe Hospital) [Internet]. 2024 Mar 24 [cited 2026 Sep 16]. Available from: https://pusatkrisis.kemkes.go.id/pedoman-rumah-sakit-aman-bencana-safe-hospital
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1 Tahun 2026 tentang Kejadian Luar Biasa, Wabah, dan Krisis Kesehatan [Internet]. 2026 Jan 21 [cited 2026 Sep 16]. Available from: https://jdih.kemkes.go.id/documents/peraturan-menteri-kesehatan-nomor-1-tahun-2026


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan