Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Lebih dari Setengah Masyarakat Indonesia Sakit Gigi & Mulut, Tapi Hanya 11,2 % yang Berobat 

13 Oktober 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Lebih dari Setengah Masyarakat Indonesia Sakit Gigi & Mulut, Tapi Hanya 11,2 % yang Berobat 

“Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 56,9% penduduk berusia 3 tahun ke atas melaporkan masalah gigi dan mulut, tetapi hanya 11,2% yang mendapat perawatan dari tenaga kesehatan gigi. Hampir semua orang menyikat gigi setiap hari, namun hanya 6,2% yang menyikat pada waktu yang benar. Kesenjangan perilaku dan akses ini menjadi titik masuk penting bagi edukasi di layanan primer.”


Karies gigi yang tidak dirawat merupakan kondisi kesehatan paling umum di dunia. Global Oral Health Status Report yang diterbitkan World Health Organization (WHO) pada 2022 memperkirakan kondisi ini dialami sekitar 2,5 miliar orang. Laporan tersebut menyajikan profil kesehatan gigi dan mulut dari 194 negara untuk pertama kalinya. (1)

Di Indonesia, gambaran terbaru berasal dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Survei ini mengintegrasikan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGI). Salah satu laporan tematiknya membahas khusus problematika kesehatan gigi dan mulut, termasuk prevalensi karies yang tinggi, akses perawatan, dan literasi kesehatan gigi yang rendah. (2) Data ini relevan bagi dokter dan tenaga kesehatan karena keluhan gigi anak sering pertama kali muncul di layanan primer.

Seberapa Tinggi Karies pada Anak?

Secara global, sekitar setengah anak mengalami karies. Meta-analisis yang menggabungkan 164 artikel menemukan prevalensi karies gigi sulung pada anak sebesar 46,2% dan karies gigi permanen sebesar 53,8%. (3) Prevalensi berbeda secara bermakna antarbenua. Studi yang dianalisis juga mencakup rentang waktu panjang, yaitu 1995 hingga 2019. (3)

Di Indonesia, Riskesdas 2018 mencatat prevalensi karies gigi sebesar 88,8%. (4) SKI 2023 menilai karies melalui pemeriksaan gigi dengan indeks DMF-T, yaitu jumlah gigi yang berlubang (decayed), hilang (missing), dan ditambal (filled). Hasilnya, indeks DMF-T pada semua kelompok umur turun dibandingkan Riskesdas 2018. (4) Meski begitu, kelompok umur 3–4 tahun dan 5 tahun masih berada pada kategori DMF-T tinggi hingga sangat tinggi. (4)

Penurunan ini perlu dibaca hati-hati. Lembar fakta SKI 2023 sendiri menyebut tren penurunan dibandingkan Riskesdas 2018 tidak terlalu signifikan. (4)

Mengapa Karies pada Anak Masih Tinggi?

Teknik sikat gigi yang masih salah

Hampir semua penduduk berusia 3 tahun ke atas melaporkan menyikat gigi setiap hari, yaitu 95,6% pada SKI 2023. (4) Namun, hanya 6,2% yang menyikat gigi pada waktu yang benar, yaitu dua kali sehari: pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Angka ini memang naik dari 2,8% pada Riskesdas 2018, tetapi masih sangat rendah. (4)

Sedikit yang mencari perawatan

Sebanyak 56,9% penduduk berusia 3 tahun ke atas melaporkan masalah gigi dan mulut dalam wawancara SKI 2023. Dari kelompok tersebut, hanya 11,2% yang mendapat perawatan dari tenaga kesehatan gigi, sedikit naik dari 10,2% pada Riskesdas 2018. (4)

SKI 2023 mencatat enam alasan utama orang tidak segera berobat, dan masing-masing dilaporkan oleh lebih dari 70% responden: waktu tunggu yang lama (81,7%), takut terpapar COVID-19 (80,2%), mengobati sendiri (79,3%), berobat ke tukang gigi (77,5%), tidak memiliki biaya (76,7%), dan tidak merasa sakit gigi (70,2%). (4) Karena semua angkanya tinggi, kemungkinan besar satu orang memiliki lebih dari satu alasan sekaligus. Hambatan ini dapat dikelompokkan menjadi tiga:

  1. hambatan layanan: waktu tunggu dan kekhawatiran tertular infeksi di fasilitas kesehatan,
  2. hambatan biaya,
  3. hambatan persepsi: merasa cukup dengan obat sendiri atau tukang gigi, serta tidak merasa ada masalah karena tidak nyeri.

Hambatan persepsi paling mungkin diatasi lewat edukasi di layanan primer. Karies dapat berkembang tanpa keluhan nyeri, sehingga orang tua sering baru mencari pertolongan ketika kerusakan sudah lanjut.

Biaya dan ketimpangan akses

Indonesia termasuk negara dengan total pengeluaran perawatan gigi tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. (4) Secara global, WHO mencatat bahwa perawatan gigi masih banyak dibayar langsung oleh pasien. Beban penyakit gigi dan mulut juga lebih tinggi pada kelompok yang rentan dan kurang beruntung. (1)

Apakah Karies Berdampak pada Kualitas Hidup Anak?

Ya, karies berhubungan dengan kualitas hidup anak yang lebih rendah. Studi potong lintang pada anak usia sekolah dasar di Indonesia menemukan hubungan bermakna antara karies gigi dan kualitas hidup (p<0,001). (5) Desain potong lintang hanya menunjukkan hubungan pada satu waktu, sehingga arah sebab-akibatnya belum dapat dipastikan dari studi ini.

Apa yang Dapat Dilakukan di Layanan Primer?

WHO menekankan integrasi layanan kesehatan gigi dan mulut ke dalam pelayanan kesehatan primer sebagai bagian dari cakupan kesehatan semesta. (1) Di tingkat praktik, beberapa langkah berikut sejalan dengan celah yang terlihat pada data SKI 2023:

  1. Tanyakan kebiasaan menyikat gigi secara spesifik. Jangan berhenti pada pertanyaan “apakah anak menyikat gigi setiap hari?”. Tanyakan juga waktunya, karena kebiasaan menyikat pada waktu yang benar masih jarang. (4)
  2. Beri perhatian khusus pada anak balita dan prasekolah. Kelompok umur 3–4 tahun dan 5 tahun masih berada pada kategori DMF-T tinggi hingga sangat tinggi. (4)
  3. Jangan menunggu keluhan nyeri. Sebagian masyarakat tidak berobat karena tidak merasa sakit gigi. (4) Pemeriksaan mulut sederhana saat kunjungan rutin dapat membantu menemukan masalah lebih awal.
  4. Rujuk ke tenaga kesehatan gigi bila ditemukan karies. Hanya sebagian kecil penduduk dengan masalah gigi yang mendapat perawatan dari tenaga kesehatan gigi. (4)

Kesimpulan

Karies tetap menjadi masalah kesehatan anak yang besar, baik secara global maupun di Indonesia. (1,3,4) Data SKI 2023 menunjukkan bahwa masalah utamanya terletak pada kesenjangan: menyikat gigi setiap hari sudah umum, tetapi menyikat pada waktu yang benar masih jarang, dan sebagian besar orang dengan masalah gigi tidak mendapat perawatan dari tenaga kesehatan gigi. (4) Bagi dokter dan tenaga kesehatan, edukasi yang spesifik tentang waktu menyikat gigi, pemeriksaan mulut tanpa menunggu keluhan, dan rujukan yang tepat waktu adalah langkah yang dapat langsung diterapkan.

FAQ

Apa yang dimaksud dengan indeks DMF-T?

DMF-T adalah indeks yang menghitung jumlah gigi yang berlubang (decayed), hilang (missing), dan ditambal (filled). SKI 2023 menggunakan indeks ini untuk menilai status karies melalui pemeriksaan gigi. (4)

Apakah menyikat gigi setiap hari sudah cukup untuk mencegah karies?

Frekuensi saja belum cukup; waktunya juga perlu diperhatikan. SKI 2023 mendefinisikan waktu menyikat yang benar sebagai dua kali sehari, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Hanya 6,2% penduduk yang melakukannya. (4)

Berapa prevalensi karies pada anak di seluruh dunia?

Meta-analisis dari 164 artikel memperkirakan prevalensi karies gigi sulung sebesar 46,2% dan karies gigi permanen sebesar 53,8% pada anak. Angka ini bervariasi antarbenua. (3)

Mengapa banyak orang dengan masalah gigi tidak berobat?

Alasan yang dilaporkan dalam SKI 2023 antara lain waktu tunggu yang lama, mengobati sendiri, berobat ke tukang gigi, tidak memiliki biaya, dan tidak merasa sakit gigi. (4)

Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. WHO highlights oral health neglect affecting nearly half of the world’s population [Internet]. Geneva: WHO; 2022 Nov 18 [dikutip 2026 Okt 12]. Tersedia dari: https://www.who.int/news/item/18-11-2022-who-highlights-oral-health-neglect-affecting-nearly-half-of-the-world-s-population
  2. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan Tematik SKI [Internet]. Jakarta: BKPK Kemenkes; 2024 [dikutip 2026 Okt 12]. Tersedia dari: https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/laporan-tematik-ski/
  3. Kazeminia M, et al. Dental caries in primary and permanent teeth in children’s worldwide, 1995 to 2019: a systematic review and meta-analysis. Head Face Med. 2020;16:22. doi:10.1186/s13005-020-00237-z
  4. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kesehatan Gigi dan Mulut di Indonesia: Hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 [factsheet]. Jakarta: BKPK Kemenkes; [tahun terbit perlu dilengkapi]. Tersedia dari: https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/5534/1/04%20factsheet%20Gilut_bahasa.pdf
  5. [Penulis perlu dilengkapi]. Hubungan karies gigi dengan kualitas hidup pada anak usia sekolah dasar: studi cross-sectional. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran. [Tahun perlu dilengkapi]. Tersedia dari: https://jurnal.unpad.ac.id/jkg/article/view/60135



Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan