Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Kualitas Udara Memburuk, Benarkah Risiko ISPA Meningkat?

28 Agustus 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Kualitas Udara Memburuk, Benarkah Risiko ISPA Meningkat?

"Bukti ilmiah mengonfirmasi bahwa memburuknya kualitas udara , terutama peningkatan konsentrasi PM2.5 akibat aktivitas perkotaan dan kebakaran hutan , berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Partikel polutan merusak mekanisme pertahanan epitel saluran napas sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi virus dan bakteri, khususnya pada anak-anak, lansia, dan kelompok dengan komorbiditas."

Pendahuluan

Kualitas udara di sejumlah kota besar Indonesia, termasuk Jakarta, kembali menunjukkan tren perburukan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini relevan bagi praktik klinis sehari-hari karena polusi udara bukan sekadar isu lingkungan, melainkan faktor risiko yang secara langsung memengaruhi angka kunjungan pasien dengan keluhan respiratorik. Artikel ini membahas dasar ilmiah hubungan antara penurunan kualitas udara dan peningkatan risiko ISPA, serta implikasinya bagi tenaga kesehatan dalam edukasi dan penatalaksanaan pasien.

Kualitas Udara Memburuk, Benarkah Risiko ISPA Meningkat?

Data kualitas udara terkini menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 di Jakarta mencapai 59,5 mikrogram per meter kubik, atau 11,9 kali lipat di atas ambang batas tahunan yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan indeks kualitas udara berada pada angka 154 yang tergolong tidak sehat. (1) Paparan berkepanjangan terhadap konsentrasi PM2.5 setinggi ini dikaitkan dengan risiko kesehatan serius, terutama pada individu dengan gangguan jantung atau paru kronis. (1) Temuan ini konsisten dengan kajian ilmiah yang menunjukkan bahwa peningkatan kadar polutan udara secara global berkontribusi terhadap peningkatan kejadian infeksi saluran pernapasan sebagai salah satu penyebab utama kematian dini. (2)

Bagaimana Polusi Udara Meningkatkan Kerentanan terhadap ISPA?

Mekanisme utamanya berpusat pada gangguan fungsi epitel saluran napas. Paparan polutan udara memicu inflamasi, stres oksidatif, dan imunosupresi pada sel-sel di sepanjang saluran pernapasan, yang pada akhirnya melemahkan fungsi organ paru dan jantung. (3) Partikel halus, karena ukurannya yang sangat kecil, mampu menembus ke dalam aliran darah melalui paru dan bersirkulasi ke seluruh tubuh, menimbulkan inflamasi sistemik. (3) Paparan jangka pendek terhadap konsentrasi partikulat tinggi dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, infeksi saluran napas, serta memperberat asma, sementara paparan kronis meningkatkan risiko penyakit dengan onset lebih panjang seperti penyakit paru obstruktif kronik dan pneumonia. (3) Kajian tinjauan sistematis terbaru turut menegaskan bahwa peningkatan polusi udara global berkontribusi terhadap sekitar tujuh juta kematian dini setiap tahun, dengan sebagian besar terkait peningkatan insiden infeksi saluran pernapasan. (2)

Bencana Alam, Kebakaran Hutan, dan Beban ISPA di Indonesia

Konteks Indonesia memiliki kekhususan karena kebakaran hutan dan erupsi gunung berapi menjadi sumber tambahan pencemaran udara yang berulang setiap tahun. Sebuah tinjauan sistematis terhadap studi mengenai bencana alam menemukan bahwa kebakaran hutan dan erupsi vulkanik meningkatkan konsentrasi partikulat hingga 10–70 mikrogram per meter kubik, jauh melampaui kadar udara yang dapat ditoleransi. (4) Peningkatan kadar polutan tersebut secara konsisten berkaitan dengan peningkatan angka rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan akut, pneumonia, bronkitis, dan bronkiolitis, meskipun hasil untuk infeksi saluran napas atas menunjukkan variasi antarstudi. (4) Tinjauan ini menyimpulkan bahwa bencana alam meningkatkan kadar polusi udara ambien hingga melampaui pedoman kualitas udara WHO, dan polusi udara berperan penting dalam kejadian infeksi saluran pernapasan, terutama pada populasi dengan paparan tinggi. (4)

Kelompok yang Paling Berisiko

Tidak semua individu memiliki kerentanan yang sama terhadap dampak respiratorik polusi udara. Kelompok berikut memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polutan udara:

  • Anak-anak, karena sistem pernapasan dan imun yang masih berkembang. (3)

  • Lansia, akibat penurunan cadangan fungsi kardiorespirasi. (3)

  • Ibu hamil, mengingat paparan polusi udara berkaitan dengan luaran kehamilan yang merugikan seperti berat badan lahir rendah dan kelahiran prematur. (3)

  • Individu dengan komorbiditas jantung atau paru kronis. (1)

Implikasi Praktis bagi Tenaga Kesehatan

Pada praktik klinis, temuan ini memperkuat perlunya kewaspadaan terhadap peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan respiratorik saat indeks kualitas udara memburuk, khususnya pada anak dan lansia. Edukasi pasien dapat mencakup penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan pada hari-hari dengan kualitas udara buruk, serta pembatasan aktivitas luar ruangan bagi kelompok rentan. Mengingat bahwa untuk sebagian polutan tidak terdapat ambang batas aman yang benar-benar bebas efek merugikan, kewaspadaan klinis sebaiknya tetap diterapkan bahkan pada tingkat paparan yang tergolong moderat. (3)

FAQ

Apakah semua jenis polusi udara berdampak sama terhadap risiko ISPA?

Dampak kesehatan bergantung pada jenis, sumber, dan konsentrasi polutan dalam campuran udara yang terpapar ke individu. (3) Meski demikian, jalur risiko dan patofisiologi antara polusi udara ambien (luar ruangan) dan polusi udara dalam ruangan pada umumnya serupa karena kemiripan komposisi partikulatnya, dengan PM2.5 sebagai polutan kritis pada kedua jenis paparan tersebut. (3)

Apakah dampak polusi udara terhadap ISPA bersifat langsung atau memerlukan paparan jangka panjang?

Keduanya dapat terjadi. Paparan jangka pendek terhadap kadar partikulat tinggi sudah dapat menimbulkan penurunan fungsi paru dan infeksi saluran napas akut, sementara paparan jangka panjang meningkatkan risiko penyakit respiratorik dan kardiovaskular dengan onset lebih lambat. (3)

Mengapa kebakaran hutan menjadi perhatian khusus di Indonesia terkait ISPA?

Kebakaran hutan meningkatkan konsentrasi partikulat udara secara tajam dalam waktu singkat, dan bukti dari tinjauan sistematis pada konteks bencana alam menunjukkan hubungan konsisten antara peningkatan kadar polutan akibat kebakaran hutan dengan peningkatan rawat inap akibat infeksi saluran pernapasan akut, pneumonia, bronkitis, dan bronkiolitis. (4)

Kesimpulan

Bukti dari data kualitas udara terkini dan kajian ilmiah yang tersedia secara konsisten mendukung bahwa memburuknya kualitas udara meningkatkan risiko ISPA, melalui mekanisme kerusakan epitel saluran napas, inflamasi, dan imunosupresi. Bagi tenaga kesehatan, temuan ini menjadi dasar penting untuk meningkatkan kewaspadaan klinis terhadap lonjakan kasus respiratorik saat indeks kualitas udara memburuk, serta memperkuat edukasi pencegahan bagi kelompok rentan seperti anak, lansia, ibu hamil, dan pasien dengan komorbiditas kardiorespirasi.

Daftar Pustaka

  1. Jakarta air pollution worsens as PM2.5 hits 11.9 times WHO guideline [Internet]. Jakarta Globe. 2026 [cited 2026 Aug 26]. Available from: https://jakartaglobe.id/news/jakarta-air-pollution-worsens-as-pm25-hits-119-times-who-guideline

  2. Monoson A, Schott E, Ard K, Kilburg-Basnyat B, Tighe RM, Pannu S, Gowdy KM. Air pollution and respiratory infections: the past, present, and future. Toxicol Sci. 2023 Mar 20;192(1):3-14. doi: 10.1093/toxsci/kfad003. PMID: 36622042; PMCID: PMC10025881.

  3. World Health Organization. Health impacts [Internet]. Geneva: WHO [cited 2026 Aug 26]. Available from: https://www.who.int/teams/environment-climate-change-and-health/air-quality-energy-and-health/health-impacts

  4. Burhan E, Mukminin U. A systematic review of respiratory infection due to air pollution during natural disasters. Med J Indones. 2020;29(1):11-8. Available from: https://mji.ui.ac.id/journal/index.php/mji/article/view/4390

Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan