Edukasi
Karhutla Belum Selesai, Lindungi Bayi dan Balita dari Asap Dengan Cara Berikut
22 Oktober 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

"Bayi dan anak di bawah dua tahun tidak boleh memakai masker, sehingga perlindungan dari asap karhutla bergantung pada udara dalam ruangan. Dokter perlu membekali orang tua dengan langkah menyiapkan ruang bersih, penggunaan penyaring HEPA, kriteria mengungsi, serta tanda bahaya pada bayi yang sering terlewat, seperti napas cepat dan sulit menyusu."
Musim kemarau 2026 diwarnai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas, dengan tujuh provinsi di Sumatra dan Kalimantan terdampak paling berat hingga Agustus. Kabut asapnya memicu lonjakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan Kalimantan Barat saja mencatat 165.747 kasus sejak 1 Januari hingga awal Agustus 2026. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kemudian menginstruksikan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak untuk memberi pelindungan ekstra bagi kelompok rentan, dengan anak disebut sebagai kelompok paling berisiko karena paru dan sistem kognitifnya masih berkembang. (1)
Asap tidak hanya terbatas di Sumatra dan Kalimantan. BMKG Wilayah V Jayapura mendeteksi 1.689 titik panas di enam provinsi Tanah Papua dalam 24 jam pada akhir Agustus 2026, terbanyak di Kabupaten Merauke (391), Mappi (275), dan Fakfak (159), disertai peringatan risiko ISPA. (2) Pada Oktober, kabut asap membuat kadar PM2,5 di Kota Sorong, Papua Barat Daya, masuk kategori tidak sehat. Kasus ISPA di kota tersebut mencapai 23.482 sepanjang Januari hingga September 2026, lebih tinggi dibanding 21.882 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya. Merujuk surat edaran IDAI Cabang Papua Barat, Pemerintah Kota Sorong memperpanjang kebijakan belajar dari rumah bagi seluruh jenjang, termasuk PAUD dan TK, mulai 12 Oktober 2026 hingga pemberitahuan lebih lanjut. (3)
Strategi pencegahan primer yang dianjurkan Kemenkes mencakup pengurangan aktivitas di luar ruangan, penutupan sirkulasi udara luar, penggunaan penyaring udara di dalam ruangan, dan pemakaian masker respirator seperti N95. (1) Poin terakhir tidak berlaku untuk bayi dan anak di bawah dua tahun, yang tidak boleh memakai masker. (4) Akibatnya, perlindungan kelompok usia ini hampir sepenuhnya bergantung pada kualitas udara di sekitar mereka, dan orang tua membutuhkan panduan yang lebih spesifik dari dokter.
Mengapa Bayi dan Balita Lebih Rentan terhadap Asap
Anak lebih rentan terhadap asap kebakaran hutan karena alasan fisiologis maupun perilaku. Bukti dampaknya paling kuat untuk luaran pernapasan, ditopang literatur yang lebih mapan tentang komponen polusi udara yang juga terdapat dalam asap kebakaran. (5) Paru anak juga masih tumbuh dan berkembang, sehingga partikel halus PM2,5 dalam asap menjadi ancaman yang lebih besar bagi mereka. (6)
Asap karhutla membawa campuran polutan, yaitu PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan senyawa organik beracun, yang dapat menembus sistem pernapasan hingga peredaran darah. (1) Dalam jangka pendek, anak yang menghirup asap dapat mengalami batuk, mengi, sesak napas, nyeri atau rasa tertekan di dada, rasa terbakar di hidung, tenggorokan, dan mata, serta pusing. Paparan juga dapat berdampak jangka panjang. Risikonya lebih tinggi pada anak dengan asma, alergi, atau penyakit kronis, dan bencana seperti karhutla juga dapat menimbulkan stres serta gangguan kesehatan mental pada anak. (6) Pada bayi, dampak dapat bermula sejak dalam kandungan, karena paparan asap kebakaran hutan selama kehamilan dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur atau berukuran kecil. (4)
Data klinis menunjukkan asap kebakaran hutan tidak setara dengan polusi udara biasa. Analisis kunjungan instalasi gawat darurat dan urgent care anak di San Diego, Amerika Serikat, periode 2011 hingga 2017 menemukan bahwa kenaikan 10 µg/m³ PM2,5 yang berasal dari asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan kunjungan karena keluhan pernapasan sekitar 30%. Untuk PM2,5 dari sumber lain, peningkatannya hanya 3,7%, dan kelompok usia 0 hingga 5 tahun menyumbang tambahan kunjungan harian terbanyak. (7)
Masker Bukan Solusi untuk Anak di Bawah Dua Tahun
Panduan Western States Pediatric Environmental Health Specialty Unit (PEHSU) menegaskan bahwa masker tidak digunakan pada anak di bawah dua tahun. Masker hanya dipakai anak yang sudah mampu menyampaikan rasa tidak nyaman, dan tidak boleh dipakai bila anak berisiko tersedak atau terjerat oleh masker tersebut. (4) Pada anak yang lebih besar pun, perlindungannya terbatas: masker bedah diperkirakan menurunkan paparan sekitar 20%, sedangkan respirator N95 sekitar 80%. (5) Masker kain umumnya tidak mengurangi paparan asap. (4) EPA juga mengingatkan bahwa masker, termasuk N95, tidak dirancang untuk ukuran wajah anak. (6)
Pesan untuk orang tua bayi menjadi sederhana: fokuskan upaya pada udara di dalam rumah, bukan pada masker.
Menyiapkan Ruang Udara Bersih di Rumah
Strategi utamanya adalah menyiapkan satu ruang udara bersih tempat bayi tidur dan bermain. Ruangan yang paling lama ditempati bayi, biasanya kamar tidur, menjadi pilihan paling masuk akal. Beberapa langkah yang dapat disampaikan kepada orang tua:
• Tutup pintu dan jendela, lalu jalankan penyaring udara portabel secara terus-menerus. (6)
• Pilih penyaring berfilter HEPA dengan kapasitas yang mampu menyaring dua hingga tiga kali volume udara ruangan per jam. (6)
• Bila menggunakan AC, atur pada mode sirkulasi ulang dan tutup saluran udara luar. Bila penyaring udara portabel tidak tersedia, penyaring udara rakitan (DIY air cleaner) dapat menjadi alternatif. (6)
• Hindari aktivitas yang menambah polutan dalam ruangan, seperti menggoreng, menyapu, menyedot debu, membersihkan dengan bahan kimia, serta membakar apa pun, termasuk rokok, lilin, dan dupa. (6) Dalam konteks rumah tangga Indonesia, obat nyamuk bakar termasuk sumber asap yang perlu dihentikan selama musim asap.
• Jangan gunakan ozone generator yang kerap dipasarkan sebagai pemurni udara, karena alat ini mengiritasi saluran napas dan tidak efektif menyaring partikel. (6)
• Jaga ruangan tetap sejuk dengan AC, kipas, atau tirai selama jendela tertutup. (6)
Kapan Menyarankan Keluarga Mengungsi
Ruangan tertutup di iklim tropis cepat menjadi panas dan pengap. EPA menyarankan keluarga mencari tempat berlindung lain bila ruangan terlalu panas atau sulit untuk bernapas saat jendela ditutup. (6) Kemenkes juga menyiagakan Rumah Oksigen di sejumlah titik terdampak, yaitu ruangan kedap asap yang dilengkapi penyaring udara dan oksigen konsentrator. (1)
Dalam praktik, saran untuk pindah sementara layak dipertimbangkan bila rumah tidak dapat dibuat bebas asap, ruang bersih tidak dapat dijaga tetap sejuk, atau bayi mulai bergejala meski sudah berada di dalam rumah. Anak dengan asma, alergi, atau penyakit kronis lain perlu diprioritaskan karena asap lebih berbahaya bagi mereka. (6)
Tanda Bahaya pada Bayi yang Mudah Terlewat
Banyak gejala paparan asap pada anak, seperti nyeri dan rasa sesak di dada, rasa terbakar di hidung, tenggorokan, dan mata, serta pusing, merupakan keluhan yang harus diucapkan. (6) Bayi tidak dapat menyampaikannya, sehingga orang tua perlu diajari mengamati tanda objektif alih-alih menunggu keluhan.
WHO menetapkan napas cepat atau tarikan dinding dada bagian bawah saat inspirasi sebagai dasar diagnosis pneumonia pada anak di bawah lima tahun yang batuk atau sulit bernapas. Mengi lebih sering ditemukan pada infeksi virus. Pada bayi yang sakit sangat berat, tanda yang muncul dapat berupa tidak mampu menyusu atau minum, penurunan kesadaran, hipotermia, dan kejang. (8)
Dua tanda layak mendapat penekanan dalam konseling. Pertama, penurunan kemampuan menyusu dapat disalahartikan sebagai rewel biasa. Kedua, hipotermia mudah terlewat karena orang tua umumnya hanya mewaspadai demam. Ajarkan orang tua menghitung napas saat bayi tenang dan melihat dada bayi tanpa baju untuk menilai tarikan dinding dada.
Ringkasan Poin Konseling untuk Orang Tua
• Jangan pakaikan masker pada anak di bawah dua tahun.
• Siapkan satu ruang bersih dengan pintu dan jendela tertutup serta penyaring udara HEPA yang menyala terus.
• Hentikan sumber asap di dalam rumah, termasuk rokok dan obat nyamuk bakar.
• Pantau ISPU dan batasi waktu anak di luar ruangan.
• Pindah sementara bila ruangan tidak bisa dijaga bebas asap dan tetap sejuk.
• Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan bila napasnya cepat, tampak tarikan dinding dada, tidak mampu menyusu, lemas atau sulit dibangunkan, teraba dingin, atau kejang.
Kabut asap karhutla cenderung berulang pada musim kemarau. Konseling yang konkret sejak kunjungan pertama membantu orang tua melindungi kelompok yang paling tidak mampu melindungi dirinya sendiri.
FAQ
Apakah bayi boleh memakai masker saat ada kabut asap?
Tidak. Masker tidak digunakan pada anak di bawah dua tahun karena risiko tersedak dan karena anak belum mampu menyampaikan rasa tidak nyaman. Perlindungan bayi bertumpu pada udara bersih di dalam ruangan. (4)
Apakah masker kain atau masker medis cukup untuk balita di atas dua tahun?
Masker kain umumnya tidak mengurangi paparan asap. (4) Masker bedah menurunkan paparan sekitar 20%, sedangkan N95 sekitar 80% bila pas di wajah. (5) Masker sebaiknya hanya menjadi pelengkap untuk keperluan singkat di luar ruangan.
Berapa kapasitas penyaring udara yang dibutuhkan untuk kamar bayi?
Penyaring udara berfilter HEPA sebaiknya mampu menyaring dua hingga tiga kali volume udara ruangan per jam dan dinyalakan terus dengan pintu serta jendela tertutup. (6)
Kapan bayi yang terpapar asap harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan?
Segera bawa bayi bila tampak napas cepat, tarikan dinding dada bagian bawah, tidak mampu menyusu atau minum, penurunan kesadaran, suhu tubuh dingin, atau kejang. (8)
Daftar Pustaka
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes perkuat perlindungan kelompok rentan hadapi karhutla [Internet]. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2026 Aug 26 [cited 2026 Oct 15]. Available from: https://kemkes.go.id/id/kemenkes-perkuat-perlindungan-kelompok-rentan-hadapi-karhutla
2. Sari LD. BMKG deteksi 1.689 titik panas di 6 provinsi Papua [Internet]. Jakarta: Metro TV; 2026 Aug 26 [cited 2026 Oct 15]. Available from: https://www.metrotvnews.com/read/bzGCe6J3-bmkg-deteksi-1-689-titik-panas-di-6-provinsi-papua
3. ANTARA. Pemkot Sorong perpanjang kebijakan belajar dari rumah akibat kabut asap [Internet]. Sorong: ANTARA News Papua Tengah; 2026 Oct 11 [cited 2026 Oct 15]. Available from: https://papuatengah.antaranews.com/berita/90273/pemkot-sorong-perpanjang-kebijakan-belajar-dari-rumah-akibat-kabut-asap
4. Western States Pediatric Environmental Health Specialty Unit. Masks to protect from wildfire smoke during pregnancy or early child years [Internet]. San Francisco: Western States PEHSU; 2020 [updated 2022 Jun 3; cited 2026 Oct 15]. Available from: https://wspehsu.ucsf.edu/wp-content/uploads/2025/02/mask-or-respirator-use-during-pregnancy-and-early-child-years-in-wildfire-smoke-events_2_5_25.pdf
5. Holm SM, Miller MD, Balmes JR. Health effects of wildfire smoke in children and public health tools: a narrative review. J Expo Sci Environ Epidemiol. 2021;31(1):1-20.
6. U.S. Environmental Protection Agency. Protect children from wildfires, smoke, and volcanic ash [Internet]. Washington (DC): EPA; 2020 [updated 2026 May 22; cited 2026 Oct 15]. Available from: https://www.epa.gov/children/protect-children-wildfires-smoke-and-volcanic-ash
7. Aguilera R, Corringham T, Gershunov A, Leibel S, Benmarhnia T. Fine particles in wildfire smoke and pediatric respiratory health in California. Pediatrics. 2021;147(6):e2020027128.
8. World Health Organization. Pneumonia in children [Internet]. Geneva: WHO; 2022 Nov 11 [cited 2026 Oct 15]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/pneumonia




