Edukasi
Kapan Perlu Mencurigai Infeksi Bakteri Sekunder pada Anak dengan Influenza?
25 September 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

“Infeksi bakteri sekunder pada anak dengan influenza paling perlu dicurigai saat gejala sempat membaik lalu memburuk kembali, disertai demam tinggi, sesak napas, atau nyeri dada. Demam yang menetap lebih dari 3–5 hari meski sudah diberikan obat antiviral juga menjadi sinyal penting. Pengenalan pola ini menentukan kapan antibiotik benar-benar diperlukan.”
Influenza pada anak umumnya bersifat self-limiting dan cukup ditangani dengan terapi suportif; antiviral bisa diberikan sesuai indikasi. Namun, infeksi bakteri sekunder perlu dicurigai jika anak sempat membaik kembali mengalami demam, batuk yang memburuk, sesak napas, atau nyeri dada. Demam yang menetap meski sudah mendapat antiviral atau gejala berat sejak awal juga perlu diwaspadai. Jika terbukti disebabkan oleh bakteri, terapi suportif atau antiviral saja tidak memadai dan antibiotik perlu diberikan sesuai indikasi. (1)
Mengapa Infeksi Virus Influenza Bisa Diikuti Infeksi Bakteri?
Infeksi influenza dapat merusak epitel saluran napas dan mengganggu mekanisme pertahanan mukosiliar. Kerusakan ini menciptakan kondisi yang memudahkan bakteri menempel dan berkembang biak di saluran napas yang sebelumnya steril. Literatur terbaru mengenai infeksi bakteri sekunder pasca-influenza A menjelaskan bahwa perubahan pada epitel saluran napas dan respons imun turut berkontribusi terhadap kerentanan ini. (6)
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa infeksi bakteri sekunder umumnya muncul setelah, bukan bersamaan dengan, gejala influenza awal. Pola waktu inilah yang mendasari istilah "membaik lalu memburuk" pada perjalanan klinis anak dengan komplikasi ini.
Pola "Membaik Lalu Memburuk" sebagai Sinyal Klinis Utama
Infectious Diseases Society of America (IDSA) merekomendasikan agar klinisi mempertimbangkan adanya koinfeksi bakteri pada pasien influenza yang tidak membaik setelah 3–5 hari terapi antiviral. (1) Pola klinis ini menjadi salah satu penanda paling praktis di layanan sehari-hari, karena tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium khusus untuk mulai dicurigai.
IDSA juga merekomendasikan investigasi dan terapi empiris terhadap koinfeksi bakteri pada pasien dengan gejala berat, seperti pneumonia luas, gagal napas, hipotensi, atau demam tinggi yang menetap. (1) Kedua kriteria ini, perburukan setelah perbaikan awal dan gejala berat sejak presentasi, menjadi dasar keputusan untuk mencari sumber infeksi bakteri.
Tanda dan Gejala yang Perlu Meningkatkan Kecurigaan
Sebuah studi kohort retrospektif pada anak dengan pneumonia berat akibat influenza menemukan bahwa anak dengan koinfeksi bakteri cenderung lebih muda dan lebih sering memiliki penyakit dasar dibandingkan anak tanpa koinfeksi. (2) Anak dengan koinfeksi bakteri juga lebih sering mengalami demam yang berlangsung tujuh hari atau lebih, disertai napas terengah-engah (gasping) serta kejang atau penurunan kesadaran. (2)
Beberapa tanda yang sebaiknya meningkatkan kewaspadaan klinis:
- Demam berlangsung tujuh hari atau lebih, bukan membaik dalam beberapa hari pertama. (2)
- Napas terengah-engah atau tanda distres napas berat. (2)
- Kejang atau penurunan kesadaran yang muncul di tengah perjalanan penyakit. (2)
- Usia lebih muda disertai penyakit dasar seperti penyakit jantung, paru, atau kondisi kronis lain. (2)
- Gejala berat sejak awal, termasuk gagal napas atau hipotensi. (1)
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) turut mencantumkan pneumonia bakteri sekunder sebagai komplikasi influenza yang diakui, bersama otitis media, kejang demam, dan ensefalopati, dengan komplikasi ini lebih sering ditemukan pada anak. (5)
Kapan Antibiotik Dipertimbangkan pada Anak dengan Influenza?
Antibiotik tidak diperlukan pada influenza murni. Demam, nyeri otot, batuk, dan kelelahan pada influenza tanpa komplikasi tidak membaik dengan antibiotik, karena penyebabnya adalah virus, bukan bakteri. Pemberian antibiotik yang tidak diperlukan berisiko menimbulkan efek samping, seperti diare berat, serta mendorong resistensi antibiotik yang dapat merugikan pasien di kemudian hari bila benar-benar mengalami infeksi bakteri.
Antibiotik dipertimbangkan hanya jika muncul tanda infeksi bakteri sekunder sebagai komplikasi influenza, seperti pneumonia bakteri, sinusitis berat, atau infeksi telinga. Tanda lain yang memerlukan evaluasi lebih lanjut adalah perbaikan awal yang diikuti perburukan mendadak, disertai demam tinggi, sesak napas, atau nyeri dada tajam. Pada anak yang dirawat inap karena influenza berat, klinisi juga perlu mencari bukti koinfeksi bakteri sebelum memutuskan terapi antibiotik empiris. (1)
Selama tidak ada tanda-tanda tersebut, tata laksana influenza tanpa komplikasi tetap berupa istirahat, cairan yang cukup, serta obat penurun demam seperti parasetamol. Pemberian antiviral dalam 48 jam pertama gejala dapat didiskusikan sesuai kondisi klinis pasien.
Apa yang Perlu Dilakukan Dokter Saat Mencurigai Infeksi Bakteri Sekunder?
Begitu kecurigaan muncul, dokter perlu menilai ulang riwayat perjalanan penyakit, termasuk pola demam sejak awal, ada tidaknya fase perbaikan, dan waktu munculnya gejala baru. Pemeriksaan fisik diarahkan untuk mencari tanda distres napas, auskultasi paru, serta status kesadaran anak. Pada anak dengan komorbiditas, ambang kecurigaan sebaiknya lebih rendah mengingat kelompok ini lebih berisiko mengalami luaran yang lebih buruk. (4)
Kesimpulan
Infeksi bakteri sekunder pada anak dengan influenza paling perlu dicurigai ketika muncul pola perbaikan yang diikuti perburukan, demam yang menetap lebih dari 3–5 hari, atau gejala berat sejak awal seperti gagal napas dan hipotensi. (1) Demam berkepanjangan, napas terengah-engah, dan penurunan kesadaran menjadi tanda tambahan yang perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama pada anak yang lebih muda atau memiliki komorbiditas. (2,4) Antibiotik hanya diperlukan saat tanda-tanda ini muncul, bukan pada influenza tanpa komplikasi.
FAQ
Apakah anak dengan influenza yang sempat membaik lalu demam lagi, pasti mengalami infeksi bakteri sekunder?
Tidak selalu, tetapi pola ini merupakan salah satu tanda yang perlu dievaluasi lebih lanjut. IDSA merekomendasikan kecurigaan koinfeksi bakteri ketika pasien tidak membaik setelah 3–5 hari terapi antiviral. (1) Evaluasi klinis lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
Apakah semua anak dengan influenza berisiko sama mengalami infeksi bakteri sekunder?
Tidak. Anak yang lebih kecil dan anak dengan penyakit komorbid lebih berisiko mengalami koinfeksi bakteri berdasarkan studi kohort pada pneumonia berat akibat influenza. (2) Komorbiditas juga dikaitkan dengan luaran yang lebih buruk pada anak yang dirawat karena influenza. (4)
Apakah pneumonia bakteri satu-satunya komplikasi bakteri yang perlu diwaspadai pada influenza anak?
Tidak. CDC mencantumkan pneumonia bakteri sekunder sebagai salah satu komplikasi influenza, bersama otitis media, kejang demam, dan ensefalopati, yang lebih sering terjadi pada anak. (5)
Apakah antibiotik boleh diberikan sejak awal untuk mencegah infeksi bakteri sekunder pada anak dengan influenza?
Tidak. Antibiotik tidak mencegah maupun mempercepat penyembuhan influenza murni, dan pemberian tanpa indikasi berisiko menimbulkan efek samping serta resistensi antibiotik. Antibiotik hanya dipertimbangkan ketika ada bukti atau kecurigaan kuat infeksi bakteri sekunder. (1)
Daftar Pustaka
- Uyeki TM, Bernstein HH, Bradley JS, et al. Clinical Practice Guidelines by the Infectious Diseases Society of America: 2018 Update on Diagnosis, Treatment, Chemoprophylaxis, and Institutional Outbreak Management of Seasonal Influenza. Clin Infect Dis. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6769232/
- Clinical characteristics of severe influenza-associated pneumonia complicated with bacterial infection in children. BMC Infect Dis. 2023. Available from: https://link.springer.com/article/10.1186/s12879-023-08536-x
- Secondary Bacterial Pneumonia in Pediatrics with Influenza and COVID-19. Arch Pediatr Infect Dis. 2025. Available from: https://brieflands.com/journals/apid/articles/157948
- Characteristics and outcomes of hospital admission from influenza in children under 5. J Trop Pediatr. 2022;68(4):fmac049. Available from: https://academic.oup.com/tropej/article/68/4/fmac049/6617964
- Centers for Disease Control and Prevention. Manual for the Surveillance of Vaccine-Preventable Diseases — Chapter 6: Influenza. Available from: https://www.cdc.gov/surv-manual/php/table-of-contents/chapter-6-influenza.html
- Seo JH, Seo YJ, Ryu HY, Shin M, Lee CY. Current insights into bacterial secondary infection following influenza A virus infection. Front Microbiol. 2026 May 25;17:1851115. PMID: 42267108; PMCID: PMC13243100.




