Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Event

Dermatitis Atopik Anak Sering Kambuh: Mengapa Perawatan Skin Barrier Tidak Boleh Disepelekan

28 September 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Dermatitis Atopik Anak Sering Kambuh: Mengapa Perawatan Skin Barrier Tidak Boleh Disepelekan

"Dermatitis atopik anak dapat kembali kambuh meski ruam telah membaik. Dalam webinar PrimaPro terbaru, dr. Catharina Sagita Moniaga membahas peran filagrin, ceramide, dan emolien dalam menjaga skin barrier, atau sawar kulit. Diskusi juga menyoroti perawatan saat lesi mereda, tantangan di layanan primer, serta pentingnya edukasi orang tua agar perawatan berlangsung konsisten di rumah sehari-hari."


Jakarta, 24 September 2026 — Pada anak dengan dermatitis atopik, ruam yang tampak membaik belum tentu berarti masalahnya selesai. Kulit dapat kembali kering dan gatal, lalu anak menggaruk hingga lesi muncul lagi. Siklus inilah yang menjadi salah satu tantangan utama dalam perawatan sehari-hari: bagaimana meredakan peradangan sekaligus menjaga kulit agar tidak mudah mengalami kekambuhan.

Persoalan tersebut dibahas dalam webinar PrimaPro bertajuk “Maintaining the Skin Barrier in Children with Atopic Dermatitis (AD): The Role of Filaggrin, Ceramides, and AD-Resyl”. Webinar yang berlangsung secara daring pada Kamis, 24 September 2026, ini menghadirkan dr. Catharina Sagita Moniaga, M.Kes., Sp.D.V.E., Ph.D. sebagai narasumber. 

Mengapa Dermatitis Atopik Anak Sering Kambuh?

Dermatitis atopik merupakan penyakit kulit inflamasi kronis dengan perjalanan yang kambuh dan mereda. Keluhan gatal sering menjadi hal yang paling mengganggu anak dan keluarganya, terutama ketika muncul pada malam hari. Dalam paparannya, dr. Catharina menjelaskan bahwa kondisi ini juga tidak selalu memiliki pola yang mudah diprediksi. Lokasi lesi, bentuk kelainan kulit, dan frekuensi kekambuhan dapat berbeda antar pasien.

Di balik keluhan yang terlihat, ada beberapa proses yang saling memengaruhi: gangguan skin barrier, atau yang juga disebut juga dengan sawar kulit, perubahan respons imun, serta ketidakseimbangan mikrobioma kulit. Ketika sawar kulit terganggu, kulit lebih mudah kehilangan air dan lebih rentan terhadap iritan. Rasa gatal mendorong anak menggaruk, sementara garukan dapat memperburuk kerusakan kulit dan peradangan.

Apa Peran Filagrin dan Ceramide pada Skin Barrier?

Dua komponen yang dibahas dalam webinar adalah filagrin dan ceramide. Filagrin merupakan protein yang berperan dalam pembentukan lapisan terluar kulit serta membantu mempertahankan kelembapannya. Ceramide adalah salah satu lipid utama di antara sel-sel lapisan kulit terluar. Bersama lipid lain, ceramide membantu membentuk susunan yang membatasi kehilangan air.

Gangguan pada filagrin dan berkurangnya lipid kulit dapat membuat kulit lebih kering serta lebih rentan terhadap iritasi. Dr. Catharina juga menjelaskan bahwa perubahan ini tidak hanya relevan pada area yang sedang beruam. Kulit yang tampak normal pun dapat memiliki fungsi sawar yang terganggu.

Penjelasan tersebut membantu menjawab pertanyaan yang kerap muncul di praktik: mengapa lesi dapat berpindah atau muncul kembali setelah area sebelumnya membaik? Perawatan kulit perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk pada masa tanpa lesi aktif.

Apakah Emolien Tetap Diperlukan Saat Ruam Sudah Hilang?

Salah satu pertanyaan peserta menyoroti apakah perawatan kulit perlu dibedakan ketika dermatitis atopik sedang kambuh dan ketika tidak ada lesi aktif. Menurut dr. Catharina, lesi yang aktif perlu dinilai derajat keparahannya untuk menentukan terapi yang sesuai, termasuk kebutuhan obat antiinflamasi topikal. Namun, perawatan dasar kulit tetap diperlukan pada kedua keadaan tersebut.

Ia juga menjelaskan mengapa emolien tidak hanya dioleskan pada area yang sedang beruam. Pada anak dengan dermatitis atopik, gangguan sawar kulit dapat ditemukan di luar lesi yang tampak. Area yang hari ini terlihat normal tetap dapat menjadi lokasi keluhan berikutnya. Karena itu, perhatian terhadap kelembapan kulit tidak berhenti ketika kemerahan menghilang.

Dalam materi webinar, emolien dijelaskan sebagai bagian dasar tata laksana dermatitis atopik. Formulasinya dapat bekerja melalui berbagai cara, seperti menarik air, mengurangi kehilangan air, atau membantu mengganti komponen lipid kulit. Dr. Catharina turut membahas perkembangan emollients plus, yaitu emolien dengan tambahan bahan non-obat yang ditujukan untuk mendukung fungsi sawar kulit.

Salah satu bahan yang dibahas adalah AD-Resyl, oligofruktan dari Ophiopogon japonicus. Materi presentasi memaparkan penelitian mengenai organisasi lipid dan hidrasi lapisan kulit setelah penggunaan formulasi yang mengandung bahan tersebut. Data tentang berkurangnya adhesi Staphylococcus aureus yang turut ditampilkan berasal dari penelitian in vitro; dampak klinisnya terhadap mikrobioma kulit belum diteliti. Pembedaan tingkat bukti ini penting ketika hasil penelitian diterjemahkan menjadi rekomendasi untuk pasien.

Jika Anak Tetap Kambuh Meski Sudah Diberi Salep, Apa yang Perlu Dievaluasi?

Sesi diskusi membawa pembahasan dari mekanisme penyakit ke kendala yang lebih dekat dengan praktik. Seorang dokter yang menangani anak dengan eksim di puskesmas bertanya tentang pasien yang gejalanya justru semakin berat meski telah mendapat salep steroid. Ia juga menanyakan pilihan perawatan yang terjangkau dalam keterbatasan layanan primer.

Menanggapi hal itu, dr. Catharina mengajak peserta kembali menilai perawatan dasar yang dilakukan di rumah. Apakah pelembap yang digunakan mengandung pewangi atau pewarna? Seberapa sering pelembap dioleskan? Apakah kulit yang kembali kering mendapat pelembap lagi? Menurut pengalamannya, langkah-langkah sederhana ini kerap belum dilakukan secara konsisten, sehingga pengendalian gejala menjadi lebih sulit.

Ia menyarankan penggunaan pelembap sesuai kebutuhan kulit, termasuk setelah mandi dan ketika kulit kembali terasa kering. Dalam diskusi, ia juga menekankan bahwa pilihan yang terjangkau dan dipakai konsisten tetap memiliki tempat dalam perawatan. Edukasi mengenai produk tanpa pewangi, kebiasaan mandi, serta pakaian yang nyaman bagi kulit sensitif dapat membantu keluarga menjalankan perawatan di rumah.

Pertanyaan lain menyangkut anak dengan dermatitis atopik berat yang masih sering kambuh meski telah menjalani diet eliminasi dan menggunakan susu formula asam amino. Dr. Catharina mengingatkan bahwa pemicu kekambuhan dapat beragam. Pasien perlu dinilai kembali secara menyeluruh, termasuk perjalanan penyakit, perawatan kulit, dan terapi yang sudah dicoba. Jika kondisi sulit dikendalikan, kolaborasi antara dokter anak dan dokter spesialis dermatologi dan venereologi dapat dipertimbangkan.

Dari Materi ke Percakapan dengan Orang Tua

Bagi tenaga kesehatan, tantangannya tidak berhenti pada memilih terapi. Orang tua juga perlu memahami mengapa pelembap tetap digunakan ketika ruam membaik, mengapa obat untuk lesi aktif memiliki tujuan berbeda, dan mengapa kekambuhan tidak selalu berarti satu makanan tertentu menjadi penyebabnya.

Itulah benang merah webinar ini: perawatan dermatitis atopik perlu mengikuti kondisi klinis anak, sekaligus cukup sederhana agar dapat dijalankan keluarga setiap hari. Menjaga sawar kulit merupakan bagian dari tata laksana yang terus berlangsung di antara episode kekambuhan.

Belum sempat mengikuti webinarnya? Tonton rekamannya di aplikasi PrimaPro, tersedia di App Store dan Play Store. 



Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan