Event
Kematian DBD di Asia Tinggi, Dengue Perlu Perhatian

Jakarta, 4 Agustus 2026 — Puluhan tenaga medis dan pengelola klinik memenuhi ruang gathering yang digelar PrimaPro bersama Takeda dan Abbott dalam acara bertajuk "Protecting Everyone from Dengue: The Critical Role of Vaccination". Momentum ini terasa relevan mengingat Indonesia kini menempati urutan tinggi di Asia untuk kematian DBD, bahkan menyumbang 66% dari seluruh kematian akibat dengue di kawasan ini. Di bawah panduan moderator dr. Yuni Astria, Sp.A, acara ini menghadirkan Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), Msi, anggota Satgas Imunisasi IDAI, yang membedah data epidemiologi terkini sekaligus perkembangan strategi pencegahan dengue di Indonesia.
Selain sesi pemaparan, peserta juga menyaksikan demonstrasi langsung alat rapid test dari Abbott. Rangkaian ini dirancang agar informasi ilmiah yang disampaikan dapat langsung diterjemahkan menjadi langkah konkret di lapangan, mengingat pemilik klinik menjadi garda terdepan dalam deteksi dini dan edukasi pasien menghadapi musim dengue yang diperkirakan memuncak dalam waktu dekat.
Beban Dengue yang Kian Berat: Sorotan dari Panggung Gathering
Membuka paparannya, Prof. Soedjatmiko mengangkat data terbaru yang menggambarkan skala persoalan dengue di Tanah Air. Per Desember 2025, tercatat 139.298 kasus DBD dengan 583 kematian, dengan Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bali sebagai tiga provinsi penyumbang kasus terbanyak. Yang menarik perhatian peserta adalah pola usia korban: sekitar 75% kasus dengue memang terjadi pada kelompok usia produktif 5–44 tahun, namun justru separuh dari seluruh kematian akibat dengue terjadi pada anak usia 5–14 tahun.
Faktor cuaca turut memperkeruh proyeksi ke depan. Berdasarkan prediksi BMKG yang dikutip dalam paparan, fenomena El Nino diperkirakan berlangsung sejak Juni 2026 hingga Maret–Mei 2027, memicu suhu lingkungan yang lebih panas. Kondisi ini mempercepat siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sekaligus memperpendek masa inkubasi virus di dalam tubuh nyamuk, sehingga potensi lonjakan kasus pada periode mendatang perlu diantisipasi sejak sekarang oleh fasilitas layanan primer.
Bukan Cuma Vaksin: Strategi Pencegahan yang Perlu Berjalan Beriringan
Beranjak dari data, diskusi bergeser ke arah solusi. Mengacu pada WHO Position Paper on Dengue Vaccines (Mei 2024), Prof. Soedjatmiko menegaskan bahwa pengendalian vektor tetap menjadi fondasi utama pengendalian dengue, mulai dari pemberantasan sarang nyamuk, penggunaan kelambu berinsektisida, hingga larvasida pada penampungan air. Inovasi seperti penyebaran nyamuk ber-Wolbachia, yang telah diteliti sejak 2006 di 11 negara termasuk oleh FK UGM sejak 2011, disebut mampu menekan kejadian dengue berat hingga 86% dalam kurun 1–2 tahun setelah implementasi.
Vaksinasi diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti, dari langkah-langkah tersebut. WHO merekomendasikan agar program imunisasi dengue diintegrasikan dengan kegiatan yang sudah berjalan, seperti Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), tanpa memerlukan skrining laboratorium terlebih dahulu karena berpotensi menambah biaya program dan menurunkan cakupan. Pendekatan berlapis semacam ini yang diharapkan menjadi rujukan klinik dalam menyusun materi edukasi bagi pasien dan keluarga.
Vaksin TAK-003: Dari Data Efikasi hingga Adopsi di Daerah
Sesi berikutnya menyoroti perjalanan vaksin dengue tetravalent (live, attenuated) TAK-003, yang telah mengantongi persetujuan BPOM sejak 3 Juli 2025 untuk rentang usia 4–60 tahun melalui dua dosis suntikan subkutan berjarak tiga bulan. Data uji klinis DEN-301 (studi TIDES) yang dipaparkan menunjukkan efikasi terhadap kasus dengue terkonfirmasi virologi sebesar 61,2% pada bulan ke-54 pascadosis kedua, sementara efikasi pencegahan rawat inap tercatat 84,1% pada periode yang sama, angka yang disebut menunjukkan proteksi jangka panjang dengan profil keamanan yang dapat ditoleransi dengan baik.
Perlindungan mulai terbentuk 14 hari setelah dosis pertama, sementara bagi pasien yang baru pulih dari infeksi dengue, jeda yang dianjurkan sebelum vaksinasi adalah 3–6 bulan, mengacu pada rekomendasi UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI. Dari sisi adopsi, sejak Balikpapan menjadi lokasi pilot program pertama di dunia pada November 2023, program imunisasi dengue kini telah berjalan di 11 pemerintah daerah dan menjangkau sekitar 18.000 penerima manfaat hingga awal 2026—tren yang menurut Prof. Soedjatmiko layak terus dipantau oleh fasilitas kesehatan primer di berbagai daerah.
Demonstrasi Abbott: Mempercepat Kepastian Diagnosis di Meja Periksa
Sesi kedua acara beralih ke ranah praktik laboratorium, ketika tim Abbott mendemonstrasikan Bioline™ Dengue Duo, rapid test yang mendeteksi antigen NS1 sekaligus antibodi IgG/IgM dengue secara bersamaan dari satu kali pengambilan sampel, dengan hasil terbaca dalam 15–20 menit. Uji validasi yang dipaparkan mencatat sensitivitas NS1 sebesar 92,4% dibandingkan RT-PCR dan sensitivitas IgG/IgM sebesar 94,2% dibandingkan ELISA, dengan alat ini disebut telah memenuhi kriteria WHO ASSURED untuk pemeriksaan point-of-care.
Yang membuat alat ini relevan secara klinis adalah kemampuannya membedakan fase infeksi. Munculnya NS1 Ag bersama IgM umumnya menandai infeksi primer, sementara hasil IgG positif yang tampil berdampingan dengan NS1 Ag mengarah pada kemungkinan infeksi sekunder, kondisi yang secara literatur cenderung berisiko lebih berat sehingga memerlukan pemantauan lebih ketat. Bagi tenaga medis di klinik, kemampuan membaca kombinasi hasil ini dalam hitungan menit dapat mempercepat keputusan apakah pasien perlu dirujuk untuk penanganan lebih lanjut.
Peran PrimaCare Supply dalam Mendukung Operasional Klinik
Rangkaian materi yang dipaparkan sepanjang gathering menegaskan satu benang merah: kesiapan klinik menghadapi dengue tidak cukup hanya dengan pengetahuan klinis, tetapi juga dukungan operasional yang konsisten. Ketersediaan rapid test yang andal, sarana penunjang vaksinasi, hingga materi edukasi pasien perlu tersedia jauh sebelum periode lonjakan kasus tiba, apalagi dengan proyeksi El Nino yang telah dipaparkan sebelumnya.
Sebagai mitra penyedia kebutuhan operasional klinik, PrimaCare Supply memahami posisi ini dan mendorong klinik untuk menjadikan momentum acara ini sebagai titik evaluasi kesiapan stok serta alur layanan.
Mengakhiri Gathering dengan Langkah Nyata
Gathering PrimaPro x Takeda x Abbott menutup hari dengan pesan yang jelas: posisi Indonesia yang menempati urutan tinggi di Asia untuk kematian DBD bukan sekadar angka statistik, melainkan panggilan untuk memperkuat kesiapan layanan primer dari hulu ke hilir. Pengendalian vektor, vaksinasi, dan diagnosis dini yang akurat perlu berjalan beriringan, bukan berdiri sendiri-sendiri. Bagi pemilik klinik, memahami perkembangan ini menjadi bekal penting menjelang periode risiko tinggi yang diproyeksikan berlangsung hingga pertengahan 2027.
Persiapkan Klinik Anda untuk Musim Dengue
Tim Sales PrimaCare Supply siap membantu Anda menelusuri kebutuhan alat diagnostik cepat, sarana penunjang vaksinasi, hingga kebutuhan operasional klinik lainnya.
Hubungi tim Sales PrimaCare Supply melalui bit.ly/HaloPrimaCare untuk ajukan permintaan informasi produk untuk konsultasi lebih lanjut.
FAQ
Apa saja cara mencegah demam berdarah dengue (DBD)?
Pencegahan DBD memerlukan pendekatan berlapis, yaitu pengendalian vektor melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN), penggunaan larvasida atau kelambu bila diperlukan, serta vaksinasi dengue pada kelompok yang memenuhi indikasi. Kombinasi strategi ini membantu menurunkan risiko penularan dan keparahan penyakit.
Siapa yang dapat menerima vaksin dengue TAK-003 (Qdenga®)?
Berdasarkan izin edar BPOM di Indonesia, vaksin dengue TAK-003 (Qdenga®) dapat diberikan pada individu berusia 4–60 tahun dengan jadwal 2 dosis yang diberikan secara subkutan dengan interval 3 bulan.
Apakah vaksin dengue perlu pemeriksaan laboratorium sebelum diberikan?
Mengacu pada WHO Position Paper on Dengue Vaccines (2024), vaksin TAK-003 tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium atau skrining serostatus dengue sebelum vaksinasi, sehingga implementasinya lebih praktis dalam program imunisasi.
Kapan seseorang boleh menerima vaksin setelah sembuh dari demam berdarah?
Bagi individu yang baru pulih dari infeksi dengue, vaksinasi umumnya dianjurkan dilakukan 3–6 bulan setelah sembuh, sesuai rekomendasi UKK Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI.
Apa fungsi rapid test dengue dalam praktik klinik?
Rapid test dengue membantu mendeteksi infeksi dengue secara cepat melalui pemeriksaan antigen NS1 dan antibodi IgM/IgG. Hasil yang diperoleh dalam waktu singkat dapat membantu tenaga kesehatan mendukung diagnosis awal dan menentukan langkah penanganan atau kebutuhan rujukan.
Apa perbedaan antigen NS1, IgM, dan IgG pada pemeriksaan dengue?
NS1 umumnya muncul pada fase awal infeksi dengue.
IgM biasanya menandakan respons terhadap infeksi akut.
IgG dapat menunjukkan paparan dengue sebelumnya dan, bila muncul bersama NS1, dapat mengarah pada kemungkinan infeksi sekunder yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Mengapa Indonesia memiliki beban dengue yang tinggi?
Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban dengue terbesar di Asia karena iklim tropis yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, tingginya kepadatan penduduk, serta sirkulasi virus dengue yang berlangsung sepanjang tahun.
Bagaimana klinik dapat mempersiapkan diri menghadapi musim dengue?
Klinik dapat meningkatkan kesiapan dengan memastikan ketersediaan rapid test dengue, vaksin sesuai kebutuhan layanan, edukasi pasien mengenai pencegahan DBD, serta menyiapkan alur diagnosis dan rujukan yang efektif. Persiapan logistik sejak sebelum musim peningkatan kasus membantu menjaga kelancaran pelayanan.
Mengapa diagnosis dini dengue penting?
Diagnosis dini memungkinkan pemantauan pasien dilakukan lebih cepat sehingga tanda bahaya dapat dikenali sedini mungkin. Hal ini membantu tenaga kesehatan menentukan tata laksana dan waktu rujukan yang tepat untuk mengurangi risiko komplikasi.
Di mana klinik dapat memperoleh kebutuhan rapid test dan vaksin dengue?
Klinik dapat bekerja sama dengan penyedia kebutuhan operasional kesehatan seperti PrimaCare Supply untuk memperoleh produk diagnostik, kebutuhan vaksinasi, serta dukungan operasional lainnya sesuai kebutuhan fasilitas pelayanan kesehatan.

