Edukasi
Cara Pakai Masker yang Benar untuk Melindungi dari Paparan Abu Vulkanik
9 September 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

“Masker efektif melindungi saluran napas dari abu vulkanik bila dipakai dengan benar, menutupi hidung dan dagu tanpa celah, dan untuk respirator seperti N95 dirapatkan lewat seal check. Namun seal check mandiri tidak selalu menjamin kerapatan sempurna, dan masker dewasa umumnya tidak pas di wajah anak.”
Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak akhir pekan lalu telah menyebarkan abu vulkanik ke wilayah Jakarta, Banten, Lampung, dan Jawa Barat hingga Senin (7/9). (1) Kondisi ini memunculkan pertanyaan praktis di ruang praktik: masker apa yang tepat, dan bagaimana cara memakainya dengan benar agar memberi perlindungan optimal terhadap partikel abu yang terhirup? Bagi dokter dan tenaga kesehatan, pemahaman teknis pemakaian masker, termasuk keterbatasannya, penting untuk edukasi pasien maupun perlindungan diri saat memberikan pelayanan di wilayah terdampak. Artikel ini merangkum prinsip pemakaian masker yang direkomendasikan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH), bukti terkini mengenai keterbatasan pemeriksaan kerapatan mandiri (user seal check), serta pertimbangan khusus pada anak.
Mengapa Paparan Abu Vulkanik Meningkatkan Kebutuhan Proteksi Saluran Napas?
Abu vulkanik terdiri atas partikel batuan dan kaca halus berukuran kurang dari 2 mm yang dapat menimbulkan iritasi saluran napas dan mata. (2) Partikel berukuran di bawah 10 mikrometer berisiko paling besar karena mampu mencapai saluran napas bawah, sedangkan partikel dengan diameter di bawah 2,5 mikrometer dapat menembus hingga jauh ke dalam paru. (3) Layanan kesehatan dapat memperkirakan peningkatan jumlah pasien dengan keluhan respiratorik dan mata selama dan setelah kejadian abu jatuh (ashfall). (2)
Gejala akut yang umum dilaporkan meliputi:
- Iritasi dan sekret hidung (pilek) serta iritasi tenggorokan disertai batuk kering
- Sesak, mengi, dan peningkatan produksi sputum pada pasien dengan gangguan paru kronik yang sudah ada
- Iritasi mata berupa rasa mengganjal, kemerahan, air mata berlebih, hingga abrasi kornea pada pengguna lensa kontak (2)
Pasien dengan asma, bronkitis kronik, atau penyakit paru obstruktif kronik berisiko mengalami perburukan gejala akibat iritasi jalan napas oleh partikel abu, sehingga penggunaan masker yang tepat menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. (2)
Masker Apa yang Paling Tepat untuk Anak?
NIOSH (National Institute for Occupational Safety and Health) adalah lembaga di bawah CDC yang menetapkan dan menguji standar sertifikasi respirator di Amerika Serikat, termasuk N95; label "N95" hanya sah untuk produk yang lolos uji NIOSH tersebut. (4) (5)
Jenis masker dan respirator yang tersedia meliputi:
- Masker kain — filtrasi paling longgar; menjadi alternatif darurat bila dibasahi air dan tidak ada masker bersertifikasi. (2)
- Masker bedah/sekali pakai (disposable) — menyaring droplet besar, tetapi tidak membentuk segel rapat di wajah. (12)
- Respirator N95 — disertifikasi NIOSH, menyaring ≥95% partikel bila terpasang rapat; efisiensi filtrasinya terhadap abu vulkanik mencapai median ≥89% pada pengujian laboratorium. (5) (11)
- Respirator KN95 (standar Tiongkok) dan KF94 (standar Korea Selatan) — mengikuti standar internasional yang tidak memiliki persyaratan kualitas seketat NIOSH; CDC memperkirakan sekitar 60% KN95 yang beredar di Amerika Serikat adalah produk palsu yang tidak memenuhi persyaratan tersebut. (4)
Untuk anak, masker N95 tidak dianjurkan. CDC menyatakan bahwa masker atau respirator sebaiknya tidak dipakaikan pada anak berusia di bawah 2 tahun; untuk anak berusia 2 tahun ke atas, respirator seperti N95, KN95, maupun KF94 memang dapat dipakai, namun jenis-jenis ini umumnya dirancang dan diuji untuk orang dewasa di lingkungan kerja, bukan untuk anak. (12) EPA dan IVHHN turut menegaskan bahwa masker N95 umumnya tidak pas di wajah anak. (2) (3) Alternatif yang lebih sesuai secara ukuran adalah KN95 atau KF94 yang dipasarkan khusus untuk anak, meski studi uji kerapatan pada 60 anak usia 6–13 tahun di Bandung, Indonesia, dan Kathmandu, Nepal, menunjukkan bahwa sebagian besar respirator ini tetap memiliki fit factor di bawah 10—setara proteksi kurang dari 90%—meskipun klip pengencang tali telinga dapat meningkatkan fit factor sebesar 42–50%. (13)
Mengingat keterbatasan ini, rekomendasi utama untuk melindungi anak dari abu vulkanik tetap membatasi aktivitas di luar ruangan dan menghindari aktivitas fisik berat saat abu masih di udara, bukan mengandalkan masker. (2) (3) Bila anak terpaksa harus keluar rumah, gunakan respirator KN95 atau KF94 berukuran anak dari sumber yang tepercaya, pastikan menutupi hidung dan dagu tanpa celah di sisi wajah, dan amati kondisi anak selama pemakaian. Bila anak sulit bernapas, pusing, atau menunjukkan gejala lain saat mencoba memperbaiki kerapatan masker, lepas masker tersebut dan gantikan dengan masker kain atau masker sekali pakai biasa, lalu konsultasikan ke dokter apabila gejala tidak membaik. (12)
Signifikansi klinis dari paparan abu pada anak juga tampak pada data epidemiologis: setelah erupsi Gunung Guagua Pichincha di Quito, Ekuador, tahun 2000, kunjungan gawat darurat anak untuk keluhan respiratorik meningkat lebih dari dua kali lipat pada anak usia di bawah 5 tahun (RR 2,21 pada anak laki-laki dan RR 2,16 pada anak perempuan), dengan diagnosis terkait asma meningkat hampir dua kali lipat selama periode aktivitas vulkanik. (14)
Bagaimana Cara Pakai Respirator yang Benar?
Efektivitas masker jenis apa pun, kain, bedah/sekali pakai, maupun respirator seperti N95, KN95, dan KF94, bergantung pada kerapatan pemasangan di wajah. Masker kain maupun masker bedah sebaiknya dipakai dengan kerapatan yang baik menutupi hidung dan mulut tanpa celah di sisi wajah, tidak memiliki katup pernapasan (exhalation valve), dan segera diganti bila basah atau kotor. (4)
N95
NIOSH menerbitkan panduan donning langkah-demi-langkah untuk N95 karena N95 diregulasi dan disertifikasi langsung oleh NIOSH. Langkah pemakaiannya adalah sebagai berikut:
- Cuci tangan hingga bersih dan kering sebelum memegang respirator.
- Periksa kondisi respirator; jangan gunakan bila tampak rusak, kotor, atau lembap.
- Pegang respirator dengan nose piece (batang logam/busa di bagian hidung) berada di ujung jari, lalu tempatkan di bawah dagu dengan nose piece berada di atas.
- Tarik tali atas melewati kepala hingga berada di mahkota kepala, kemudian tarik tali bawah ke belakang leher di bawah telinga; tali tidak boleh menyilang atau terpuntir.
- Tekan bagian nose piece dengan kedua ujung jari agar membentuk sesuai kontur hidung.
- Lakukan pemeriksaan kerapatan (seal check): tutup respirator dengan kedua tangan, lalu embuskan napas. Bila terasa udara bocor dari tepi masker atau kacamata berembun, berarti masker belum rapat dan perlu disesuaikan ulang atau diganti ukuran/model.
- Lepas respirator dengan memegang tali tanpa menyentuh bagian depan yang mungkin terkontaminasi, lalu cuci tangan kembali. (5)
Penggunaan respirator N95 dapat meningkatkan resistensi napas, sehingga pasien dengan gangguan jantung atau paru sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakannya. (5) Respirator harus diganti bila tali sudah kendur sehingga tidak lagi rapat, atau bila menjadi basah, kotor, maupun rusak; N95 tidak boleh dicuci atau disterilkan dengan oven maupun microwave. (5)
KN95 dan KF94
Berbeda dengan N95, KN95 (standar Tiongkok) dan KF94 (standar Korea Selatan) tidak diregulasi atau disertifikasi oleh NIOSH, sehingga CDC tidak menerbitkan langkah donning baku untuk keduanya, CDC hanya menganjurkan mengikuti instruksi pabrikan yang tercantum pada kemasan masing-masing produk. (4) Kedua jenis ini umumnya menggunakan tali telinga (ear loop), berbeda dari tali kepala pada N95, sehingga kerapatan lebih rentan berkurang bila tali tidak cukup kencang atau ukuran tidak sesuai wajah. Prinsip dasar tetap sama seperti masker lain: pastikan menutupi hidung dan dagu tanpa celah di sisi wajah, dan hindari respirator dengan katup pernapasan bila tujuannya melindungi orang lain sekaligus diri sendiri. (4) Karena KN95 dan KF94 mengikuti standar internasional yang tidak memiliki persyaratan kualitas seketat NIOSH, dengan sekitar 60% KN95 yang beredar di Amerika Serikat merupakan produk palsu, pembelian sebaiknya dilakukan dari sumber tepercaya untuk memastikan produk benar-benar memenuhi standar yang diklaim. (4)
Apa Konsekuensi Pemakaian Masker yang Tidak Tepat?
Kerapatan yang tidak sempurna menyebabkan udara—beserta partikel abu—masuk melalui celah di tepi masker alih-alih tersaring melalui material filtrasi, sehingga proteksi aktual dapat jauh lebih rendah dari yang diasumsikan pemakai. (5) Perhiasan, kacamata, dan rambut wajah dapat menciptakan celah semacam ini; wajah yang bersih dari rambut wajah terbukti memperbaiki kerapatan. (5) Pada anak, konsekuensi praktisnya berlipat: selain kesulitan mencapai kerapatan optimal, ketidaknyamanan dapat menurunkan kepatuhan pemakaian, sementara paparan yang berkelanjutan berisiko memicu perburukan gejala respiratorik sebagaimana tercermin pada data peningkatan kunjungan gawat darurat pascaerupsi. (13) (14) Di sisi lain, mengabaikan proteksi respirasi sama sekali bukan pilihan yang lebih aman; sebagaimana ditegaskan CDC/NIOSH, masker yang tidak sepenuhnya rapat pun tetap memberikan proteksi yang lebih baik dibandingkan tanpa masker sama sekali. (5)
Kesimpulan
Pemakaian masker yang benar—mulai dari kebersihan tangan, pemasangan yang tepat, hingga pemeriksaan kerapatan—tetap menjadi lini pertama proteksi saluran napas bagi tenaga kesehatan dan pasien selama periode paparan abu vulkanik. Namun, bukti terkini menegaskan bahwa seal check mandiri memiliki keterbatasan signifikan dalam memprediksi kerapatan sesungguhnya, sehingga edukasi teknik yang cermat dan pemantauan berkala tetap diperlukan, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Pada anak, keterbatasan kesesuaian ukuran masker menuntut strategi proteksi tambahan berupa pembatasan aktivitas luar ruangan dan penciptaan ruang udara bersih di rumah, alih-alih mengandalkan kerapatan masker semata.
FAQ
Apakah masker N95 cukup melindungi tenaga kesehatan dan masyarakat dari abu vulkanik Gunung Anak Krakatau?
Ya, masker N95 yang dipakai dan dirapatkan dengan benar memberikan efisiensi filtrasi tinggi terhadap partikel abu vulkanik, dengan median ≥89% pada pengujian laboratorium. (11) Namun demikian, efektivitas ini sangat bergantung pada kerapatan pemasangan; pemeriksaan kerapatan mandiri tidak selalu menjamin proteksi optimal, sehingga edukasi teknik pemakaian yang benar tetap penting disampaikan kepada pasien maupun rekan sejawat. (6, 7)
Bagaimana jika masker N95 tidak tersedia saat terjadi abu vulkanik?
Bila respirator bersertifikasi tidak tersedia, IVHHN merekomendasikan masker kain yang dibasahi air sebagai alternatif darurat karena mampu menyaring partikel abu berukuran besar yang berkontribusi pada iritasi tenggorokan dan mata, meski tidak seefektif masker bersertifikasi. (2) Masyarakat yang melakukan aktivitas pembersihan abu tetap dianjurkan menggunakan masker debu yang efektif bila tersedia. (2)
Apakah anak-anak sebaiknya memakai masker N95 saat abu vulkanik turun?
Tidak. Masker N95 tidak dianjurkan untuk anak, apalagi untuk anak di bawah 2 tahun. (12) Bila anak berusia 2 tahun ke atas harus keluar rumah, alternatif yang lebih sesuai secara ukuran adalah respirator KN95 atau KF94 khusus anak dari distributor tepercaya, meski keduanya mengikuti standar internasional yang tidak seketat NIOSH dan tetap menunjukkan keterbatasan kerapatan pada pengujian. (4, 13) Strategi yang lebih diutamakan bagi anak tetap membatasi paparan dengan berada di dalam ruangan dan menghindari aktivitas fisik berat saat abu masih di udara. (2,3)
Berapa lama masker N95 atau respirator lainnya dapat digunakan sebelum harus diganti?
Masker N95 sebaiknya diganti bila tali penopang sudah kendur sehingga tidak lagi rapat pada wajah, atau bila masker menjadi basah, kotor, maupun rusak. Masker tidak boleh dicuci atau disterilkan menggunakan oven atau microwave untuk digunakan kembali. (5)
Apakah pemeriksaan kerapatan mandiri (seal check) dapat dipercaya sepenuhnya?
Tidak sepenuhnya. Studi pada staf ICU menemukan hampir sepertiga peserta yang lolos seal check mandiri tetap gagal uji kerapatan kuantitatif formal, sementara studi pada kru ambulans mendapati tingkat kesesuaian antara kedua metode setara kebetulan. Meski studi ini dilakukan pada tenaga kesehatan dengan peralatan uji formal—bukan pada masyarakat umum—temuan ini menggarisbawahi pentingnya tidak mengandalkan sensasi subjektif semata sebagai indikator kerapatan yang memadai. (6, (7)
Daftar Pustaka
- CNN Indonesia. Update wilayah sebaran abu vulkanik Krakatau Senin pagi [Internet]. Jakarta: CNN Indonesia; 2026 Sep 7 [dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260907053724-20-1400788/update-wilayah-sebaran-abu-vulkanik-krakatau-senin-pagi
- International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN), Cities and Volcanoes Commission, GNS Science, United States Geological Survey. Health impacts of volcanic ash: a guide for the public [Internet]. IVHHN; [dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.ivhhn.org/information/health-impacts-volcanic-ash
- US Environmental Protection Agency. Protect children from wildfires, smoke, and volcanic ash [Internet]. Washington (DC): EPA; 2026 [diperbarui 2026 Mei 22; dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.epa.gov/children/protect-children-wildfires-smoke-and-volcanic-ash
- Centers for Disease Control and Prevention, National Institute for Occupational Safety and Health. Types of masks and respirators [Internet]. Atlanta: CDC; 2021 [diperbarui 2021 Sep 10; dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://stacks.cdc.gov/view/cdc/109673/cdc_109673_DS1.pdf
- Centers for Disease Control and Prevention, National Institute for Occupational Safety and Health. How to use your N95® respirator [Internet]. Atlanta: CDC; 2025 [diperbarui 2026 Mar 3; dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.cdc.gov/niosh/ppe/php/n95-use/index.html
- Cass HG, et al. The adequacy of user seal checking for N95 respirators compared to formal fit testing: a multicentred observational study. Aust Crit Care. 2023;36:787-92.
- Sawada H, Kakine M, Kubota Y, Sekine K, Hiraide A. Evaluation of the protective efficacy of a user seal check for N95 respirators through quantitative fit testing in an ambulance crew. Sci Rep. 2025;15:34451. doi:10.1038/s41598-025-17616-8
- World Health Organization. Evolution of WHO mask guidance [Internet]. Peer-reviewed analysis of WHO living guidelines; [dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11548717/
- Chou R, et al. Masks for prevention of respiratory virus infections, including SARS-CoV-2, in health care and community settings: a living rapid review. Ann Intern Med. 2023. Tersedia pada: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10234287/
- Mueller W, Horwell CJ, Apsley A, Steinle S, McPherson S, Cherrie JW, Galea KS. The effectiveness of respiratory protection worn by communities to protect from volcanic ash inhalation. Part I: Filtration efficiency tests. Int J Hyg Environ Health. 2018;221(6):967-76. doi:10.1016/j.ijheh.2018.03.012
- Steinle S, Sleeuwenhoek A, Mueller W, Horwell CJ, Apsley A, Davis A, Cherrie JW, Galea KS. The effectiveness of respiratory protection worn by communities to protect from volcanic ash inhalation. Part II: Total inward leakage tests. Int J Hyg Environ Health. 2018;221(6):977-84. doi:10.1016/j.ijheh.2018.03.011
- Centers for Disease Control and Prevention. Use and care of masks [Internet]. Atlanta: CDC; 2023 [diperbarui 2023 Mei 11; dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://archive.cdc.gov/www_cdc_gov/coronavirus/2019-ncov/prevent-getting-sick/about-face-coverings.html
- Sleeuwenhoek A, Horwell CJ, Shahi K, Azizah JN, Bhandari R, Mueller W, Iqbal M, Dhimal M, Loh M, Galea KS. Assessment of the fit and wearability of commercially available KN95 respirators for children in Indonesia and Nepal. Int J Hyg Environ Health. 2025;266:114561. doi:10.1016/j.ijheh.2025.114561
- Naumova EN, Yepes H, Griffiths JK, Sempértegui F, Khurana G, Jagai JS, Játiva E, Estrella B. Emergency room visits for respiratory conditions in children increased after Guagua Pichincha volcanic eruptions in April 2000 in Quito, Ecuador observational study: time series analysis. Environ Health. 2007;6:21. doi:10.1186/1476-069X-6-21




