Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Bahaya Abu Vulkanik pada Mata: Risiko dan Cara Mencegahnya

11 September 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Bahaya Abu Vulkanik pada Mata: Risiko dan Cara Mencegahnya

"Abu vulkanik mengandung silika kristalin yang bersifat abrasif, sehingga kontak langsung dengan mata berisiko menimbulkan iritasi, abrasi kornea, dan konjungtivitis akut. Risiko ini dapat dicegah dengan menghindari lensa kontak, memakai kacamata pelindung tertutup, tidak mengucek mata, serta segera membilas mata dengan air bersih atau cairan pembilas steril bila terpapar."


Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak awal September 2026 menyebabkan terjadinya hujan abu lebat yang menciptakan berbagai risiko kesehatan bagi masyarakat di berbagai wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta, dan sekitar. Organ mata merupakan salah satu area tubuh yang dapat terganggu melalui fenomenena ini. Gangguan mata yang dapat terjadi meliputi trauma mata ringan hingga sedang, mulai dari iritasi, sensasi benda asing, hingga abrasi kornea, terutama pada masyarakat di wilayah terdampak ashfall. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah menerbitkan Surat Edaran Nomor KL.01.02/A/17765/2026 yang mengarahkan fasilitas kesehatan untuk memperkuat kesiapsiagaan, termasuk tata laksana keluhan mata akibat abu vulkanik.


Apa yang Membuat Abu Vulkanik Berbahaya bagi Mata?


Abu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikelnya terbentuk dari fragmentasi batuan saat erupsi, sehingga bertekstur kasar dan bersifat abrasif, serta berpotensi mengandung silika kristalin. (1) Ketika partikel ini bersentuhan langsung dengan permukaan mata, ia dapat menggores kornea layaknya pasir halus yang tersangkut di bawah kelopak mata. Karakteristik inilah yang mendasari klasifikasi abu vulkanik sebagai benda asing pada mata dengan risiko trauma mekanis yang perlu ditangani segera.


Manifestasi Klinis Trauma Mata Akibat Abu Vulkanik


Paparan abu vulkanik pada mata umumnya bermanifestasi sebagai abrasi kornea dan konjungtivitis akut, yang dapat muncul bersamaan pada pasien yang terpapar hujan abu dalam durasi lama tanpa pelindung mata. (2) Berikut gejala-gejala yang perlu diperhatikan:

● Sensasi mengganjal atau seperti ada benda asing pada mata.

● Mata merah dan berair akibat konjungtivitis akut.

● Nyeri, fotofobia, dan blefarospasme pada kasus abrasi kornea.

● Penglihatan kabur sementara akibat iritasi permukaan kornea.

Riwayat paparan abu vulkanik menjadi kunci anamnesis untuk membedakan kondisi ini dari konjungtivitis alergi atau infeksi, yang gejalanya bisa tampak serupa namun memerlukan tata laksana berbeda.


Populasi Berisiko dan Respons Kemenkes terhadap Erupsi Gunung Anak Krakatau


Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di wilayah terdampak hujan abu vulkanik merupakan kelompok yang paling berisiko untuk mengalami keluhan mata akibat abu vulkanik. Erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 berdampak pada sekitar 23,36 juta penduduk di wilayah Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Sebagai respons terhadap kondisi ini, Kemenkes RI menerbitkan Surat Edaran Nomor KL.01.02/A/17765/2026 yang mengarahkan puskesmas dan fasilitas kesehatan untuk menyiagakan obat-obatan dan alat kesehatan, termasuk cairan pembilas mata, sekaligus mengaktifkan surveilans harian terhadap kasus iritasi mata di wilayah terdampak. Surat edaran ini juga menginstruksikan masyarakat untuk tidak mengucek mata, menghindari lensa kontak, dan menggunakan kacamata pelindung tertutup atau goggles selama hujan abu berlangsung. (3) Peningkatan beban pasien dengan keluhan mata pada fasilitas kesehatan memang menjadi pola yang umum ditemukan selama dan setelah periode erupsi vulkanik. (4)


Tata Laksana Awal Trauma Mata Akibat Abu Vulkanik


Irigasi mata merupakan tata laksana lini pertama pada trauma mata akibat benda asing. Sebuah studi kohort di instalasi gawat darurat pada pasien dengan keluhan benda asing mata, meski bukan spesifik akibat abu vulkanik, menunjukkan bahwa irigasi segera secara bermakna menurunkan angka retained corneal foreign body dibandingkan tanpa irigasi (25% berbanding 48%). (5) Karena mekanisme cederanya serupa, yaitu partikel abrasif yang tersangkut di permukaan mata, prinsip ini secara umum juga dianggap berlaku untuk kasus abu vulkanik, meski belum ada studi khusus yang menguji populasi tersebut.


Selain irigasi, pasien perlu diedukasikan untuk tidak mengucek mata karena gesekan dari partikel abu yang abrasif berisiko memperberat abrasi kornea. (3) Apabila keluhan menetap setelah irigasi, seperti nyeri, fotofobia, atau penurunan visus, pemeriksaan slit lamp perlu dipertimbangkan untuk menyingkirkan abrasi kornea yang lebih dalam atau benda asing yang masih tertinggal.


Cara Mencegah Bahaya Abu Vulkanik pada Mata


Pencegahan utamanya adalah menghindari kontak langsung antara partikel abu dan permukaan mata. Beberapa langkah yang dapat diedukasikan kepada pasien:

● Menggunakan kacamata pelindung (goggles) atau kacamata koreksi biasa, bukan lensa kontak, selama berada di wilayah hujan abu. (2)

● Menghindari lensa kontak selama periode ashfall, karena partikel abu dapat terperangkap di antara lensa dan kornea. (3)

● Tidak mengucek mata meski terasa mengganjal, untuk mencegah abrasi kornea yang lebih luas. (3)

● Segera membilas mata dengan air bersih mengalir atau cairan pembilas steril apabila terpapar abu vulkanik. (5)

● Membatasi aktivitas di luar ruangan selama intensitas hujan abu tinggi, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Bahaya abu vulkanik pada mata pada dasarnya berakar dari sifat abrasif partikelnya, yang dapat memicu abrasi kornea dan konjungtivitis akut. Edukasi pencegahan berupa penghindaran lensa kontak, penggunaan kacamata pelindung, dan larangan mengucek mata perlu terus disampaikan secara aktif kepada pasien di wilayah terdampak, sejalan dengan arahan Kemenkes RI selama erupsi Gunung Anak Krakatau berlangsung. Irigasi mata segera tetap menjadi tata laksana awal yang perlu diprioritaskan pada setiap kasus trauma mata akibat benda asing, sebelum dipertimbangkan rujukan ke dokter spesialis mata apabila keluhan menetap.


FAQ


Bagaimana pertolongan pertama jika mata terpapar abu vulkanik?

Pertolongan pertama yang direkomendasikan adalah irigasi mata segera menggunakan air bersih atau larutan salin. (5) Pasien juga perlu diinstruksikan untuk tidak mengucek mata selama proses ini agar tidak memperberat abrasi kornea. (3)


Apakah aman memakai lensa kontak selama terjadi hujan abu vulkanik?

Penggunaan lensa kontak tidak dianjurkan selama hujan abu karena partikel abu dapat terperangkap di antara lensa dan kornea sehingga memperbesar risiko abrasi. (3) Kacamata pelindung atau kacamata koreksi biasa lebih direkomendasikan. (2)


Mengapa abu vulkanik dapat menyebabkan abrasi kornea?

Abu vulkanik bertekstur abrasif dan berpotensi mengandung silika kristalin, sehingga kontak langsung dengan mata dapat menggores kornea. (1) Karakteristik ini membedakannya dari debu biasa dan menjadi alasan mengapa perlindungan mata perlu diprioritaskan selama ashfall.


Kapan pasien dengan keluhan mata akibat abu vulkanik perlu dirujuk ke dokter spesialis mata?

Rujukan perlu dipertimbangkan apabila keluhan seperti nyeri, fotofobia, mata merah persisten, atau penurunan visus tetap ada setelah irigasi awal, karena ini bisa menandakan abrasi kornea yang lebih dalam atau benda asing yang masih tertinggal dan memerlukan pemeriksaan slit lamp.


Daftar Pustaka

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Volcanoes and Your Safety [Internet]. Atlanta: CDC; 2026 [reviewed Aug 2026]. Available from: https://www.cdc.gov/volcanoes/about/index.html dan https://www.cdc.gov/volcanoes/safety/index.html
  2. International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN). Health Impacts of Volcanic Ash [Internet]. Available from: https://www.ivhhn.org/information/health-impacts-volcanic-ash
  3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Surat Edaran Nomor KL.01.02/A/17765/2026 tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau. 2026.
  4. United States Geological Survey (USGS) Volcano Hazards Program. Health [Internet]. Available from: https://volcanoes.usgs.gov/volcanic_ash/health.html
  5. Chou HD, Chen KJ, Kang EYC, et al. Eye irrigation as a first-line treatment and diagnostic method for emergency department patients who complain of ocular foreign bodies. Sci Rep. 2021;11:23386. Available from: https://doi.org/10.1038/s41598-021-02989-3


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan