Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Bahaya Abu Vulkanik bagi Anak dan Cara Mencegah Dampaknya

9 September 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Bahaya Abu Vulkanik bagi Anak dan Cara Mencegah Dampaknya

"Sejak 4 September 2026, erupsi Gunung Anak Krakatau menyebarkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah Indonesia bagian barat. Anak-anak lebih rentan terhadap abu vulkanik dibanding orang dewasa karena ukuran tubuh, pola napas, dan sistem pernapasan yang belum matang, dengan risiko keluhan pernapasan seperti mengi dapat meningkat 3–4 kali lipat pada paparan berat. Pencegahan utama meliputi membatasi aktivitas luar ruangan, penggunaan masker yang sesuai, dan menjaga kualitas udara dalam rumah."


Abu Vulkanik Bukan Sekadar Debu Biasa

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026, menghasilkan sebaran abu vulkanik yang terpantau mencapai sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan sebaran abu terdeteksi pada dua lapisan ketinggian atmosfer dengan arah pergerakan berbeda, yang memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah terdampak.(1) Kondisi ini membuat dokter dan tenaga kesehatan di wilayah terdampak perlu memahami dampak abu vulkanik terhadap anak serta strategi pencegahan yang dapat dikomunikasikan kepada orang tua dan pengasuh.

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel abu berukuran kurang dari 2 mm ini terbentuk dari fragmentasi batuan vulkanik dan dapat disertai lapisan asam pada permukaannya, sehingga bersifat iritatif terhadap saluran napas dan mata.(3) Pada anak, dampak paparan ini perlu mendapat perhatian klinis tersendiri karena karakteristik fisiologis anak yang berbeda dari orang dewasa.


Mengapa Anak Lebih Rentan terhadap Paparan Abu Vulkanik?

Anak menghadapi bahaya yang sama dari abu vulkanik seperti kelompok usia lain, namun tingkat paparannya cenderung lebih tinggi karena ukuran tubuh yang lebih kecil..(3) Partikel-partikel abu yang memiliki ukuran kurang dari 10 mikrometer merupakan partikel-partikel yang paling berbahaya karena dapat terhirup dan menyebabkan berbagai gangguan pernapasan, sedangkan partikel-partikel yang lebih besar umumnya hanya mengiritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Karena paru anak masih dalam tahap tumbuh kembang, paparan ini berpotensi mengurangi pertahanan anak terhadap penyakit paru-paru seperti asma, fibrosis kistik, atau tuberkulosis.(2)

Sebuah tinjauan pemetaan global terhadap dampak kesehatan akibat aktivitas vulkanik menemukan bahwa dari 83 studi yang dianalisis, mayoritas berfokus pada populasi dewasa (84,72%), sementara studi yang secara khusus meneliti anak hanya sekitar 9,72%.(4) Meski demikian, bukti yang tersedia menunjukkan bahwa populasi anak memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi saluran napas atas maupun bawah, termasuk sinusitis dan bronkitis, terutama pada anak di bawah usia 15 tahun.(4) Kesenjangan bukti ini penting diketahui klinisi: data spesifik anak masih terbatas, sehingga kewaspadaan klinis dan edukasi preventif tetap perlu diutamakan meski belum seluruhnya didukung studi berskala besar pada populasi pediatrik.


Dampak Abu Vulkanik pada Berbagai Sistem Tubuh Anak


Sistem Pernapasan

Pada paparan tinggi, bahkan anak yang sehat dapat mengalami rasa tidak nyaman di dada disertai batuk dan iritasi yang meningkat. Gejala akut yang umum meliputi:

● Iritasi dan keluarnya cairan dari hidung (pilek)

● Iritasi tenggorokan disertai batuk kering

● Sesak napas dan mengi, terutama pada anak dengan riwayat asma atau bronkitis

● Produksi dahak dan batuk berdahak pada anak dengan gangguan napas yang sudah ada sebelumnya

Anak dengan riwayat asma menjadi kelompok yang paling berisiko mengalami perburukan gejala, khususnya saat bermain di luar ruangan sehingga terpapar abu dalam jumlah lebih besar.(3) Bukti kuantitatif mendukung hal ini: pada kajian dampak kesehatan abu vulkanik, prevalensi mengi pada anak usia 12 tahun ke bawah tercatat sekitar 3–4 kali lebih tinggi pada anak yang pernah mengalami paparan berat atau sedang, dibandingkan anak yang hanya terpapar pada tingkat rendah.(5) Pada periode erupsi lain, angka rawat inap akibat asma pada anak juga dilaporkan meningkat tajam selama masa erupsi berlangsung.(5)

Data dari erupsi Gunung Guagua Pichincha di Ekuador turut memperkuat gambaran ini: kunjungan ke unit gawat darurat akibat gangguan pernapasan meningkat sekitar dua kali lipat pada anak laki-laki maupun perempuan usia di bawah 5 tahun dibandingkan periode tanpa aktivitas vulkanik, dengan diagnosis terkait asma yang hampir dua kali lebih sering ditemukan selama masa paparan abu berlangsung.(6)


Mata dan Kulit

Iritasi mata merupakan keluhan yang umum ditemukan, berupa sensasi mengganjal, mata terasa nyeri, gatal, atau kemerahan, disertai keluarnya cairan atau air mata berlebih. Partikel abu yang tajam juga berisiko menyebabkan abrasi kornea dan konjungtivitis akut.(3) Anak yang menggunakan lensa kontak sebaiknya melepasnya selama periode hujan abu untuk mencegah abrasi kornea.(3) Pada kulit, meskipun tidak sering terjadi, abu vulkanik, terutama yang bersifat asam, dapat menimbulkan iritasi dan kemerahan.(3)


Kesehatan Mental 

Dampak abu vulkanik pada anak tidak terbatas pada aspek fisik. Studi kohort prospektif pascaerupsi gunung Eyjafjallajökull di Islandia menemukan bahwa gejala kecemasan pada anak meningkat signifikan, sekitar 2,4 kali lebih tinggi pada kelompok terpapar sedang dan 2,8 kali lebih tinggi pada kelompok terpapar berat dibandingkan anak yang tidak terpapar. Gejala fisik dan psikologis ini dilaporkan dapat bertahan hingga tiga tahun pascabencana, sehingga tindak lanjut jangka panjang bagi anak yang terdampak menjadi penting.(7)


Cara Mencegah Dampak Abu Vulkanik pada Anak


Membatasi Aktivitas di Luar Ruangan

Langkah pencegahan paling mendasar adalah menjaga anak tetap berada di dalam rumah selama hujan abu berlangsung. Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

● Anak sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik yang berat atau berlari saat abu berada di udara, karena pengerahan tenaga menyebabkan napas lebih dalam sehingga partikel halus tertarik lebih jauh ke paru.(2,3)

● Jangan biarkan anak bermain di area dengan timbunan abu yang tebal.(3)

● Rencanakan permainan atau aktivitas dalam ruangan sebagai pengganti aktivitas luar ruangan.(2)


Penggunaan Masker yang Tepat

Jika anak terpaksa berada di luar ruangan saat abu masih di udara, penggunaan masker sekali pakai dianjurkan; apabila tidak tersedia, masker darurat dari kain yang dibasahi dapat membantu menyaring partikel abu yang lebih besar.(2,3) Bukti dari uji filtrasi menunjukkan bahwa masker setara N95 dapat mencapai efisiensi filtrasi mendekati 100% terhadap abu vulkanik, dibandingkan sekitar 90% pada masker bedah dan kurang dari 44% pada penutup wajah berbahan kain; pada uji kesesuaian di lapangan, kebocoran partikel pada masker N95 tercatat sekitar 3–4 kali lebih rendah dibandingkan masker bedah atau masker lipat sederhana.(8,9) Namun, uji tersebut dilakukan pada sukarelawan dewasa, sedangkan standar sertifikasi respirator pada umumnya memang dirancang dan diuji berdasarkan bentuk wajah dewasa, bukan anak, sehingga kesesuaian ukuran dan kerapatan pemasangan pada wajah anak tetap menjadi kendala utama, sebagaimana ditegaskan oleh studi yang menguji kesesuaian respirator KN95 belabel "untuk anak" pada anak usia 6–13 tahun di Bandung dan Kathmandu.(10)


Menjaga Kualitas Udara dalam Ruangan

Selain membatasi paparan luar ruangan, kualitas udara di dalam rumah juga perlu dijaga. Beberapa langkah yang dianjurkan meliputi:

● Menutup pintu, jendela, dan ventilasi udara luar selama abu masih turun.(2,3)

● Menyalakan pendingin ruangan sentral pada mode sirkulasi ulang ("recirculate"), bukan mode pengambilan udara luar, disertai penggantian filter secara rutin.(2)

● Menghindari aktivitas yang menimbulkan polusi dalam ruangan, seperti menyapu kering atau menyalakan lilin/dupa.(2)

Terkait kebutuhan alat pembersih udara (air purifier), data yang tersedia menunjukkan bahwa alat pembersih udara portabel dengan filter HEPA, presipitator elektrostatik (ESP), atau pembersih udara berbasis ionisasi dapat efektif menghilangkan partikel di udara, dengan syarat kapasitasnya disesuaikan untuk menyaring volume udara ruangan sebanyak dua hingga tiga kali per jam.(2) Sebaliknya, generator ozon, alat pemurni udara pribadi, serta perangkat yang mengklaim menghasilkan "udara super" atau "oksigen murni" sebaiknya dihindari, karena perangkat tersebut tidak efektif menyaring partikel dan justru dapat melepaskan gas ozon yang mengiritasi saluran napas serta memperburuk kondisi respiratorik yang sudah ada.(2)


Perlindungan Mata dan Kulit

Anak sebaiknya menggunakan kacamata pelindung dibandingkan lensa kontak selama masa paparan abu untuk mencegah iritasi dan abrasi kornea. Pakaian lengan panjang dan celana panjang juga dianjurkan untuk mengurangi kontak langsung abu dengan kulit yang sensitif.(2,3)


Peran Edukasi pada Pengasuh dalam Pencegahan

Pengasuh (orang tua atau wali) memiliki peran penentu dalam melindungi anak dari paparan abu vulkanik, namun penelitian mengenai persepsi dan pengetahuan pengasuh terhadap risiko ini masih terbatas. Sebuah survei terhadap 411 pengasuh anak usia 12 tahun ke bawah di sekitar Gunung Sakurajima (Jepang), Gunung Merapi (Indonesia), dan Gunung Popocatépetl (Meksiko) mendokumentasikan bagaimana persepsi bahaya memengaruhi tindakan protektif yang diambil pengasuh, serta menyoroti perlunya penguatan strategi komunikasi risiko lintas negara, termasuk Indonesia.(11) Temuan ini relevan bagi tenaga kesehatan di Indonesia untuk secara proaktif memberikan edukasi kepada orang tua mengenai langkah pencegahan yang tepat, alih-alih hanya mengandalkan inisiatif mandiri masyarakat.


FAQ


Apakah masker kain biasa efektif melindungi anak dari abu vulkanik?

Masker darurat yang terbuat dari kain dapat menyaring partikel abu yang lebih besar, yang berkontribusi pada iritasi tenggorokan dan mata, terutama jika kain tersebut dibasahi terlebih dahulu untuk meningkatkan efektivitasnya. Namun, karena sebagian besar masker dirancang untuk ukuran wajah dewasa, kesesuaian ukuran pada anak tetap menjadi perhatian utama agar perlindungan yang diberikan optimal.(3)


Apakah masker N95 lebih efektif dibanding masker kain untuk anak?

Secara filtrasi, ya, masker setara N95 terbukti jauh lebih efektif menyaring partikel abu vulkanik dibandingkan masker bedah maupun kain, dengan kebocoran partikel sekitar 3–4 kali lebih rendah pada uji lapangan.(8,9) Meski demikian, keunggulan ini diuji pada populasi dewasa, dan penelitian terhadap respirator KN95 yang dipasarkan untuk anak menyoroti bahwa kesesuaian ukuran pada wajah anak tetap menjadi tantangan utama, karena standar sertifikasi respirator pada umumnya dirancang berdasarkan dimensi wajah dewasa.(10)


Perlukah air purifier digunakan saat terjadi hujan abu vulkanik?

Alat pembersih udara berfilter HEPA, presipitator elektrostatik, atau berbasis ionisasi dapat membantu menyaring partikel abu di dalam ruangan apabila kapasitasnya sesuai dengan volume ruangan. Sebaliknya, generator ozon dan alat pemurni udara yang mengklaim menghasilkan "udara super" tidak terbukti efektif dan berpotensi memperburuk iritasi saluran napas karena emisi ozon yang dihasilkannya.(2)


Apakah anak dengan riwayat asma berisiko lebih tinggi mengalami perburukan gejala saat hujan abu?

Ya. Anak dengan riwayat asma atau gangguan saluran napas lainnya termasuk kelompok yang paling berisiko mengalami perburukan gejala seperti sesak napas, mengi, dan batuk saat terpapar abu vulkanik, terutama jika bermain di luar ruangan saat abu masih di udara.(3) Data epidemiologis turut menunjukkan bahwa prevalensi mengi pada anak dengan riwayat paparan berat dapat meningkat 3–4 kali lipat dibandingkan anak dengan paparan rendah.(5)


Berapa lama dampak kesehatan abu vulkanik dapat bertahan pada anak?

Pada kasus erupsi berkepanjangan seperti Eyjafjallajökull di Islandia, gejala fisik dan psikologis pada anak yang terpapar dilaporkan dapat bertahan hingga tiga tahun pascaerupsi, sehingga tindak lanjut kesehatan jangka panjang tetap diperlukan bagi anak yang mengalami paparan signifikan.(7)


Kesimpulan

Anak merupakan kelompok rentan terhadap dampak abu vulkanik akibat karakteristik fisiologis saluran napas yang belum matang serta keterbatasan dalam menghindari paparan secara mandiri. Dampak yang perlu diwaspadai klinisi meliputi gangguan pernapasan, iritasi mata dan kulit, hingga gejala psikologis yang dapat menetap dalam jangka panjang. Di tengah situasi erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam mengedukasi pengasuh mengenai langkah pencegahan praktis—membatasi aktivitas luar ruangan, memastikan kesesuaian masker pada anak, serta menjaga kualitas udara dalam rumah menggunakan alat yang terbukti efektif. Mengingat masih terbatasnya penelitian yang secara khusus berfokus pada populasi pediatrik, pendekatan pencegahan proaktif tetap perlu diutamakan meski bukti spesifik anak belum sekomprehensif populasi dewasa.

 

Daftar Pustaka

  1. CNN Indonesia. Update wilayah sebaran abu vulkanik Krakatau Senin pagi [Internet]. Jakarta: CNN Indonesia; 2026 Sep 7 [dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260907053724-20-1400788/update-wilayah-sebaran-abu-vulkanik-krakatau-senin-pagi
  2. US Environmental Protection Agency. Protect children from wildfires, smoke, and volcanic ash [Internet]. Washington (DC): EPA; 2026 [diperbarui 2026 Mei 22; dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.epa.gov/children/protect-children-wildfires-smoke-and-volcanic-ash
  3. International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN), Cities and Volcanoes Commission, GNS Science, United States Geological Survey. Health impacts of volcanic ash: a guide for the public [Internet]. IVHHN; [dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.ivhhn.org/information/health-impacts-volcanic-ash
  4. Simbaña-Rivera K, Endara-Mina J, Jaramillo-Aguilar DS, Mera-Lojano LD, Jimbo-Sotomayor R, Sánchez X, et al. Mapping the global health burden of volcanic exposure: a scoping review approach. Front Public Health. 2025;13:1658384. doi:10.3389/fpubh.2025.1658384
  5. Mueller W, Cowie H, Horwell CJ, Hurley F, Baxter PJ. Health impact assessment of volcanic ash inhalation: a comparison with outdoor air pollution methods. GeoHealth. 2020;4(7):e2020GH000256. doi:10.1029/2020GH000256
  6. Naumova EN, Yepes H, Griffiths JK, Sempértegui F, Khurana G, Jagai JS, et al. Emergency room visits for respiratory conditions in children increased after Guagua Pichincha volcanic eruptions in April 2000 in Quito, Ecuador observational study: time series analysis. Environ Health. 2007;6:21. doi:10.1186/1476-069X-6-21
  7. Hlodversdottir H, Thorsteinsdottir H, Thordardottir EB, Njardvik U, Petursdottir G, Hauksdottir A. Long-term health of children following the Eyjafjallajökull volcanic eruption: a prospective cohort study. Eur J Psychotraumatol. 2018;9(1):1442601. doi:10.1080/20008198.2018.1442601
  8. Mueller W, Cowie H, Horwell CJ, Sleeuwenhoek A, Galea KS. The effectiveness of respiratory protection worn by communities to protect from volcanic ash inhalation. Part I: Filtration efficiency tests. Int J Hyg Environ Health. 2018;221(6):967-976.
  9. Steinle S, Sleeuwenhoek A, Mueller W, Horwell CJ, Apsley A, Davis A, et al. The effectiveness of respiratory protection worn by communities to protect from volcanic ash inhalation. Part II: Total inward leakage tests. Int J Hyg Environ Health. 2018;221(6):977-984. doi:10.1016/j.ijheh.2018.03.011
  10. Sleeuwenhoek A, Horwell CJ, Shahi K, Azizah JN, Bhandari R, Mueller W, et al. Assessment of the fit and wearability of commercially available KN95 respirators for children in Indonesia and Nepal. Int J Hyg Environ Health. 2025;266:114561. doi:10.1016/j.ijheh.2025.114561
  11. Covey J, Dominelli L, Horwell CJ, Rachmawati L, Martin-del Pozzo AL, Armienta MA, et al. Carers' perceptions of harm and the protective measures taken to safeguard children's health against inhalation of volcanic ash: a comparative study across Indonesia, Japan and Mexico. Int J Disaster Risk Reduct. 2021;59:102194. doi:10.1016/j.ijdrr.2021.102194

Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan