Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Apakah Pemakaian Benang Gigi (Flossing) Bermanfaat bagi Anak?

14 Oktober 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Apakah Pemakaian Benang Gigi (Flossing) Bermanfaat bagi Anak?

"Benang gigi atau flossing membantu membersihkan plak di sela gigi yang sulit dijangkau sikat gigi. Pada anak, pembersihan dengan benang gigi oleh tenaga terlatih setiap hari sekolah terbukti menurunkan risiko gigi berlubang di sela gigi sekitar 40%. Namun, manfaat serupa belum terbukti ketika anak melakukannya sendiri. Karena itu, pendampingan orang tua tetap diperlukan hingga anak cukup terampil."


Menyikat gigi belum tentu dapat membersihkan seluruh permukaan gigi, terutama bagian sela-sela yang saling bersentuhan. Plak yang menumpuk di area tersebut cenderung lebih asam dibandingkan plak di bagian mulut lainnya, sehingga meningkatkan risiko gigi berlubang. Benang gigi (dental floss) dapat digunakan untuk membantu membersihkan plak di sela gigi yang sulit dijangkau sikat gigi. (1)

Meski telah lama dianjurkan sebagai bagian dari perawatan gigi, manfaat flossing masih menjadi perdebatan. Beberapa tinjauan ilmiah menemukan bahwa bukti manfaatnya masih lemah. Namun, peneliti lain menilai bahwa kesimpulan tersebut terlalu dini karena penelitian yang tersedia masih memiliki berbagai keterbatasan. (2)

Perbedaan temuan ini menjadi pertimbangan bagi dokter dan tenaga kesehatan ketika memberikan edukasi kepada orang tua. Apakah anak memang perlu menggunakan benang gigi? Seberapa kuat bukti bahwa flossing dapat membantu mencegah gigi berlubang?

Apakah Flossing Menurunkan Risiko Gigi Berlubang pada Anak?

Manfaat flossing pada anak dapat berbeda, bergantung pada siapa yang melakukannya, seberapa sering dilakukan, dan bagaimana teknik yang digunakan.

Tinjauan sistematis oleh Hujoel dan kolega menganalisis enam uji klinis yang melibatkan 808 anak berusia 4–13 tahun. Hasil paling menjanjikan ditemukan pada kelompok anak yang mendapatkan pembersihan sela gigi menggunakan benang gigi oleh tenaga terlatih setiap hari sekolah selama sekitar 1,7 tahun. Sebagian besar gigi yang diteliti merupakan gigi susu. (3)

Pada kelompok tersebut, risiko gigi berlubang di sela gigi (karies interproksimal) berkurang sekitar 40% dibandingkan kelompok pembanding. Hasil ini ditunjukkan oleh nilai risiko relatif (RR) sebesar 0,60 dengan interval kepercayaan (IK) 95% sebesar 0,48–0,76. (3)

Dengan kata lain, risiko gigi berlubang pada kelompok yang mendapatkan flossing rutin sekitar 60% dari risiko pada kelompok pembanding. Namun, hasil ini perlu dipahami sesuai kondisi penelitian. Anak-anak yang diteliti memiliki paparan fluorida yang rendah dan kebiasaan menyikat gigi yang kurang baik. Karena itu, besarnya manfaat flossing belum tentu sama pada anak yang sudah rutin menyikat gigi menggunakan pasta gigi berfluorida. (3)

Tinjauan yang sama juga menemukan bahwa flossing oleh tenaga profesional setiap tiga bulan selama tiga tahun tidak menurunkan risiko gigi berlubang (RR 0,93). Begitu pula dengan flossing yang dilakukan sendiri oleh remaja awal selama dua tahun, yang tidak menunjukkan penurunan risiko karies (RR 1,01). (3)

Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa manfaat flossing kemungkinan dipengaruhi oleh keteraturan dan ketepatan teknik. Penggunaan benang gigi sesekali belum tentu memberikan hasil yang sama dengan pembersihan rutin oleh tenaga terlatih.

Bukti pada Gigi Susu Masih Terbatas

Tinjauan sistematis tahun 2017 yang secara khusus meneliti penggunaan benang gigi pada gigi susu hanya menemukan lima penelitian yang memenuhi kriteria. Satu penelitian menunjukkan bahwa flossing setiap hari oleh tenaga profesional dapat menurunkan kejadian gigi berlubang di sela gigi secara bermakna selama 20 bulan. Sementara itu, empat penelitian lainnya menilai kebiasaan flossing berdasarkan jawaban kuesioner dari orang tua atau anak. (4)

Hasil dari penelitian berbasis kuesioner tersebut belum menunjukkan pola yang konsisten. Dua penelitian yang mengamati kondisi peserta pada satu waktu tertentu tidak menemukan hubungan antara kebiasaan flossing dan kejadian gigi berlubang. Penelitian lain justru menemukan bahwa anak yang lebih sering menggunakan benang gigi memiliki riwayat gigi berlubang lebih tinggi. Satu penelitian lainnya juga menemukan hubungan antara penggunaan benang gigi dan karies berat, tanpa melihat seberapa sering flossing dilakukan. (4)

Meski demikian, temuan tersebut tidak dapat diartikan bahwa flossing menyebabkan gigi berlubang. Penelitian yang mengamati kondisi peserta pada satu waktu tidak dapat memastikan apakah kebiasaan flossing muncul sebelum atau setelah masalah gigi terjadi.

Ada kemungkinan anak yang sudah memiliki banyak gigi berlubang justru lebih sering dianjurkan untuk menggunakan benang gigi. Oleh karena itu, penulis tinjauan tersebut menyimpulkan bahwa bukti yang tersedia belum menjadi alasan untuk melarang penggunaan benang gigi atau menganggapnya tidak bermanfaat. (4)

Apa Kata Tinjauan Cochrane tentang Flossing?

Tinjauan Cochrane tahun 2019 menilai manfaat berbagai alat pembersih sela gigi yang digunakan di rumah sebagai pelengkap menyikat gigi. Tinjauan ini mencakup 35 uji klinis dengan total 3.929 peserta dewasa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 uji klinis membandingkan penggunaan sikat gigi dan benang gigi dengan menyikat gigi saja. (5)

Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan benang gigi atau sikat khusus sela gigi (sikat interdental) sebagai pelengkap menyikat gigi mungkin dapat membantu mengurangi penumpukan plak, radang gusi (gingivitis), atau keduanya. Sikat interdental juga mungkin lebih efektif dibandingkan benang gigi dalam mengurangi radang gusi. Namun, tingkat kepastian bukti dari penelitian tersebut masih tergolong rendah hingga sangat rendah. (5)

Ada dua keterbatasan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, tidak ada penelitian dalam tinjauan tersebut yang secara langsung menilai kejadian gigi berlubang di sela gigi. Kedua, seluruh peserta merupakan orang dewasa, sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama pada anak. (5)

Rendahnya kepastian bukti juga tidak berarti bahwa flossing telah terbukti tidak bermanfaat. Vernon dan Seacat menjelaskan bahwa penelitian mengenai flossing masih menghadapi kendala dalam menilai cara penggunaannya. Belum tersedia alat ukur yang telah teruji untuk menilai keterampilan flossing, sementara banyak penelitian hanya mengandalkan laporan peserta mengenai kebiasaan mereka. Akibatnya, peneliti sulit memastikan apakah flossing benar-benar dilakukan menggunakan teknik yang tepat. (2)

Kapan Anak Mulai Flossing dan Kapan Bisa Melakukannya Sendiri?

Anak dapat mulai menggunakan benang gigi ketika dua giginya sudah saling bersentuhan. Pada tahap awal, orang tua perlu membantu membersihkan sela gigi anak karena keterampilan tangan anak belum cukup baik untuk melakukan flossing sendiri. (6,7)

Seiring bertambahnya usia, anak dapat mulai belajar menggunakan benang gigi secara mandiri. Namun, kemampuan ini bergantung pada perkembangan keterampilan motorik halus setiap anak. Beberapa lembaga kesehatan memberikan panduan usia yang sedikit berbeda:

  1. American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD): Orang tua dianjurkan membantu atau mengawasi flossing hingga anak memiliki keterampilan yang memadai, umumnya sekitar usia 10 tahun. (1)
  2. American Dental Association (ADA): Anak biasanya mulai dapat melakukan flossing sendiri sekitar usia 10–11 tahun. (6)
  3. Public Health Agency of Canada: Anak umumnya mulai mampu menggunakan benang gigi secara mandiri sekitar usia 9 tahun. (7)

Berdasarkan panduan tersebut, usia 9–11 tahun dapat digunakan sebagai perkiraan kapan anak mulai mampu melakukan flossing sendiri. Meski demikian, orang tua tetap perlu menyesuaikannya dengan kemampuan masing-masing anak.

Flossing membutuhkan keterampilan tangan yang cukup baik. Salah satu teknik yang dianjurkan adalah melengkungkan benang hingga menyerupai huruf “C” agar mengikuti bentuk permukaan gigi. Gerakan ini mungkin masih sulit dilakukan anak, terutama ketika menggunakan benang gigi biasa. (1)

Cara Flossing yang Benar

ADA menganjurkan penggunaan benang gigi satu kali sehari. Flossing dapat dilakukan pada pagi, siang, atau malam hari. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketelitian dan keteraturan dalam membersihkan sela gigi. (6)

Berikut langkah-langkah menggunakan benang gigi dengan benar: (6)

  1. Siapkan benang gigi sepanjang sekitar 45 cm. Lilitkan sebagian besar benang pada jari tengah salah satu tangan dan sisanya pada jari tengah tangan lainnya. Gunakan jari tersebut untuk menggulung bagian benang yang sudah dipakai.
  2. Pegang benang dengan kuat menggunakan ibu jari dan jari telunjuk agar mudah dikendalikan.
  3. Masukkan benang secara perlahan ke sela gigi. Gerakkan benang dengan lembut dan hindari menariknya terlalu keras hingga mengenai gusi.
  4. Lengkungkan benang membentuk huruf “C”. Tempelkan benang mengikuti sisi permukaan gigi, lalu arahkan perlahan ke bagian dekat batas gusi.
  5. Bersihkan permukaan gigi dengan gerakan naik-turun. Pertahankan benang agar tetap menempel pada permukaan gigi. Ulangi pada seluruh sela gigi, termasuk bagian belakang gigi paling ujung.

Flossing seharusnya tidak menimbulkan rasa nyeri. Tekanan yang terlalu kuat dapat melukai gusi, sedangkan gerakan yang terlalu ringan mungkin tidak cukup untuk membersihkan plak. Sedikit rasa tidak nyaman dapat muncul saat baru mulai menggunakan benang gigi. Namun, apabila keluhan terus berlangsung, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter gigi. (6)

Selain benang gigi biasa, tersedia beberapa alat pembersih sela gigi lainnya, seperti tusuk pembersih sela gigi (dental pick), sikat interdental, benang gigi bergagang (flosser), serta alat pembersih sela gigi dengan semprotan air (water flosser). Alat semprot air dapat menjadi pilihan bagi pasien yang kesulitan menggunakan alat lain, termasuk pasien dengan kawat gigi atau gigi tiruan jembatan. (6)

Flossing juga dapat dilakukan sebagai bagian dari pembersihan gigi profesional di tempat praktik dokter gigi anak. Menurut AAPD, tindakan ini membantu membersihkan plak di sela gigi dan di bawah batas gusi, memudahkan pemeriksaan rongga mulut, serta menjadi kesempatan bagi dokter gigi untuk mengajarkan teknik flossing yang tepat kepada anak dan orang tua. (8)

Poin Edukasi untuk Orang Tua

Berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia, dokter dan tenaga kesehatan dapat menyampaikan beberapa hal berikut ketika memberikan edukasi kepada orang tua:

  1. Flossing dilakukan sebagai pelengkap menyikat gigi. Penggunaan benang gigi dapat membantu membersihkan sela gigi yang sulit dijangkau sikat gigi. Bukti manfaatnya terhadap plak dan radang gusi berasal dari penggunaan benang gigi yang disertai kebiasaan menyikat gigi. (5)
  2. Mulai ketika dua gigi anak saling bersentuhan. Orang tua perlu membantu penggunaan benang gigi sejak awal dan tetap mendampingi hingga anak mampu melakukannya sendiri, umumnya sekitar usia 9–11 tahun. (1,6,7)
  3. Perhatikan keteraturan dan teknik flossing. Penurunan risiko gigi berlubang dalam penelitian ditemukan pada pembersihan sela gigi yang dilakukan secara rutin oleh tenaga terlatih. Manfaat serupa belum terbukti pada penggunaan yang jarang atau flossing mandiri dengan teknik yang belum memadai. (3)
  4. Jelaskan bahwa bukti ilmiahnya masih terbatas. Penelitian mengenai flossing pada gigi susu masih sedikit. Selain itu, sebagian besar bukti mengenai manfaat flossing terhadap plak dan radang gusi berasal dari orang dewasa. Meski demikian, hasil penelitian yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa penggunaan benang gigi tidak bermanfaat. (2,4,5)

Jadi, Perlukah Anak Menggunakan Benang Gigi?

Penggunaan benang gigi dapat dianjurkan kepada anak, terutama ketika dua gigi sudah saling bersentuhan dan sela-selanya sulit dibersihkan menggunakan sikat gigi. Benang gigi membantu mengangkat plak di area tersebut, yang merupakan salah satu lokasi rawan gigi berlubang. (1)

Bukti terkuat pada anak menunjukkan bahwa flossing oleh tenaga terlatih setiap hari sekolah dapat menurunkan risiko gigi berlubang di sela gigi sekitar 40%. Namun, besarnya manfaat tersebut belum dapat disamakan dengan flossing yang dilakukan anak secara mandiri di rumah. (3)

Karena itu, edukasi kepada orang tua sebaiknya menekankan pentingnya penggunaan benang gigi dengan teknik yang tepat, dilakukan secara rutin, serta disertai pendampingan hingga anak mampu membersihkan sela giginya sendiri.

FAQ

Kapan anak mulai perlu menggunakan benang gigi?

Ketika dua gigi anak sudah saling bersentuhan. Pada tahap awal, orang tua perlu membantu membersihkan sela gigi anak menggunakan benang gigi. (6,7)

Pada usia berapa anak boleh menggunakan benang gigi sendiri?

Umumnya sekitar usia 9–11 tahun, bergantung pada keterampilan tangan dan kemampuan anak mengikuti teknik yang benar. Sebelum itu, orang tua sebaiknya membantu atau mengawasi. (1,6,7)

Apakah flossing mandiri terbukti dapat mencegah gigi berlubang?

Belum. Penelitian pada remaja awal yang melakukan flossing sendiri tidak menunjukkan penurunan risiko gigi berlubang. Penurunan risiko yang bermakna ditemukan pada penggunaan benang gigi secara rutin oleh tenaga terlatih. (3)

Apakah sikat interdental lebih baik daripada benang gigi?

Pada orang dewasa, sikat interdental mungkin lebih efektif dalam membantu mengurangi radang gusi. Namun, kepastian buktinya masih rendah dan hasil serupa belum dapat dipastikan pada anak. (5)

Mengapa ada informasi yang menyebut flossing tidak bermanfaat?

Karena bukti ilmiah mengenai manfaat flossing masih memiliki berbagai keterbatasan. Banyak penelitian hanya mengandalkan laporan kebiasaan peserta tanpa memastikan apakah teknik yang digunakan sudah benar. Karena itu, sejumlah peneliti menilai bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan flossing tidak efektif. (2,5)

Daftar Pustaka

  1. Lin J, Dinis M, Tseng CH, Agnello M, He X, Silva DR, et al. Effectiveness of the GumChucks flossing system compared to string floss for interdental plaque removal in children: a randomized clinical trial. Sci Rep. 2020;10(1):3052. doi:10.1038/s41598-020-59705-w
  2. Vernon LT, Seacat JD. In defense of flossing: can we agree it’s premature to claim flossing is ineffective to prevent dental caries? J Evid Based Dent Pract. 2017;17(2):71–5. doi:10.1016/j.jebdp.2017.03.008
  3. Hujoel PP, Cunha-Cruz J, Banting DW, Loesche WJ. Dental flossing and interproximal caries: a systematic review. J Dent Res. 2006;85(4):298–305.
  4. de Oliveira KMH, Nemezio MA, Romualdo PC, da Silva RAB, de Paula e Silva FWG, Küchler EC. Dental flossing and proximal caries in the primary dentition: a systematic review. Oral Health Prev Dent. 2017;15(5):427–34. doi:10.3290/j.ohpd.a38780
  5. Worthington HV, MacDonald L, Poklepovic Pericic T, Sambunjak D, Johnson TM, Imai P, Clarkson JE. Home use of interdental cleaning devices, in addition to toothbrushing, for preventing and controlling periodontal diseases and dental caries. Cochrane Database Syst Rev. 2019;4(4):CD012018. doi:10.1002/14651858.CD012018.pub2
  6. American Dental Association. Flossing [Internet]. Chicago: ADA; [tanpa tanggal; dikutip 12 Okt 2026]. Tersedia dari: https://www.mouthhealthy.org/all-topics-a-z/flossing
  7. Public Health Agency of Canada. Oral health tips for children aged 3–6 [Internet]. Ottawa: Government of Canada; 2018 [diperbarui 28 Agu 2018; dikutip 12 Okt 2026]. Tersedia dari: https://www.canada.ca/en/public-health/topics/oral-health/oral-health-tips-for-children-aged-3-6.html
  8. American Academy of Pediatric Dentistry. Policy on the role of dental prophylaxis in pediatric dentistry. Dalam: The Reference Manual of Pediatric Dentistry. Chicago: American Academy of Pediatric Dentistry; 2024. hlm. 95–7.

Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan