Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Edukasi

Apakah Paparan Debu Vulkanik Dapat Menyebabkan Silikosis pada Paru-Paru?

9 September 2026

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Apakah Paparan Debu Vulkanik Dapat Menyebabkan Silikosis pada Paru-Paru?

“Silikosis adalah penyakit paru fibrotik ireversibel akibat inhalasi kronis silika kristalin dalam konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun. Debu vulkanik dari erupsi seperti Gunung Anak Krakatau memang dapat mengandung silika kristalin, namun risiko silikosis umumnya baru bermakna pada paparan intensitas tinggi dan jangka panjang, bukan akibat satu kali hujan abu berdurasi singkat.”


Erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebarkan abu vulkanik hingga ke wilayah Jakarta, Banten, Lampung, dan Jawa Barat pada awal September 2026 kembali memunculkan pertanyaan di kalangan tenaga kesehatan mengenai risiko jangka panjang paparan abu vulkanik terhadap sistem pernapasan, termasuk kemungkinan terjadinya silikosis. (3) Sebagai dokter atau tenaga kesehatan yang berhadapan langsung dengan pasien di wilayah terdampak, pemahaman yang akurat mengenai definisi, mekanisme, serta batas paparan yang relevan secara klinis menjadi penting agar edukasi kepada masyarakat tidak berlebihan maupun kurang waspada.


Apa itu Silikosis?

Silikosis adalah penyakit paru yang ditandai oleh fibrosis paru progresif dan ireversibel. Biasanya, kondisi ini terjadi akibat inhalasi respirable crystalline silica (RCS) secara jangka panjang. Namun, kondisi ini juga bisa bermanifestasi secara akut jika jumlah RCS terhirup dalam jumlah besar dalam rentang waktu yang relatif pendek. Silika merupakan mineral paling melimpah di bumi dan menjadi komponen utama lebih dari 95 persen batuan di kerak bumi. Tidak semua bentuk silika bersifat toksik; silika amorf pada tumbuhan, produk makanan, atau kosmetik umumnya tidak dianggap berbahaya, sedangkan silika kristalin, terutama dalam bentuk α-kuarsa, merupakan bentuk yang paling toksik secara biologis. Partikel yang cukup kecil untuk mencapai bronkiolus terminal dan alveolus, yaitu berdiameter kurang dari 5 mikrometer, dikenal sebagai RCS dan menjadi faktor risiko utama terjadinya silikosis. (1)


Bagaimana Silikosis Terjadi?

Ketika RCS terhirup dan mencapai alveolus, makrofag alveolar berusaha memfagositosis partikel tersebut, namun partikel ini resisten terhadap degradasi di dalam lisosom.Silika memicu pembentukan reactive oxygen species (ROS) yang merusak membran lisosom, menyebabkan kematian sel makrofag serta pelepasan kembali partikel silika ke jaringan sekitar. Siklus fagositosis dan kematian sel ini berulang terus-menerus, memicu aktivasi fibroblas, pembentukan nodul silikotik, dan pada akhirnya fibrosis paru progresif yang mengurangi luas permukaan pertukaran gas. (1)


Jenis dan Perjalanan Klinis Silikosis

Terdapat tiga bentuk utama silikosis yang dibedakan berdasarkan masa laten sejak paparan pertama hingga timbulnya gejala. Silikosis akut (silikoproteinosis) muncul dalam hitungan minggu hingga kurang dari 5 tahun setelah paparan intensitas sangat tinggi, misalnya pada pekerja sandblasting, dan ditandai gejala sistemik seperti sesak napas, demam, serta penurunan berat badan. Silikosis dipercepat (accelerated) berkembang dalam 5–10 tahun dan menunjukkan gambaran campuran antara silikoproteinosis dan nodul silikotik klasik. Silikosis kronis merupakan bentuk paling sering dijumpai, biasanya muncul 10–30 tahun setelah paparan kadar RCS rendah namun terus-menerus, dan dapat berupa silikosis sederhana (nodul kurang dari 10 mm) atau silikosis terkomplikasi/pulmonary massive fibrosis apabila nodul-nodul tersebut menyatu menjadi massa konglomerat berdiameter lebih dari 10 mm. Sebagian besar pasien silikosis sederhana justru tidak menunjukkan gejala, sehingga kecurigaan klinis berbasis riwayat pekerjaan sangat penting untuk penegakan diagnosis dini. (1)


Silikosis dan Debu Vulkanik: Apa Hubungannya?

Debu vulkanik memang dapat mengandung silika kristalin sehingga secara teoritis berkaitan dengan risiko silikosis, namun kaitan ini perlu dipahami secara proporsional. Menurut IVHHN bersama Cities and Volcanoes Commission, GNS Science, dan USGS, penyakit paru serius akibat paparan abu vulkanik jangka panjang hanya dapat terjadi apabila abu tersebut sangat halus, mengandung silika kristalin, dan masyarakat terpapar pada konsentrasi tinggi selama bertahun-tahun. Pada kebanyakan kejadian erupsi, paparan silika kristalin dari abu vulkanik justru bersifat jangka pendek (hitungan hari hingga minggu), meski beberapa kajian menunjukkan bahwa ambang paparan yang direkomendasikan dapat terlampaui untuk periode singkat pada populasi umum. (4)


Kajian pemetaan beban kesehatan global akibat paparan vulkanik turut menegaskan bahwa dampak abu vulkanik terhadap sistem respirasi bersifat luas, mulai dari iritasi akut saluran napas hingga potensi penyakit paru kronis pada populasi dengan paparan berulang dalam jangka panjang di sekitar gunung berapi aktif. (2) Dengan kata lain, satu episode hujan abu seperti yang terjadi akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 tidak serta-merta menyebabkan silikosis pada masyarakat umum, tetapi tetap dapat menimbulkan gejala respirasi akut yang bermakna secara klinis. (3, 4)

Laporan kasus dari Indonesia turut mendukung pemahaman ini. Laporan mengenai inhalasi traumatik akibat abu vulkanik Gunung Merapi menjelaskan bahwa manifestasi akut pascahujan abu berat umumnya berupa serangan asma dan bronkitis, dengan peningkatan keluhan batuk, sesak napas, dan mengi akibat iritasi saluran napas, sementara kondisi kronis yang perlu diwaspadai berupa fibrosis nodular paru—dikenal juga dengan istilah pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis—yang baru tampak setelah 10–30 tahun paparan berulang. (8)


Efek Kesehatan Akut Paparan Abu Vulkanik pada Saluran Napas

Pada praktik klinis sehari-hari, keluhan yang jauh lebih sering dijumpai pascahujan abu vulkanik adalah gejala akut, bukan silikosis. Efek pernapasan akut yang umum meliputi: (4)

•   Iritasi hidung disertai keluarnya cairan (pilek).

•   Iritasi tenggorokan dan batuk kering.

•   Perburukan gejala bronkitis pada pasien dengan penyakit paru sebelumnya, seperti batuk produktif, mengi, atau sesak napas yang dapat berlangsung beberapa hari setelah paparan.

•   Serangan asma pada pasien asma maupun individu yang sebelumnya tidak pernah terdiagnosis asma, terutama bila beraktivitas berat di luar ruangan saat abu masih di udara.


Data epidemiologis dari erupsi Gunung Guagua Pichincha di Quito, Ekuador, pada April 2000 menunjukkan peningkatan bermakna kunjungan gawat darurat anak akibat gangguan pernapasan pascaerupsi, dengan rasio risiko sebesar 2,22 untuk infeksi saluran napas bawah dan 1,72 untuk infeksi saluran napas atas dalam tiga minggu pascaerupsi, dan dampak terbesar dialami oleh kelompok usia anak yang lebih muda. (6) Temuan ini memperkuat pentingnya kewaspadaan klinis terhadap lonjakan kasus respirasi pada anak setelah episode hujan abu vulkanik. Kajian metodologis mengenai penilaian dampak kesehatan akibat inhalasi abu vulkanik turut menunjukkan bahwa pendekatan penilaian risiko yang digunakan pada polusi udara luar ruang konvensional dapat diadaptasi untuk memperkirakan beban kesehatan akibat paparan abu vulkanik pada suatu populasi. (5)


Kelompok Berisiko Tinggi: Mengapa Anak-Anak Lebih Rentan?

Anak-anak menghadapi risiko kesehatan yang sama dengan orang dewasa akibat paparan partikel abu vulkanik di udara, yaitu gangguan pernapasan serta iritasi hidung, tenggorokan, dan mata, tetapi mereka lebih rentan karena ukuran tubuh yang lebih kecil, sistem pernapasan yang masih berkembang, dan berkurangnya kemampuan untuk menghindari paparan yang tidak perlu. (7) Partikel abu berdiameter kurang dari 10 mikrometer merupakan yang paling berbahaya karena dapat melewati hidung dan tenggorokan hingga mencapai bagian dalam paru, sementara partikel yang lebih besar cenderung hanya mengiritasi mata, hidung, dan tenggorokan. (7) Paparan abu vulkanik dapat memperberat gejala pada anak dengan penyakit pernapasan yang sudah ada sebelumnya, seperti asma, fibrosis kistik, atau tuberkulosis. (7)

Selain dampak fisik jangka pendek, sebuah studi kohort prospektif pada anak-anak pascaerupsi Gunung Eyjafjallajökull di Islandia turut mengevaluasi dampak kesehatan jangka panjang setelah paparan abu vulkanik, memberikan gambaran bahwa pemantauan kesehatan anak pascaerupsi perlu dilakukan tidak hanya pada fase akut, tetapi juga dalam jangka waktu yang lebih panjang. (9)


Diagnosis Silikosis

Tidak terdapat pemeriksaan laboratorium spesifik untuk mendiagnosis silikosis; diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat paparan RCS yang konsisten disertai gambaran radiologis yang sesuai. Foto toraks sering menjadi pemeriksaan awal dan dapat menunjukkan nodul multipel di lapangan paru tengah dan atas secara bilateral, disertai pembesaran kelenjar getah bening hilus dan mediastinum, meskipun pemeriksaan ini kurang sensitif pada tahap awal penyakit. High-resolution computed tomography (HRCT) memberikan sensitivitas yang lebih baik untuk mendeteksi silikosis pada stadium dini. Uji fungsi paru dapat normal pada tahap awal, namun pada tahap lanjut dapat menunjukkan penurunan volume paru, forced vital capacity (FVC), forced expiratory volume in one second (FEV1), dan kapasitas difusi. (1)


Tata Laksana dan Prognosis

Hingga saat ini belum terdapat terapi kuratif untuk silikosis. Tata laksana yang tersedia bersifat suportif, meliputi pemberian oksigen tambahan pada pasien dengan hipoksia, vaksinasi yang direkomendasikan, penanganan infeksi secara cepat, serta rehabilitasi paru. Transplantasi paru menjadi pilihan utama pada silikosis stadium akhir, meskipun berbiaya tinggi, berisiko besar, dan hanya memberikan median kelangsungan hidup 6–7 tahun pascatransplantasi. Karena tidak dapat disembuhkan namun dapat dicegah, edukasi mengenai pengendalian paparan RCS sejak dini serta penghentian merokok menjadi bagian penting tata laksana jangka panjang. Perjalanan penyakit dapat terus memburuk meskipun paparan silika telah sepenuhnya dihentikan, dan komplikasi yang perlu diwaspadai antara lain peningkatan risiko kanker paru serta infeksi tuberkulosis maupun mikobakteri non-tuberkulosis akibat kavitasi pada massa fibrotik. (1)


Pencegahan dan Edukasi Pasien Saat Terjadi Hujan Abu Vulkanik

Karena risiko silikosis akibat paparan abu vulkanik bergantung pada intensitas dan durasi paparan, edukasi pasien saat terjadi hujan abu sebaiknya difokuskan pada langkah mitigasi paparan akut berikut: (4, 7)

•   Tetap berada di dalam ruangan dan menutup pintu serta jendela selama abu masih di udara.

•   Menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan, termasuk pada anak-anak, karena pernapasan yang lebih berat menarik partikel lebih dalam ke paru.

•   Menggunakan masker yang sesuai standar bila harus beraktivitas di luar ruangan, dengan catatan masker kain atau masker dewasa umumnya tidak pas digunakan pada anak-anak.

•   Melepas lensa kontak dan menggunakan kacamata pelindung untuk mencegah abrasi kornea akibat abu.

•   Menyaring air minum yang berpotensi terkontaminasi abu sebelum dikonsumsi.

Tenaga kesehatan juga perlu mewaspadai peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan respirasi akut, terutama pada anak dan pasien dengan penyakit paru kronis, pada hari-hari hingga minggu-minggu setelah kejadian hujan abu vulkanik. (6)


Kesimpulan

Silikosis merupakan penyakit paru fibrotik ireversibel akibat inhalasi kronis silika kristalin dalam jangka panjang, dan hingga kini belum memiliki terapi kuratif. (1) Meskipun debu vulkanik dapat mengandung silika kristalin, kaitannya dengan silikosis pada masyarakat umum akibat kejadian erupsi tunggal seperti yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau bersifat terbatas, mengingat risiko silikosis membutuhkan paparan intensitas tinggi selama bertahun-tahun. (1, 4) Bagi dokter dan tenaga kesehatan, fokus klinis yang lebih relevan pascakejadian hujan abu vulkanik adalah deteksi dan tata laksana gejala respirasi akut, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan pasien dengan penyakit paru kronis, sekaligus edukasi mengenai langkah proteksi diri selama masa paparan berlangsung. (6, 7)


FAQ


Apakah satu kali terpapar abu vulkanik bisa langsung menyebabkan silikosis?

Tidak. Silikosis kronis, bentuk yang paling umum, membutuhkan paparan RCS berulang selama 10 hingga 30 tahun untuk berkembang. (1) Paparan abu vulkanik akibat satu kali erupsi umumnya berlangsung singkat, yaitu hitungan hari hingga minggu, sehingga jauh lebih mungkin menimbulkan gejala iritasi akut saluran napas dan mata dibandingkan silikosis. (4)


Apa perbedaan gejala akut akibat abu vulkanik dengan gejala silikosis kronis?

Gejala akut pascapaparan abu vulkanik berupa iritasi hidung, tenggorokan, batuk, serta perburukan asma atau bronkitis yang biasanya membaik dalam beberapa hari. (4) Sebaliknya, silikosis kronis berkembang perlahan selama bertahun-tahun dan pada tahap awal sering tanpa gejala, sehingga baru terdeteksi melalui pemeriksaan pencitraan seperti HRCT. (1)


Siapa yang paling berisiko mengalami gangguan pernapasan berat setelah hujan abu vulkanik?

Anak-anak, penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik, serta gangguan jantung berat merupakan kelompok yang paling rentan mengalami perburukan gejala setelah paparan abu vulkanik. (7) Data dari erupsi Gunung Guagua Pichincha menunjukkan bahwa kelompok usia anak yang lebih muda mengalami peningkatan risiko kunjungan gawat darurat akibat gangguan pernapasan yang lebih besar dibandingkan kelompok usia lainnya. (6)


Apakah perlu pemeriksaan pencitraan paru pada semua orang yang terpapar debu vulkanik?

Pemeriksaan pencitraan rutin tidak diperlukan untuk seluruh masyarakat yang terpapar hujan abu dalam skala insiden erupsi tunggal, karena risiko silikosis pada paparan singkat sangat rendah. (4) Evaluasi radiologis lebih relevan diarahkan pada individu dengan riwayat paparan RCS kumulatif tinggi dalam jangka panjang, misalnya pekerja tambang atau industri yang menggunakan silika. (1)


Daftar Pustaka

1. Baum L, Arnold TC. Silicosis. [Updated 2023 Aug 6]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Tersedia pada: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK594245/

2. Simbaña-Rivera K, Endara-Mina J, Jaramillo-Aguilar DS, Mera-Lojano LD, Jimbo-Sotomayor R, Sánchez X, et al. Mapping the global health burden of volcanic exposure: a scoping review approach. Front Public Health. 2025;13:1658384. doi:10.3389/fpubh.2025.1658384

3. CNN Indonesia. Update wilayah sebaran abu vulkanik Krakatau Senin pagi [Internet]. Jakarta: CNN Indonesia; 2026 Sep 7 [dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.cnnindonesia.com/nasional/20260907053724-20-1400788/update-wilayah-sebaran-abu-vulkanik-krakatau-senin-pagi

4. International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN), Cities and Volcanoes Commission, GNS Science, United States Geological Survey. Health impacts of volcanic ash: a guide for the public [Internet]. IVHHN; [dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.ivhhn.org/information/health-impacts-volcanic-ash

5. Mueller W, Cowie H, Horwell CJ, Hurley F, Baxter PJ. Health impact assessment of volcanic ash inhalation: a comparison with outdoor air pollution methods. GeoHealth. 2020;4(7):e2020GH000256. doi:10.1029/2020GH000256

6. Naumova EN, Yepes H, Griffiths JK, Sempértegui F, Khurana G, Jagai JS, et al. Emergency room visits for respiratory conditions in children increased after Guagua Pichincha volcanic eruptions in April 2000 in Quito, Ecuador observational study: time series analysis. Environ Health. 2007;6:21. doi:10.1186/1476-069X-6-21

7. US Environmental Protection Agency. Protect children from wildfires, smoke, and volcanic ash [Internet]. Washington (DC): EPA; 2026 [diperbarui 2026 Mei 22; dikutip 2026 Sep 7]. Tersedia pada: https://www.epa.gov/children/protect-children-wildfires-smoke-and-volcanic-ash

8. Trisnawati I, Budiono E, Sumardi, Setiadi A. Traumatic Inhalation due to Merapi Volcanic Ash. Acta Med Indones. 2015 Jul;47(3):238-43. PMID: 26586390.

9. Hlodversdottir H, Thorsteinsdottir H, Thordardottir EB, Njardvik U, Petursdottir G, Hauksdottir A. Long-term health of children following the Eyjafjallajökull volcanic eruption: a prospective cohort study. Eur J Psychotraumatol. 2018;9(1):1442601. doi:10.1080/20008198.2018.1442601


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan