Edukasi
Apakah Masker Efektif Melindungi Anak dari Polusi Udara dan Asap Kebakaran Hutan?
28 Agustus 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

"Masker dapat melindungi anak dari polusi udara dan asap kebakaran hutan, tetapi tingkat efektivitasnya tergantung jenis masker yang digunakan. Respirator N95 memberikan perlindungan tertinggi, diikuti masker bedah, sementara masker kain paling rendah efektivitasnya. Pemilihan ukuran yang pas dan cara pemakaian yang benar menjadi faktor penentu utama perlindungan pada anak."
Kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian klinis penting bagi dokter dan tenaga kesehatan di Indonesia, terutama saat memberikan edukasi pencegahan kepada orang tua. Pada Agustus 2026, karhutla di Kalimantan dan beberapa provinsi di Sumatera telah menyebabkan sekitar 3 juta jiwa terpapar asap secara langsung, dengan partikel halus PM2,5 sebagai polutan utama yang meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), khususnya pada anak. (1) Kementerian Kesehatan RI secara eksplisit menganjurkan penggunaan masker sebagai garis pertahanan pertama yang paling mudah diakses masyarakat saat kualitas udara memburuk. (2) Namun, tidak semua jenis masker memberikan tingkat perlindungan yang sama, dan efektivitasnya sangat bergantung pada jenis masker, ukuran partikel yang dihadapi, serta ketepatan pemakaian. Artikel ini membahas efektivitas berbagai jenis masker dalam melindungi anak dari polusi udara dan asap kebakaran hutan, beserta cara pemakaian yang tepat untuk mengoptimalkan perlindungan tersebut.
Apakah Masker Efektif Melindungi Anak dari Polusi Udara dan Asap Kebakaran Hutan?
Masker efektif melindungi anak dari polusi udara dan asap kebakaran hutan, tetapi tingkat proteksinya bervariasi signifikan tergantung jenis masker yang digunakan. Studi pemodelan komparatif terhadap berbagai jenis masker menunjukkan bahwa efisiensi terbaik masker kain, masker bedah, dan respirator terhadap partikel asap kebakaran hutan yang berukuran sangat halus (sub-mikrometer) masing-masing sekitar 0,3, 0,6, dan 0,8, dengan respirator memberikan perlindungan yang jauh lebih konsisten dibandingkan dua jenis masker lainnya. (3) Data studi dunia nyata turut menunjukkan bahwa masker kain mengurangi paparan partikulat sekitar 20%, sementara respirator N95 dapat mengurangi paparan hingga sekitar 80%. (4) Dengan demikian, jenis masker yang dipilih menjadi faktor penentu utama seberapa besar perlindungan yang diperoleh anak.
Mengapa Anak Membutuhkan Perlindungan Ekstra saat Polusi Udara Memburuk?
Anak lebih rentan terhadap dampak polusi udara dan asap kebakaran hutan dibandingkan orang dewasa karena faktor fisiologis yang khas pada masa kanak-kanak. Anak memiliki laju pernapasan yang lebih tinggi per satuan berat badan, sehingga dosis polutan yang terinhalasi per kilogram berat badan menjadi lebih besar, sementara paru mereka masih dalam proses pertumbuhan dan lebih rentan terhadap efek toksik partikulat. (4) Studi berbasis data klaim resep pada bayi di enam negara bagian barat Amerika Serikat menemukan bahwa paparan asap kebakaran hutan pada masa awal kehidupan berkaitan dengan percepatan waktu penggunaan pertama obat saluran napas atas. (5) Paparan PM2,5 jangka panjang juga terbukti berkaitan dengan penurunan fungsi paru pada anak usia sekolah, dengan efek yang bersifat kumulatif seiring durasi paparan. (6) Kondisi ini menjadikan proteksi pernapasan pada anak, termasuk penggunaan masker yang tepat, sebagai bagian penting dari upaya pencegahan selama periode kabut asap.
Jenis Masker dan Tingkat Efektivitasnya terhadap Polusi Udara dan Asap Kebakaran Hutan
Tiga jenis masker yang umum tersedia bagi masyarakat—masker kain, masker bedah, dan respirator (N95/KN95/P100)—memiliki tingkat efektivitas yang berbeda terhadap partikel asap kebakaran hutan:
• Masker kain: efisiensi terbaik terhadap partikel asap kebakaran hutan sekitar 0,3 dalam kondisi laboratorium optimal, dengan studi dunia nyata melaporkan rentang reduksi paparan hanya 0–50%, menjadikannya pilihan dengan proteksi paling rendah di antara ketiga jenis masker. (3, 4)
• Masker bedah: efisiensi terbaik sekitar 0,6 pada partikel sub-mikrometer seperti asap kebakaran hutan, dengan rentang reduksi paparan dunia nyata sekitar 20–70%; performa terbaiknya justru terjadi pada partikel berukuran lebih besar seperti serbuk sari atau abu kebakaran. (3, 4)
• Respirator (N95/KN95/P100): efisiensi terbaik sekitar 0,8–1,0 pada hampir seluruh rentang ukuran partikel, dengan rentang reduksi paparan dunia nyata sekitar 70–97%, menjadikannya jenis masker yang paling direkomendasikan saat kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan. (3, 4)
Perlu dicatat bahwa angka efisiensi tersebut merupakan skenario terbaik dengan kesesuaian masker yang optimal. Kebocoran di sekitar tepi masker akibat ukuran yang tidak pas dapat menurunkan efektivitas secara signifikan, termasuk pada respirator. (3)
Bagaimana Cara Memakai Masker yang Tepat pada Anak?
Efektivitas masker pada anak sangat bergantung pada kesesuaian ukuran dan cara pemakaian yang benar, bukan hanya pada jenis masker yang dipilih.
• Pilih respirator berlabel resmi: gunakan respirator dengan sertifikasi resmi dan label jenis “N95” atau “P100”, serta dua tali pengikat yang melingkari kepala, bukan model dengan tali yang hanya mengait telinga, karena model tersebut tidak dirancang untuk menutup rapat wajah. (7)
• Pastikan ukuran sesuai wajah anak: pilih ukuran yang menutupi hidung hingga bawah dagu tanpa mengganggu penglihatan, dan periksa kebocoran di sekitar tepi masker sesuai petunjuk kemasan. (7)
• Perhatikan batas usia: respirator dapat digunakan pada anak usia 2 tahun ke atas, namun respirator resmi umumnya tidak tersedia dalam ukuran khusus untuk anak kecil, sehingga kesesuaian ukuran tetap perlu diperiksa secara individual. (7)
• Awasi anak selama pemakaian: anak perlu diawasi karena masker yang tidak pas atau tidak nyaman berisiko dilepas saat justru dibutuhkan, atau dipakai dengan cara yang salah. (7)
Kapan Masker Tidak Adekuat, Bahkan Berisiko bagi Anak?
Masker bukan satu-satunya solusi dan memiliki keterbatasan serta risiko tertentu yang perlu diperhatikan tenaga kesehatan saat memberikan edukasi kepada orang tua.
• Kesulitan bernapas atau pusing: anak yang mengalami kesulitan bernapas, pusing, atau ketidaknyamanan wajah saat memakai masker sebaiknya segera dibawa ke area dengan udara lebih bersih dan maskernya dilepas; jika gejala tidak membaik, perlu mendapat penanganan medis. (7)
• Risiko pada anak dengan gangguan jantung atau paru: penggunaan respirator dapat mempersulit pernapasan, sehingga anak dengan riwayat gangguan jantung atau paru sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakannya. (7)
• Risiko kondisi terkait panas: pemakaian masker saat cuaca panas atau aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko heat-related illness, sehingga diperlukan istirahat berkala dan asupan cairan yang cukup. (7)
• Bukan pengganti pembatasan paparan: membatasi waktu di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik saat kualitas udara buruk, dan menggunakan pembersih udara portabel di dalam ruangan tetap menjadi langkah pencegahan utama yang perlu dikombinasikan dengan penggunaan masker. (7)
FAQ
Pada usia berapa anak boleh menggunakan respirator N95?
Respirator N95 dapat digunakan pada anak usia 2 tahun ke atas. Namun, respirator resmi umumnya tidak diproduksi dalam ukuran khusus untuk anak kecil, sehingga orang tua perlu memilih ukuran yang benar-benar menutupi hidung hingga dagu tanpa celah dan tetap nyaman digunakan; anak tetap perlu diawasi karena masker yang tidak pas berisiko dilepas atau dipakai secara tidak benar. (7)
Apakah masker kain cukup melindungi anak dari asap kebakaran hutan?
Masker kain memberikan perlindungan paling rendah di antara jenis masker yang tersedia untuk masyarakat umum, dengan efisiensi terbaik hanya sekitar 0,3 terhadap partikel asap kebakaran hutan yang berukuran sangat halus dan reduksi paparan dunia nyata berkisar 0–50%. (3, 4) Bila memungkinkan, masker bedah atau respirator lebih dianjurkan saat kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran hutan.
Apa tanda masker tidak pas digunakan pada anak?
Tanda utama masker tidak pas adalah adanya celah atau kebocoran di sekitar tepi masker saat diperiksa sesuai petunjuk kemasan, yang menyebabkan udara tidak tersaring masuk ke saluran napas. Masker dengan satu tali atau tali yang hanya mengait telinga juga tidak dirancang untuk menutup rapat wajah, sehingga tidak direkomendasikan untuk perlindungan optimal. (7)
Apakah ada langkah pencegahan selain masker untuk melindungi anak dari polusi udara?
Ya. Membatasi waktu anak beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas fisik saat kualitas udara memburuk, dan menggunakan pembersih udara portabel di dalam ruangan merupakan langkah pencegahan yang dianjurkan bersamaan dengan penggunaan masker. (7) Kementerian Kesehatan RI turut menganjurkan pemantauan indeks kualitas udara secara rutin melalui aplikasi resmi sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum beraktivitas di luar rumah. (2)
Kesimpulan
Bagi dokter dan tenaga kesehatan, edukasi mengenai masker perlu menekankan bahwa jenis masker menentukan tingkat perlindungan—respirator N95 memberikan proteksi tertinggi, diikuti masker bedah, sementara masker kain paling rendah efektivitasnya terhadap partikel asap kebakaran hutan. Kesesuaian ukuran dan cara pemakaian yang benar sama pentingnya dengan pemilihan jenis masker, mengingat kebocoran akibat masker yang tidak pas dapat menurunkan efektivitas secara signifikan. Penggunaan masker pada anak juga perlu dikombinasikan dengan pembatasan aktivitas di luar ruangan dan pemantauan kualitas udara, bukan digunakan sebagai satu-satunya langkah pencegahan selama periode kabut asap.
Daftar Pustaka
1. Permana RH. BMKG ungkap penyebab karhutla di Kalimantan: iklim kering efek El Nino [Internet]. detikNews. 2026 Agu 21 [dikutip 2026 Agu 26]. Tersedia dari: https://news.detik.com/berita/d-8628464/bmkg-ungkap-penyebab-karhutla-di-kalimantan-iklim-kering-efek-el-nino
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Menkes: pakai masker dan pantau kualitas udara untuk cegah dampak asap karhutla [Internet]. Jakarta: Kemenkes RI; 2026 Agu 21 [dikutip 2026 Agu 26]. Tersedia dari: https://kemkes.go.id/id/menkes-pakai-masker-dan-pantau-kualitas-udara-untuk-cegah-dampak-asap-karhutla
3. Wagner J, Macher JM, Chen W, Kumagai K. Comparative Mask Protection against Inhaling Wildfire Smoke, Allergenic Bioaerosols, and Infectious Particles. Int J Environ Res Public Health. 2022 Nov 23;19(23):15555. doi: 10.3390/ijerph192315555. PMID: 36497628; PMCID: PMC9735667.
4. Holm SM, Miller MD, Balmes JR. Health effects of wildfire smoke in children and public health tools: a narrative review. J Expo Sci Environ Epidemiol. 2021 Feb;31(1):1-20. doi: 10.1038/s41370-020-00267-4.
5. Dhingra R, Keeler C, Staley BS, Jardel HV, Ward-Caviness C, Rebuli ME, Xi Y, Rappazzo K, Hernandez M, Chelminski AN, Jaspers I, Rappold AG. Wildfire smoke exposure and early childhood respiratory health: a study of prescription claims data. Environ Health. 2023 Jun 27;22(1):48. doi: 10.1186/s12940-023-00998-5.
6. Li S, Cao S, Duan X, Zhang Y, Gong J, Xu X, Guo Q, Meng X, Bertrand M, Zhang JJ. Long-term exposure to PM2.5 and children's lung function: a dose-based association analysis. J Thorac Dis. 2020 Okt;12(10):6379-95. doi: 10.21037/jtd-19-crh-aq-007.
7. US Environmental Protection Agency. Protect yourself from wildfire smoke and ash [Internet]. Washington (DC): EPA; 2026 Jul 24 [dikutip 2026 Agu 26]. Tersedia dari: https://www.epa.gov/wildfires/protect-yourself-wildfire-smoke-and-ash




