Edukasi
Apakah Anak Boleh Diberikan Obat Antidiare?
14 Oktober 2026
Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

"Penanganan utama diare akut pada anak adalah oralit, zinc, dan tetap memberi makan. Loperamid berisiko menimbulkan efek samping serius, terutama pada anak di bawah 3 tahun. Racecadotril, diosmektit, dan probiotik tertentu dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, tetapi tidak menggantikan rehidrasi. Pemilihannya perlu mempertimbangkan usia dan kondisi klinis anak."
Diare masih menjadi penyebab kematian ketiga terbanyak pada anak usia 1–59 bulan. World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa diare menyebabkan sekitar 443.832 kematian pada anak balita dan 50.851 kematian pada anak usia 5–9 tahun setiap tahunnya. Secara global, hampir 1,7 miliar kasus diare pada anak terjadi setiap tahun. (1)
Diare ditandai dengan buang air besar (BAB) yang encer atau cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari, atau lebih sering dari kebiasaan normal seseorang. Namun, frekuensi BAB yang meningkat dengan bentuk tinja tetap padat tidak termasuk diare. Begitu pula dengan tinja yang secara alami lebih lembek pada bayi yang mendapat ASI. (1)
Saat menghadapi anak yang mengalami diare, termasuk dalam kasus muntah dan diare massal di sekolah, orang tua sering bertanya apakah anak perlu diberi obat untuk menghentikan diare. Untuk menjawabnya, tenaga kesehatan perlu memahami terapi utama diare akut serta manfaat dan risiko masing-masing obat antidiare.
Apa Terapi Utama Diare Akut pada Anak?
Penanganan diare akut pada anak berfokus pada penggantian cairan dan elektrolit yang hilang, terutama melalui pemberian oralit, disertai suplementasi zinc. Dalam lembar fakta WHO, obat antidiare tidak termasuk dalam daftar penanganan utama diare akut pada anak. (1)
WHO merekomendasikan beberapa langkah penanganan berikut: (1)
- Pemberian oralit (oral rehydration salts/ORS). Oralit membantu menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang akibat diare. Cairan oralit dapat diserap melalui usus halus sehingga membantu mencegah dan mengatasi dehidrasi.
- Suplementasi zinc selama 10–14 hari. Pemberian zinc dapat memperpendek durasi diare sekitar 25% dan berkaitan dengan penurunan jumlah tinja yang dikeluarkan sekitar 30%.
- Pemberian cairan melalui infus. Diperlukan pada anak dengan dehidrasi berat atau syok.
- Melanjutkan pemberian makanan bergizi, termasuk ASI. Anak tetap perlu mendapat asupan makanan selama diare untuk mencegah perburukan status gizi.
- Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. Diperlukan apabila diare tidak kunjung membaik, terdapat darah dalam tinja, atau anak menunjukkan tanda dehidrasi.
Dehidrasi merupakan salah satu komplikasi utama yang perlu diwaspadai pada anak dengan diare. Namun, WHO juga mencatat bahwa infeksi bakteri yang berkembang menjadi sepsis kemungkinan semakin banyak berkontribusi terhadap kematian akibat diare. (1)
Karena itu, penanganan diare tidak cukup hanya berfokus pada frekuensi BAB. Kondisi hidrasi, kemampuan anak untuk minum, dan tanda penyakit berat juga perlu dinilai sebelum menentukan terapi.
Jenis Obat Antidiare yang Beredar dan Kesesuaiannya untuk Anak
Obat antidiare yang beredar di pasaran dapat dikelompokkan berdasarkan cara kerjanya, dan tiap kelompok memiliki tingkat kesesuaian yang berbeda untuk anak.
- Antimotilitas, seperti loperamid, bekerja dengan memperlambat gerakan usus. Obat ini tidak direkomendasikan oleh WHO, American Academy of Pediatrics (AAP), maupun ESPGHAN untuk anak, terutama yang berusia di bawah 3 tahun, karena risiko efek samping serius. (2,4)
- Antisekretori, yaitu racecadotril, bekerja dengan mengurangi pengeluaran cairan ke dalam usus tanpa memperlambat gerakan usus. Angka efek sampingnya tidak berbeda bermakna dibandingkan plasebo, tetapi jumlah penelitiannya masih terbatas. (3)
- Adsorben, seperti diosmektit, dan probiotik strain tertentu, seperti Lactobacillus GG dan Saccharomyces boulardii. Pedoman ESPGHAN/ESPID 2014 menyebut keduanya sebagai intervensi yang dapat membantu penanganan diare akut pada anak. (4)
Tidak satu pun dari kelompok obat tersebut menggantikan oralit dan zinc. Pemberiannya hanya bersifat tambahan dan perlu disesuaikan dengan usia serta kondisi klinis anak. (1,3)
Apakah Loperamid Dianjurkan pada Anak Kecil?
Loperamid bekerja dengan memperlambat gerakan usus sehingga dapat mengurangi frekuensi BAB. Meski demikian, penggunaannya pada anak kecil tidak dianjurkan karena berisiko menimbulkan efek samping serius. WHO dan AAP juga tidak merekomendasikan loperamid pada anak karena adanya kekhawatiran mengenai keamanan dan efektivitasnya, terutama pada usia muda. (2)
Meta-analisis uji klinis acak (randomized controlled trial/RCT) oleh Li dkk. menilai penggunaan loperamid dibandingkan plasebo pada anak berusia di bawah 12 tahun dengan diare akut. Efek samping serius terjadi pada 8 dari 927 anak (0,9%) yang menerima loperamid. Efek samping tersebut meliputi ileus (terganggunya gerakan usus), letargi atau penurunan kesadaran, hingga kematian. Sebaliknya, tidak ditemukan efek samping serius pada 764 anak yang mendapat plasebo. (2)
Seluruh efek samping serius pada kelompok loperamid terjadi pada anak berusia di bawah 3 tahun. (2)
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa risiko loperamid lebih besar daripada manfaatnya pada kelompok berikut, bahkan dengan dosis ≤0,25 mg/kg berat badan per hari: (2)
- Anak berusia di bawah 3 tahun.
- Anak dengan malnutrisi.
- Anak yang mengalami dehidrasi sedang hingga berat.
- Anak yang menunjukkan tanda penyakit sistemik atau kondisi sakit berat.
- Anak dengan diare berdarah.
Pada anak di luar kelompok tersebut, peneliti menyebut bahwa loperamid mungkin bermanfaat sebagai terapi tambahan. Namun, penggunaannya tetap memerlukan pertimbangan klinis yang cermat. (2)
Meta-analisis ini diterbitkan pada 2007. Meski begitu, temuannya mengenai risiko efek samping serius masih menjadi salah satu rujukan penting dalam mempertimbangkan keamanan loperamid pada anak.
Bagaimana dengan Racecadotril?
Racecadotril merupakan obat antisekretori yang bekerja dengan mengurangi pengeluaran cairan dan elektrolit ke dalam usus. Berbeda dengan loperamid, obat ini tidak bekerja dengan menghambat gerakan usus. (3)
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa racecadotril mungkin dapat membantu memperpendek durasi diare akut pada anak. Namun, bukti ilmiah yang tersedia masih terbatas.
Tinjauan sistematis dengan metode Cochrane oleh Gordon dan Akobeng mencakup tujuh uji klinis acak yang menilai penggunaan racecadotril pada anak dengan diare akut. (3)
Analisis terhadap tiga penelitian dengan 642 peserta menunjukkan durasi diare yang lebih singkat pada kelompok racecadotril dibandingkan plasebo. Selisih reratanya sebesar 53,48 jam (IK 95%: −65,64 hingga −41,33). (3)
Analisis terhadap lima penelitian dengan 949 peserta tidak menemukan perbedaan bermakna dalam kejadian efek samping antara racecadotril dan plasebo (RR 0,99; IK 95%: 0,73–1,34). Satu penelitian yang membandingkan racecadotril langsung dengan loperamid juga tidak menemukan perbedaan bermakna dalam efektivitas maupun efek samping kedua obat. (3)
Meski hasilnya cukup menjanjikan, penulis tinjauan menilai bahwa bukti manfaat racecadotril masih terbatas dan belum cukup kuat untuk dijadikan dasar rekomendasi secara luas. Mereka juga menegaskan bahwa pemberian oralit tetap menjadi penanganan utama diare akut pada anak. (3)
Dengan demikian, racecadotril dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada kondisi tertentu, tetapi penggunaannya tidak menggantikan kebutuhan rehidrasi.
Rekomendasi Pedoman ESPGHAN
Pedoman European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition (ESPGHAN) dan European Society for Pediatric Infectious Diseases (ESPID) tahun 2014 membahas sejumlah terapi tambahan yang dinilai dapat bermanfaat dalam penanganan diare akut pada anak. (4)
Terapi yang disebutkan dalam pedoman tersebut meliputi probiotik tertentu, seperti Lactobacillus GG dan Saccharomyces boulardii, diosmektit, serta racecadotril. Sebaliknya, pedoman yang sama tidak merekomendasikan loperamid untuk anak dengan diare akut. Pedoman tersebut juga menyebutkan bahwa sebagian besar kasus diare akut pada anak dapat ditangani secara rawat jalan. (4)
Namun, pedoman tersebut disusun berdasarkan kondisi pelayanan kesehatan di Eropa. Dalam praktik di Indonesia, pemilihan terapi tetap perlu disesuaikan dengan pedoman nasional, kondisi klinis pasien, serta ketersediaan obat di fasilitas kesehatan.
Kapan Anak dengan Diare Perlu Segera Dievaluasi?
Anak dengan diare perlu mendapat pemeriksaan lebih lanjut apabila keluhan berlangsung terus-menerus, terdapat darah dalam tinja, atau muncul tanda dehidrasi. (1)
Menurut WHO, derajat dehidrasi pada anak dapat dinilai berdasarkan tanda-tanda klinis berikut: (1)
- Dehidrasi berat: Ditandai dengan sedikitnya dua gejala berikut: anak tampak sangat lemas atau tidak sadar, mata cekung, tidak mampu minum atau hanya dapat minum sedikit, serta kulit yang kembali sangat lambat setelah dicubit (≥2 detik).
- Dehidrasi ringan hingga sedang: Ditandai dengan sedikitnya dua gejala berikut: anak tampak gelisah atau rewel, mata cekung, serta minum dengan lahap karena sangat haus.
- Tanpa dehidrasi: Anak tidak menunjukkan cukup tanda untuk digolongkan mengalami dehidrasi ringan hingga sedang ataupun dehidrasi berat.
Selain tanda dehidrasi, durasi diare dan kondisi tinja juga perlu diperhatikan. Diare yang berlangsung selama 14 hari atau lebih disebut diare persisten. Diare akut yang disertai darah dalam tinja disebut disentri. Kedua kondisi tersebut memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai. (1)
Penilaian kondisi anak secara menyeluruh penting dilakukan. Dengan begitu, tenaga kesehatan dapat menentukan apakah pasien masih dapat ditangani dengan rehidrasi oral atau membutuhkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.
Perlukah Anak Diberikan Obat untuk Menghentikan Diare?
Pemberian obat untuk menghentikan diare tidak selalu diperlukan pada anak. Penanganan utama diare akut tetap berupa pemberian oralit, suplementasi zinc selama 10–14 hari, serta melanjutkan pemberian makanan dan ASI sesuai usia anak. (1)
Loperamid sebaiknya tidak digunakan pada anak berusia di bawah 3 tahun. Obat ini juga sebaiknya dihindari pada anak dengan kondisi berisiko, seperti malnutrisi, dehidrasi sedang hingga berat, penyakit sistemik, dan diare berdarah. Pada kelompok ini, kemungkinan efek samping seriusnya lebih besar daripada manfaat yang diperoleh. (2)
Racecadotril memiliki sejumlah bukti manfaat dalam memperpendek durasi diare, dengan angka efek samping yang tidak berbeda bermakna dibandingkan plasebo. Meski demikian, jumlah penelitian yang mendukung penggunaannya masih terbatas. (3) Diosmektit dan probiotik tertentu juga disebut dalam pedoman ESPGHAN/ESPID sebagai terapi tambahan yang dapat dipertimbangkan. (4)
Dalam praktik klinis, keputusan pemberian obat tambahan perlu mempertimbangkan usia, tingkat dehidrasi, dan kondisi umum anak. Edukasi kepada orang tua juga perlu menekankan pentingnya rehidrasi serta pengenalan tanda bahaya yang memerlukan pemeriksaan segera.
FAQ
Apa saja jenis obat antidiare untuk anak?
Obat antidiare yang beredar meliputi beberapa kelompok, yaitu antimotilitas (loperamid), antisekretori (racecadotril), adsorben (diosmektit), dan probiotik strain tertentu. Loperamid tidak direkomendasikan untuk anak. Kelompok lainnya dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan, tetapi tidak menggantikan oralit dan zinc. (2–4)
Bolehkah loperamid diberikan pada anak?
Loperamid tidak dianjurkan pada anak berusia di bawah 3 tahun, anak dengan malnutrisi, dehidrasi sedang hingga berat, penyakit sistemik, atau diare berdarah. Pada kelompok ini, risiko efek samping serius, seperti ileus dan letargi, lebih besar dibandingkan manfaatnya. (2)
Apakah racecadotril aman untuk anak?
Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa angka efek samping racecadotril tidak berbeda bermakna dibandingkan plasebo. Namun, jumlah penelitian yang tersedia masih terbatas. Racecadotril juga hanya digunakan sebagai terapi tambahan dan tidak menggantikan pemberian oralit. (3)
Berapa lama zinc diberikan pada anak dengan diare?
WHO menganjurkan suplementasi zinc selama 10–14 hari pada anak dengan diare. Pemberian zinc dapat membantu memperpendek durasi diare sekitar 25%. (1)
Apakah ASI perlu dihentikan saat bayi diare?
Tidak. WHO menganjurkan agar pemberian ASI tetap dilanjutkan selama bayi mengalami diare. Asupan makanan bergizi juga perlu dipertahankan sesuai usia dan kemampuan makan anak. (1)
Daftar Pustaka
- World Health Organization. Diarrhoeal disease [Internet]. Geneva: WHO; 2024 Mar 7 [dikutip 2026 Okt 12]. Tersedia dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease
- Li ST, Grossman DC, Cummings P. Loperamide therapy for acute diarrhea in children: systematic review and meta-analysis. PLoS Med. 2007;4(3):e98. doi:10.1371/journal.pmed.0040098
- Gordon M, Akobeng A. Racecadotril for acute diarrhoea in children: systematic review and meta-analyses. Arch Dis Child. 2016;101(3):234-40.
- Guarino A, Ashkenazi S, Gendrel D, Lo Vecchio A, Shamir R, Szajewska H. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology, and Nutrition/European Society for Pediatric Infectious Diseases evidence-based guidelines for the management of acute gastroenteritis in children in Europe: update 2014. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2014;59(1):132-52. doi:10.1097/MPG.0000000000000375




