Dot Grid
Beranda/Berita & Artikel/ Artikel Detail

Berita

Workshop RCCE Soroti Strategi Konten Emosional untuk Ubah Perilaku Kesehatan di Masyarakat

4 Agustus 2025

Ditulis oleh dr. Afiah Salsabila

Workshop RCCE Soroti Strategi Konten Emosional untuk Ubah Perilaku Kesehatan di Masyarakat

Jakarta, 1 Agustus 2025 – Dalam upaya meningkatkan efektivitas komunikasi kesehatan di era digital, Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE) menyelenggarakan Workshop Media Sosial bertajuk “Strategi Konten Kesehatan Berbasis Emosional untuk Perubahan Perilaku”. Bertempat di Gedung Adhyatma Kementerian Kesehatan RI, acara ini menghadirkan Firdza Radiany, Inisiator Pandemic Talks, sebagai narasumber utama.

Acara dibuka dengan sambutan dari Aji Muhawarman selaku Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, disusul oleh Rizky Ika Syafitri dari UNICEF Indonesia yang mewakili RCCE. Dalam sambutannya, keduanya menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang relevan dan menyentuh emosi publik untuk mencapai perubahan perilaku yang berkelanjutan di masyarakat.


Tantangan: Konten Kesehatan Kalah Saing dengan Topik Lainnya

Dalam sesi utama yang berlangsung selama satu jam, Firdza memaparkan tiga tantangan besar dalam komunikasi kesehatan di media sosial. Pertama, dari sisi kuantitas, topik kesehatan masih jauh tertinggal dibandingkan tema hiburan, gosip, politik, atau lifestyle. Kedua, dari sisi kualitas, banyak konten kesehatan masih didominasi oleh pendekatan hard sell, yaitu jenis konten yang menampilkan program atau layanan tanpa muatan emosional yang bermakna. Ketiga, adanya jarak emosional antara audiens dengan konten kesehatan, yang membuat masyarakat enggan berinteraksi atau bahkan mengabaikannya. 


Bahaya Strategi Hard Sell dalam Komunikasi Kesehatan

Menurut Firdza, konten yang sarat akan ajakan langsung seperti “daftar sekarang!”, dan visual konvensional yang menyerupai iklan adalah ciri utama konten yang terjebak hard selling. 

Ia menjelaskan bahwa konten hard selling memiliki sejumlah dampak negatif, di antaranya audience fatigue—yakni kelelahan audiens karena terus-menerus “digempur” informasi promosi yang terasa transaksional. Hal ini dapat membuat audiens merasa menjadi “obyek” yang hanya disapa saat ada produk atau program yang ingin ditawarkan, bukan sebagai mitra dialog yang setara. 

Tak hanya itu, konten seperti ini dapat menyebabkan rendahnya interaksi organik dan memperburuk persepsi publik terhadap kanal resmi pemerintah atau institusi kesehatan yang dianggap kaku dan membosankan.


Solusi: Gunakan Teknik Storytelling dan Emotional Marketing

Untuk menjawab tantangan tersebut, Firdza menyuguhkan strategi pembuatan konten berbasis storytelling dan emotional marketing. Salah satu pendekatan efektif adalah membalik struktur penyampaian informasi: bukan dari latar belakang dan metode seperti tulisan ilmiah, melainkan dimulai dari dampak atau hasil yang menyentuh kehidupan nyata.

Misalnya, alih-alih memulai dengan data WHO tentang lemak jenuh, konten bisa dibuka dengan kalimat seperti: “Makan gorengan tiap hari bisa bikin darah tinggi dalam 6 bulan.” Baru setelah itu dijelaskan alasannya dan dilanjutkan dengan data pendukung.

Pendekatan ini juga menuntut pembuat konten untuk memosisikan diri sebagai teman, bukan otoritas. Bahasa yang digunakan harus hangat, inklusif, dan bebas dari istilah medis yang rumit. Firdza menekankan pentingnya menyusun narasi yang terdiri dari 75% cerita dan hanya 25% data atau konteks ilmiah.


Strategi “Door Opening”: Masuk Lewat Emosi Sehari-hari

Salah satu teknik yang disorot adalah door opening strategy, yaitu membuka komunikasi lewat keresahan atau kebiasaan yang dirasakan banyak orang. Contohnya dalam membahas topik GGL (gula, garam, lemak), Firdza menyarankan pembuka seperti: “Susah banget nolak gorengan sore-sore, apalagi kalau hujan...”. Setelah audiens merasa dipahami, barulah masuk ke konten edukatif.


Praktik Langsung: Latihan Membuat Konten Emosional

Sesi kedua workshop diisi dengan kerja kelompok. Peserta dibagi menjadi 5 kelompok dan diminta memilih topik, data yang menarik, target audiens, serta emosi yang relevan. Mereka lalu merancang alur cerita menjadi empat slide: judul, penjelasan isu, identifikasi dampak/gejala, dan call to action.

Penilaian dilakukan berdasarkan lima aspek: nilai jual data, kesesuaian visual, ketepatan audiens dan emosi, kerapian visual, dan seberapa engaging storyline-nya. Pendekatan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta untuk menciptakan konten yang tidak hanya informatif tetapi juga menggugah.


Menuju Komunikasi Kesehatan yang Relevan dan Efektif

Melalui workshop ini, RCCE berharap dapat mendorong transformasi besar dalam cara institusi kesehatan menyampaikan pesan ke publik. Karena di era digital yang sarat informasi, keberhasilan kampanye bukan lagi soal siapa paling banyak bicara, melainkan siapa yang paling bisa menyentuh dan menggerakkan, tetap saat yang bersamaan tetap kredibel.


Artikel Terkait


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan