Berita
WHO Terbitkan Laporan Perdana tentang Tes dan Pengobatan Infeksi Jamur

Latar Belakang
Infeksi jamur kini semakin menjadi perhatian global, terutama pada populasi dengan kerentanan tinggi seperti neonatus, anak dengan imunodefisiensi, pasien kanker, HIV, dan transplantasi. Pada 1 April 2025, World Health Organization (WHO) secara resmi mempublikasikan laporan yang menandai tonggak baru dalam penanganan infeksi jamur secara global. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, WHO menyusun dua laporan komprehensif terkait infeksi jamur, satu mengenai ketersediaan dan akses terhadap pemeriksaan diagnostik, dan satu terkait efektivitas terapi antijamur secara global. Kedua laporan ini menjadi lanjutan dari WHO Fungal Priority Pathogens List (FPPL) terbitan tahun 2022 silam, yang melaporkan hasil identifikasi patogen jamur berdasarkan dampak klinis dan kebutuhan riset mendesak. (1,2) Dengan adanya laporan-laporan tersebut, jenis infeksi fungal yang terjadi dapat terpetakan secara lebih jelas, sehingga upaya meningkatkan kewaspadaan dan tata laksana infeksi mikotik dapat berjalan lebih baik guna pelayanan kesehatan yang optimal.
Relevansi Laporan Mengenai Infeksi Jamur
Laporan-laporan terbaru mengenai diagnosis dan tatalaksana infeksi jamur dari WHO tersebut disusun untuk mendorong langkah-langkah strategis di bidang riset, pengembangan, serta peningkatan kapasitas diagnostik dan terapeutik terhadap infeksi jamur prioritas. WHO mencatat bahwa selama beberapa dekade terakhir, penyakit jamur invasif belum mendapatkan perhatian yang memadai meskipun berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit global. Salah satu tujuan utama laporan ini adalah menyediakan dasar ilmiah dan kebijakan bagi negara-negara anggota untuk membentuk respons yang terkoordinasi dan berbasis bukti terhadap ancaman mikotik (1,2).
WHO juga menegaskan perlunya kolaborasi multisektoral untuk menjawab tantangan ini, termasuk sektor akademik, farmasi, laboratorium, dan layanan kesehatan. Laporan ini bukan hanya menjadi referensi bagi pembuat kebijakan, tetapi juga panduan praktis bagi tenaga kesehatan, termasuk dokter anak, dalam mengidentifikasi, mendiagnosis, dan menangani kasus infeksi jamur di layanan primer maupun tersier.
Daftar Patogen Jamur Prioritas
WHO Fungal Priority Pathogens List (FPPL) 2022 menetapkan 19 patogen jamur utama yang diklasifikasikan ke dalam tiga tingkat prioritas: kritis, tinggi, dan sedang. Proses penilaian dilakukan melalui pendekatan multicriteria decision analysis (MCDA) dengan mempertimbangkan beban penyakit, tingkat kematian, resistensi antijamur, serta tingkat ketersediaan alat diagnostik dan terapi yang efektif (1).
Empat patogen dikategorikan dalam kelompok prioritas kritis, yaitu Cryptococcus neoformans, Candida auris, Aspergillus fumigatus, dan Candida albicans. Patogen lainnya seperti Histoplasma spp., Mucorales, dan Fusarium spp. masuk ke dalam prioritas tinggi. Sementara Pneumocystis jirovecii dan Paracoccidioides spp. dimasukkan dalam kategori prioritas sedang. Beberapa patogen ini sudah umum ditemukan di fasilitas kesehatan rujukan di Indonesia, terutama pada pasien pediatrik imunokompromais.
Tantangan Diagnosis dan Pengobatan
Berdasarkan laporan-laporan ini, tantangan paling besar dalam penanganan infeksi jamur adalah diagnosis yang terlambat dan pilihan antijamur yang terbatas. Hingga saat ini, hanya tersedia empat kelas utama antijamur: azole, echinocandin, polyene, dan flucytosine. Beberapa patogen, seperti Candida auris, telah menunjukkan resistensi terhadap hampir seluruh kelas antijamur tersebut, termasuk di unit perawatan intensif neonatal dan pediatrik (1,3).
WHO mencatat bahwa sebagian besar diagnosis infeksi jamur masih mengandalkan metode kultur dan mikroskopi konvensional yang bersifat lambat dan kurang sensitif. Alat diagnostik berbasis molekuler seperti PCR dan teknologi MALDI-TOF belum tersedia secara luas, khususnya di negara-negara berkembang. Padahal, deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan terapi, terutama pada kelompok usia anak dan bayi yang mengalami infeksi sistemik.
Laporan WHO menekankan tiga prioritas aksi global. Pertama adalah penguatan sistem surveilans dan laboratorium untuk pemantauan infeksi jamur dan resistensinya. Kedua adalah percepatan riset dan pengembangan, termasuk inovasi terapi baru dan alat diagnosis cepat, murah, dan mudah diterapkan di layanan kesehatan primer. Ketiga, WHO menyerukan peningkatan edukasi dan kapasitas tenaga kesehatan dalam mengenali serta menatalaksana mikosis secara tepat, termasuk pembentukan program antifungal stewardship untuk mencegah penggunaan antijamur yang tidak rasional (1,2).
Laporan ini juga menekankan pentingnya memperkuat sistem regulasi untuk memastikan ketersediaan antijamur esensial, termasuk amphotericin B liposomal dan echinocandin, yang sering tidak tersedia di banyak negara. WHO menyerukan agar negara-negara mengadopsi pendekatan lintas sektor untuk meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan, dan penggunaan rasional antijamur.
Implikasi bagi Praktik Dokter Anak di Indonesia
Bagi dokter anak di Indonesia, laporan ini memberikan pijakan penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap infeksi jamur invasif yang mungkin tidak selalu tampak jelas secara klinis. Neonatus dengan rawat inap lama, anak dengan kanker atau HIV, serta pasien dengan penggunaan antibiotik jangka panjang merupakan populasi yang sangat berisiko mengalami mikosis sistemik. Manifestasi klinis yang tidak khas sering menyebabkan keterlambatan diagnosis dan intervensi.
Kondisi ini diperburuk dengan kurangnya akses ke alat diagnosis dan terapi yang efektif di banyak rumah sakit, terutama di luar kota besar. Oleh karena itu, dokter anak diharapkan mengambil peran aktif dalam mengenali faktor risiko dan mendorong tata laksana berbasis bukti. Di samping itu, keterlibatan dokter anak dalam advokasi untuk pengadaan diagnostik cepat dan terapi esensial juga menjadi penting dalam konteks kebijakan kesehatan nasional.
Penutup
Laporan perdana WHO mengenai tes dan pengobatan infeksi jamur merupakan tonggak penting dalam membangun kesadaran global terhadap penyakit mikotik yang selama ini terabaikan. Dengan mengidentifikasi patogen prioritas, menyoroti kesenjangan dalam akses diagnostik dan terapi, serta memberikan rekomendasi konkret, WHO mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk komunitas dokter anak, untuk bersinergi dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat infeksi jamur di seluruh dunia. Bagi Indonesia, ini adalah momentum untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan anak terhadap penyakit yang tidak hanya berisiko tinggi, tetapi juga sering kali tersembunyi di balik gejala klinis yang nonsifik.
Referensi
- World Health Organization. WHO fungal priority pathogens list to guide research, development and public health action. Geneva: WHO; 2022.
- World Health Organization. WHO issues its first-ever reports on tests and treatments for fungal infections [Internet]. Geneva: WHO; 2025 [cited 2025 Apr 14]. Available from: https://www.who.int/news/item/01-04-2025-who-issues-its-first-ever-reports-on-tests-and-treatments-for-fungal-infections
- Chowdhary A, Sharma C, Meis JF. Candida auris: A rapidly emerging cause of hospital-acquired multidrug-resistant fungal infections globally. PLoS Pathog. 2017;13(5):e1006290.

