Berita
Webinar PrimaPro Tekankan Pentingnya Rehidrasi, Nutrisi, dan Vaksinasi Rotavirus dalam Pencegahan dan Tata Laksana Diare di Anak

6 Oktober 2025 – PrimaPro kembali menyelenggarakan webinar edukatif bagi para dokter anak dan tenaga kesehatan dengan topik “Update Tatalaksana Diare pada Bayi dan Anak”secara online. Acara ini menghadirkan narasumber pakar, yakni dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A, Subsp. G.H.(K) dan dr. Yuni Astria, Sp.A, yang bertindak sebagai moderator.
Dalam pembukaannya, dr. Eva menyoroti fakta bahwa diare masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa secara global, kematian akibat diare turun dari 4,5 juta kasus pada 1979 menjadi 443 ribu pada 2024, namun kasusnya masih tinggi, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Ia menambahkan juga kalau masih terjadi 60 juta episode diare setiap tahunnya di Indonesia.
Etiologi dan Patogenesis Diare
Berdasarkan pemaparan dr. Eva, sebagian besar diare pada anak disebabkan oleh infeksi rotavirus yang merupakan etiologi dari 70–80 persen seluruh kasus diare, diikuti infeksi bakteri seperti E. coli dan Shigella, serta faktor lain seperti alergi makanan, gangguan penyerapan, dan keracunan makanan. dr. Eva menjelaskan bahwa mekanisme penyakit ini dapat menyebabkan dehidrasi, yang jika tidak ditangani dengan baik dapat berakibat fatal.
Diagnosis dan Penentuan Derajat Dehidrasi
Diagnosis diare pada anak dilakukan melalui anamnesis mendalam dan penilaian klinis terhadap derajat dehidrasi. Menurut materi yang disampaikan dr. Eva, dokter perlu menilai frekuensi buang air besar, jumlah cairan yang hilang, hingga kondisi umum anak. Panduan WHO 2004 membagi kondisi dehidrasi menjadi tiga: tanpa dehidrasi (<5% berat badan), dehidrasi ringan–sedang (5–10%), dan dehidrasi berat (>10%). Pada anak dengan dehidrasi berat, gejala bisa berkembang cepat menjadi syok hipovolemik dan membutuhkan terapi cairan intravena segera.
Pendekatan Tata Laksana Terbaru
Dalam sesi utama, dr. Eva menekankan bahwa tujuan penatalaksanaan diare adalah mencegah dan mengatasi dehidrasi, menjaga status gizi, serta menurunkan angka kekambuhan. Pendekatan ini meliputi rehidrasi oral, terapi cairan intravena untuk kasus berat, terapi nutrisi, serta pemberian suplementasi zinc dan probiotik sebagai terapi suportif. Untuk anak tanpa dehidrasi, perawatan bisa dilakukan di rumah dengan memberi cairan lebih banyak dari biasanya dan meneruskan pemberian ASI. Zinc diberikan selama 10–14 hari untuk mempercepat pemulihan usus dan menurunkan risiko kekambuhan. Pada kasus dehidrasi ringan–sedang, cairan rehidrasi oral (CRO) menjadi terapi utama karena mudah diserap usus dan aman diberikan di fasilitas layanan primer.
Nutrisi dan Suplementasi
Pemberian makanan pada anak dengan diare tidak boleh dihentikan. ASI tetap diberikan, dan makanan padat harus dilanjutkan sedikit demi sedikit sesuai toleransi anak. Bila ditemukan intoleransi laktosa, susu bebas laktosa dapat digunakan sementara. Setelah sembuh, anak dianjurkan makan satu kali ekstra setiap hari selama satu minggu untuk mengejar pertumbuhan yang sempat tertunda.
Pemberian zinc selama 10–14 hari terbukti menurunkan risiko diare berulang hingga dua hingga tiga bulan, menurunkan kematian sebesar 51 persen, serta mengurangi kebutuhan antibiotik secara bermakna. Probiotik turut direkomendasikan untuk membantu mempercepat perbaikan mukosa usus dan memperkuat imunitas saluran cerna.
Peran Vaksinasi Rotavirus dalam Menurunkan Angka Diare pada Anak
Dalam sesi pencegahan, dr. Eva juga menegaskan pentingnya vaksinasi rotavirus sebagai bagian integral dari strategi nasional pengendalian diare. WHO telah merekomendasikan vaksin rotavirus sebagai bagian dari strategi global bersama dengan peningkatan higiene, sanitasi, dan edukasi masyarakat. Saat ini tersedia dua jenis vaksin yang umum digunakan di Indonesia, yaitu Rotarix® (vaksin monovalen, dua dosis) dan RotaTeq® (vaksin pentavalen, tiga dosis), yang sama-sama telah terbukti aman tanpa peningkatan risiko intussusception dibandingkan plasebo. Selain itu, vaksin lokal Rotavac dan RV3-BB sedang dikembangkan dan diharapkan dapat meningkatkan akses vaksinasi rotavirus di masa depan
Meski tata laksana diare sudah banyak diperbarui, tantangan di lapangan masih besar. Banyak orang tua belum memahami tanda bahaya diare, dan kebiasaan hidup bersih belum merata. Selain itu, harga vaksin masih menjadi kendala di beberapa daerah, sementara produksi vaksin lokal masih dalam tahap pengembangan.
Pesan Penutup
Mengakhiri sesi webinar, dr. Eva kembali menegaskan bahwa diare merupakan penyakit endemis di Indonesia yang dapat dicegah dan ditangani secara efektif bila dikenali sejak dini. Ia mengingatkan pentingnya edukasi orang tua untuk menjaga kebersihan pribadi, memberikan cairan dan nutrisi yang cukup selama diare, serta memastikan anak mendapatkan vaksin rotavirus.
Webinar ini menjadi salah satu bentuk komitmen PrimaPro dalam meningkatkan kompetensi dokter anak di Indonesia melalui pembaruan ilmu berbasis panduan klinis terkini. Dengan pemahaman yang lebih menyeluruh tentang tatalaksana diare, diharapkan para dokter dapat memberikan pelayanan yang lebih tepat dan efektif dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat diare pada anak.
Sampai jumpa di webinar berikutnya! Pantau linimasa artikel PrimaPro untuk update seputar jadwal webinar yang akan datang.

