Dot Grid

Berita

Waspadai Meningitis Bakterialis Akut pada Anak: Diagnosis Cepat, Terapi Tepat

Waspadai Meningitis Bakterialis Akut pada Anak: Diagnosis Cepat, Terapi Tepat

Meski angka kejadian meningitis menurun secara global berkat vaksinasi, meningitis bakterialis akut (MBA) tetap menjadi ancaman serius di praktik sehari-hari dokter anak. Anak dengan demam tinggi, kejang, atau penurunan kesadaran bisa tampak seperti kasus infeksi biasa—namun bisa jadi merupakan awal dari kondisi yang mematikan dan menyebabkan dampak jangka panjang. Oleh karena itu, ketepatan dalam mencurigai, menegakkan diagnosis, dan memberikan terapi sejak dini sangat menentukan luaran pasien . (1)


Kapan Harus Mencurigai Meningitis?

Setiap anak dengan demam tinggi mendadak disertai kejang, penurunan kesadaran, iritabilitas ekstrem, atau gejala neurologis seperti kaku kuduk dan fotofobia harus dicurigai mengalami MBA. Pada bayi dan neonatus, gejala sering tidak khas: menangis melengking, ubun-ubun menonjol, muntah, tidak mau menyusu, atau bahkan hipotonia dapat menjadi satu-satunya tanda . (2)

Jika terdapat riwayat infeksi saluran napas, otitis media, atau sinusitis sebelumnya, apalagi disertai gejala sistemik berat, tingkatkan kecurigaan terhadap perluasan infeksi ke sistem saraf pusat. Jangan menunggu munculnya tanda meningeal klasik, karena bisa jadi datang terlambat . (1)


Langkah Pertama: Lakukan Pemeriksaan Pungsi Lumbal

Begitu ada kecurigaan klinis, segera lakukan pungsi lumbal (PL). Tidak perlu menunggu hasil CT scan, kecuali bila terdapat papiledema, defisit neurologis fokal berat, atau riwayat penyakit SSP struktural. Dari cairan serebrospinal (CSS), periksa jumlah leukosit total dan diferensial, glukosa CSS dan rasio terhadap glukosa darah, protein CSS, gram stain dan kultur.

Jika tersedia, tambahkan pemeriksaan PCR multiplex atau uji antigen cepat, terutama bila pasien telah menerima antibiotik sebelumnya. Jika PL harus ditunda karena indikasi neuroimaging, ambil kultur darah dan mulai antibiotik empiris tanpa menunggu hasil . (3)


Konfirmasi Diagnosis dan Singkirkan Etiologi Lain

Diagnosis MBA dapat ditegakkan bila didapatkan pleositosis neutrofilik, hipoglikorakia, dan protein CSS yang meningkat, dengan atau tanpa hasil kultur positif. Singkirkan penyebab lain seperti meningitis viral, tuberkulosis, atau jamur, terutama jika gejala menetap tanpa respons terapi . (1,3)


Berikan Terapi Empiris Tanpa Menunda

Terapi antibiotik harus dimulai segera setelah PL dilakukan, atau bahkan sebelum jika PL tertunda . (1)

Berikut adalah terapi lini pertama yang disarankan untuk diberikan. Gunakan seftriakson 100 mg/kg/hari atau cefotaksim 200 mg/kg/hari IV, dibagi 2–3 dosis. Tambahkan vankomisin jika ada risiko resistensi S. pneumoniae. Jika curiga H. influenzae tipe b, berikan deksametason 0,15 mg/kg/dosis IV setiap 6 jam selama 2–4 hari, berbarengan dengan antibiotik pertama untuk mengurangi risiko tuli sensorineural . (1,2)

Lama terapi disesuaikan sebagai berikut: N. meningitidis selama 7 hari, H. influenzae selama 10 hari, S. pneumoniae selama 10–14 hari, dan untuk bakteri Gram negatif seperti E. coli, terapi diberikan minimal selama 21 hari . (2)


Jangan Lupakan Terapi Pendukung dan Monitoring

Terapi tidak berhenti pada antibiotik. Lakukan tatalaksana suportif berupa pemberian cairan pemeliharaan dengan isotonik, serta hindari overload cairan karena dapat memperburuk edema serebral. Tangani kejang dengan diazepam, midazolam, atau fenobarbital sesuai indikasi. Pantau tekanan intrakranial secara klinis.

Pemantauan ketat terhadap status mental, tanda vital dan perfusi perifer, serta tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti bradikardi, hipertensi, dan pupil anisokor juga diperlukan. Pantau keseimbangan cairan dan status nutrisi secara berkala. Jika pasien stabil, lakukan pemeriksaan pendengaran seperti BERA sebelum pulang untuk mendeteksi gangguan pendengaran sensorineural sejak dini . (1,2)


Setelah Masa Akut, Jangan Lupa Rehabilitasi

Meskipun anak tampak pulih secara klinis, MBA bisa meninggalkan sekuele jangka panjang. Berikan edukasi kepada orang tua mengenai tanda-tanda keterlambatan perkembangan, gangguan pendengaran, dan kejang berulang. Jika diperlukan, rujuk ke layanan rehabilitasi medik, neurologi anak, atau audiologis untuk intervensi dini . (1)


Penutup

Meningitis bakterial adalah kondisi emergensi pediatrik yang menuntut kepekaan klinis tinggi dan tatalaksana yang cepat. Diagnosis yang terlambat atau terapi yang tidak adekuat dapat berujung pada kematian atau kecacatan permanen. Sebaliknya, dengan diagnosis dini, antibiotik tepat, dan monitoring yang intensif, kita bisa mengubah perjalanan penyakit ini menjadi kisah penyembuhan. Sebagai dokter anak, kita memegang peran penting dalam menyelamatkan nyawa dan masa depan anak dari meningitis.


Daftar Pustaka

  1. World Health Organization. WHO Guidelines on Meningitis Diagnosis, Treatment and Care. Geneva: WHO; 2025. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470351/
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis IDAI. Jakarta: IDAI; 2009. Hal. 189–192.
  3. Alamarat Z, Hasbun R. Management of Acute Bacterial Meningitis in Children. Infect Drug Resist. 2020;13:4077–4089. doi:10.2147/IDR.S240162




Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan