Berita
UPDATE 2025: WHO Larang Pengunaan Kortikosteroid dalam Tata Laksana Infeksi Dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue (DENV) dan ditularkan oleh nyamuk Aedes. Penyakit ini ditandai dengan gejala demam tinggi, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi, ruam kulit, serta keluhan mual dan muntah. Pada kasus berat, komplikasi seperti perdarahan, syok, dan kegagalan organ dapat terjadi. Komplikasi-komplikasi ini lebih sering ditemukan pada individu yang sebelumnya sudah pernah terinfeksi dengue dengan serotipe berbeda, sehingga memunculkan dugaan kuat bahwa mekanisme imun berperan besar dalam patogenesis penyakit, khususnya pada fenomena plasma leakage yang menjadi ciri khas DBD berat. (1,2)
Mengapa Kortikosteroid Pernah Dipertimbangkan?
Pemahaman ini sempat menuntun sebagian klinisi untuk mempertimbangkan penggunaan kortikosteroid. Secara teori, obat ini memiliki kemampuan menekan sistem imun melalui berbagai mekanisme, seperti menghambat sistem komplemen yang mencetuskan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Dengan efek-efek tersebut, kortikosteroid diperkirakan dapat mengurangi kebocoran plasma, menstabilkan membran, dan mencegah terjadinya kolaps sirkulasi.
Bagaimana Bukti Ilmiah yang Ada di Literatur?
Sebuah systematic review dan meta-analisis yang dipublikasikan di Cochrane oleh Zhang dkk. pada tahun 2014 yang menggabungkan delapan randomized-controlled trial (RCT) pada pasien anak maupun dewasa menemukan bahwa pemberian kortikosteroid tidak memberikan manfaat signifikan. Tidak terdapat penurunan angka kematian, kebutuhan transfusi darah, kejadian perdarahan paru, kejang, maupun lama rawat inap pada pasien yang mendapat kortikosteroid dibandingkan dengan yang tidak. (3) Hingga kini, belum ada penelitian skala besar yang berhasil membantah kesimpulan tersebut.
Rekomendasi WHO 2025
Berdasarkan akumulasi bukti ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam panduan terbarunya yang baru dirilis pada bulan Juli 2025 silam secara tegas menyatakan bahwa kortikosteroid tidak direkomendasikan untuk pengobatan infeksi arbovirus, terutama dengue, dengan atau tanpa tanda bahaya, baik pada anak maupun dewasa. (1) WHO menekankan bahwa tidak ada bukti manfaat klinis yang konsisten, sementara potensi risikonya cukup jelas: imunosupresi, peningkatan risiko infeksi sekunder, serta kemungkinan memperberat perdarahan pada pasien dengan trombositopenia. (1,3)
Pada panduan terbarunya, WHO menyatakan bahwa rekomendasi ini tidak hanya berlaku untuk dengue, tetapi juga diperluas pada infeksi arbovirus lainnya seperti chikungunya, Zika, dan yellow fever. (1) Untuk seluruh penyakit ini, WHO menyarankan agar pengobatan tetap berfokus pada tata laksana suportif.
Fokus pada Tata Laksana Suportif
Dengan demikian, meskipun teori imunopatogenesis dengue memberi alasan logis untuk mencoba menekan reaksi imun berlebihan dengan kortikosteroid, bukti klinis sejauh ini tidak mendukung langkah tersebut. WHO menegaskan bahwa pendekatan paling efektif untuk mencegah komplikasi dan kematian akibat dengue adalah dengan deteksi dini, pemantauan ketat parameter klinis dan laboratorium, serta tata laksana suportif yang tepat sesuai fase penyakit. (1)
Referensi
- World Health Organization. WHO guidelines for clinical management of arboviral diseases: dengue, chikungunya, Zika and yellow fever Geneva: World Health Organization; 2025.
- Bandara SMR, Herath HMMTB. Corticosteroid actions on dengue immune pathology: A review article. Clin Epidemiol Glob Health. 2020;8(2):486-494.
- Zhang F, Kramer CV. Corticosteroids for dengue infection. Cochrane Database Syst Rev. 2014;(7):CD003488. doi:10.1002/14651858.CD003488.pub3.

