Berita
Telur Tidak Menyebabkan Bisul

Di tengah masyarakat, masih berkembang keyakinan bahwa konsumsi telur dapat menyebabkan timbulnya bisul pada anak. Anggapan ini kerap membuat orang tua ragu, bahkan menolak, saat dianjurkan meningkatkan asupan protein anak melalui telur — padahal telur merupakan sumber protein hewani yang terjangkau, mudah diolah, dan bernilai gizi tinggi. Sebagai tenaga kesehatan, penting untuk meluruskan miskonsepsi ini dengan penjelasan yang berbasis bukti, agar orang tua tidak kehilangan sumber protein yang esensial bagi tumbuh kembang anak karena kekhawatiran yang keliru.
Mengenal Bisul: Infeksi Bakteri, Bukan Reaksi Makanan
Bisul, atau furunkel, adalah benjolan berisi nanah pada kulit yang timbul akibat infeksi bakteri pada folikel rambut beserta jaringan di sekitarnya. (1) Kondisi ini terjadi ketika folikel rambut mengalami peradangan hingga jaringan di dalamnya mati dan membentuk rongga berisi nanah (abses). Apabila beberapa bisul yang berdekatan menyatu menjadi satu massa yang lebih besar, kondisi ini disebut karbunkel. (1) Penyebab utama bisul adalah bakteri Staphylococcus aureus, yang sebenarnya banyak dijumpai sebagai flora normal pada kulit maupun rongga hidung tanpa menimbulkan gejala. (1) Bisul lebih mudah muncul pada individu dengan sistem imun yang melemah, misalnya penyandang diabetes, infeksi kronis, kanker, eksim, atau alergi tertentu seperti asma alergi. (1)
Ketika Bisul Menyatu: Memahami Furunkulosis dan Karbunkel
Pada tingkat yang lebih dalam, karbunkel didefinisikan sebagai kumpulan dua furunkel atau lebih yang saling berhubungan, meluas hingga ke jaringan subkutan, dan sering disertai gejala sistemik seperti demam serta pembesaran kelenjar getah bening regional. (2) Faktor predisposisi karbunkel mencakup kondisi yang merusak sawar kulit, seperti eksim, diabetes melitus, malnutrisi, imunodefisiensi, obesitas, serta higiene yang kurang baik. (2) Kondisi berulang di berbagai lokasi tubuh yang sering dijumpai pada individu dengan imunitas lemah ini dikenal sebagai furunkulosis. (1)
Mencegah dan Mengatasi Bisul
Pencegahan bisul terutama berfokus pada menjaga kebersihan kulit, mengelola penyakit penyerta seperti diabetes, serta menghindari kebiasaan memencet atau menggaruk lesi kulit yang dapat menyebarkan bakteri. (1) Penanganan bisul umumnya dilakukan dengan insisi dan drainase nanah oleh tenaga medis, disertai pemberian antibiotik bila terdapat tanda infeksi sistemik atau selulitis di sekitarnya. (2) Dari uraian di atas, jelas bahwa bisul dan karbunkel murni disebabkan oleh infeksi bakteri pada folikel rambut, bukan oleh jenis makanan tertentu, termasuk telur.
Alergi Telur: Ketika Sistem Imun yang Berperan
Lantas, bagaimana dengan alergi telur? Alergi telur merupakan reaksi imunologis yang diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE) terhadap protein pada putih maupun kuning telur, dan tergolong sebagai reaksi hipersensitivitas tipe satu menurut klasifikasi Gell-Coombs. (3) Protein alergenik utama terdapat pada putih telur, meliputi ovomukoid (Gal d 1), ovalbumin (Gal d 2), ovotransferin (Gal d 3), lisozim (Gal d 4), serta ovomusin, sementara pada kuning telur terdapat alfa-livetin (Gal d 5). (3) Secara patofisiologi, paparan ulang terhadap alergen telur memicu degranulasi sel mast dan basofil yang telah tersensitisasi, melepaskan mediator seperti histamin, leukotrien, dan faktor kemotaktik yang menimbulkan kontraksi otot polos serta peningkatan permeabilitas vaskular. (3)
Gejala Alergi Telur: Kulit Terlibat, tapi Bukan Bisul
Manifestasi klinis alergi telur pada bayi dan anak umumnya bersifat kutan, berupa urtikaria difus dan angioedema, disertai gejala gastrointestinal seperti muntah, maupun gejala respirasi, dan pada kasus berat dapat berkembang menjadi anafilaksis yang mengancam jiwa. (3) Meskipun gejala kulit sering menyertai alergi telur, manifestasi tersebut berupa urtikaria dan angioedema — bukan bisul. Bisul adalah entitas infeksi bakterial pada folikel rambut yang sama sekali berbeda mekanisme dan penyebabnya dari reaksi hipersensitivitas IgE yang mendasari alergi telur. (1, 3)
Kesimpulan: Meluruskan Kekhawatiran, Menjaga Asupan Protein Anak
Tidak terdapat dasar patofisiologis yang menghubungkan konsumsi telur dengan timbulnya bisul. Bisul disebabkan oleh infeksi bakteri, sedangkan reaksi tubuh terhadap telur — bila memang terjadi alergi — bermanifestasi sebagai urtikaria, angioedema, gejala saluran cerna, atau pada kasus berat anafilaksis, bukan bisul. Orang tua perlu diyakinkan bahwa telur tetap merupakan sumber protein yang aman dan bernilai gizi tinggi untuk mendukung tumbuh kembang anak, kecuali pada anak yang telah terkonfirmasi memiliki alergi telur melalui evaluasi medis yang tepat.
Daftar Pustaka
- InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. Overview: Boils and carbuncles. [Updated 2026 Jan 2]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513141/
- Troxell T, Hall CA. Carbuncle. [Updated 2023 Jul 3]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK554459/
- Mathew P, Pfleghaar JL. Egg Allergy. [Updated 2023 Jul 4]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK538192/

