Berita
Tatalaksana Komprehensif Koinfeksi TB-HIV pada Anak

Latar Belakang
Tuberkulosis merupakan infeksi oportunistik tersering pada anak dengan HIV, bahkan dapat menjadi penyebab kematian utama bila tidak ditangani secara tepat. Di Indonesia, tercatat lebih dari 110.000 kasus TBC anak usia <15 tahun pada tahun 2022. Sementara itu, jumlah anak yang hidup dengan HIV terus meningkat setiap tahunnya. (1)
TB disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis, sedangkan HIV adalah retrovirus yang menyerang sistem imun, terutama sel CD4+. Pada anak, sistem imun yang belum matang menyebabkan perjalanan penyakit lebih cepat progresif dibandingkan orang dewasa. Tata laksana koinfeksi TB-HIV pada memerlukan pendekatan komprehensif yang memepertimbangkan kemungkinan adanya interaksi obat antara obat TB dan HIV, risiko toksisitas lebih tinggi, serta meningkatnya risiko resistensi pada obat TB. (2)
Tantangan Tata Laksana Koinfeksi TB-HIV
Koinfeksi TB-HIV pada anak menimbulkan tantangan diagnostik dan terapeutik yang khas. Pertama, gejala TB dan HIV sering tumpang tindih, seperti batuk kronik, demam, dan malnutrisi, yang memperumit diagnosis klinis. Selain itu, infeksi TB dapat mempercepat progresi HIV dan sebaliknya, HIV meningkatkan risiko progresi dari infeksi TB laten menjadi aktif. (1)
Pendekatan awal mencakup skrining TB pada semua anak dengan HIV, serta skrining HIV pada semua anak dengan TB. Penegakan diagnosis TB dapat menggunakan sistem skoring klinis (Skor TB), pemeriksaan radiologi, dan konfirmasi bakteriologis bila memungkinkan. Diagnosis HIV pada anak <18 bulan dilakukan melalui uji virologis (HIV DNA atau RNA), sedangkan pada anak >18 bulan dilakukan dengan uji serologis. (1,2)
Dalam penatalaksanaan, pengobatan TB dan HIV harus dilakukan secara terintegrasi. Semua anak dengan TB-HIV harus segera mendapat pengobatan TB terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan terapi antiretroviral (ARV) dalam waktu dua hingga delapan minggu setelah memulai OAT, bergantung pada kondisi klinis dan jumlah CD4. (2)
Regimen Pengobatan
Terapi TB pada anak dengan HIV menggunakan regimen standar TB sensitif obat: fase intensif selama dua bulan dengan RHZE (rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol), dilanjutkan fase lanjutan selama empat bulan dengan RH. Dosis disesuaikan dengan berat badan dan pemantauan ketat dilakukan terhadap efek samping hepatotoksik dan neuropati. (1)
Ketika meresepkan ARV padan anak dengan HIV, pengobatan TB perlu mempertimbangkan interaksi obat dengan rifampisin. Rifampisin merupakan induktor enzim sitokrom P450, yang dapat menurunkan kadar protease inhibitor (PI) dan non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI). Oleh karena itu, pada anak usia <3 tahun, kombinasi ARV lini pertama yang direkomendasikan adalah zidovudine (AZT) + lamivudine (3TC) + lopinavir/ritonavir (LPV/r). Tetapi, jika anak juga mendapat rifampisin, maka LPV/r perlu ditingkatkan dosisnya atau ditambah ritonavir booster terpisah (super-boosting). (2)
Untuk anak usia ≥3 tahun, kombinasi yang direkomendasikan adalah abacavir (ABC) atau AZT + 3TC + efavirenz (EFV), karena EFV lebih stabil secara farmakokinetik saat dikombinasikan dengan rifampisin. (2)
Beberapa obat yang dikontraindikasikan pada koinfeksi TB-HIV meliputi nevirapine (NVP) pada pasien TB, karena interaksi signifikan dengan rifampisin. Selain itu, pemberian protease inhibitor selain LPV/r juga tidak direkomendasikan bersamaan dengan rifampisin karena risiko penurunan efektivitas ARV yang tinggi. (2)
Pencegahan, Edukasi, dan Pemantauan
Strategi pencegahan meliputi pemberian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) pada anak dengan HIV tanpa gejala aktif TB. Regimen TPT dapat berupa isoniazid tunggal selama 6 bulan atau kombinasi rifampisin-isoniazid selama 3 bulan (3RH), tergantung ketersediaan obat dan kebijakan setempat. (1)
Edukasi terhadap keluarga sangat penting untuk memastikan kepatuhan pengobatan dan menghindari stigma. Orang tua perlu diberi pemahaman bahwa OAT dan ARV harus diminum teratur dan tidak boleh dihentikan tiba-tiba. Pemantauan berkala berupa evaluasi klinis, laboratorium fungsi hati, kadar CD4, serta viral load HIV perlu dilakukan untuk menilai respons terapi dan mendeteksi kegagalan terapi sedini mungkin. (2)
Kesimpulan
Koinfeksi TB dan HIV pada anak merupakan tantangan besar dalam praktik klinis pediatri di Indonesia. Diagnosis dini, tatalaksana komprehensif, serta pemahaman terhadap interaksi obat adalah kunci utama dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas. Terapi TB harus didahulukan sebelum memulai ARV, dengan pemilihan regimen yang aman dan efektif. Kolaborasi multidisiplin, edukasi keluarga, dan pemantauan jangka panjang sangat diperlukan dalam mendukung keberhasilan terapi anak dengan koinfeksi TB-HIV.
Daftar Pustaka
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Tata Laksana Tuberkulosis Anak dan Remaja. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penerapan Terapi HIV pada Anak. Jakarta: Kemenkes RI; 2014.

