Berita
Strategi Menghadapi Keraguan Vaksin pada Orang Tua

Latar Belakang
Meskipun telah dilakukan berbagai upaya melalui program imunisasi nasional, cakupan vaksinasi anak-anak di Indonesia masih belum mencapai tingkat yang ideal. Dari dari Kemenkes menunjukkan bahwa cakupan imunisasi bayi lengkap masih 41% dan anak sekolah masih 42,6%, jauh di bawah target nasional 90%. Kondisi ini terlihat jelas ketika antara tahun 2019 hingga 2023, diperkirakan sekitar 1,3 juta anak belum menerima dosis pertama vaksin DPT di Indonesia. (2) Kesenjangan ini berkontribusi pada terjadinya wabah penyakit yang seharusnya bisa dicegah melalui vaksinasi anak, termasuk wabah campak-rubela dan difteri di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun upaya imunisasi sudah ada, masih banyak orang tua yang ragu untuk melakukan vaksinasi pada anak-anak mereka. Salah satu faktor utama yang memengaruhi rendahnya cakupan vaksinasi adalah keraguan terhadap vaksin atau yang dikenal dengan vaccine hesitancy. (3,4)
Penyebab Keraguan Vaksin dan Strategi Mengatasinya
Vaccine hesitancy adalah masalah yang kompleks dan sering dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berbeda. Salah satu kerangka kerja yang digunakan untuk memahami keraguan vaksin adalah model 5C, yang mencakup lima faktor utama yang mempengaruhi keputusan orang tua untuk melakukan vaksinasi pada anak mereka: confidence, complacency, constraints, calculation, dan collective responsibility.
- Confidence (Kepercayaan terhadap Vaksin)
Banyak orang tua yang ragu untuk memberikan vaksin kepada anak mereka karena kurangnya kepercayaan terhadap keamanan dan efektivitas vaksin. Kepercayaan yang rendah terhadap sistem kesehatan, pemerintah, atau organisasi yang bertanggung jawab atas vaksinasi menjadi faktor besar yang memengaruhi keputusan mereka.
- Strategi: Meningkatkan komunikasi yang transparan dan berbasis bukti mengenai manfaat vaksinasi, serta melibatkan tokoh terpercaya seperti dokter dan pemimpin komunitas untuk mengedukasi orang tua. Penyuluhan yang melibatkan cerita sukses dari individu atau komunitas yang terbukti mendukung vaksinasi dapat membantu membangun kepercayaan ini (2).
2. Complacency (Kepuasan dan Kepedulian yang Rendah terhadap Risiko Penyakit)
Beberapa orang tua merasa bahwa penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin sudah jarang terjadi, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk memberikan vaksin kepada anak-anak mereka. Pandangan ini sering muncul karena mereka melihat vaksin sebagai hal yang tidak begitu penting, terutama jika mereka merasa anak mereka dalam keadaan sehat.
- Strategi: Edukasi mengenai risiko yang masih ada, seperti wabah penyakit yang terjadi pada anak-anak di berbagai daerah. Kampanye kesehatan yang menekankan pentingnya melindungi anak-anak dari penyakit yang masih ada dan dapat berakibat fatal, serta mengingatkan orang tua bahwa vaksin adalah cara paling efektif untuk mencegahnya (1).
3. Constraints (Hambatan Akses dan Psikologis)
Hambatan akses fisik dan psikologis juga memainkan peran besar dalam vaksinasi. Hal ini termasuk faktor seperti lokasi yang jauh dari fasilitas kesehatan, biaya, atau kurangnya waktu untuk membawa anak ke tempat vaksinasi. Hambatan psikologis seperti rasa cemas atau takut akan efek samping vaksin juga dapat memengaruhi keputusan orang tua.
- Strategi: Pemerintah dapat bekerja sama dengan komunitas lokal untuk menyediakan akses yang lebih mudah melalui klinik keliling atau layanan vaksinasi yang lebih mudah dijangkau. Selain itu, menghilangkan stigma dan kekhawatiran mengenai efek samping vaksin melalui edukasi yang akurat juga penting (2).
4. Calculation (Perhitungan Risiko dan Manfaat)
Beberapa orang tua memilih untuk menunda vaksinasi atau bahkan menolak vaksin karena mereka merasa belum cukup informasi mengenai manfaat jangka panjang vaksin dibandingkan dengan risiko efek samping. Faktor ini juga terkait dengan kecenderungan orang tua untuk mencari informasi dari sumber yang tidak terpercaya, seperti media sosial atau kelompok anti-vaksin.
- Strategi: Memberikan informasi yang jelas, mudah dipahami, dan berbasis ilmiah tentang keamanan dan efektivitas vaksin. Penyuluhan juga perlu menjelaskan bahwa risiko vaksin jauh lebih rendah dibandingkan dengan risiko penyakit yang dapat dicegah (2).
5. Collective Responsibility (Tanggung Jawab Kolektif)
Beberapa orang tua mungkin tidak merasa bahwa keputusan mereka untuk memberikan vaksin pada anaknya berdampak pada komunitas yang lebih luas. Pandangan ini dapat menyebabkan rendahnya tingkat vaksinasi karena mereka tidak merasa terikat pada upaya melindungi kelompok yang lebih rentan.
- Strategi: Mengedukasi orang tua mengenai pentingnya vaksinasi untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity), yang melindungi individu yang tidak dapat divaksinasi, seperti bayi yang terlalu kecil atau individu dengan gangguan kekebalan tubuh (1).
Kesimpulan dan Penutup
Vaccine hesitancy merupakan tantangan besar dalam upaya meningkatkan cakupan vaksinasi di Indonesia, yang pada akhirnya dapat berdampak pada kesehatan anak-anak dan komunitas secara keseluruhan. Dengan memahami berbagai faktor yang memengaruhi keraguan vaksin, seperti kepercayaan, kenyamanan, hambatan akses, perhitungan risiko, dan tanggung jawab kolektif, dokter anak dapat berperan aktif dalam mengedukasi dan memfasilitasi vaksinasi. Strategi yang komprehensif dan berbasis bukti, termasuk komunikasi yang transparan dan edukasi berbasis masyarakat, sangat penting untuk mengatasi keraguan vaksin dan meningkatkan kesadaran tentang pentingnya vaksinasi. Keberhasilan ini akan berdampak besar dalam melindungi generasi mendatang dari penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.
Daftar Pustaka
- Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. Direktur Imunisasi Kemenkes: Cakupan Imunisasi Turun, Difteri Merebak Lagi di Indonesia [Internet]. Banda Aceh: Dinas Kesehatan Provinsi Aceh; 9 September 2025 [cited 2025 Nov 05]. Available from: https://dinkes.acehprov.go.id/detailpost/direktur-imunisasi-kemenkes-cakupan-imunisasi-turun-difteri-merebak-lagi-di-indonesia
- World Health Organization. Immunization, foundation for healthy generation to the Golden Indonesian Generation 2045. Jakarta: WHO Regional Office for South‑East Asia; 30 April 2025. Available from: https://www.who.int/indonesia/news/detail/30-04-2025-immunization-is-a-vital-investment-for-a-healthy-generation--the-golden-indonesia-generation-2045
- Pronyk P, Sugihantono A, Sitohang V, et al. Vaccine hesitancy in Indonesia. Lancet Planet Health. 2019;3(3):e114-e115. doi:10.1016/S2542-5196(18)30287-0.
- Sinuraya RK, Nuwarda RF, Postma MJ, et al. Vaccine hesitancy and equity: lessons learned from the past and how they affect the COVID-19 countermeasure in Indonesia. Global Health. 2024;20(11). doi:10.1186/s12992-023-00987-w.

