Dot Grid

Berita

Salmonellosis Non-Tifoidal pada Anak: Epidemiologi, Manifestasi Klinis, dan Tatalaksana

Salmonellosis Non-Tifoidal pada Anak: Epidemiologi, Manifestasi Klinis, dan Tatalaksana

Latar Belakang

Salmonellosis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, anggota famili Enterobacteriaceae. Secara klinis, infeksi ini dibedakan menjadi dua kelompok utama, yaitu salmonellosis tifoidal yang disebabkan oleh Salmonella Typhi dan S. Paratyphi, serta nontyphoidal salmonellosis (NTS) yang melibatkan berbagai serovar non-tifoidal seperti S. Enteritidis dan S. Typhimurium. (1) NTS menjadi salah satu penyebab utama gastroenteritis akut dan termasuk penyakit zoonosis penting secara global, dengan beban penyakit yang tinggi terutama pada anak-anak di negara berpendapatan rendah dan menengah. (2)

Penyakit ini patut mendapat perhatian karena merupakan etiologi tersering foodborne illness dan food poisoning di dunia. WHO memperkirakan sekitar 93 juta kasus gastroenteritis akibat Salmonella terjadi setiap tahun, dengan lebih dari 150.000 kematian, sebagian besar disebabkan oleh NTS (3). Pada anak, NTS dapat menimbulkan komplikasi berat seperti bakteremia, meningitis, dan osteomielitis, terutama pada kelompok usia di bawah lima tahun dan anak dengan imunitas rendah. (1)


Etiologi dan Epidemiologi

Lebih dari 2.600 serovar Salmonella enterica telah diidentifikasi. Berdasarkan kemampuan menimbulkan penyakit pada manusia, Salmonella diklasifikasikan menjadi dua kelompok: tifoidal yang terdiri atas S. Typhi dan S. Paratyphi A/B/C, serta non-tifoidal (NTS) yang mencakup lebih dari dua ribu serovar, terutama S. Enteritidis, S. Typhimurium, S. Newport, dan S. Heidelberg. (1)

NTS memiliki rentang inang yang luas dan dapat menginfeksi manusia, hewan ternak, unggas, reptil, maupun hewan peliharaan. Penularan umumnya terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi sepanjang rantai produksi “farm-to-fork”, terutama daging ayam, telur, daging sapi, babi, ikan, serta hasil pertanian segar yang tercemar. (1,2) Anak-anak di bawah lima tahun memiliki risiko lebih tinggi akibat sistem imun mukosa yang belum matang, terutama bila tidak mendapat ASI eksklusif. (1)


Patogenesis dan Manifestasi Klinis

Proses patogenesis dimulai dengan adhesi bakteri ke mukosa intestinal melalui fimbriae dan sistem sekresi tipe III, yang memungkinkan invasi ke sel epitel dan makrofag (1). Setelah menembus lapisan mukosa, Salmonella dapat menimbulkan inflamasi usus dan menyebabkan diare sekretorik. Pada sebagian kasus, bakteri menyebar secara hematogen dan menimbulkan infeksi sistemik. (1,2)

Secara klinis, perbedaan antara tifoidal dan non-tifoidal terletak pada karakteristik penyakit. Infeksi tifoidal ditandai dengan demam tinggi menetap (39–40°C), malaise, hepatosplenomegali, serta risiko perforasi ileum akibat peradangan plak Peyer. Sebaliknya, infeksi non-tifoidal memiliki onset akut dengan demam, nyeri abdomen, mual, muntah, dan diare tanpa perdarahan yang umumnya bersifat self-limiting dan berlangsung 4–7 hari. (1,2)

Sekitar lima persen kasus NTS dapat berkembang menjadi bakteremia atau infeksi invasif (iNTS), terutama pada neonatus, anak dengan HIV, anemia sel sabit, atau malnutrisi berat. Manifestasi berat dapat berupa meningitis, endokarditis, osteomielitis, dan sepsis. (3) Pada sebagian pasien, NTS juga dikaitkan dengan artritis reaktif dan peningkatan risiko kanker kolon atau kandung empedu pada infeksi kronik. (1)


Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan isolasi Salmonella dari tinja, darah, atau cairan serebrospinal. Kultur tinja merupakan pemeriksaan utama, sementara kultur darah penting untuk mendeteksi bakteremia, terutama pada kasus invasif. (2) Teknik molekuler seperti PCR dapat mempercepat identifikasi serovar dan mendeteksi gen resistansi antibiotik. (1) Pemeriksaan serologi seperti Widal test tidak direkomendasikan untuk NTS karena spesifisitasnya rendah. (2)


Komplikasi

Pada anak, komplikasi NTS meliputi dehidrasi berat akibat kehilangan cairan, sepsis, meningitis, osteomielitis, serta abses hati atau limpa. Anak dengan gangguan imun dapat mengalami infeksi persisten dan rekuren yang sulit dieradikasi. (3) Mortalitas meningkat pada kasus infeksi invasif, terutama di negara berkembang dengan akses terbatas terhadap perawatan suportif. (1)


Tatalaksana

Sebagian besar kasus NTS bersifat ringan dan sembuh sendiri, sehingga penatalaksanaan utama berupa rehidrasi oral atau intravena serta koreksi elektrolit. Antibiotik diberikan hanya pada kasus berat, infeksi sistemik, atau pada pasien berisiko tinggi seperti bayi, lansia, dan individu imunokompromais. Obat yang direkomendasikan meliputi fluoroquinolon seperti siprofloksasin, sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson, atau azitromisin. (1,2)

Peningkatan resistansi terhadap antibiotik utama menjadi masalah serius. Isolat Salmonella multiresisten (MDR) telah dilaporkan secara luas, termasuk resistansi terhadap tetrasiklin, aminoglikosida, dan sefalosporin. (1) Oleh karena itu, pemilihan antibiotik harus berdasarkan pola resistansi lokal. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional justru dapat memperpanjang masa ekskresi bakteri dan meningkatkan risiko penularan. (1)


Pencegahan

Pencegahan nontifoidal salmonellosis difokuskan pada pengendalian kontaminasi sepanjang rantai pangan. Prinsip utama mencakup pengolahan makanan hingga matang sempurna, menghindari konsumsi produk susu mentah dan air yang tidak terolah, menjaga kebersihan tangan sebelum makan dan setelah kontak dengan hewan, serta memastikan sanitasi dapur dan penyimpanan makanan yang benar. (3)

Pada anak dengan imunodefisiensi, termasuk HIV, profilaksis antibiotik dapat dipertimbangkan untuk mencegah infeksi invasif. Di tingkat populasi, pendekatan One Health yang mengintegrasikan surveilans manusia, hewan, dan lingkungan sangat penting untuk menekan transmisi lintas spesies. (1,3)


Kesimpulan

Nontyphoidal salmonellosis merupakan penyebab utama gastroenteritis dan infeksi invasif pada anak, dengan beban penyakit yang signifikan di negara berkembang. Walaupun sebagian besar kasus bersifat ringan, komplikasi berat dapat terjadi pada kelompok rentan. Pemahaman tentang epidemiologi, patogenesis, serta pendekatan diagnostik dan terapeutik yang tepat sangat penting bagi dokter anak. Upaya pencegahan berbasis keamanan pangan, higienitas, dan kewaspadaan klinis menjadi kunci dalam menekan angka morbiditas akibat NTS.


Daftar Pustaka

  1. Lamichhane B, Mawad AMM, Saleh M, Kelley WG, Harrington PJ II, Lovestad CW, et al. Salmonellosis: An Overview of Epidemiology, Pathogenesis, and Innovative Approaches to Mitigate the Antimicrobial Resistant Infections. Antibiotics. 2024;13(1):76.
  2. Nataro JP, Murray PR. Non-Typhoidal Salmonella Infection. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 [cited 2025 Oct 20]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555892/
  3. World Health Organization. Salmonella (non-typhoidal): Fact Sheet. 2023 [cited 2025 Oct 20]. Available from: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/salmonella-(non-typhoidal)






Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan