Berita
Pneumonia pada Anak: Diagnosis dan Tata Laksana

Latar Belakang
Pneumonia merupakan infeksi saluran napas bawah yang melibatkan parenkim paru, termasuk alveolus dan jaringan interstisial. (1) Penyakit ini menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak secara global, terutama pada negara berkembang. Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai agen infeksius — virus, bakteri, maupun jamur — dengan Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae sebagai salah satu etiologi utamanya.(1)
Penting bagi dokter anak untuk memahami aspek klinis dan manajemen pneumonia karena penyakit ini tetap menjadi penyebab tersering rawat inap dan kematian anak di bawah lima tahun di Indonesia. Diagnosis yang tepat serta penggunaan antibiotik rasional merupakan komponen penting dalam menurunkan angka komplikasi dan resistensi antimikroba.
Etiologi
Etiologi pneumonia pada anak bervariasi tergantung usia dan status imunologis. Secara umum, virus merupakan penyebab paling sering, khususnya Respiratory Syncytial Virus (RSV), influenza, Human Metapneumovirus, adenovirus, dan coronavirus. Hal ini terjadi sejak pengenalan vaksin PCV. Walaupun demikian, Infeksi bakteri masih menjadi penyebab yang perlu diwaspadai, terutama oleh Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Mycoplasma pneumoniae pada anak yang lebih besar. (1)
Faktor Risiko
Faktor risiko utama meliputi usia <5 tahun, malnutrisi, imunitas rendah, pajanan asap rokok, polusi udara dalam ruangan, dan kepadatan hunian tinggi.Bayi prematur, anak dengan penyakit jantung bawaan, dan pasien imunokompromais memiliki risiko lebih tinggi mengalami pneumonia berat. (1)
Patogenesis
Pneumonia terjadi ketika mikroorganisme berhasil melewati mekanisme pertahanan mukosilier saluran napas dan mencapai alveolus. Respons inflamasi lokal menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan eksudasi cairan ke alveolus, menimbulkan konsolidasi dan gangguan pertukaran gas. Pada pneumonia virus, terjadi infiltrasi limfosit dan edema interstisial, sedangkan pada pneumonia bakterial terdapat infiltrat neutrofil dan eksudat purulen. (1)
Diagnosis dan Tata Laksana
Secara klinis, pneumonia ditandai dengan demam, batuk, takipnea, retraksi dinding dada, ronki halus atau kasar, serta tanda distres napas seperti grunting dan nasal flaring. Grunting, demam, dan retraksi memiliki nilai prediktif tertinggi terhadap adanya infiltrat pada foto toraks. Pada bayi, gejala dapat berupa apnea, iritabilitas, atau penurunan nafsu makan. (1)
Pemeriksaan radiologi tidak selalu diperlukan, terutama pada kasus ringan yang dapat dikelola secara rawat jalan. Untuk menentukan pasien perlu dirawat jalan atau rawat inap, dokter dapat melihat kondisi klinis. Berikut adalah kriteria rawat inap anak dengan pneumonia berdasarkan panduan Infectious Diseases Society of America (IDSA):
Perubahan status mental
- Anak dan bayi dengan kekhawatiran terkait observasi di rumah, atau pengasuh yang tidak mampu mematuhi terapi atau follow-up
- Hipoksemia < 90% hingga 92%
- Bayi usia < 3 sampai 6 bulan dengan dugaan infeksi bakteri
- Distres napas, termasuk: takipnea, dispnea, apnea, grunting, retraksi, napas cuping hidung
- Tanda-tanda dehidrasi
- Dugaan atau infeksi terkonfirmasi oleh organisme virulen, misalnya staphylococcus aureus resisten metisilin (MRSA), streptococcus grup A
- Takipnea (napas cepat) berdasarkan usia:
- Baru lahir sampai 2 bulan: ≥ 60 napas/menit
- Usia 2–12 bulan: ≥ 50 napas/menit
- Usia 1–5 tahun: ≥ 40 napas/menit
- Komorbiditas, seperti:
- Penyakit kardiopulmoner, sindrom genetik, gangguan neurokognitif
- Gangguan metabolik yang dapat memburuk bila terkena pneumonia
- Kondisi yang memengaruhi respons terapi, misalnya imunokompromais atau sickle cell disease
Foto toraks direkomendasikan bila terdapat hipoksemia, distres respirasi berat, atau tidak ada perbaikan setelah 48–72 jam terapi antibiotik. (1) Biasanya, hasil radiologi menunjukkan pola infiltrat alveolar pada pneumonia bakterial, sedangkan pola interstisial lebih sering ditemukan pada pneumonia virus. Ultrasonografi toraks dapat digunakan untuk mendeteksi komplikasi seperti efusi pleura atau empiema. (1)
Anak yang datang dengan gejala berat sebaiknya menjalani pemeriksaan lanjutan, , termasuk darah lengkap, pemeriksaan elektrolit, fungsi ginjal dan hati, serta kultur darah. Pemeriksaan ini umumnya tidak diperlukan pada anak dengan penyakit ringan. Penanda inflamasi seperti C-Reactive Protein (CRP) atau Procalcitonin (PCT) tidak dapat membedakan dengan baik antara pneumonia viral dan bakteri pada populasi pediatrik. Meskipun demikian, pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk memantau progresi penyakit dan sebagai indikator prognostik.
Bila tersedia, pemeriksaan non-invasif dan cepat, seperti swab nasofaring untuk tes influenza, respiratory syncytial virus (RSV), dan human metapneumovirus (hMPV). Pemeriksaan ini dapat membantu mengurangi penggunaan pencitraan yang tidak perlu dan pengobatan antibiotik yang tidak tepat, terutama pada anak dengan influenza atau bronkiolitis. Penggunaan antibiotik yang tepat sangat penting, karena penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan dapat menyebabkan resistensi antibiotik.
Gram Stain dan Kultur sering tidak efektif karena sampel sering terkontaminasi oleh flora normal mulut, dan kultur darah pun sering negatif. Namun, tes serologi kini dapat digunakan untuk menentukan keberadaan spesies Mycoplasma, Legionella, dan Chlamydia. Polymerase chain reaction (PCR) semakin sering tersedia di rumah sakit, meskipun hasilnya memakan waktu sekitar 24 hingga 48 jam.
Antibiotik merupakan terapi utama pada pneumonia bakterial. Amoksisilin oral dosis tinggi direkomendasikan sebagai lini pertama untuk anak usia sekolah dengan dugaan pneumonia komunitas yang tidak perlu dirawat inap. (1) Durasi terapi tidak disarankan untuk melebihi tujuh hari. Pada pasien rawat inap dengan pneumonia berat, terapi parenteral menggunakan ampisilin atau penicillin G menjadi pilihan utama, dengan transisi ke terapi oral setelah perbaikan klinis. (1) Penggunaan antibiotik spektrum luas seperti seftriakson sebaiknya dihindari pada kasus tanpa komplikasi untuk mencegah resistensi.
Pada pneumonia virus, terapi bersifat suportif meliputi istirahat, hidrasi, dan antipiretik. Oksigen diberikan bila saturasi <90%. Kortikosteroid dan bronkodilator tidak direkomendasikan secara rutin karena manfaatnya tidak terbukti. (1)
Sebelum terapi dimulai, penting untuk menilai status gizi dan hidrasi anak. Hidrasi adekuat memperbaiki mukosilier dan mengurangi viskositas sekret. Setelah fase akut, pasien harus dipantau untuk perbaikan klinis, dan edukasi diberikan kepada orang tua mengenai tanda bahaya seperti napas cepat, retraksi berat, atau sianosis.
Vaksinasi memainkan peran utama dalam pencegahan pneumonia. Imunisasi Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae tipe b, pertusis, dan influenza terbukti menurunkan insidensi pneumonia secara signifikan. (1) Imunisasi maternal terhadap influenza dan pertusis juga memberikan perlindungan pasif pada bayi baru lahir.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul meliputi efusi pleura, empiema, abses paru, pneumotoraks, dan sepsis. (1) Pada anak dengan penyakit kronis, pneumonia berulang dapat menyebabkan bronkiektasis dan gangguan pertumbuhan paru jangka panjang. Kematian umumnya disebabkan oleh gagal napas atau syok septik akibat infeksi bakteri invasif.
Kesimpulan
Pneumonia tetap menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di Indonesia, dengan etiologi virus dan bakteri. Diagnosis ditegakkan secara klinis, dan ditegakkan dengan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi.
Tatalaksana pneumonia pada anak menekankan penggunaan antibiotik rasional, oksigenasi yang memadai, serta edukasi keluarga. Pencegahan melalui imunisasi dasar lengkap dan peningkatan status gizi menjadi langkah paling efektif untuk menurunkan beban penyakit. Dengan penerapan prinsip berbasis bukti, dokter anak di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan angka kesembuhan dan menekan angka kematian akibat pneumonia anak.
Referensi
Smith DK, Kuckel DP, Recidoro AM. Community-Acquired Pneumonia in Children: Rapid Evidence Review. Am Fam Physician. 2021 Dec 1;104(6):618-625. PMID: 34913645.

