Dot Grid

Berita

Peran Biomarker dan Gejala Klinis dalam Membedakan Pneumonia Bakterial vs Pneumonia Viral pada Anak

Peran Biomarker dan Gejala Klinis dalam Membedakan Pneumonia Bakterial vs Pneumonia Viral pada Anak

Pendahuluan

Pneumonia masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di seluruh dunia. Dalam praktik klinis, membedakan pneumonia bakterial dari viral sangat penting untuk menentukan tatalaksana, khususnya dalam memutuskan perlunya pemberian antibiotik. Sayangnya, gejala klinis antara keduanya sangat tumpang tindih, dan hasil pemeriksaan mikrobiologi seringkali terlambat tersedia atau tidak konklusif. Oleh karena itu, kombinasi tanda klinis dan biomarker inflamasi telah menjadi fokus dalam upaya diagnostik yang lebih akurat.


Biomarker dalam Membedakan Pneumonia Bakterial dan Viral

Beberapa biomarker telah dikaji untuk membantu membedakan etiologi pneumonia, antara lain C-reactive protein (CRP), procalcitonin (PCT), white blood cell (WBC), dan absolute neutrophil count (ANC). Dalam studi oleh Wrotek dkk. (1), CRP memiliki nilai area under the curve (AUC) sebesar 0,675 (95% CI: 0,634–0,715) untuk membedakan pneumonia bakterial dari viral, dengan nilai prediksi positif (PPV) sebesar 88,8%, tetapi prediksi negatif (NPV) yang rendah (29,5%) (1). PCT, meskipun menjanjikan dalam infeksi bakterial sistemik, menunjukkan AUC lebih rendah dalam membedakan pneumonia bakterial dari viral, yaitu 0,589 (95% CI: 0,545–0,633), dengan PPV 87,6% dan NPV 23,4% (1).

Bhuiyan dkk. (2) . menemukan bahwa CRP adalah biomarker terbaik dengan AUC 0,82 (95% CI: 0,73–0,91) untuk membedakan pneumonia bakterial pasti dari viral yang diduga. Nilai ambang optimal CRP adalah ≥72 mg/L, yang memberikan sensitivitas 75%, spesifisitas 84%, PPV 53%, dan NPV 93% (2). WBC dan ANC memiliki nilai AUC yang lebih rendah, masing-masing 0,63 dan 0,69, sehingga kurang optimal jika digunakan sebagai satu-satunya parameter. 


Tanda dan Gejala Klinis

Gejala seperti demam ≥38°C, batuk, dan sesak napas ditemukan baik pada pneumonia bakterial maupun viral. Namun, studi Bhuiyan et al. menemukan bahwa demam lebih sering muncul pada pneumonia bakterial (90%) dibandingkan pneumonia viral (60%, p = 0,002), sedangkan rinore lebih umum pada pneumonia viral (79% vs. 40%, p < 0,001) (2). Selain itu, kebutuhan oksigen dan cairan intravena lebih tinggi pada pasien dengan pneumonia bakterial (masing-masing 53% dan 73%) dibandingkan pasien pneumonia viral (32% dan 51%) (2). Durasi rawat inap juga lebih panjang pada pasien dengan pneumonia bakterial (median 8 hari) dibandingkan dengan pneumonia viral (median 2 hari) (2).


Kombinasi Biomarker dan Tanda Klinis Meningkatkan Akurasi

Menggunakan kombinasi antara CRP dan tanda klinis terbukti lebih akurat daripada penggunaan biomarker tunggal. Kombinasi CRP ≥72 mg/L dengan demam menghasilkan spesifisitas 90% dan PPV 63% untuk membedakan pneumonia bakterial dari viral, sedangkan kombinasi CRP ≥72 mg/L dengan tidak adanya rinore memberikan spesifisitas 98% dan PPV 87% (2). Ini menunjukkan bahwa pasien dengan CRP tinggi yang tidak memiliki rinore kemungkinan besar mengalami pneumonia bakterial.

Sebaliknya, kombinasi biomarker dan gejala klinis juga menghindarkan overdiagnosis dan penggunaan antibiotik yang tidak perlu. Dalam studi Wrotek et al., meskipun nilai prediksi positif tinggi, nilai prediksi negatif biomarker rendah, yang berarti pasien dengan hasil biomarker rendah belum tentu bebas dari infeksi bakterial. Oleh karena itu, penggunaan kombinasi dengan gejala klinis penting untuk meningkatkan akurasi diagnostik (1).


Dampak Klinis terhadap Tatalaksana

Mengetahui etiologi pneumonia berdampak besar terhadap keputusan klinis, terutama dalam pemberian antibiotik. Antibiotik hanya efektif pada infeksi bakteri. Jika pemberiannya tidak sesuai indikasi, resistensi antimikroba dapat meningkat. Dengan memanfaatkan biomarker dan gejala klinis, dokter dapat menghindari penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada pneumonia viral, serta mengenali kasus yang memerlukan intervensi dini.

Bhuiyan dkk. (2)  menyarankan bahwa algoritme yang menggabungkan CRP dan gejala klinis dapat digunakan sebagai alat bantu dalam pengambilan keputusan klinis (2). Demikian juga, studi Wrotek et al. menekankan perlunya interpretasi hasil biomarker dalam konteks klinis, karena hasil laboratorium saja belum cukup memadai sebagai dasar tatalaksana (1).


Kesimpulan

Membedakan pneumonia bakterial dan viral pada anak merupakan tantangan klinis yang signifikan. CRP adalah biomarker paling menjanjikan dengan nilai diskriminasi yang baik, khususnya jika digunakan bersama dengan gejala klinis seperti demam dan tidak adanya rinore. Kombinasi parameter laboratorium dan gejala klinis memberikan akurasi yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan satu indikator saja. Strategi ini tidak hanya meningkatkan ketepatan diagnosis, tetapi juga membantu mengarahkan penggunaan antibiotik yang lebih rasional, mengurangi risiko resistensi, dan memperbaiki hasil klinis pasien.


Daftar Pustaka

  1. Wrotek A, Robakiewicz J, Pawlik K, et al. The Etiology of Community-Acquired Pneumonia Correlates with Serum Inflammatory Markers in Children. J Clin Med. 2022;11(19):5506. doi:10.3390/jcm11195506.
  2. Bhuiyan MU, Blyth CC, West R, et al. Combination of clinical symptoms and blood biomarkers can improve discrimination between bacterial or viral community-acquired pneumonia in children. BMC Pulm Med. 2019;19:71. doi:10.1186/s12890-019-0835-5.

Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan