Dot Grid

Berita

Pentingnya Skrining Pendengaran sebagai Bagian dari Pemantauan Tumbuh Kembang Anak

Pentingnya Skrining Pendengaran sebagai Bagian dari Pemantauan Tumbuh Kembang Anak

Latar Belakang

Skrining pendengaran merupakan langkah awal untuk mendeteksi gangguan dengar pada bayi baru lahir dan anak. Definisi skrining pendengaran adalah pemeriksaan cepat, non-invasif, dan terstandar untuk mengidentifikasi bayi atau anak yang berisiko tuli atau hard of hearing (D/HH) sehingga dapat segera dirujuk untuk evaluasi dan intervensi lebih lanjut. Etiologi gangguan pendengaran pada anak sangat beragam, mulai dari faktor genetik, infeksi kongenital seperti cytomegalovirus (CMV), komplikasi perinatal seperti hiperbilirubinemia, hingga infeksi telinga berulang atau otitis media dengan efusi.  (1,2)

Pentingnya skrining pendengaran terkait dengan masa kritis perkembangan bahasa pada lima tahun pertama kehidupan. Keterlambatan identifikasi gangguan dengar mengakibatkan anak kehilangan akses terhadap bahasa pada periode neuro-linguistik paling penting, sehingga berujung pada deprivasi bahasa. Dampaknya meluas ke aspek kognitif, perilaku, akademik, dan sosial-emosional. Studi menunjukkan bahwa anak yang diidentifikasi D/HH dan mendapat intervensi sebelum usia 6 bulan memiliki perkembangan bahasa yang jauh lebih baik dibanding mereka yang terdeteksi lebih lambat. (2)


Tipe, Waktu, dan Rekomendasi Skrining Pendengaran

Skrining pendengaran pada bayi baru lahir saat ini dianjurkan secara universal menggunakan dua metode utama, yaitu otoacoustic emissions (OAE) dan automated auditory brainstem response (AABR). OAE menilai fungsi sel rambut luar koklea melalui respons akustik balik setelah diberikan stimulus suara, sedangkan AABR merekam aktivitas listrik saraf pendengaran hingga batang otak. OAE lebih cepat, murah, dan mudah digunakan, namun tidak dapat mendeteksi neuropati auditorik. Sebaliknya, AABR memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap gangguan jalur auditorik, meskipun membutuhkan waktu lebih lama serta kondisi bayi tenang atau tidur. (1)

Berdasarkan pedoman Early Hearing Detection and Intervention (EHDI), skrining sebaiknya dilakukan sebelum bayi berusia 1 bulan, diagnosis ditegakkan sebelum usia 3 bulan bila ditemukan kelainan, dan intervensi dimulai sebelum usia 6 bulan. Prinsip 1–3–6 ini terbukti efektif menurunkan risiko keterlambatan bahasa. (2) Meski demikian, pemeriksaan tidak berhenti pada periode neonatal karena anak tetap berisiko mengalami gangguan dengar onset lambat akibat faktor genetik, infeksi kongenital, hiperbilirubinemia berat, atau komplikasi perinatal lainnya. Oleh karena itu, AAP merekomendasikan pemantauan berkala, termasuk pemeriksaan audiometri pada usia prasekolah dan sekolah dasar. (1)


Pemantauan

Bayi dengan faktor risiko tinggi, seperti riwayat keluarga gangguan pendengaran atau tunarungu, perawatan di NICU lebih dari 5 hari, kebutuhan transfusi tukar, kelainan kraniofasial, atau riwayat infeksi kongenital, memerlukan pemantauan lebih ketat meskipun hasil skrining awal normal. Surveilans juga harus dilakukan pada anak yang lolos skrining awal dengan cara mengevaluasi milestone komunikasi, memeriksa respons terhadap suara, dan menindaklanjuti bila ada laporan kecurigaan dari orang tua. Anak dengan hasil skrining abnormal perlu segera dirujuk ke audiolog untuk pemeriksaan lanjutan serta intervensi dini, termasuk fitting alat bantu dengar atau pertimbangan implan koklea. Edukasi kepada orang tua menjadi bagian integral dari proses ini, karena hasil “normal” pada fase neonatal tidak menjamin anak bebas risiko sepanjang masa tumbuh kembang. Pemahaman mengenai tanda keterlambatan bahasa dan pentingnya evaluasi ulang harus disampaikan setiap kali kunjungan kesehatan anak. (1,2)


Kesimpulan dan Penutup

Skrining pendengaran merupakan bagian penting dari pemantauan tumbuh kembang anak. Dengan metode objektif seperti OAE dan AABR, gangguan pendengaran dapat dideteksi sejak dini, memungkinkan intervensi tepat waktu pada periode kritis perkembangan bahasa. Kegagalan dalam melakukan skrining atau keterlambatan diagnosis dapat mengakibatkan deprivasi bahasa yang berdampak jangka panjang pada perkembangan kognitif, akademik, dan sosial anak.

Dokter anak di Indonesia perlu memastikan implementasi skrining pendengaran universal serta melakukan surveilans berkelanjutan terhadap anak dengan faktor risiko atau gejala klinis mencurigakan. Dengan deteksi dini, intervensi tepat waktu, dan dukungan keluarga, anak dengan gangguan pendengaran dapat tumbuh optimal dan mencapai potensi penuh mereka.


Referensi

  1. Bower C, Reilly BK, Richerson J, Hecht JL; AAP Committee on Practice & Ambulatory Medicine, Section on Otolaryngology–Head and Neck Surgery. Hearing assessment in infants, children, and adolescents: recommendations beyond neonatal screening. Pediatrics. 2023;152(3):e2023063288. doi:10.1542/peds.2023-063288.
  2. NCBI Bookshelf. Newborn Hearing Screening [Internet]. StatPearls Publishing; 2023 [cited 2025 Sep 21]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560930/




Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan