Dot Grid

Berita

Panduan Tatalaksana Terapi Oksigen pada Anak dari WHO

Panduan Tatalaksana Terapi Oksigen pada Anak dari WHO

Latar Belakang

Gangguan pernapasan merupakan salah satu penyebab utama kematian anak di dunia. Hipoksemia, yakni kondisi kadar oksigen arteri yang rendah, sering menjadi manifestasi klinis pada pneumonia berat, bronkiolitis, sepsis, dan berbagai kondisi neonatal. Berdasarkan laporan WHO, sekitar 13% kematian balita berkaitan dengan infeksi saluran napas bawah, dan terapi oksigen telah terbukti menurunkan angka kematian secara signifikan bila diberikan tepat sasaran .

Namun, akses terhadap oksigen medis masih menjadi tantangan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Oleh karena itu, WHO merilis panduan terapi oksigen konvensional untuk anak yang menekankan pendekatan bertahap dan sistematis agar pelayanan tetap efektif, meskipun sumber daya terbatas .


Definisi Hipoksemia dan Indikasi Terapi Oksigen

Hipoksemia didefinisikan sebagai saturasi oksigen (SpO₂) <90%. Pada anak dengan gangguan pernapasan, terutama pneumonia, hipoksemia menjadi indikasi utama untuk pemberian oksigen. Pulse oximetry merupakan alat utama dalam identifikasi hipoksemia, namun pada fasilitas yang belum memilikinya, tanda-tanda klinis dapat digunakan sebagai indikator alternatif, termasuk sianosis sentral, napas cepat ekstrem, retraksi dinding dada, grunting, dan penurunan kesadaran .


Langkah Terapi Oksigen Konvensional

WHO merumuskan algoritma tatalaksana oksigen konvensional secara sistematis. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi Indikasi

  • Diagnosis hipoksemia dilakukan menggunakan pulse oximeter. Bila alat tidak tersedia, dokter dapat menggunakan gejala klinis seperti:
  • Sianosis sentral
  • Distres napas berat (frekuensi napas >70 kali/menit, retraksi dinding dada bawah, head nodding)
  • Napas berbunyi/grunting
  • Lemas, tidak bisa menyusu, atau penurunan kesadaran


2. Inisiasi Pemberian Oksigen

Pemberian oksigen dilakukan secara bertahap dengan perangkat beraliran rendah. WHO merekomendasikan:

  • Bayi: 0,5–1 liter/menit melalui nasal prong
  • Anak: 1–2 liter/menit, maksimum 4 liter/menit untuk anak prasekolah

Jika saturasi oksigen belum membaik, laju alir dapat dinaikkan secara bertahap hingga batas maksimal sesuai usia .


3. Evaluasi Efektivitas dalam 15–30 Menit

Saturasi oksigen harus diukur ulang dalam waktu 15–30 menit setelah inisiasi. Bila tidak terjadi perbaikan:

  • Pastikan tidak ada masalah teknis pada aliran oksigen, koneksi, atau pemasangan nasal prong
  • Pertimbangkan kemungkinan lain seperti efusi pleura, pneumotoraks, asma eksaserbasi, atau kelainan jantung kongenital


4. Eskalasi Terapi Bila Tidak Responsif

Jika SpO₂ tetap <90% meskipun aliran oksigen maksimal telah diberikan, pertimbangkan penggunaan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) bila tersedia. Jika CPAP tidak tersedia, kombinasi dua sumber oksigen seperti masker dengan reservoir bag dapat digunakan sebagai langkah sementara


5. Monitoring Harian dan Weaning

Monitoring ketat diperlukan setiap hari. Trial weaning dapat dilakukan jika anak sudah stabil:

  • Hentikan oksigen selama 10–15 menit dan pantau saturasi
  • Bila SpO₂ ≥90% dalam 24 jam dan stabil, oksigen dapat dihentikan
  • Jika SpO₂ kembali turun <90%, terapi oksigen dilanjutkan



Indikasi CPAP dan Peran PEEP

CPAP direkomendasikan pada pasien dengan gagal napas yang tidak merespons oksigen konvensional. CPAP mempertahankan jalan napas tetap terbuka dengan memberikan tekanan positif pada akhir ekspirasi (PEEP). PEEP mencegah kolaps alveolus dan meningkatkan difusi oksigen. Indikasi CPAP meliputi:

  • Pneumonia berat dengan distress napas berat
  • Apnea atau frekuensi napas sangat tinggi
  • Kondisi dengan risiko tinggi kelelahan pernapasan
  • CPAP biasanya dimulai dengan tekanan awal 5 cmH₂O, dan dinaikkan sesuai toleransi pasien. Terapi ini sebaiknya dilakukan di fasilitas yang memiliki alat dan tenaga terlatih .


Peran Humidifikasi dan Monitoring

Penggunaan oksigen kering dalam jangka panjang dapat menyebabkan iritasi mukosa dan penurunan fungsi mukosilier. Oleh karena itu, WHO merekomendasikan penggunaan pelembap (humidifier), terutama untuk aliran oksigen ≥2 liter/menit atau pada pasien rawat inap jangka panjang .

Monitoring harus mencakup evaluasi saturasi oksigen, frekuensi napas, tanda-tanda distress, suhu tubuh, dan parameter vital lainnya. Catatan harian sangat penting untuk menilai tren klinis dan menentukan waktu penghentian terapi oksigen.


Kesimpulan

Terapi oksigen konvensional merupakan intervensi kritis yang menyelamatkan nyawa pada anak dengan hipoksemia. Dokter anak perlu memahami indikasi, teknik pemberian, serta evaluasi terapi secara sistematis sesuai dengan algoritma WHO. Dalam kondisi fasilitas terbatas, pendekatan berbasis gejala dan pemantauan ketat dapat menjadi solusi efektif. Pengetahuan yang tepat akan tatalaksana ini mendukung pencapaian pelayanan kesehatan anak yang lebih baik dan menurunkan angka kematian akibat gangguan pernapasan di Indonesia.


Daftar Pustaka

World Health Organization. Oxygen therapy for children: a manual for health workers. Geneva: WHO; 2016. Available from: https://apps.who.int/iris/handle/10665/376504.







Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan