Berita
Panduan Aktivitas Fisik pada Anak dan Remaja Berdasarkan WHO

Pendahuluan
Sebagian besar hasil penelitian terkait aktivitas fisik pada anak dan remaja menunjukkan bahwa melakukan aktivitas fisik secara rutin dapat meningkatkan kesehatan kardiometabolik, kekuatan musculoskeletal, serta kesehatan mental dan kemampuan kognitif anak, yaitu hal-hal yang diperlukan untuk menunjang tumbuh kembang. Walaupun demikian, data global menunjukkan bahwa sekitar 81% remaja usia 11–17 tahun belum mencapai tingkat aktivitas fisik yang direkomendasikan. [1] Untuk menanggulangi risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh rendahnya tingkat aktivitas fisik pada anak di seluruh dunia, World Health Organization (WHO) telah menerbitkan pedoman rekomendasi aktivitas fisik pada anak dan remaja usia 5-17 tahun di tahun 2020 silam. [2]
Manfaat Aktivitas Fisik bagi Anak dan Remaja
Aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga tinggi berkaitan positif dengan berbagai indikator kesehatan pada anak dan remaja. Aktivitas fisik terbukti meningkatkan kapasitas kardiorespirasi, kekuatan otot, serta kesehatan tulang. Selain itu, keterlibatan dalam aktivitas fisik juga dikaitkan dengan penurunan risiko berat badan berlebih, tekanan darah tinggi, dislipidemia, resistensi insulin, serta gangguan mood seperti depresi. Penelitian juga menunjukkan hubungan positif antara aktivitas fisik dan fungsi kognitif, termasuk performa akademik, daya ingat, dan fungsi eksekutif. Oleh karena itu, aktivitas fisik sejak usia dini perlu dimasukkan dalam kerangka pencegahan penyakit kronik seiring anak bertambah usia. [1]
Pedoman WHO 2020 juga menyoroti pentingnya mengurangi perilaku sedentari pada anak. Perilaku sedentari didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan saat dalam keadaan bangun yang hanya memerlukan pengeluaran energi rendah (≤1,5 MET), misalkan saat duduk atau berbaring. Contoh dari perilaku sedentari meliputi menonton televisi, bermain video game, menggunakan gawai, dan duduk dalam waktu lama tanpa aktivitas fisik apapun. [1]
Durasi sedentari yang tinggi, terutama dari penggunaan layar rekreasional, memiliki hubungan yang erat dengan peningkatan adipositas, kesehatan kardiometabolik yang buruk, gangguan tidur, dan penurunan performa kognitif. Beberapa studi juga menunjukkan kaitan antara waktu layar yang berlebihan dan kesehatan mental yang buruk, seperti kecemasan dan gejala depresi. Meskipun ada kegiatan sedentari yang memiliki nilai positif seperti membaca atau belajar, penting bagi dokter anak untuk membedakan konteks aktivitas tersebut dalam memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga. [2]
Rekomendasi WHO 2020 Mengenai Aktivitas Fisik
WHO merekomendasikan agar anak usia 5 hingga 17 tahun melakukan aktivitas fisik sebanyak rata-rata minimal 60 menit per hari dalam seminggu, terutama aktivitas aerobik. Selain itu, latihan kekuatan otot (strength training) sebaiknya dilakukan setidaknya tiga hari dalam seminggu. [2]
Aktivitas fisik dapat dilakukan melalui permainan aktif, olahraga, kegiatan pendidikan jasmani di sekolah, perjalanan aktif (berjalan kaki atau bersepeda), serta kegiatan rumah tangga yang memerlukan pergerakan tubuh. Hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah anak harus difasilitasi dengan lingkungan yang aman dan nyaman untuk beraktivitas sesuai dengan usia dan kemampuan mereka. [1]
WHO merekomendasikan agar anak dan remaja membatasi waktu yang dihabiskan dalam aktivitas sedentari, terutama yang bersifat rekreasional menggunakan layar. Meskipun belum terdapat bukti cukup untuk menentukan batasan waktu yang pasti, sejumlah pedoman menganjurkan pembatasan waktu layar tidak lebih dari dua jam per hari untuk keperluan rekreasional. Interupsi duduk panjang dengan aktivitas ringan juga dianggap bermanfaat, meski diperlukan lebih banyak penelitian untuk memperjelas hubungan dosis-respons dari interupsi ini. [1,2]
Peran Dokter Anak dalam Promosi Aktivitas Fisik
Dokter anak memiliki peran sentral dalam mengidentifikasi anak yang tidak aktif secara fisik dan memberikan intervensi dengan memberikan anjuran-anjuran aktivitas fisik sesuai dengan pedoman yang berlaku. Pendekatan yang dapat dilakukan meliputi skrining riwayat aktivitas fisik selama konsultasi, memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya aktivitas fisik harian, dan menyarankan pengurangan waktu layar secara bertahap. Kerja sama lintas sektor dengan sekolah dan komunitas dapat memperluas jangkauan intervensi serta menciptakan lingkungan yang mendukung perilaku aktif.
Mengintegrasikan rekomendasi WHO ke dalam praktik harian akan membantu menggeser paradigma pelayanan kesehatan anak dari kuratif ke preventif. Aktivitas fisik bukan hanya olahraga, tetapi juga menerapkan gaya hidup aktif dengan lebih banyak bergerak sepanjang hari.
Kesimpulan
Pedoman WHO 2020 memberikan arahan berbasis bukti untuk meningkatkan aktivitas fisik serta mengurangi perilaku sedentari pada anak dan remaja. Sebagai tenaga profesional yang berinteraksi langsung dengan anak dan keluarganya, dokter anak di Indonesia diharapkan mengambil peran aktif dalam mendorong perubahan perilaku ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas hidup generasi mendatang.
Referensi
- Chaput JP, Willumsen J, Bull F, Chou R, Ekelund U, Firth J, et al. 2020 WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour for children and adolescents aged 5–17 years: summary of the evidence. Int J Behav Nutr Phys Act. 2020;17:141. doi:10.1186/s12966-020-01037-z.
- World Health Organization. WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. Geneva: WHO; 2020.

