Berita
Otitis Media pada Anak: Diagnosis dan Tata Laksana

Latar Belakang
Otitis media (OM) adalah inflamasi telinga tengah yang mencakup spektrum klinis dari otitis media akut (OMA), otitis media dengan efusi (OME), hingga otitis media supuratif kronis (OMSK). Kondisi ini merupakan salah satu penyebab utama kunjungan medis pada anak dan alasan paling sering pemberian antibiotik pada populasi pediatrik (1). Anak usia dini lebih rentan mengalami OM akibat anatomi tuba eustachius yang lebih pendek dan horizontal, imaturitas sistem imun, serta tingginya insidensi infeksi saluran pernapasan atas. Pentingnya mempelajari OM pada anak bukan hanya karena prevalensinya tinggi, tetapi juga karena komplikasi jangka panjang berupa gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan bahasa, hingga masalah akademik dan sosial yang berdampak pada kualitas hidup. (2)
Etiologi, Faktor Risiko, dan Patogenesis
OMA biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri setelah infeksi virus saluran pernapasan atas. Patogen bakteri yang paling sering ditemukan adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae non-tipable, dan Moraxella catarrhalis. Infeksi virus seperti RSV dan rhinovirus menyebabkan inflamasi mukosa nasofaring dan disfungsi tuba eustachius yang mempermudah invasi bakteri ke telinga tengah. (1,3)
Faktor risiko yang berperan antara lain usia di bawah dua tahun, jenis kelamin laki-laki, riwayat keluarga OM, paparan asap rokok, penggunaan dot dalam posisi tidur, serta faktor lingkungan seperti kepadatan hunian dan akses kesehatan terbatas. Kelainan kraniofasial, defisiensi imun, dan status gizi buruk juga meningkatkan risiko progresi penyakit. (2)
Patogenesis OM dimulai dari kolonisasi bakteri di nasofaring. Disfungsi tuba eustachius menyebabkan tekanan negatif dan akumulasi cairan di telinga tengah. Peradangan dan efusi yang terbentuk dapat sembuh spontan atau berkembang menjadi infeksi akut. Bila inflamasi berulang atau persisten, terbentuk efusi kronis yang menjadi dasar OME. Perjalanan ini dapat berlanjut menjadi OMSK bila terjadi perforasi membran timpani dengan sekresi telinga kronis akibat inflamasi berulang dan kolonisasi bakteri persisten. (1,3)
Komplikasi dan Progresi dari OMA ke OMSK
Sebagian besar kasus OMA membaik secara spontan, tetapi sebagian anak mengalami episode rekuren. OMA rekuren dapat berlanjut menjadi OME, yang ditandai dengan efusi telinga tengah tanpa gejala akut. OME kronis sering menimbulkan gangguan pendengaran konduktif yang dapat memengaruhi perkembangan bicara dan bahasa. (1)
Jika inflamasi berlanjut dan perforasi membran timpani terjadi, risiko berkembang menjadi OMSK meningkat. OMSK ditandai sekret telinga yang persisten atau berulang, dan sering kali dikaitkan dengan pembentukan biofilm bakteri yang resisten terhadap eradikasi. OMSK masih menjadi penyebab signifikan gangguan pendengaran permanen pada anak di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Komplikasi intrakranial seperti mastoiditis, meningitis, dan abses otak dapat terjadi bila diagnosis dan terapi tertunda. (2,3)
Diagnosis
Diagnosis OMA ditegakkan melalui kombinasi gejala klinis (demam, nyeri telinga, iritabilitas) dan temuan efusi telinga tengah. Otoskopi menunjukkan perubahan warna, penebalan, dan terutama pembengkakan (bulging) membran timpani. Pneumatic otoscopy dan tympanometry membantu menilai mobilitas membran timpani dan meningkatkan akurasi diagnosis. (1)
OME ditandai efusi tanpa tanda inflamasi akut. Pada pemeriksaan, membran timpani tampak keruh, retraksi, atau terdapat gelembung udara. Audiometri atau otoacoustic emission diperlukan untuk menilai dampak terhadap pendengaran. OMSK ditegakkan bila terdapat sekret telinga kronis atau rekuren melalui perforasi membran timpani. Pemeriksaan mikrobiologi sekret dapat bermanfaat dalam pemilihan antibiotik. (3)
Rekomendasi Tatalaksana
Penatalaksanaan OMA bergantung pada usia, derajat keparahan, dan kondisi klinis anak. Pada kasus ringan, observasi dengan kontrol gejala menggunakan analgesik merupakan pilihan, karena sebagian besar kasus bersifat self-limiting. Antibiotik, dengan pilihan utama amoksisilin, diberikan pada anak usia <6 bulan, anak usia <2 tahun dengan OMA bilateral, atau bila gejala berat seperti demam tinggi dan nyeri telinga persisten. (1,3)
OME memerlukan observasi selama minimal tiga bulan karena sebagian besar kasus mengalami resolusi spontan. Bila efusi menetap dengan gangguan pendengaran signifikan, intervensi berupa pemasangan ventilasi tube dan adenoidektomi dapat dipertimbangkan. Penggunaan antihistamin, dekongestan, atau kortikosteroid tidak dianjurkan karena bukti efektivitasnya rendah. (1,2)
OMSK memerlukan terapi yang lebih agresif. Antibiotik topikal, khususnya quinolone, lebih efektif dan aman dibanding antibiotik sistemik dalam mengatasi otore. Tindakan bedah seperti timpanoplasti atau mastoidektomi dipertimbangkan pada perforasi menetap, sekret kronis, atau komplikasi intrakranial. Rehabilitasi pendengaran pascaoperasi juga penting untuk mengoptimalkan kualitas hidup anak. (2,3)
Kesimpulan dan Penutup
Otitis media pada anak merupakan penyakit dengan beban klinis dan sosial yang besar, dari bentuk akut yang relatif ringan hingga kronis yang menimbulkan komplikasi serius. Pemahaman mengenai etiologi, faktor risiko, dan perjalanan penyakit dari OMA hingga OMSK penting untuk menegakkan diagnosis dini dan mencegah komplikasi.
Bagi dokter anak di Indonesia, pendekatan rasional terhadap penggunaan antibiotik, pemantauan ketat pada OME, serta intervensi bedah pada OMSK merupakan langkah krusial untuk mengurangi beban penyakit ini. Dengan tata laksana yang tepat, integrasi upaya pencegahan, dan edukasi keluarga, risiko gangguan pendengaran dan dampak jangka panjang otitis media pada anak dapat ditekan secara signifikan.
Referensi
- Schilder AGM, Chonmaitree T, Cripps AW, Rosenfeld RM, Casselbrant ML, Haggard MP, et al. Otitis media. Nat Rev Dis Primers. 2016;2:16063.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/350/2018 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Otitis Media Supuratif Kronik. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2018
- Danishyar A, Ashurst JV. Acute Otitis Media. [Updated 2023 Apr 15]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470332/

