Dot Grid

Berita

Mendorong Kesadaran Kanker Serviks Melalui Kolaborasi Lintas Sektor: Hasil Diskusi di Kemenkes RI

Mendorong Kesadaran Kanker Serviks Melalui Kolaborasi Lintas Sektor: Hasil Diskusi di Kemenkes RI

Jakarta, 5 Desember 2025 – Pokja RCCE, Portkesmas, dan PandemicTalks, dengan dukungan UNICEF Indonesia, menyelenggarakan diskusi bertajuk “Mengatasi Penolakan Imunisasi HPV melalui Pendekatan Interpersonal Communication: Cerita dari Lapangan”. Acara ini menjadi ruang penting bagi pemangku kepentingan lintas sektor untuk mendalami strategi komunikasi, tantangan penerimaan imunisasi HPV, serta pembelajaran implementasi di lapangan dalam upaya nasional menekan angka kanker leher rahim.

Pertemuan ini dibuka oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, yang menyampaikan urgensi penanganan kanker leher rahim sebagai masalah kesehatan masyarakat yang harus diatasi melalui edukasi yang lebih kuat dan skrining yang lebih luas.

 “Setiap satu jam, dua perempuan Indonesia meninggal akibat kanker leher rahim, padahal penyakit ini dapat dicegah melalui imunisasi HPV,” ujar Menteri Kesehatan. “Meski vaksin telah tersedia, masih banyak orang tua yang belum memahami pentingnya imunisasi HPV, dan disinilah peran komunikasi menjadi sangat penting,” tambahnya.

Sambutan juga disampaikan oleh dr. Pandu Riono, MPH, PhD, yang menekankan pentingnya pendekatan berbasis ilmu perilaku dan kolaborasi masyarakat dalam mengatasi misinformasi dan keraguan terhadap vaksin.

Diskusi menghadirkan penanggap lintas sektor, yaitu dr. Maria Endang Sumiwi, MPH, dr. Prima Yosephine, MKM, dr. Indri Yogyaswari, MKM, Risang Rimbatmaja, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K), dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. 

Para penanggap menyoroti kondisi di lapangan, khususnya perubahan tingkat penerimaan imunisasi setelah pendekatan komunikasi diperbaiki, serta kebutuhan untuk memperkuat literasi publik mengenai kanker leher rahim. Setiap panelis menekankan bahwa kunci dari meningkatnya kepercayaan masyarakat tidak hanya terletak pada tersedianya vaksin, tetapi juga bagaimana informasi disampaikan dengan cara yang mudah dipahami, sesuai konteks budaya, dan dijalankan secara konsisten.

Dalam sesi berikutnya, panel diskusi menghadirkan Rizky Ika Syafitri, dr. Basra Amru, dan Firdza Radiany, yang membagikan pengalaman langsung dari lapangan terkait pendekatan komunikasi interpersonal (IPC) dalam edukasi imunisasi HPV. Mereka menunjukkan bahwa kehadiran tenaga kesehatan dan kader terlatih mampu menjawab kekhawatiran orang tua secara empatik dan berbasis bukti, hingga memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan penerimaan imunisasi.

Diskusi menunjukan bahwa IPC terbukti efektif untuk mengatasi pertanyaan-pertanyaan krusial dari orang tua, seperti keamanan vaksin, manfaat jangka panjang, hingga mitos yang masih banyak beredar. Pendekatan ini dinilai lebih personal, relevan, dan meyakinkan, terutama di komunitas yang memiliki tingkat keraguan tinggi terhadap imunisasi.

Dalam sesi penutup, seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa edukasi mengenai HPV dan pencegahan kanker leher rahim membutuhkan komitmen jangka panjang. Indonesia masih menghadapi tantangan besar—di mana 514 kabupaten/kota harus mencapai cakupan imunisasi di atas 90 persen untuk memastikan anak-anak Indonesia terlindungi. Oleh karena itu, strategi komunikasi yang adaptif, kolaborasi lintas sektor, dan pelibatan komunitas tetap menjadi pilar penting dalam perjalanan menuju eliminasi kanker leher rahim sebagai masalah kesehatan masyarakat.

Melalui diskusi ini, peserta memperoleh sejumlah pembelajaran utama, antara lain:

  • Kanker leher rahim adalah penyakit mematikan yang sebenarnya dapat dicegah; edukasi publik harus menjadi prioritas nasional.
  • Penerimaan imunisasi HPV dapat ditingkatkan jika tenaga kesehatan dibekali keterampilan komunikasi interpersonal yang efektif, empatik, dan sesuai konteks budaya.
  • Pendekatan komunikasi yang baik harus berjalan berdampingan dengan ketersediaan vaksin dan kebijakan kesehatan yang kuat.
  • Kolaborasi multisektor—pemerintah, mitra pembangunan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, sektor usaha, dan komunitas—merupakan kunci keberhasilan.
  • Upaya pencegahan tidak berhenti pada peningkatan cakupan imunisasi; edukasi dan komunikasi berkelanjutan menjadi fondasi untuk perubahan perilaku masyarakat.

Melalui rangkaian pemaparan dan diskusi yang komprehensif, acara ini menegaskan bahwa edukasi publik, strategi komunikasi yang tepat, dan kolaborasi lintas sektor merupakan fondasi penting dalam meningkatkan penerimaan imunisasi HPV di Indonesia. Dengan semakin kuatnya komitmen pemerintah, mitra pembangunan, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Indonesia bergerak menuju masa depan di mana kanker leher rahim tidak lagi menjadi ancaman besar bagi perempuan Indonesia.

Untuk informasi dan materi edukasi kesehatan anak lainnya, ikuti @official.primapro.


Primacare Supply
Supply Icon 1

PRIMACARE SUPPLY

Butuh stok vaksin & obat untuk faskes Anda?

Produk resmi, kualitas terjamin. Respons cepat (hitungan menit). Harga terbaik tanpa minimum order. Pengiriman same-day (dalam 4 jam).

Primacare RME
RME Icon

PRIMACARE RME

Tertarik coba gratis selama 14 hari?

RME terintegrasi dengan SATUSEHAT. Akses ke 3 juta+ pengguna PrimaKu. Alur pelayanan pasien lebih efisien. Laporan klinik real-time & transparan